Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Tak Akan Terjebak Lagi


__ADS_3

...“Ayo bersenang-senang, Adik Palsu-ku. Kali ini kamu nggak bisa kabur lagi.” – Darren A. Garnacho...


...❣️...


...“Kak, kali ini aku nggak akan terjebak lagi.” – Ciara A. Garnacho...



Keesokan harinya. Saat waktu menunjukkan pukul sebelas malam lewat.


“Daddy, aku otw Black Moon, ya!”



Ciara mengirimkan pesan sekaligus sebuah foto pada Abercio. Ia berniat ingin menjahili pria tampan itu. Tak lama kemudian, ponselnya berdering.


Drtt… Drttt…


Ciara tersenyum menatap nama Abercio di layar ponselnya.


“Halo, Daddy?”


^^^“Kenapa kamu pake baju terbuka kayak gitu?!”^^^


“Emangnya kenapa, Daddy?” Ciara bertanya dengan suara yang polos sambil menahan tawa. Pasalnya, foto yang ia kirimkan itu adalah foto sebelum ia berganti baju tadi. Sedangkan baju yang ia kenakan sekarang adalah dress pastel yang Abercio belikan. Ciara menggigit bibirnya menahan tawa.


^^^“Ganti baju sekarang juga!”^^^


^^^“Kenapa nggak pakai baju yang sudah ku belikan?”^^^


Suara Abercio terdengar kesal di sebrang ponsel.


Bart yang saat itu sedang mengemudikan mobil menatap Ciara yang sedang cekikikan melalui kaca spion dalam mobil. Ia menghela nafasnya dengan berat saat melihat Ciara tertawa dengan bahagia. Lalu, ia kembali fokus menatap jalan.


Sedangkan Darren? Pria itu sibuk berkutat dengan ponselnya sejak tadi tanpa berbicara sepatah katapun. Ia sedang mengatur rencana untuk menjebak Ciara. Kali ini, ia telah berjanji dengan Andrew di sana. Andrew tak sendirian, tapi ia juga mengajak lima orang temannya yang lain.


^^^“Ciara? Kamu denger Daddy ngomong nggak?”^^^


“Daddy, Ciara turun dulu ya.”


“Soalnya udah sampe. See you, Daddy. Bye bye.”


Ciara langsung mematikan ponselnya tanpa memberikan kesempatan pada Abercio untuk merespon ucapannya. Setelah itu, ia tertawa terpingkal-pingkal karena sukses menjahili pria yang ia cintai itu.


“I love you, Daddy Cio,” gumam Ciara dalam hati.


Di saat yang sama, saat di mana Ciara tertawa cekikikan karena berhasil menjahili Abercio, pria itu mengeram sambil menyeka kasar wajahnya. Tingkah Ciara sukses membuatnya frustasi.


Pikir Abercio saat itu, bagaimana bisa gadis itu masuk ke club malam dengan mengenakan pakaian minim dan terbuka seperti itu? Terlebih lagi sekarang gadis itu pergi bersama Darren. Meskipun ia sudah menunggu di sebrang Black Moon dan mengutus pengawal menyamar untuk mengawasi Ciara, tetap saja perasaannya tak tenang.


Abercio bergegas menghubungi Bart.

__ADS_1


^^^“Halo, Pak.”^^^


“Bart, mana Ciara?”


^^^“Sudah masuk ke dalam, Pak.”^^^


“Sial!” umpat Abercio kesal. Ia langsung mematikan panggilan tersebut dan menyandarkan tubuhnya dengan kasar ke mobil.


...❣️❣️❣️...


Dentuman musik EDM yang memekakkan telinga menyambut kehadiran Ciara ke club tersohor di Jakarta tersebut. Ciara merasa risih dengan tempat yang sebelumnya tak pernah ia kunjungi. Ia menarik nafasnya dan menghembuskannya untuk berulang kali agar perasaannya menjadi sedikit lebih rileks.


“Kak Darren,” panggil Ciara dengan suara yang keras. Pasalnya, jika ia tak berteriak, suaranya kalah dengan bisingnya musik EDM tersebut. “Ciara cari Gea dulu ya, Kak.”


Ciara melengos meninggalkan Darren. Namun tangannya di tahan oleh Darren sehingga langkah kakinya terhenti.


“Temenin aku bentar Ciara,” ucap Darren ke telinga Ciara. “Temanku belum datang, dia menyuruhku menunggu di ruang VIP lantai tiga. Room 57.”


“Lama nggak, Kak?” teriak Ciara ke telinga Darren. “Ciara takut Gea nungguin.”


“Nggak kok,” ucap Darren sambil menuntun tangan Ciara menuju lift untuk menaiki lantai tiga. Lantai di mana ada beberapa kamar yang disediakan khusus untuk tamu VIP.


Ciara mengikuti Darren tanpa membantah atau penolakan. Sambil mereka berdua berjalan menuju ke lantai tiga, ada beberapa pengawal yang menyamar menjadi waiters, pengawal khusus Black Moon dan petugas kebersihan. Semua itu sudah Abercio diskusikan dengan Noah Dawson, pria pemilik Club Black Moon tersebut.


“Kamu tunggu bentar ya,” ucap Darren sambil duduk ke sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.


Ciara mengangguk pelan sambil tersenyum. Kemudian ia duduk di sofa yang berseberangan dengan Darren seraya mengeluarkan ponselnya.


Ceklek!


“Kak, kok banyak gelas?” tanya Ciara sambil mengerutkan dahinya.


“Oh. Itu ‘kan buat temanku nanti,” jawab Darren santai.


Darren membuka tutup miras tersebut dan menuangkannya ke gelas.


“Ra, coba kamu diri deh. Liat dance floor dari kaca itu,” perintah Darren sambil menunjuk ke arah kaca transparan yang menyuguhkan view lantai dansa di bawah.


Ciara mendengarkan permintaan Darren tanpa menolak. Kemudian ia berjalan ke arah kaca tersebut untuk melihat para pengunjung yang sedang berdansa mengikuti alunan musik. Bahkan ada yang berpelukan dan berciuman dengan santai di lantai dansa tersebut.


“Kak Darren, Ciara mau selfie bentar ya,” celetuk Ciara sambil mengeluarkan ponselnya tanpa menoleh ke belakang.


Di saat yang sama, saat Ciara sedang sibuk membelakanginya, Darren membubuhkan gelas Ciara dengan obat perangsang. Sesaat kemudian ia kembali duduk bersandar ke sofa sambil tersenyum puas.


“Ayo bersenang-senang, Adik Palsu-ku,” gumam Darren pelan sambil menyeringai. “Kali ini kamu nggak bisa kabur lagi.”


Di saat yang sama, Ciara mengirimkan pesan kepada Abercio. “Daddy, jangan telat, ya? Aku di room 57 lantai 3.”


Meskipun ia berusaha berani, tetap saja ada ketakutan yang menyelimuti saat ini. Sekujur tubuhnya mendadak merinding saat mengingat lagi kata-kata Darren yang ingin menidurinya waktu itu. Ia bergegas menghubungi Abercio dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Panggilan tersebut dibiarkan tersambung agar Abercio dapat berjaga-jaga walaupun sudah ada pengawal yang berada di luar ruangan.


“Ciara, sini,” panggil Darren sambil melambaikan tangannya untuk duduk bersebelahan dengan Darren. “Cobain minuman ini deh. Kamu belum pernah coba, ‘kan?”

__ADS_1


Ciara berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah Darren. Setelah itu ia berpura-pura menjatuhkan tasnya ke lantai. Saat ia menjatuhkan tasnya ke lantai, dengan sengaja ia mencondongkan tubuhnya menunduk ke bawah dengan rambut panjangnya yang sempurna tergerai.


“Kak, kali ini aku nggak akan terjebak lagi,” batin Ciara sambil menukarkan gelasnya dan gelas Darren.


Darren menatap lekukan tubuh Ciara yang saat itu membentuk dengan indah dari belakang. Ia menjilati bibirnya sesaat, kemudian ia menggigit bibir bawahnya menahan gairah yang mulai bergejolak karena lekukan tubuh Ciara saat itu.


“Dek,” panggil Darren sambil mendaratkan tangannya ke pinggul Ciara.


Ciara mendadak tersentak karena sentuhan tangan Darren yang mendadak itu. Lalu, tadi ia menyebut ‘Dek’?! Ck! Biasanya juga memanggil nama. Ia memaksakan senyumnya dan bergegas mengambil gelas yang ada di atas meja.


“Ciara cobain, ya?” ucap Ciara sambil mengangkat gelas di tangannya sejajar dengan bahu.


Darren mengangguk pelan sambil tersenyum licik.


“Kak Darren juga minum dong? Biar kayak di film-film gitu,” pinta Ciara.


Dengan bodohnya Darren meraih gelas miliknya yang sudah ditukarkan oleh Ciara. Kemudian ia bersulang dengan Ciara.


“Cheers!” seru mereka secara bersamaan. Kemudian mereka bergegas menenggak minuman tersebut secara bersamaan.


“Pahit!” celetuk Ciara sambil menaruhkan gelas yang ia pegang ke atas meja. Beberapa menit kemudian ia berpura-pura mengernyitkan matanya berulang kali seolah-olah obat perangsang tersebut sedang bereaksi.


Ciara benar-benar mendalami sandiwaranya saat itu. Toh, sebelumnya ia juga pernah bersandiwara. Bedanya kali ini, ia bersandiwara untuk membalaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya pada Darren.


“Kak, badan Ciara nggak nyaman,” ucap Ciara berbohong. Ia memegang kepalanya yang tak sakit. “Kepala Ciara juga pusing, Kak.”


Di saat yang sama, Darren sedang merasakan reaksi dari efek obat perangsang tersebut. Sekujur tubuhnya terasa panas dan kepalanya terasa pusing. Ia merasa gejolak di dadanya semakin tak tertahankan dan rasanya ingin segera menyalurkan nafsu binatangnya.


“Ciara,” bisik Darren sambil memeluk tubuh Ciara.


“Sial! Kenapa Daddy belum datang!” umpat Ciara dalam hati. Ia mendorong tubuh Darren dengan perlahan sambil menatap ke arah pintu dengan perasaan yang cemas.


Ceklek!


“Dad—”


Mata Ciara mendadak terbelalak kaget. Pasalnya, yang masuk saat itu bukan Abercio. Melainkan enam orang pria di mana salah satunya ada Andrew di sana. “K-Kak Andrew?”


“Halo, Sayang,” sapa Andrew dengan sorot mata mesumnya. Andrew yang selama ini Ciara kenal berbeda dengan Andrew yang saat ini sedang berdiri di depannya. Terlebih lagi ada lima orang pria yang saat itu sedang menatap lapar ke arah dirinya.


Darren memeluk tubuh Ciara dan mendaratkan sebuah kecupan ke leher gadis itu.


“Kak! Ini Ciara! Nggak seharusnya Kak Darren kayak gini!” bentak Ciara dengan tegas.


Darren yang saat itu sedang sempoyongan, ia menatap ke arah Ciara dengan sorot mata yang mengerikan. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Ciara.


“Kamu mau tau sebuah rahasia?” bisik Darren. “Kamu itu anak angkat!”


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...

__ADS_1


__ADS_2