
..."Daddy ... aku juga ingin membuat kontrak denganmu. Please ... tell me the truth. You can take me as your Queen." – Ciara A. Garnacho...
Peringatan! Bab ini berbahaya buat di bawah umur ya!!! 🫣
...❣️❣️❣️...
Sorot mata Abercio begitu lapar. Wajah yang mengerikan itu benar-benar berbeda dengan sosok Abercio Sanchez yang Ciara kenal. Entah kenapa rasanya pria itu begitu asing.
Saat kedua tangannya di borgol, Ciara tersadar bahwa ia benar-benar tak berdaya. Sedari dulu dia memang selalu lemah, ditindas, disiksa dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sekarang pun ia tak bisa melarikan diri dari pria yang mengerikan ini.
Perlahan, airmata mengalir membasahi pipi Ciara. Di sela-sela sentuhan dan kecupan Abercio yang sedang bergerilya di tubuh Ciara memberikan pemanasan, di saat itu juga Ciara mencoba untuk pasrah. Memangnya, apalagi yang bisa ia lakukan?
"Ah. Aku suka sekali bercinta dengan gadis yang sedang menangis," tutur Abercio saat melihat buliran bening mengalir dari sudut mata Ciara.
Pria itu sudah tak tahan lagi. Ia bergegas mengambil gunting yang ada di laci samping ranjang, kemudian ia menggunting dari bawah ke atas dress santai berwarna cream yang Ciara gunakan kali ini. Lalu ia menggunting pakaian dalam yang tersisa di tubuh Ciara.
"Aku lebih suka melihat tubuhmu tanpa sehelai pakaianpun," lirih Abercio.
Sekujur tubuh Ciara bergetar mendengarkan ucapan Abercio. Kenapa malam tadi ia tak menyadari bahwa pria itu tak waras? Kenapa ia bisa dengan girangnya melepaskan mahkotanya pada pria itu?
Abercio melepaskan pakaian yang tersisa di tubuhnya, kemudian ia menempatkan tubuhnya di antara kedua paha Ciara yang sudah ia lebarkan.
"Apa benda sebesar itu yang merobek perawanku malam tadi?" lirih Ciara dalam hati. Ia bergidik ngeri. Entah kenapa rasanya ia takut sekali melihat benda besar yang panjang milik Abercio itu masuk ke dalam tubuhnya.
Abercio membenamkan wajahnya di antara kedua paha Ciara. Ia melahap dengan rakus lembah terlarang tersebut sembari satu tangannya merem.as dua gundukan gunung Ciara silih berganti. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk membelai lembut paha mulus gadis itu.
"Ah!" de.sah Ciara sambil mengigit bibirnya.
Di sela-sela kenikmatan yang Abercio berikan padanya, Ciara menatap langit-langit kamar tersebut dengan tatapan nelangsa. Entah kenapa, ia merasa selama ia hidup tak pernah ada satu pun hal yang berjalan dengan baik. Hingga akhirnya ia dipertemukan dengan Abercio. Apa ... semesta sedang memberikannya petunjuk?
"Pasti ... pria ini memiliki alasan tersendiri kenapa dia mengatakan Kak Darren lah dalang di balik semua ini," lirih Ciara dalam hati.
__ADS_1
Ciara mengalihkan pandangannya ke arah Abercio yang sedang lahap menikmati ****** ***** miliknya di bawah sana. Pria itu begitu buas. Jika dia bisa menaklukkan pria di bawah sana hanya menggunakan tubuhnya, mungkin ... hari-hari yang ia lewati ke depannya tak akan menyedihkan lagi?
"Sebenci apapun aku padanya, sejijik apapun dia, tapi ... cinta itu masih ada. Lagi pula hidupku tak ada artinya kalau nggak ada Mommy," pikir Ciara.
Ciara menurunkan kedua tangannya yang di borgol ke atas tadi. Dua tangan tersebut ia gunakan untuk mengusap pelan rambut Abercio yang sedang menjadi binatang lapar di bawah sana.
Abercio tersentak. Matanya menatap ke atas ke arah Ciara. Kenapa respon gadis itu berubah 180 derjat? Apa ada sesuatu yang gadis itu inginkan?
"Daddy ... aku juga ingin membuat kontrak denganmu," ajak Ciara tanpa basa basi. Gadis itu mengatakan dengan lugas permintaannya di sela-sela nafasnya yang mulai berat karena pemanasan dari Abercio.
"Kontrak?" tanya Abercio.
"Hmm. Gimana kalau Daddy mencampakkanku saat aku tak berguna lagi?"
"No. I will never do it to My Lady," tegas Abercio.
Ciara menghela nafasnya.
Abercio menyeringai. Ia bangkit. Lalu memposisikan tubuhnya di tengah-tengah di antara kedua paha Ciara. Ia menggesek-gesekkan benda tumpul miliknya yang sejak tadi sudah mengeras ke atas lembah terlarang Ciara yang sudah sangat basah itu.
"My pleasure, Baby," sahut Abercio. Kedua tangannya ia tekankan ke atas ranjang sebagai titik tumpu menopang tubuhnya di atas tubuh Ciara. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang penuh arti sembari pinggulnya tetap bergoyang meski benda miliknya belum masuk ke dalam tubuh Ciara.
"Daddy boleh menggunakan tubuhku sebagai mainan se—"
"Sshhh ...." Abercio memotong pembicaraan Ciara sembari menggeleng pelan. "You are not not my toy. But you are My Queen. Camkan itu dipikiranmu."
Ciara menggigit bibirnya. Sebenarnya seperti apa sosok asli pria itu? Tampilan diri yang pria itu tunjukkan selalu berubah-ubah. Kadang hangat dan kadang mengerikan. Sangat sulit ditebak.
"You can take me as your Queen." Ciara menatap kedua mata hazel Abercio dengan alis yang menurun dan mata yang basah akibat menangis.
"Tapi tolong, jangan lakukan hal apapun itu di belakangku. A-aku ... aku merasa terkhianati kalau Daddy seperti itu," ucap Ciara bergetar.
"Aku juga ingin tahu kebenaran tentang Mommy dan Kak Darren. Aku akan menerimanya dengan lapang dada. So please ... tell me the truth. You can take me as your Queen," tutur Ciara memelas.
__ADS_1
"Deal!" bisik Abercio pelan.
"Ahhh!!!" Ciara tersentak dengan sangat hebat sesaat Abercio mengatakan setuju dengan permintaannya. Bagaimana tidak? Pria itu langsung menghentakkan benda besar miliknya masuk ke dalam lembah sempit milik Ciara tanpa aba-aba.
"D-Daddy ... pelan-pelan," desis Ciara hambil menatap nanar Abercio.
"I'm the King. So ... aku bebas ingin melakukan apapun pada Ratu milikku," tutur Abercio yang mulai menggila itu.
Ciara tak mampu berkata-kata lagi. Cocok tanam yang mereka lakukan di kamar itu sukses menimbulkan suara de.sah-desa.han yang begitu merdu. Abercio tak mampu menahan nafsu dan gairahnya. Ia benar-benar menyalurkan semua kegilaannya saat penyatuan dengan Ciara.
"Sshh..." desis Abercio saat ia membalikkan tubuh Ciara ke posisi telungkup. Kemudian ia meraih kedua pinggul Ciara agar terangkat ke atas dan ia kembali menghentakkan pinggulnya dengan sangat brutal sembari menatap bekas luka yang ada di punggung gadis itu.
Entah kenapa, bekas luka yang menodai punggung Ciara itu memberikan kenikmatan tersendiri bagi Abercio.
"Daddy... mmhh... Daddy please stop. D-Daddy... Arghhh!!!" pekik Ciara yang ternyata telah mencapai kli.maksnya.
Abercio menghentikan gerakan pinggulnya sebentar sambil merasakan denyutan dari dalam tubuh gadis itu. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mengecup punggung gadis itu. Kemudian, ia kembali menggagahi gadis itu sembari mere.mas kasar kedua gunung milik gadis itu dari belakang. Cukup lama mereka bergumul. Apalagi Abercio pria yang sehat dan bugar sehingga ia tak sedikitpun merasa lelah.
"Baby ..." geram Abercio tak lama kemudian sembari mencengkeram dengan kuat kedua buah gunung milik Ciara. Sekujur tubuh Abercio dan Ciara menegang sembari bergetar dengan hebat. "You should be mine forever."
"ARGHHHH!!!" pekik keduanya secara bersamaan.
Nafas yang terengah-engah dengan keringat yang membasahi tubuh cukup membuat keduanya ambruk ke atas ranjang. Abercio memeluk tubuh Ciara dengan erat dari belakang. Kemudian ia mengecup lembut pipi gadis itu.
"I love you, My Queen."
"Sekalinya menjadi Ratu-ku, selamanya akan berada di posisi itu. No excuse."
Ciara diam dan tak menyahuti ungkapan cinta Abercio tersebut. Entah kenapa ia masih belum sepenuhnya yakin dengan kata-kata itu. Setidaknya, ia harus mengetahui semua kebenaran terlebih dahulu.
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG......
__ADS_1