Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Nobody Knows The Truth


__ADS_3

...“Nggak ada yang tau isi hati manusia, Nak.” – Markus Alejandro Garnacho...


...❣️...


...“Ssshhh… You can cry later. Remember, kamu nggak boleh terlihat rapuh di depan orang lain selain di depanku. Hmm?” – Abercio Sanchez...



"Aku ingin kamu sendiri yang membalasnya."


Abercio mengatakan hal tersebut dengan gamblang. Kedua matanya menatap dalam ke arah mata Ciara sembari kedua tangannya memegang kedua pipi Ciara dengan lembut. Saat ia mengatakan dengan lugas keinginannya agar gadis itu sendiri yang membalaskan kejahatan mereka.


"Kenapa?" tanya Ciara tak mengerti.


Abercio tersenyum.


"Membalas mereka yang telah menyakitimu itu akan terasa sangat memuaskan saat kamu sendiri yang membalasnya," jawab Abercio.


Ciara terhenyak. Perkataan Abercio tersebut sedikit sulit ia terima. Pasalnya ia tak tega dan tak sampai hati ingin menyakiti manusia, karena ia tahu bagaimana rasanya di sakiti.


"Daddy, aku nggak bisa." Ciara melepaskan kedua tangan Abercio dari wajahnya. Kemudian ia bersandar ke sofa sambil menatap lurus dengan tatapan yang kosong.


"Hmm. Kamu nggak bisa kalau melakukannya tanpaku," jawab Abercio santai.


Ciara langsung menoleh ke arah Abercio. Ia tak mengerti dengan apa yang pria itu katakan. “Kita … berdua?”


“No. Only you.” Abercio mengarahkan telunjuknya ke dada Ciara. “Aku hanya akan mengajarkanmu bagaimana caranya menjadi gila.”


“Yah … sekaligus memantau di balik layar. Lagi pula ‘kan kamu yang memintaku untuk mengajarimu menjadi gila?” imbuhnya.


Ciara terdiam. Pikirannya berkecamuk dan seketika menjadi begitu penuh. Bagaimana bisa ia yang selama ini di sakiti dan di tindas bisa membalas kembali perbuatan orang-orang yang menyakitinya? Memangnya dia seberani itu? Ia juga tak sampai hati ingin menyakiti Darren. Toh belum terbukti bahwa pria itu dalang di balik semua ini?


“Daddy, aku akan memutuskannya setelah aku benar-benar yakin kalau Kak Darren lah penyebab semua ini,” tutur Ciara.


Abercio tak mengatakan apa-apa. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


“Tapi, Kak Darren sekarang lagi di mana, Daddy?”

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


“Pa, sebenarnya siapa sih yang menyekap kita di sini?” tanya Darren frustasi.


Pria yang berusia dua puluh dua tahun itu terlihat sedang mondar mandir bak setrika panas di dalam sebuah gudang usang. Penampilannya sangat berantakan dan kumal karena berada di dalam ruangan yang kumuh penuh debu itu.


“Ya mana Papa tau. Apa jangan-jangan temanmu yang ingin membeli Ciara itu sakit hati? Jadi mereka menyekap kita di sini?” tuding Markus menerka-nerka. Pria itu terlihat sedang duduk sambil menghisap rokok terakhirnya dengan santai.


“Mereka nggak sejahat itu sama aku, Pa!” bantah Darren tak setuju dengan pendapat Markus.


"Ck! Nggak jahat tapi menargetkan adikmu," ejek Markus tak peduli. "Apa istilahnya? Ge-ng-be-ng? Hahaha!"


Darren memutarkan kedua bola matanya. Ia menatap kesal ke arah ayahnya yang menertawakan dirinya.


“Nggak ada yang tau isi hati manusia, Nak,” celetuk Markus.


“Papa kenapa santai banget sih?! Bisa-bisanya Papa ngerokok tanpa berusaha memikirkan jalan keluar dari sini!” bentak Darren dengan suara yang lantang sambil menatap tajam ke arah ayahnya.


“Lihatlah sekeliling. Memangnya ada jendela atau ventilasi di sini? Cuma ada pintu ‘kan?” ucap Markus sambil menghisap rokoknya. Suara berat pria paruh baya itu terdengar menggema di ruangan yang berukuran 7x7 meter itu.


Darren menajamkan penglihatannya di dalam ruangan yang bercahayakan lampu 5 watt berwarna kuning itu. Ia mencoba menatap sekeliling mencari-cari celah untuk ia dan Markus kabur dari sana. Pasalnya sudah tiga hari ia di sana. Kamar mandi yang kotor dan berlumut itu membuatnya jijik.


“Pria itu membeli Ciara dengan harga yang lebih mahal! Apaan temanmu yang hanya dua ratus juta saja? Padahal Ciara itu masih perawan! Wajar kalau harganya mahal!” kesal Markus yang mulai muak dengan ocehan anak laki-lakinya itu.


“Ck! Kalau tau begini, mending sejak dulu aku tidurin tuh anak!” kesal Darren sambil menendang pintu besi gudang tua itu. Ia frustasi setengah mati karena di sekap berhari-hari di sana. Bahkan ponsel miliknya dan Markus di sita.


Pang! Pang! Pang!


Darren menggedor-gedor pintu besi tersebut dengan sangat kuat menggunakan tinjunya. Ia meluapkan amarahnya sembari berteriak dengan kuat.


“Woi, bangsat! Keluarin gue dari sini!”


“Apa mau kalian?!”


“Siapa yang nyuruh kalian buat nyekap gue di sini, anjing?!”


Di saat yang sama, saat di mana Darren berteriak-teriak kesetanan di dalam ruangan tersebut, Ciara dan Abercio sedang berdiri di balik pintu itu. Mata Ciara memanas dan tubuhnya seperti ingin tersungkur ke lantai saat itu juga. Kakinya terasa begitu lemas seperti tak bertulang.

__ADS_1


Ciara mendengarkan pembicaraan Darren dan Markus yang ada di dalam ruangan saat itu. Meskipun pintu tertutup, Ciara tetap bisa mendengarkan pembicaraan antara Darren dan Markus. Pasalnya suara kedua anggota keluarganya itu begitu lantang sampai-sampai menggema dan terdengar keluar.


Abercio yang melihat Ciara tak baik-baik saja, ia mencondongkan tubuhnya yang tinggi itu untuk mensejajarkan kepalanya dengan kepala Ciara dari belakang. Kemudian ia memposisikan wajahnya bersebelahan dengan wajah Ciara.


“Baby, remember our plan,” bisik Abercio lirih sambil mengusap-usap lembut kedua bahu Ciara dari belakang.


Ciara menolehkan kepalanya ke belakang menghadap ke arah Abercio dengan tubuh yang bergetar dan kedua tangan yang terkepalkan. Matanya berkaca-kaca dengan wajah yang memerah. Bibirnya terlihat bergetar menahan kecewa. Ia menatap Abercio dengan tatapan yang putus asa dan perasaan yang hancur berkeping-keping tanpa bisa dijelaskan sesakit apa rasanya saat ini.


“Daddy … hiks… hiks…” isak Ciara yang tertahankan. Tenggorokannya seperti tercekat dan dadanya terasa penuh serta sesak.


“Ssshhh…” Abercio menempelkan telunjuknya ke bibir Ciara. Ia menatap kedua mata gadis itu. “You can cry later.”


“Nanti kamu boleh menangis sepuasnya. Tapi sekarang, kamu harus melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan dulu.”


“Remember, kamu nggak boleh terlihat rapuh di depan orang lain selain di depanku. Hmm?” bujuk Abercio memberikan kekuatan pada gadis yang ia cintai itu.


“Sekarang, tarik nafas pelan-pelan dan hembuskan,” suruh Abercio sambil tetap memijat kedua bahu Ciara.


Ciara mengangguk pelan. Kemudian ia melakukan apa yang Abercio katakan tadi. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dengan perlahan, kemudian ia hembuskan juga dengan perlahan selama beberapa kali. Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya perasaan Ciara sedikit terkontrol. Ia menyeka airmatanya yang sempat membasahi pipi.


“That’s My Queen. Strong and tough,” gumam Abercio sembari menyeringai dan berdiri dengan tegak.


Setelah mengatakan Ratu-nya ‘kuat dan tangguh’, Abercio menoleh ke belakang, ke arah Bart dan Axel yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


Di belakang Bart dan Axel ada sekitar sepuluh pengawal yang sedang menunggu aba-aba dari tuannya.


“Bart, Axel,” panggil Abercio dingin dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi dingin dan menyeramkan. “Let’s get start.”


Setelah mendapatkan aba-aba dari Abercio, Bart dan Axel mengangguk secara bersamaan. Kemudian Bart membalikkan tubuhnya menghadap ke arah anak buahnya. Lalu ia memberikan aba-aba hanya dengan mengedipkan matanya sekali.


Semua pengawal tersebut bergegas mengacak-acakkan rambut dan penampilannya. Kemudian beberapa dari mereka ada yang memporak-porandakan gudang tersebut. Membuat kekacauan yang memang sudah direncanakan sebelumnya dan bersandiwara seolah-olah terjadi baku hantam beberapa saat sebelumnya.


“Satu … dua … tiga ….”


Setelah menghitung di dalam hati, Ciara menghela nafasnya dengan berat dan membuka kunci pintu besi tersebut.


Ceklek!

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2