
..."Memangnya aku ini apa? Memangnya aku ini benda yang terus dipakai sampai habis manis lantas dicampakkan?!" – Ciara A. Garnacho...
"Jadi ... sekarang kita pacaran?" tanya Ciara bersemangat.
"Pacaran? Untuk apa sih hubungan yang kayak gitu?" ucap Abercio sambil tersenyum paksa menatap Ciara. Terlihat jelas di wajahnya bahwa ia sangat terganggu dengan pertanyaan itu.
"Dengan kita bersama dan berkomitmen saja sudah cukup, Sayang," sambung Abercio tanpa sedikitpun rasa bersalah. Ia menyibak anak rambut Ciara dan membawanya ke belakang daun telinga.
Wajah Ciara yang semula cerah bersemangat, kini mendadak suram dan sendu. Jadi, beberapa hari ini ia salah? Hubungan yang ia jalani dengan Abercio tak ada kejelasan? Apa ... karena pria itu masih berstatus ayah sambungnya? Atau ... pria itu memang tak ada niat serius padanya?
"Jadi ... kita nggak pacaran?" tanya Ciara dengan suara yang serak dan kerongkongan tercekat. Ada perasaan gusar dan khawatir yang ia rasakan saat ini. Ia takut mendengarkan jawaban Abercio. Bagaimana jika pria itu mengatakan benar bahwa mereka tidak pacaran? Lalu ....
"Ya. Kita nggak pacaran." Abercio mengatakannya dengan gamblang tanpa sedikitpun keraguan.
Bak di sambar petir di siang hari. Ciara terhenyak. Dia terdiam sesaat. Namun setelah itu ia memaksakan senyumnya yang terlihat sangat tidak natural.
"Te- ... terus? A-apa ... Daddy akan langsung mengajakku menikah?" tanya Ciara menerka-nerka. Ia menginginkan kejelasan dari pria yang sudah merenggut mahkotanya itu.
Ciara berani mengatakan itu karena ia tahu bahwa pria yang ada di depannya saat ini merupakan pria yang sudah mapan dan tak perlu lagi mengkhawatirkan karier. Yang harus pria itu pikirkan saat ini hanyalah pasangan hidup.
"Hahaha ..." Abercio tertawa terpingkal-pingkal. Ia memeluk Ciara dengan sangat erat dalam pelukannya. Kemudian ia mengecup lembut dahi Ciara.
"I love you so much, Baby," tutur Abercio hangat.
Melihat ekspresi dan respon dari Abercio, Ciara dapat menebak jawabannya. Ternyata benar, Abercio akan menikahinya karena pria itu ingin serius dan tak ingin bermain-main serta lelah bergonta ganti wanita.
Wajah Ciara kembali cerah dan begitu girang. Ia benar-benar merasa seperti Cinderella hanya dalam sebulan. Menjadi Cinderella setelah bertemu dengan pangeran pujaan hatinya. Haaa... pantas saja pria itu tak ingin berpacaran, pikir Ciara.
__ADS_1
"Jangan pernah percaya dengan hubungan yang seperti itu, Sayang. Pacaran ataupun menikah, aku tak ingin keduanya," tegas Abercio dengan gamblang.
Blar!
Ciara kembali harus menelan pil pahit itu! Jawaban Abercio yang begitu terus terang tanpa basa basi itu benar-benar nyelekit dan membuat Ciara sulit berkata-kata lagi. Kerongkongannya sempurna tercekat dan ada perasaan mengganjal yang begitu menyesakkan di dada.
"Lalu ... apa maksud ucapannya semalam?"
"Jangan lupakan peristiwa bersejarah itu ...."
"Dan dia ingin lebih. Dia tak hanya ingin jadi yang pertama, tapi juga yang terakhir."
"Apa arti semua itu kalau hubungan ini saja tak ingin ia perjelas?!"
"Memangnya aku ini apa? Memangnya aku ini benda yang terus dipakai sampai habis manis lantas di campakkan?!"
"Haaa ... Ciara! Seharusnya kau sadar, pria ini memang gila dan tak akan pernah berubah!"
Begitu banyak hal-hal yang terlintas di benak Ciara. Begitu banyal hal-hal yang ia pikirkan dan ia pertanyakan. Namun sepatah pun tak ada yang terucap keluar dari bibirnya. Ia hanya bisa berargumen sendiri dan membatin sendiri. Ucapan gamblang penuh ketegasan Abercio tadi sukses membungkam bibirnya sampai tak lagi bisa berkata-kata.
Abercio menatap wajah Ciara dengan perasaan yang bersalah, namun tak ingin ia perlihatkan. Ia hanya menunjukkan sisi dingin tanpa ekspresinya. Padahal beberapa detik sebelumnya wajah itu begitu hangat. Kedua alisnya menyatu membentuk kerutan di dahi. Matanya menatap Ciara dengan tatapan yang nelangsa dan tak bercahaya.
"Yang pacaran, bisa putus. Yang menikah, bisa bercerai. Lalu, hubungan apa lagi yang bisa bertahan selain itu? Nggak ada, 'kan?" tutur Abercio dengan suara baritonnya.
"Aku tak ingin putus dan aku tak ingin kita bercerai. Jadi, cukup seperti ini saja. Cukup dengan kita saling berkomitmen dan percaya satu sama lain."
"Aku yakin kita bisa. Lagi pula, pernikahan itu hal yang mudah sekali. Mudah bersatu dan mudah berpisah. Seperti halnya aku dan Mommy-mu."
"Lihatlah, gampang bagiku untuk membuat surat nikah. Dan nanti dengan gampangnya aku bercerai dengannya tanpa perasaan apa-apa." Jelas Abercio panjang lebar.
__ADS_1
Ciara sudah tak bersemangat lagi. Semua ucapan yang keluar dari bibir Abercio tak ada satu pun yang dapat mengembalikan semangat dan asa-nya. Ia seolah-olah dibiarkan terombang ambing di tengah-tengah lautan yang begitu luas tak bertepi.
"Ternyata, di antara kita tak ada sedikitpun cinta. Melainkan obsesi dan nafsu semata," batin Ciara sambil tersenyum paksa dengan wajah yang sangat suram.
Abercio langsung bangkit dari tidurnya. Dada bidangnya yang telanjang itu mengekspos dan menggiurkan. Tapi itu dulu, entah kenapa sekarang rasanya Ciara sedikitpun tak tertarik melihat itu.
"Daddy! Turunkan aku! Aku belum pakai baju!" sergah Ciara saat Abercio langsung membopong tubuhnya dari atas ranjang. Wajah Ciara memerah bak udang karena menahan malu. Kedua tangannya menyilang menutupi dada.
"Aku juga belum pakai baju," celetuk Abercio sembari mengangkat kedua alisnya.
"Kita mandi bareng," ucap Abercio sembari berjalan menuju kamar mandi.
Saat masuk ke dalam kamar mandi, Abercio mendudukkan Ciara ke dalam bathtub. Matanya melirik sekilas ke arah lembah yang sudah ia gagahi tadi malam.
"Syukurlah, nggak ada darah yang tersisa," batin Abercio mendadak lega.
"Daddy! Matanya mesum banget!" gerutu Ciara sembari meringkuk dan memeluk lutut untuk menutupi seluruh tubuh bagian depannya.
Abercio hanya tersenyum tipis melihat tingkah Ciara. "Bentar ya, Sayang."
Abercio keluar dari kamar mandi dan ia bergegas melepaskan sprei tempat tidur yang menyisakan darah perawan Ciara. Kemudian sprei tersebut ia masukkan ke dalam lemari yang berada tak jauh dari ranjang tersebut.
Mata Abercio mengamati dengan seksama ranjang tempat mereka bercinta malam tadi. Apakah masih ada bekas-bekas darah yang tersisa? Ia tak ingin Ciara kembali histeris dan stress.
Merasa sudah tak ada lagi darah yang tersisa, Abercio bergegas masuk ke dalam kamar mandi menghampiri Ciara.
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG......
__ADS_1