
...“Ciara, Daddy lagi di Jakarta. Dia mengajak kita bertemu! Kakak senang banget! Lusa Kakak akan ke Jakarta. Kita ketemu di Hotel One Day, ya!” – Darren A. Garnacho...
Abercio bergegas menuruni ranjang dan menapaki lantai. Ia meraih ponsel Ciara dan mengangkat panggilan meresahkan tersebut. Sedangkan Ciara memposisikan tubuhnya duduk menatap takut ke arah ponselnya yang sedang bergetar.
“Halo?” suara bariton Abercio menggema saat mengangkat panggilan tersebut.
Bukannya mengatakan apa-apa, peneror tersebut malah mematikan panggilan tersebut setelah mendengarkan suara Abercio.
Abercio menoleh ke arah Ciara. “Daddy boleh pinjam hp Ciara? Daddy bakalan suruh Bart cari tau siapa yang mengganggumu sejak kemaren itu.”
Ciara mengangguk lemah ke arah Abercio. Ia benar-benar pasrah dengan tindakan apa yang akan Abercio ambil untuk menangani masalah yang membuatnya takut itu.
Abercio duduk di sisi ranjang tepatnya di sisi Ciara. Ia membelai punggung kepala Ciara dengan tatapan yang penuh kasih sayang.
“Jangan takut. Aku nggak akan membiarkan siapa pun menyakitimu,” lirih Abercio menenangkan Ciara. “Bahkan semut pun akan ku bunuh kalau dia menyakitimu.”
Ciara mendadak tertawa dengan ucapan Abercio. “Daddy terlalu berlebihan.”
“Hahaha… aku serius, Sayang,” Abercio membawa tubuh Ciara ke pelukannya lagi. “Tak ada yang bisa menyentuh dan menyakitimu di dunia ini.”
“Selain aku,” sambung Abercio dalam hati.
...❣️❣️❣️...
“Pak, semalam saya sudah menghubungi orang bayaran. Mereka hanya menakuti Ciara di lantai 35 tepatnya di depan lift. Sampai situ saja. Dia juga tak menyentuh Ciara sama sekali.”
“Bahkan, mereka tak mengenal sosok berbaju hitam yang ada di depan hotel. Sosok yang mencelakai anda itu bukan anggota mereka,” jelas Bart.
Abercio menghisap rokoknya di balkon sembari menatap hujan yang masih mengguyur bumi di pagi itu. Taman yang gelap yang biasanya ia nikmati di malam hari, pagi itu terlihat begitu indah dan memanjakan mata. Entah kenapa Abercio tak pernah ingin membetulkan lampu-lampu di taman itu.
“Bart,” panggil Abercio. “Di atas meja ku itu hp milik Ciara.”
__ADS_1
“Lacak nomor-nomor aneh yang menerornya semalam. Cari tau saja siapa yang menghubungi Ciara termasuk orang bayaran,” perintah Abercio.
“Baik, Pak.” Bart mengambil ponsel Ciara yang ada di atas meja Abercio. Kemudian ia pamit mengundurkan diri.
Saat Bart membuka pintu ruang kerja Abercio, Axel sedang berdiri di depan pintu tersebut dengan tangan di udara yang siap untuk mengetuk pintu.
“Pak, boleh saya masuk?” tanya Axel.
“Hmm. Masuklah,” sahut Abercio tanpa menoleh ke belakang. “Kau juga jangan pergi dulu, Bart.”
Keduanya masuk ke dalam ruang kerja Abercio dan menutup rapat pintu ruangan tersebut. Lalu mereka berjalan mendekat ke arah Abercio.
“Markus Alejandro Garnacho. Saya sudah menemukan informasi yang anda minta,” ucap Axel.
“Setelah bercerai dengan Lucy, dia pindah ke Surabaya dan menetap di sana dengan istri barunya. Tapi pernikahan itu hanya berlangsung satu tahun karena dia ditipu oleh istrinya dan seluruh hartanya habis berpindah tangan ke istrinya itu.”
“Dua hari yang lalu Markus ke Jakarta. Dia ingin mencari Lucy dan dua orang anaknya. Dia—”
“Alasan dia ingin menemui Lucy dan dua orang anaknya apa?” tanya Abercio dingin.
“Untuk itu saya masih menyelidiki, Pak. Kelakuannya yang meresahkan itu membuat semua kerabat memutuskan hubungan dengannya. Jadi, tak ada yang senang berteman atau bersosialisasi dengannya,” jelas Axel.
“Apa pekerjaannya sekarang?” tanya Abercio penasaran.
“Terakhir, pengedar narkoba. Tapi karena dia jadi buronan, sekarang dia melarikan diri dengan sisa uang yang ada ke Jakarta,” jelas Axel lagi.
“Ada yang nggak beres,” gumam Bart pelan.
Abercio menatap ke arah Bart. Gumaman Bart tadi sukses mencuri perhatian Abercio. Meskipun ia sempat kesal dengan Bart karena sedikit banyaknya pria itu menaruh perasaan pada Ciara, tak bisa ia pungkiri bahwa Bart salah satu orang kepercayaannya yang pintar dan cerdas.
“Apa yang nggak beres?” tanya Abercio sambil menatap ke arah Bart.
Ting!
__ADS_1
Belum sempat Bart menjawab ucapan Abercio, ada sebuah pesan masuk dari Darren. Kakak kandung Ciara.
“Dari Darren, Pak,” ucap Bart yang saat itu menatap layar ponsel Ciara.
“Apa pesannya?” tanya Abercio.
Bart membacakan pesan yang Darren kirimkan kepada Ciara.
...“Ciara, Daddy lagi di Jakarta. Dia mengajak kita bertemu!”...
...“Kakak senang banget! Lusa Kakak akan ke Jakarta. Kita ketemu di Hotel One Day, ya!”...
...“Daddy menunggu kita di sana!”...
Abercio mengeram dengan penuh amarah. Ia tau bahwa Markus sialan itu ingin bertemu dengan Ciara bukan tanpa alasan. Pasti ada sesuatu yang sedang pria itu rencanakan! Setelah bertahun-tahun tak ada kabar, kenapa baru sekarang ia mengajak anak yang ia siksa itu bertemu?!
“Markus Alejandro Garnacho. Entah kenapa, firasatku mengatakan bahwa pria aneh semalam adalah dia,” gumam Abercio sembari menyilangkan kedua tangannya ke dada dengan sorot mata menatap lurus ke depan tak bertumpu.
“Axel, selidiki informasi sebanyak-banyaknya tentang Markus itu.” Perintah Abercio dengan gamblang.
“Bart, selidiki hal yang kuminta tadi. Lalu cari tau koneksi yang ia miliki. Gimana sampai dia bisa mendapatkan nomor Ciara?” titah Abercio kepada Bart dengan tegas.
“Aku akan menambahkan bonus kalian tiga kali lipat dari biasanya.”
Abercio menghela nafasnya dengan kasar. Kepalanya mendadak sakit saat memikirkan keamanan Ciara yang menjadi taruhan. Ia tak ingin gadis itu tersiksa dan disakiti lagi. Ia ingin melindungi gadis itu dengan segala kekuatan yang ia punya.
Seperti yang Abercio tekadkan sebelumnya, meskipun di dunia ini ada yang bisa menyakiti Ciara, hanya dia lah satu-satunya yang bisa menyakiti gadis itu. Tak ada yang boleh menyentuh gadis itu selain dirinya.
“Untuk sementara aku akan bekerja dari rumah sambil menjaga keamanan Ciara. Kalau ada apa-apa, kalian bisa mencariku di sini,” sambung Abercio.
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...
__ADS_1