
..."Kamu tau 'kan, fungsi Sugar Daddy itu apa? Menikmati service dari Sugar Baby dan mencukupi semua kebutuhan Sugar Baby-nya." – Ciara A. Garnacho...
"Kenapa pulang tanpa mengabariku?" tanya Abercio.
"Padahal, setiap aku menyuruhmu pulang, kau tak pernah mau pulang."
Abercio merangkul bahu Benicio dan menuntun adiknya menuju ke arah sofa.
Benicio hanya tertawa. Ia menatap ke arah Abercio dengan tatapan yang penasaran.
"Jadi, gosip-gosip yang berseliweran itu benar?"
Abercio menepuk jidatnya. Ia lupa bahwa di sana bukan hanya ia dan Benicio saja. Tapi ada Ciara yang menunggu sambil mematung karena merasa terasingkan.
Abercio bergegas mendekat ke samping Ciara. Kemudian ia memperkenalkan Ciara kepada Ben.
"Ciara?" tebak Benicio.
Abercio yang baru membuka mulutnya ingin memperkenalkan Ciara kepada adiknya, ia mendadak tersenyum. "Hmm. Dia calon kakak iparmu."
"Ciara," ucap Ciara sambil mengulurkan tangannya ke arah Benicio.
__ADS_1
"Kakak ipar yang berusia jauh lebih muda dariku?" tanya Benicio sengit sambil tersenyum.
Abercio mengerti akan ucapan Benicio. Sepertinya, adiknya itu tak suka akan kehadiran Ciara ke dalam hidupnya. "Ben, jaga ucapanmu."
Benicio tak peduli. Ia menghela nafasnya sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Kak, aku laper."
Melihat Benicio yang tak menyambut uluran tangannya, Ciara kembali menarik tangannya. Ia benar-benar merasa asing di rumah itu. Ini pertama kalonya ia merasa tak nyaman.
Apa ... semuanya akan baik-baik saja? Pikir Ciara.
"Sebentar, aku ambil kunci mobil dan dompet ke atas," ucap Abercio pada Ciara dan Benicio. Kemudian ia bergegas pergi ke lantai atas meninggalkan Benicio dan Ciara.
"A-aku juga mau ambil tas ku ke atas," ucap Ciara sambil membalikkan badannya. Ia tak ingin berduaan dengan Benicio. Karena rasanya sangat tak nyaman.
Namun, saat itu, Benicio memanfaatkan waktu antara ia dan Ciara. Kepulangannya setelah tujuh tahun meninggalkan Indonesia benar-benar karena ia tak ingin Abercio jatuh ke tangan wanita yang salah.
Ciara menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang. Kemudian memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Benicio.
"Katakan, apa tujuanmu mendekati Kakakku?" tukas Benicio tanpa basa basi. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Namun terlihat dingin dan sangat tidak bersahabat.
"Maksud, Kak Ben?" tanya Ciara sambil mengerutkan keningnya.
"Ck!" Benicio memegang sudut bibirnya sembari menyeringai. Pandangannya ke lantai saat berdecak sebal tadi.
__ADS_1
"Nggak usah munafik," tukas Benicio sambil mengangkat wajahnya menatap ke arah Ciara.
Ciara mengepalkan kedua tangannya. Ia tak tahan lagi terus-terusan ditindas dan diremehkan. Bahkan kini ia dituduh munafik?! Ck! Sepertinya sekarang ia harus sedikit lebih berani. Lagi pula, secinta apapun Abercio pada adiknya itu, Abercio tetap akan memilih dirinya. Memangnya, Benicio akan selamanya menemani Abercio dan tak kawin-kawin?
Ciara mengangkat wajahnya dan ia membusungkan dadanya. Meskipun hatinya berdebar-debar karena ini pertama kalinya ia menghadapi pria asing seorang diri.
"Nggak usah munafik? Ck!" Ciara menyilangkan tangannya ke dada. Kemudian ia berjalan mengelilingi Benicio.
Kini, yang merasa tak nyaman adalah Benicio. Bukan lagi Ciara.
"Gimana, ya? Cio memanfaatkanku, ya seharusnya aku juga memanfaatkan Cio," celetuk Ciara memancing Benicio.
"C-Cio?!" Benicio menatap ke arah Ciara yang sedang mengelilinginya saat itu. Tubuhnya ikut berputar perlahan mengikuti putaran Ciara.
"Oh iya. Sebenarnya sih, aku manggilnya Daddy. Bukan Cio," lirih Ciara yang entah sejak kapan menghentikan langkahnya.
Ciara mendekat ke arah telinga Benicio. Kemudian ia berbisik dengan suara yang sangat mengerikan. Padahal, Ciara berniat mengusili Benicio yang usianya lebih tua daripadanya.
"Daddy Cio," bisik Ciara perlahan ke telinga Benicio, "dia adalah Sugar Daddy-ku."
"Kamu tau 'kan, fungsi Sugar Daddy itu apa?"
"Menikmati service dari Sugar Baby dan mencukupi semua kebutuhan Sugar Baby-nya."
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG......