Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Anak Laki-Laki yang Menyedihkan


__ADS_3

...“Aku juga merindukannya. Sangat merindukannya. Kenapa dia harus pergi sebelum aku bisa membahagiakannya?” – Benicio Sanchez...



Saat di mana Benicio menanyakan perihal kamarnya yang berubah menjadi serba kewanitaan, saat yang sama juga Lucy masuk ke rumah tersebut. Benicio semakin terheran-heran menatap wanita yang sudah mulai tua itu masuk ke rumahnya dengan santai.


“Jangan bilang—”


“Mommy,” ucap Ciara sambil membalikkan badan dan berlari ke arah Lucy.


Ucapan Benicio terhenti saat Ciara memanggil Lucy dengan sebutan ‘Mommy’. Tebakannya benar! Wanita itu adalah ibu Ciara. Apa sih yang sudah mereka berdua lakukan sampai-sampai Abercio dengan senang hati membiarkan dua orang parasit itu menumpang di rumah itu?


“Ciara, jangan lari-lari,” ucap Lucy kepada Ciara yang manja itu. “Kamu itu udah mau jadi istri orang!”


“Ya karena itu. Sebelum jadi istri orang, aku mau puas-puasin dulu manjanya sama Mommy,” rengek Ciara sembari memasang wajah yang cemberut.


Lucy menatap ke arah Abercio. Kemudian ia menatap ke arah Benicio yang sedang berada di atas tangga. Sosok pria yang sebelumnya tak pernah ia lihat. Sosok pria asing namun mirip dengan Abercio.


“Pasti kamu adiknya Abercio?” tanya Lucy lembut.


“Ternyata kamu lebih tampan saat sudah dewasa ya?” sambung Lucy sambil tersenyum.


“Kalian pasti belum makan? Ayo, Mommy beliin makanan tadi sebelum pulang.”


Mendengar ajakan Lucy, Benicio memutar bola matanya sembari menghela nafas dengan berat. Ia sangat tak suka melihat Lucy yang pura-pura baik baginya itu. Baginya, tak ada manusia yang benar-benar baik di dunia ini tanpa mengharapkan apa-apa.

__ADS_1


Benicio memutar tubuhnya. Ia pergi memasuki kamar tamu yang ada di samping ruang kerja kerja Abercio. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kedua tangan yang membentang dengan lebar. Matanya menatap ke arah langit-langit kamar dengan tatapan yang nelangsa dan kosong.


“Andai keluarga ini tak berpecah belah,” gumam Benicio pelan. Sesaat kemudian ia memejamkan matanya.


...❣️❣️❣️...


Malam harinya, saat di mana semua orang sudah terlelap, Benicio terbangun. Perutnya keroncongan karena belum di isi apa-apa.


Kruyuk!


Benicio memaksa matanya untuk terus terlelap. Namun sulit! Perutnya benar-benar lapar saat itu. Ia melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul dua belas lewat.


“Haaa …” Benicio menghela nafas berat.


Pria itu duduk dari tidurnya, kemudian ia meregangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya ke udara.


Tanpa terasa, mata Benicio berkaca-kaca. Airmata kesedihan mulai membasahi pipi saat ia melihat ujung tangga untuk turun ke lantai satu. Kenangan-kenangan yang indah, sekilas terlintas di benaknya. Dadanya mendadak sesak dan penuh.


“Mama!” teriak Benicio yang saat itu berusia tujuh belas tahun.


Pria yang masih mengenakan pakaian sekolah putih abu-abu tersebut terbelalak kaget saat berada di ujung tangga. Sorot matanya terpaku pada sosok Eve yang tergeletak di depan pintu kamar yang kini di tempati oleh Abercio.


Benicio bergegas berlari ke arah Eve dan meraih tubuh Eve ke pelukannya. Kemudian ia berlari membawa Eve menuruni tangga dengan wajah yang begitu pucat dan penuh ketakutan.


Saat ingatan pahit tersebut terlintas di benak Benicio, tiba-tiba Milo datang menghampiri Benicio dengan tatapan yang sedih. Seolah-olah ia ikut bersedih meskipun tak tahu penyebab Benicio bersedih.

__ADS_1


Benicio berjongkok di depan Milo. Di tatapnya Milo dengan matanya yang merah dan basah karena airmata. Ia mencoba tersenyum kepada Milo yang saat itu sedang menatap ke arahnya.


“Hey, Buddy,” ucap Benicio pelan. “Sejak kapan kamu diadopsi di rumah ini?”


Milo tak memberikan respon apa-apa. Ia hanya diam dan sesekali matanya berkedip menatap ke arah Benicio yang matanya masih basah karena menangis.


“Pasti dulunya kamu juga dipisahkan dengan orangtuamu, ‘kan?” tanya Benicio pada Milo.


Milo yang hanyalah seekor binatang peliharaan Abercio, ia tak dapat berkata apa-apa selain menatap iba ke arah Benicio.


“Apa kamu merindukan ibumu?” tanya Benicio lagi.


“Nggg …” sahut Milo pelan dengan ekspresi sedih.


“Hahaha!” Benicio tertawa pelan melihat tingkah Milo. Bisa-bisanya hewan itu mensahuti pertanyaannya.


Sesaat setelah ia tertawa, Benicio tertunduk sembari memijat kasar kepalanya. Ia menatap lantai dan airmatanya jatuh dengan deras membasahi lantai tersebut. Tetes demi tetes jatuh dengan isak yang tertahankan karena ia tak ingin ada yang terbangun di malam itu.


“Aku juga merindukannya. Sangat merindukannya,” isak Benicio lirih. “Kenapa dia harus pergi sebelum aku bisa membahagiakannya?”


Milo yang sadar akan kesedihan Benicio, ia mendekat dan menaikkan kedua tangannya ke kedua bahu Benicio. Kemudian, ia mendaratkan kepalanya ke bahu Benicio seperti sedang memeluk tubuh pria yang saat itu sedang bersedih hati.


Benicio tertawa dalam tangisnya. Melihat respon dari anjing tersebut, entah kenapa membuat hatinya semakin iba dan pilu. Bagaimana bisa seekor binatang bisa begitu peka dan memiliki perasaan? Berbeda dengan ayahnya yang manusia tapi berperilaku seperti binatang?


Di saat yang sama, saat di mana Benicio sedang menumpahkan seluruh tangisnya pada Milo, di saat itu juga lah Lucy menatap Benicio dari kejauhan dengan perasaan yang iba. Nalurinya sebagai seorang ibu mendadak terenyuh dan terusik.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2