Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Cinta Boleh, Tapi Jangan Bodoh!


__ADS_3

..."Cinta boleh. Tapi jangan menjadi bodoh. Lagipula, cinta itu ketulusan dan keikhlasan. Bukan paksaan." - Ciara A. Garnacho...



"Sore ini 'kan? Jam empat?" tanya Abercio sambil memegang kedua pipi Ciara. "Aku akan tiba di sana tepat waktu."


"Terus, meeting Daddy gimana?"


"Aku bisa mengundurkannya ke hari esok," jawab Abercio pelan sambil tersenyum.


Ciara merasa lega mendengarkan ucapan Abercio. Meskipun ia terkesan sedikit egois, tapi ini adalah moment-moment bahagia yang akan ia kenang seumur hidup. Tak mungkin 'kan, moment indah tersebut tak dimanfaatkan dengan baik?


Ciara tersenyum tenang. Ia bahagia. Sangat bahagia. Rasanya seperti mimpi karena sebentar lagi akan menjadi Nyonya dari Abercio Sanchez. Akan ada banyak hal berat yang harus ia lewati untuk berada di sisi pria itu. Meskipun takut, ia sedang berusaha mempersiapkan dirinya menjadi seorang wanita kuat dan tangguh.


"I love you, Cio," bisik Ciara. Sesaat kemudian ia mengecup lembut bibir Abercio.


"I love you more, Baby," lirih Abercio sambil tersenyum.


Sesaat kemudian, Abercio berangkat ke kantornya meninggalkan rumah. Ia menaiki sedan Mercy yang dikendarai oleh Axel.

__ADS_1


Sedangkan Ciara, ia menatap kepergian mobil tersebut di depan pintu. Setelah mobil tersebut tak terlihat lagi, Ciara membalikkan tubuhnya untuk menuju masuk ke dalam rumah.


Tiba-tiba tubuh Ciara tertubruk oleh sebuah tubuh kekar yang tak lain merupakan Benicio.


"Ish!" gerutu Ciara.


"Nggak usah bertingkah menjijikkan sama Kak Abercio," ketus Benicio kesal.


Ciara menghela nafasnya. Ia merasa kesal. Masih pagi tapi pria yang kelak akan menjadi iparnya itu sudah mencari masalah dengannya. Yah meskipun dia lah yang sebenarnya lebih dulu mencari masalah dengan Benicio saat sarapan tadi.


"I love you, Cio," ejek Benicio mengulang kembali ucapan Ciara tadi kepada kakaknya.


Ciara menatap malas pria itu. Ia tak ingin merusak hari bahagianya dengan mood yang rusak. Lagi pula pria itu bukanlah halangan baginya untuk menikahi Abercio. Toh Abercio pernah berkata bahwa ia akan menjadi satu-satunya ratu di hidup Abercio. Kemudian ia melengos melewati Benicio dan tak mengindahkan kata-kata pria itu tadi.


Ciara memutarkan matanya dengan kesal. Ia menghela nafas dan memutarkan badannya menatap ke arah Benicio.


"Kamu itu kenapa sih?!" gerutu Ciara tak tahan.


"Daripada ngurusin urusan orang lain, mending selesaiin kebodohanmu itu dulu," sambungnya sengit.

__ADS_1


Benicio terbelalak kaget. Ia menatap tajam ke arah Ciara. "Kebodohan ... ku?"


"Hmm. Bodoh," ucap Ciara.


"Cinta boleh. Tapi jangan menjadi bodoh."


"Lagipula, cinta itu ketulusan dan keikhlasan. Bukan paksaan."


"Kalau pada akhirnya Sabrina menerima cintamu karena paksaan, itu bukan cinta. Melainkan keterpaksaan."


"Kamu mau, dicintai dengan kepalsuan? Aku sih nggak mau ya. Hidupku sudah cukup menyedihkan untuk dicintai dengan kepalsuan."


Ciara mengatakan hal tersebut dengan gamblang. Sesaat kemudian ia bergegas pergi meninggalkan Benicio yang mematung karena terdiam mendengarkan ucapan Ciara.


Benicio mendadak mematung dengan kaku. Sorot matanya mendadak kosong dengan pikiran yang berkecamuk.


"Kalau pada akhirnya Sabrina menerima cintamu karena paksaan, itu bukan cinta. Melainkan keterpaksaan."


Ucapan Ciara tersebut sukses menampar Benicio yang selama ini begitu tergila-gila pada Sabrina. Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu sudah berlangsung dengan sangat lama. Bahkan Sanrina mengetahuinya. Hanya saja, wanita itu tak pernah mau membuka hatinya pada Benicio.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG.....


__ADS_2