Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
You Are My First


__ADS_3

...“Daddy … you are my first love. You are my first kiss too. Entah kenapa, aku yakin Daddy juga akan menjadi yang pertama mendapatkan semua yang ada pada diriku.” – Ciara A. Garnacho...



Di dalam kamar mewah tersebut, Ciara menatap Abercio dengan mata khasnya. Mata amber yang bulat itu lah yang bisa meluluh lantakkan hati pria manapun. Bahkan mata itu bisa membuat Abercio si pria gila itu menjadi semakin gila dan tak terkontrol.


“Kenapa? Kamu nggak kasian melihatku yang setiap hari menahan diri?” tanya Abercio dengan suara yang lirih.


“Mungkin di matamu aku ini pria mesum. Tapi, aku juga tak bisa menahan gairah yang sedang bergejolak. Kepalaku seperti akan pecah menahan gejolak yang tertahankan itu,” sambungnya.


Ciara memegang tangan kekar Abercio yang saat itu sedang membelai lembut pipinya. Ia memasang wajah yang memelas dan mengiba sembari menatap wajah Abercio.


“Daddy … you are my first love. You are my first kiss too. Entah kenapa, aku yakin Daddy juga akan menjadi yang pertama mendapatkan semua yang ada pada diriku,” tutur Ciara dengan lembut.


“But … aku harap Daddy bisa ngerti kenapa aku takut untuk melakukan hal yang satu itu. A-aku takut darah dan—”


Abercio langsung memeluk tubuh Ciara dengan sangat erat. “Maafkan aku. Maaf aku terlalu egois dan menuntutmu ini itu.”


Ciara tertegun. Andai ia berterus terang pada pria itu sejak awal, mungkin ia tak perlu pusing memikirkan alasan untuk melakukan penyatuan dengan Abercio. Pria itu benar-benar hangat dan penuh dengan cinta, rasanya ia semakin mengagumi sosok pria itu, pikir Ciara.


“Oh iya, aku lupa memberitahumu.” Abercio kembali duduk dan membawa kepala Ciara ke atas pangkuannya. Ia membelai lembut kepala gadis itu sambil satu tangannya lagi menggenggam erat tangan Ciara.


“Darren menghubungimu. Katanya dia mau ke Jakarta lusa. Dia mengajakmu bertemu dengan Markus di Hotel One Day.”


Ciara terdiam. Wajahnya yang semula cerah karena senang akan kehangatan yang Abercio berikan, kini wajah itu mendadak suram dan pucat.

__ADS_1


Abercio dapat merasakan rasa takut dari tubuh Ciara yang bergetar. Tangan mungil yang ia genggam itu mendadak berkeringat dan dingin.


“Sayang, kalau kamu nggak mau ketemu—”


“Aku akan menemuinya,” potong Ciara.


“Kamu yakin?” tanya Abercio meyakinkan. Matanya menatap khawatir ke arah Ciara. Tatapan yang seolah-olah memberikan sinyal khawatir akan terjadi hal buruk pada gadis yang ia cintai itu.


Ciara mengangguk dengan penuh keyakinan. “Dia nggak akan berani menyentuhku kalau ada Kak Darren.”


...❣️❣️❣️...


Tok! Tok! Tok!


“Masuk.”


“Ada apa?” tanya Abercio yang sadar bahwa Axel sedang menatapnya.


“Markus mengajak kedua anaknya bertemu hanya untuk menikmati makan malam bersama,” jelas Axel yang salah tingkah karena tertangkap basah.


Abercio menyeringai tipis saat mendengarkan informasi dari Axel.


“Hanya itu?” tanya Abercio tak puas hati.


“Iya, Pak.”

__ADS_1


“Kalau terjadi sesuatu pada Rubah Kecil-ku, kau mau bertanggung jawab?” kecam Abercio dingin tanpa menoleh sedikitpun ke arah Axel.


Mendengar ucapan Abercio, Axel terdiam dan bergidik ngeri. “S-saya akan mencari tahu informasi—”


“Sudahlah. Sekarang pergi beli obat perangsang,” ucap Abercio memotong pembicaraan Axel.


Axel terbelalak. Sebelumnya Abercio tak pernah sekalipun menyuruhnya atau anak buah yang lain untuk membeli obat tersebut. Meskipun ia memiliki nafsu yang buas bak binatang, wanita yang menghampirinya selalu berhasil mengikuti permainannya tanpa henti. Yah, mungkin karena wanita-wanita itu berlatar pelacur semua. Jadi mereka sudah terlatih. Lalu, untuk siapa ia menggunakan obat itu?


“A-anda ingin menggunakan obat itu untuk Ciara?” tanya Axel menyelidiki.


Abercio menghentikan pekerjaannya. Ia bersandar ke kursi sembari menyilangkan kedua tangannya ke dada dengan wajah yang sedikit terangkat. Matanya menatap tajam ke arah Axel.


“Sejak kapan kau menyelidikiku?” tanya Abercio dingin.


“M-maaf, Pak,” ucap Axel sambil menunduk. “Saya akan segera membelinya.”


Axel bergegas keluar dari ruang kerja Abercio. Kini, hanya Abercio seorang yang berada di ruangan itu.


Abercio menghela nafasnya sembari berdiri dari kursi. Seperti biasa, ia meraih rokok dan membakarnya, lalu berjalan menuju balkon.


“Ciara … tenanglah, aku akan segera melenyapkan Markus dari hidupmu dan membuatmu seutuhnya milikku.”


Abercio menghembuskan asap rokoknya ke udara sembari matanya menatap lepas ke arah langit di sore itu. Ia menyeringai dengan sangat mengerikan. Wajah hangat yang selalu ia perlihatkan ke Ciara, kini tak terlihat. Yang terlihat hanya lah wajah yang licik dan penuh dengan tipu muslihat.


“Seperti yang pernah ku katakan, aku bukanlah pria yang sabaran. Terlebih lagi urusan ranjang."

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2