Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Ayo, Ikut Aku Pulang!


__ADS_3

..."Ayo, ikut Ciara pulang ke rumah Daddy Cio." – Ciara A. Garnacho...



Saat di perjalanan menuju gudang usang di mana Markus dan Darren di sekap.


“Daddy … aku takut.”


“Aku takut kalo aku mengacaukan rencana kita.”


“Gimana kalo nanti rencananya berantakan gara-gara aku?”


Ciara merengek sambil menatap Abercio yang saat itu sedang mengendarai mobil. Di belakang mobil Range Rover hitam yang Abercio kendarai, ada mobil Jeep hitam yang mengikuti mereka dari belakang. Bart dan Axel yang berada di dalam Jeep hitam tersebut.


Abercio menggenggam tangan Ciara menggunakan tangan kirinya yang semula memegang stir mobil. Kini hanya tangan kanannya saja yang memegang stir. Matanya menatap fokus ke arah jalanan meski saat itu menggenggam tangan Ciara dengan erat.


Pria tampan berhidung mancung berambut 'quiff haircut' ala-ala CEO tampan di film-film tersebut membawa tangan Ciara yang semula ia genggam itu mendekat ke bibirnya. Kemudian dikecupnya punggung tangan gadis itu dengan lembut.


“Sayang … rasa takut itu harus di hadapi. Bukan dihindari.”


“I know this is your first time,” ucap Abercio lembut, “tapi 'kan ada aku yang mendampingimu?”


“Tapi, ‘kan—”


“It’s okay, Baby. Aku yakin kamu bisa.” Potong Abercio.


“Daddy … kalo Kak Darren ternyata nggak salah gimana? Aku yakin dia nggak sejahat yang Daddy katakan,” tutur Ciara mencoba meyakinkan Abercio.


Abercio tersenyum meski tak melihat ke arah Ciara. Ia menatap kaca spion dalam mobil untuk membelokkan mobilnya ke arah kanan.


“Kamu boleh memutuskan dia jahat atau nggak setelah kita sampai di sana nanti.” Ucap Abercio tanpa ekspresi.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


Kembali ke masa sekarang.


“C-Ciara?!”


Darren menatap Ciara dengan wajah yang terkejut. Ia senang karena saat itu Ciara datang menyelamatkannya sehingga ia bisa segera meninggalkan gudang usang itu. Tapi ia juga mendadak khawatir. Ciara tak mendengar semua pembicaraan antara dia dan Markus tadi, ‘kan? Pikir Darren saat itu.


“Nggak mungkin dia mendengarkannya. Dia juga pasti baru dateng,” pikir Darren saat melihat ke arah beberapa pengawal yang tumbang di belakang Abercio. Saat itu Ciara juga terlihat pucat dengan nafas yang terengah-engah.


“Kak Darren nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Ciara khawatir dengan raut wajah yang sedih.


“Okay, dia nggak dengar apa-apa,” gumam Darren lega dalam hati.


Wajah tampan Darren yang semula bengis karena frustasi terkurung di gudang kumuh tersebut mendadak berubah. Ia bergegas menggunakan topengnya di depan Ciara. Pria itu langsung memasang wajah sedih dan mengiba di depan Ciara. Kemudian ia bergegas mendekat ke arah Ciara untuk memeluk gadis itu seolah-olah iya bahagia karena gadis itu datang menyelamatkannya.


“Hei!” bentak Darren dengan lantang. Matanya melotot menatap Abercio yang menahan dadanya agar tak memeluk Ciara saat itu juga.


“Ya terus kenapa aku nggak boleh memeluk adikku sendiri?” tanya Darren dengan sorot mata yang tajam ke arah Abercio.


“Ck! Karena kamu bukan kakak kandungnya,” gumam Abercio dalam hati.


Ciara mendongak menatap ke arah Abercio. Kemudian ia memegang tangan Abercio untuk meredamkan amarah pria tersebut. “Daddy?”


“Jangan memeluknya dalam keadaan kotor seperti itu.” Abercio tak mengindahkan Ciara. Tapi ia malah memperingati Darren untuk tak memeluk Ciara saat itu juga dengan alasan saat ini Darren sedang kotor.


Darren mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Abercio dan kini ia menatap ke arah Ciara.


“Sebenarnya ada apa sih, Kak?” tanya Ciara yang pura-pura tak tahu. “Waktu Ciara bangun, Ciara udah di rumah. Bukan di kamar hotel yang waktu itu Kak Darren anterin.”


“A-aku juga nggak tau,” jawab Darren terbata-bata. "Kamu lihat sendiri ‘kan? Aku aja di sekap di gudang jelek kayak gini?”

__ADS_1


Ciara mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Tubuhnya bergetar menahan jijik saat mengingat lagi bahwa pria yang selama ini ia anggap Kakak, begitu tega menjual dirinya. Bahkan, pria itu sempat membayangkan untuk menidurinya selama ini?! Lalu kini, ia bersandiwara seola-olah tak terjadi apa-apa dan ia pura-pura tak tahu?!


Mata Ciara kembali memanas menahan kekesalan dan sakit hati yang ia rasakan saat ini. Namun ia berusaha menahannya dan memaksakan senyumnya dengan kedua alis yang menyatu.


"Ciara senang Kak Darren selamat," ucap Ciara pelan. "Ayo, ikut Ciara pulang ke rumah Daddy Cio."


Saat Ciara mengajak Darren untuk pulang ke rumahnya, Abercio menyeringai sambil menatap ke arah Darren. Seringai yang begitu mengerikan dan memiliki sejuta arti.


"Nggak. Lebih baik aku pulang ke Bandung," sanggah Darren tak senang. "Ngapain ke rumah dia?"


"Kak ... gimana kalo orang yang nyulik Kak Darren itu nyulik Kakak lagi?" bujuk Ciara dengan kedua mata andalannya. Mata yang berkilat-kilat dan memelas.


Darren terdiam. Ia mendadak bergidik ngeri. Benar juga apa yang adiknya itu katakan. Kalau sampai dia di culik lagi bagaimana?! Apa sebaiknya ia ikut dulu ke rumah ayah tirinya itu? Yah ... sementara. Bukan untuk selamanya.


"Bagaimana dengan Daddy kita Ciara?" tanya Darren sambil melihat ke arah Markus yang sejak tadi sibuk menghisap rokok tanpa peduli dengan apa yang sedang terjadi. Padahal, ia telah diselamatkan oleh Abercio.


Abercio kembali menyeringai puas.


"Good girl. Rencana kita berjalan dengan baik, Baby," lirih Abercio dalam hati.


Di saat yang sama, Markus berdiri dan berjalan mendekat ke arah Ciara dan Abercio serta Darren. Dengan dada yang membusung dan kepala yang sedikit terangkat, wajah keriput itu menatap dingin ke arah Abercio. Tatapan yang begitu angkuh dan sombong.


"Sepertinya suaramu tak asing," tutur Markus.


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG......


...❣️❣️❣️...


...Quiff Haircut ala Daddy Cio kayak gini ya ges 😍...

__ADS_1



__ADS_2