Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Anak Dari Selingkuhan Suami


__ADS_3

..."Kau harus menjaga bayimu itu sendiri! Aku tak ingin menjaga anak dari selingkuhan suamiku!" - Mommy Lucy...



Dua puluh tahun yang lalu.


Saat itu adalah saat di mana Markus, Lucy dan Darren hidup bahagia. Mereka adalah keluarga bahagia yang cukup membuat orang iri. Meskipun tak kaya, tapi mereka bertiga hidup bercukupan tanpa kekurangan.


Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Markus mulai pulang telat dan selalu tidur di luar. Alasannya, pekerjaan yang begitu banyak dan dinas di luar kota.


“Sebulan terakhir, Mas kok sering pulang telat?” tanya Lucy sambil meletakkan jas Markus ke dalam keranjang kotor.


Markus menghela nafasnya dengan kasar. Ia terlihat malas mendengarkan pertanyaan Lucy yang membuat otaknya sakit. Padahal, ia sedang lelah karena baru pulang kerja.


“Kamu kenapa sih? Hari ini ‘kan aku pulang cepat,” ketus Markus sambil membuka kancing kemeja kerjanya satu per satu.


“Tapi—”


“Aku itu cari uang!” potong Markus kesal.


“Sudahlah. Tinggal di rumah bukannya membuatku istirahat, tapi malah membuat otakku pusing!”


Markus berjalan keluar dari kamar sambil kembali memasang kancing kemejanya. Wajahnya kusut dan sangat kecut. Membuat Lucy sedih karena ia bertanya baik-baik, tapi Markus menjawabnya dengan kesal.


Lucy terdiam dan mematung melihat sifat aneh Markus. Ke mana perginya pria yang dulu memuja-muja dan mencintainya? Ke mana perginya pria yang hangat itu? Ia menghela nafasnya mencoba mengusir kesedihan dan kegelisahan hatinya.


Lucy mencoba menerima keanehan Markus. Tak ingin menjadi istri yang durhaka, ia pun memilih diam dan patuh tanpa pemberontakan.


Sebulan, dua bulan, tiga bulan pun berlalu. Sifat Markus semakin menjadi-jadi. Lucy menjadi sedikit frustasi dan tak tahu harus bercerita pada siapa. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui sahabatnya Julia.


Tok! Tok! Tok!


“Iya, bentar,” sahut suara dari dalam rumah.


Ceklek!


“Lu-Lucy?”


Julia Anderson. Seorang wanita cantik berparas khas Indonesia dengan rambut hitam panjang tersebut terbelalak kaget melihat tamu yang hadir ke rumahnya saat itu. Tamu tersebut merupakan Lucy, sahabat dekatnya sejak mereka di bangku SMA. Hanya saja, beberapa bulan terakhir ini mereka jadi jarang bertemu dengan alasan Julia sibuk dengan pekerjaannya.


“Julia? K-kamu hamil?” tanya Lucy yang kaget melihat perut buncit Julia. Sorot mata Lucy menatap fokus ke arah perut buncit tersebut.


“Kok nggak bilang-bilang sih kalo kamu nikah?” sambungnya penasaran.


Wajah Julia menjadi pucat pasi. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tangannya entah kenapa mendadak dingin. Padahal, saat itu musim panas dan matahari begitu terik.


“Masuklah.” Julia memaksakan senyumnya yang terkesan kaku. Ia mengajak Lucy masuk dan duduk di ruang tamu.


“Sebentar aku buatin minum,” ucap Julia.


“Ih! Kamu kayak sama siapa aja!” celetuk Lucy. Lucy menarik tangan Julia dan mengajak sahabatnya itu duduk berdampingan dengannya di sofa. “Biasanya juga ‘kan aku ambil sendiri ke dapur.”


Mata Lucy tak tahan berkeliling di sekitar rumah. Sesekali kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang merupakan suami dari sahabatnya itu.


Puas matanya berkeliling, Lucy kembali menatap Julia yang ada di sampingnya. “Suami kamu mana?”


Julia menggelengkan kepalanya pelan. Hal tersebut membuat Lucy mengerutkan dahinya dengan kedua alis yang menyatu.

__ADS_1


“Cy … gue … belum nikah,” ucap Julia gugup.


Lucy mendadak terbelalak kaget mendengarkan ucapan Julia. Sebenarnya apa yang terjadi? Padahal, selama ini ada begitu banyak pria yang mengejarnya. Dia juga terkenal sulit menerima kehadiran pria lain di hidupnya karena rasa percaya yang begitu rapuh pada makhluk yang disebut lelaki. Lalu, sekarang … bagaimana dia bisa hamil?


“Kamu diperkosa?!” geram Lucy dengan sorot mata yang tajam menatap ke arah Julia.


Lucy berdiri dari duduknya. Ia memegang tangan Julia untuk membawa sahabatnya itu pergi. "Ayo kita ke kantor polisi!"


"B-bukan. A-aku nggak diperkosa," bantah Julia terbata-bata.


Lucy kembali duduk sambil memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Julia. Ia duduk bersila di depan Julia. Menatap sahabatnya itu dengan perasaan iba. Apa yang terjadi sebenarnya?


"Aku ... aku hamil anak dari seorang pria yang sudah beristri," ucap Julia terbata-bata.


Tubuh Lucy tersentak kaget. Matanya terbelalak dengan mulut yang setengah terbuka. Tangannya secara refleks menutup mulut yang ternganga itu.


"Ju-Julia ...," gumam Lucy lirih, "kok bisa? Biasanya 'kan kamu suka milih-milih buat dekat dengan seseorang?"


Julia terisak secara tiba-tiba. Airmatanya berjatuhan tanpa henti. Wajahnya tertunduk sambil meremas jemari yang sejak tadi terasa begitu dingin.


"Aku nggak tau. Tapi ... semua itu terjadi begitu cepat. Seminggu setelah aku memutuskannya, aku hamil," jelas Julia dengan tangis yang semakin membuncah.


"Apa yang harus aku lakukan Lucy? Aku nggak mau semakin merusak rumah tangga mereka. Tapi ... tapi aku juga nggak bisa membunuh anak ini."


"Kamu mencintai pria itu?" tanya Lucy dengan hati-hati.


Julia menatap Lucy dengan perasaan bersalah. Namun iya tak berani mengatakan hal yang sebenarnya. Karena pria yang telah menghamilinya adalah Markus, suami sahabatnya sendiri. Lalu, bagaimana bisa ia mengatakan hal gila itu pada sahabatnya sendiri?


"Lia?" panggil Lucy membuyarkan lamunan Julia.


"Aku ingin melupakan pria itu dan membesarkan anak ini sendiri," ucap Julia penuh keyakinan.


Menjadi seorang 'single parent' bukanlah masalah untuknya. Selagi ia bisa memberi makan anaknya tanpa harus mengemis pada siapa-siapa, ia masalah. Lagi pula ia masih kuat bekerja. Tak masalah jika harus kerja serabutan. Yang penting, ia tak ingin lagi merusak kehidupan Lucy yang diam-diam sudah ia khianati itu.


"Aku akan membantumu membesarkan anak ini," ucap Lucy sambil tersenyum dan memegang kedua bahu Julia.


"Tapi ... jangan sampai ada yang tahu tentang ini. Mas Markus sekalipun. Jangan sampai dia tau," ucap Julia memohon.


...❣️❣️❣️...


Tiga bulan telah berlalu.


Oekkk... Oekkk...


Tangis bayi terdengar memenuhi ruangan persalinan tersebut. Saat itu, Lucy berdiri di depan ruang bersalin sambil menghela nafas lega.


"Akhirnya ...," gumam Lucy.


Lucy berjalan mondar mandir di depan ruang bersalin menunggu dokter segera keluar. Hatinya begitu girang dan senang. Kelahiran anak dari sahabatnya tersebut, rasanya seperti kelahiran anaknya sendiri!


Ceklek!


Setelah menunggu lama, akhirnya dokter keluar dari ruang persalinan. Lucy melihat Julia yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit sambil memeluk seorang bayi. Ranjang yang Julia tempati sedang di dorong oleh beberapa orang perawat.


Julia di bawa ke sebuah ruang rawat inap untuk beristirahat. Setelah perawat memastikan semuanya aman, perawat tersebut pergi meninggalkan ruangan.


"Ciara ...," ucap Julia saat melihat Lucy menatap bayinya.

__ADS_1


Mata Lucy begitu berbinar-binar menatap bayi yang ada di pelukan Julia. Bayi yang masih merah itu sedang terlelap.


"Jadi, nama bayi ini Ciara?" gumam Lucy sambil tersenyum. Tangannya menyentuh lembut pipi Ciara dengan penuh kehangatan.


Julia tersenyum. Meskipun saat itu Julia sedang diselimuti kebahagiaan, tapi wajahnya begitu pucat dan lemah. Bibirnya kering dan terkelupas. Keringat membasahi dahinya.


"Lucy," panggil Julia dengan suara yang lemah. Ia memegang lengan Lucy yang saat itu sedang menyentuh Ciara.


"Tangan kamu kenapa dingin banget?!" Lucy menatap Julia khawatir. "Aku akan segera memanggil suster."


Belum sempat Lucy berbalik memutar badan, Julia menahan tangan Lucy agar tak pergi meninggalkannya.


"Maaf Lucy," lirih Julia dengan mata yang berkaca-kaca. Perlahan airmata menggenang memenuhi matanya.


"Maaf kenapa? Kamu itu sahabatku! Jadi sudah seharusnya aku berada di sisimu saat susah dan senang," ucap Lucy tak tenang. Ia ingin segera memanggil perawat karena keadaan Julia saat itu benar-benar mengkhawatirkan.


"Anak ini ...," Julia terisak, "anak ini darah daging Markus, hiks... hiks...."


Bak disambar petir di siang bolong, seketika tubuh Lucy mendadak bergetar dengan hebat. Sekujur tubuh Lucy mendadak keringat dingin. Rasanya seluruh darahnya membeku saat mendengarkan ucapan Julia, sahabatnya itu.


"Benar. Seperti yang kamu pikirkan, pria yang sudah beristri itu adalah Markus," jelas Julia dengan suara yang serak.


"Saat SMA ... diam-diam aku mengidolakannya. Tapi, saat mendengarkan Markus mendekatimu, aku memutuskan untuk melupakannya."


"Tapi ... ternyata aku salah. Saat kalian sudah menikah, saat aku selalu datang ke rumahmu untuk bercerita dan bermain dengan Darren, entah bagaimana bisa, aku dan Markus menjadi semakin dekat."


"Lalu, suatu hari, aku sedang menenangkan diri di sebuah klub malam. Aku bertemu dengan Markus dan ... kami melakukan hal terlarang."


"Sejak saat itu aku dan Markus sering bertemu dan terus bergelut dalam kegilaan yang terlarang."


"Suatu malam, Markus berkeluh kesah tentangmu karena ia merasa bosan. Saat itu juga aku memutuskan untuk mengakhiri semua kegilaan itu."


"Tapi ternyata aku hamil."


"Aku ... a-aku ...." Julia tak mampu melanjutkan lagi ucapannya. Ia terisak dengan penuh penyesalan. Ia begitu malu atas dosa yang ia buat. Terlebih ia begitu merasa bersalah karena telah mengkhianati sahabatnya sendiri.


Saat itu, tanpa terasa airmata sudah jatuh berceceran membasahi pipi Lucy. Ia bingung harus memberikan respon apa. Tapi, yang jelas hatinya begitu sakit bagai teriris sembilu.


"Ciara yang artinya suci," ucap Julia, "dia terlahir karena dosa dari kedua orangtuanya."


"Tapi dia tetaplah bayi yang tak bersalah dan tak tahu apa-apa."


"Tolong ... tolong jaga bayiku ini kalau sesuatu terjadi padaku."


Lucy mengeram dengan tangan yang ia kepalkan dengan kuat. Ia menatap kesal dan penuh kekecewaan pada Julia.


"Kamu menitipkan bayi ini padaku?!" tanya Lucy dengan suara yang penuh penekanan.


"Setelah apa yang kamu perbuat dengan suamiku?!"


"Maafkan aku, Lucy. Aku ... aku ....," lagi-lagi Julia terisak. Kerongkongannya tercekat. Dadanya terasa begitu sesak. Benar, saat itu ia terlalu egois karena menitipkan bayi hasil perselingkuhannya dengan suami sahabatnya sendiri. Tapi, ia juga tak tau apakah ia bisa bertahan dari rasa sakit akibat pendarah setelah bersalin tersebut?


"Kau harus menjaga bayimu itu sendiri! Aku tak ingin menjaga anak dari selingkuhan suamiku!" kecam Lucy sambil bergegas keluar dari ruangan tersebut. Lucy begitu kesal dan marah. Emosinya meluap-luap tanpa bisa dijelaskan. "Tenanglah, aku tak akan membiarkanmu mati cepat. Aku akan segera memanggil dokter."


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2