
...“Masa lalu kita udah habis! Aku juga nggak tau apa yang ada di otak kamu sampai-sampai dengan tak tahu malunya menginjakkan kaki lagi ke sini setelah menghilang selama enam tahun!” – Evelyn Moonroe...
“Abercio,” panggil Eve yang saat itu terbaring di atas kasur rumah sakit sembari memeluk bayi mungilnya yang tampan.
“Say hello dulu, Nak,” ucap Eve sambil tersenyum. “Ini Benicio, adik kamu.”
“Tampan, ‘kan? Mirip kamu, Sayang,” sambung Eve penuh haru.
Abercio yang saat itu sedang berdiri di samping ranjang rumah sakit, ia menatap wajah Benicio yang saat itu sedang terlelap dengan bibir yang bergerak-gerak sendiri seperti sedang minum susu.
“Be- … Benicio?” tanya Abercio sambil menatap ke arah Benicio.
Abercio mengarahkan telunjuknya ke tangan mungil Benicio. Tanpa sadar, bayi kecil itu menggenggam erat telunjuk Abercio yang saat itu sedang menyentuh lembut tangannya.
Sorot mata Abercio mendadak cerah dan bersemangat. Ada perasaan menggelitik yang begitu haru dan tak dapat dijelaskan olehnya. Ia tersenyum girang ketika telunjuknya digenggam dengan erat oleh Benicio.
“Sekarang, keluarga kita nambah satu,” ucap Eve haru.
...❣️❣️❣️...
“Kak!” seru Benicio sambil berlari dengan girang di taman yang begitu luas. Taman yang ada di dalam pekarangan rumah mewah yang tiga beranak itu tempati.
Benicio yang saat itu sudah berusia enam tahun, ia berlari dengan girang mengajak Abercio bermain kejar-kejaran.
“Jangan lari-lari, Nak. Nanti jatuh,” seru Eve yang saat itu sedang duduk di kursi panjang sambil membaca buku.
“Ben! Udah, Ben. Kakak cape,” seru Abercio berdalih. Ia mendengarkan ucapan Eve untuk tak lagi berlari-lari.
Brak!
Belum semenit Eve meneriaki anaknya untuk berhenti berlari, Ben mendadak tersungkur ke atas rumput yang ada di taman tersebut. Ia tersungkur sesaat setelah menabrak tubuh seorang pria dewasa. Pria yang sebelumnya tak pernah ia temui.
“Ben!” seru Eve dan Abercio secara bersamaan. Keduanya berlari mendekat ke arah Benicio dan membantu Benicio berdiri dari rumput.
Abercio menatap tajam ke arah Randy yang saat itu datang bersama seorang wanita yang tak lain adalah Cindy. Ia menatap kedua orang tersebut dengan tatapan tak suka dan penuh dengan kebencian. Untuk apa pria itu ke rumah itu lagi setelah enam tahun tak pernah menampakkan diri? Memanggil pria itu ayah saja ia tak sudi!
__ADS_1
“Eve, aku ke sini mau ngasih undangan pernikahan,” ucap Cindy dengan tingkah centilnya yang memuakkan.
Cindy, wanita berambut panjang sebatas pinggang itu menyerahkan sebuah undangan kepada Eve dengan angkuhnya. “Yah … walaupun kalian udah cerai, setidaknya aku masih tau diri ngasih undangan pernikahan kami ke kamu.”
Benicio yang tak tahu sama sekali siapa pria yang ada di depannya, ia mendadak bingung dan bersembunyi di belakang tubuh Abercio.
“Cih … katanya nggak mau nikah. Takut cerai,” ejek Eve yang berusaha tegar dan tak memperlihatkan sedikitpun rasa sakit hatinya.
Eve mendekat ke arah Cindy dan ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Cindy yang sedikit lebih pendek darinya.
“Inget loh, Mbak. Mas Randy itu nggak percaya dengan pernikahan,” bisik Eve dengan nada yang sengit. “Karena … pernikahan itu selalu berdampingan dengan perceraian.”
“Aku tunggu ya, Mbak. Kabar perceraian kalian,” sambung Eve sambil menyeringai.
Memberikan seluruh hati dan cintanya pada Randy merupakan kesalahan terbesar Eve. Namun, kini ia sudah bisa melupakan ayah dari kedua anaknya itu. Ia memilih untuk terbebas dari rasa cinta yang sakit dan penuh dengan kepalsuan itu. Semua semata karena anak.
“Sial! Dasar wanita rendahan!” seru Cindy penuh amarah.
Cindy yang terpancing dengan sindiran pedas Eve itu ia bergegas menampar Eve dengan penuh emosi.
Plak!
“Ck!” Eve beredecak sebal. Sesaat kemudian ia tertawa.
“Akkk!!!” teriak Cindy dengan suaranya yang melengking dan memekakkan telinga. Pasalnya, saat itu Eve menjambak rambutnya sampai kepalanya mendongak ke atas. “Mas! Bantuin aku!”
“Kyaaaa!!!” teriak Cindy semakin terdengar keras saat Eve menarik dengan kuat rambut Cindy.
“Eve! Lepaskan tanganmu!” seru Randy sambil memegang lengan Eve yang saat itu menjambak rambut Cindy. Ia berusaha melepaskan tangan Eve dari rambut Cindy.
“MASSSS!!!” teriakan Cindy semakin menjadi-jadi saat Randy menarik tangan Eve yang enggan terlepas dari rambut Cindy.
“Kalau kalian masih berani menampakkan wajah kalian di rumah ini, aku tak segan-segan membuat perhitungan dengan kalian!” ancam Eve sambil melepaskan tangannya dari rambut Cindy dengan kasar.
Beberapa detik kemudian, Eve menatap ke arah Randy dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
“Mas, masa lalu kita udah habis! Aku juga nggak tau apa yang ada di otak kamu sampai-sampai dengan tak tahu malunya menginjakkan kaki lagi ke sini setelah menghilang selama enam tahun!” tukas Eve penuh amarah. Matanya melotot dengan pupil mata yang mengecil.
__ADS_1
“Aku ke sini dengan niat baik, Ve,” ucap Randy dengan muka tebalnya. "Aku ingin mengundangmu ke pernikahanku."
“Niat baik?! Pelacur ini niat baik yang Mas maksud?” tanya Eve sambil mendorong dada Eve dengan penuh tenaga meskipun hanya menggunakan satu tangan.
“Jaga ucapanmu, Eve! Aku bisa menggugatmu di—”
“Silahkan, Mas! Aku lah yang akan menggugat kalian karena mengganggu ketenangan ku dan anak-anakku di rumah ini! Bahkan kalian masuk ke rumah ini tanpa izin!” potong Eve dengan begitu lantang.
“Rumahmu? Ini rumahku!” ucap Randy sambil membusungkan dadanya.
“Hmm. Ini rumahmu enam tahun yang lalu. Tapi sekarang, rumah ini atas namaku!” tegas Eve dengan lantang.
“Sekarang kalian pergi dari sini! Aku tak ingin anak-anakku menjadi kotor karena sampah-sampah busuk seperti kalian yang menginjakkan kaki ke rumah ini!” usir Eve dengan emosi yang membabi buta.
Dada Eve terlihat naik turun karena nafasnya yang tak teratur. Kedua tangannya terkepalkan dengan sangat kuat menahan amarah.
Randy dan Cindy berlalu pergi meninggalkan rumah tersebut dengan perasaan benci dan sakit hati. Niat awal Cindy datang ke sana karena ingin memanaskan Eve yang dulunya merebut Randy darinya. Tapi kenapa jadi dia yang terkena masalah dan terlihat menyedihkan?
“Mas, tenang aja. Nggak akan ada perceraian di antara kita,” ucap Cindy sambil memeluk lengan Randy.
Di saat yang sama, saat di mana Randy dan Cindy berlalu pergi meninggalkan rumah mewah tersebut, Abercio dan Benicio memegang kedua tangan Eve. Abercio memegang tangan kanan Eve, sedangkan Benicio memegang tangan kiri Eve.
Tak ada sepatah kalimat pun yang keluar dari mulut dua anak kecil tersebut. Keduanya diam membisu tanpa sepatahpun kata-kata yang terucap. Seolah-olah ia mengerti bahwa saat itu ibunya sedang bersedih hati.
Begitu juga dengan Eve. Wanita yang semulanya bersandiwara menjadi seorang wanita yang tegar dan tak kenal rasa takut, kini matanya memanas dan berkaca-kaca. Airmata mulai penuh dan berdesak-desakan ingin keluar dari sudut mata tersebut. Namun ia berusaha menahannya agar kedua anaknya itu tak melihat dirinya yang begitu rapuh.
“Mama, Ben sayang sama Mama.” Benicio memeluk tubuh Eve dengan sangat erat.
Melihat Benicio yang memeluk Eve saat itu, Abercio pun ikut memeluk Eve dengan sangat erat.
Tes! Tes! Tes!
Haaa ... susah payah Eve menahan airmatanya, tapi semuanya tumpah hanya karena dua anak yang ia cintai memeluknya dengan sangat erat.
Apa kedua anaknya itu sedang menguatkannya? Apa kedua anaknya itu tahu luka batin yang sedang ia rasakan? Pikir Eve saat itu.
“Maaf … kalian terpaksa menghadapi semua ini karena terlahir dari rahimku,” desis Eve pilu dalam hati.
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...