
...“Di mana kalian sekarang?! Ciara baik-baik aja ‘kan, Bart?!” – Abercio Sanchez...
Sore yang begitu gelap karena awan yang menghitam. Meskipun Ciara saat itu sedang duduk di samping Bart yang sedang mengemudikan mobil, ia dapat merasakan bahwa di luar mobil itu, angin sedang bertiup dengan kencang.
“Kayaknya mau hu—”
Belum sempat Ciara menyelesaikan ucapannya, hujan turun dengan sangat deras tanpa membasahi kaca mobil yang ia tumpangi.
Bart menahan senyum dengan menggigit kedua bibirnya ke dalam. Sesaat kemudian ia menghela nafas sembari menatap fokus ke arah jalan yang makin lama jarak pandangnya menjadi terbatas.
...“Kalah, kuakui aku kalah...
...Cinta ini pahit dan tak harus memiliki”...
Di sela-sela derasnya hujan pada sore itu, sayup-sayup terputar lagu galau di radio. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Budi Doremi dengan judul Mesin Waktu.
Bart semakin menghela nafasnya dengan berat. Entah kenapa lagu tersebut cukup membuat hatinya sakit. Meskipun ia belum sepenuhnya berdamai dengan perasaannya, tapi yang jelas ia berusaha bahagia melihat gadis yang ia cintai itu bahagia dengan pilihannya sendiri.
“Jangan,” ucap Ciara sembari menatap ke arah Bart. Ciara menatap Bart dengan wajah yang cemberut. “Kok lagunya diganti sih?”
Sesaat sebelumnya Bart mengganti siaran radio melalui tombol yang ada di stir mobil. Ia spontan menatap ke kiri ke arah Ciara yang tiba-tiba protes padanya.
“Ganti lagi ke lagu tadi, itu lagu kesukaanku,” rengek Ciara.
Bart menghela nafasnya. Kemudian ia menguatkan dirinya dengan berbicara pada dirinya sendiri dalam hati. “It’s okay, Bart. Itu hanya sebuah lagu.”
...“Jika melupakanmu hal yang mudah...
...Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah...
...Panjang perjalanan yang harus kulalui...
...Merelakanmu”...
Lagu yang dibawakan oleh Budi Doremi tersebut kembali terputar. Tepat pada lirik tersebut, Bart merasa seolah-olah ia sedang ditampar oleh musik tersebut. Karena benar, tak mudah baginya melupakan gadis yang diam-diam mencuri hatinya.
Ckittt!!!
__ADS_1
Bart mendadak menginjakkan rem. Tubuh Ciara dan Bart sesaat sempat terdorong ke depan dengan keras. Namun mereka tak terluka karena keduanya mengenakan sabuk pengaman.
Tiinnn!!!
Suara klakson panjang dari mobil yang ada di belakang begitu kuat. Sepertinya mobil belakang juga berhenti mendadak akibat Bart menginjak rem secara tiba-tiba.
“Kamu nggak pa-pa?” tanya Bart khawatir sambil menatap ke arah Ciara.
Ciara mengatur nafasnya karena kaget. Ia mengangguk pelan dan berkata dengan lirih. “Hmm… aku nggak apa-apa.”
Bart menatap ke arah depan, ke arah motor yang tiba-tiba berhenti secara mendadak. Ia menoleh ke kursi belakang untuk mengambil payung.
“Kamu tunggu di dalam bentar,” ucap Bart dingin.
Kemudian Bart membuka pintu mobil dan mengembangkan payung hitam keluar. Lalu ia menerobos hujan deras sore itu menggunakan payung.
Ciara menatap ke arah Bart yang sedang berjalan mendekat ke arah pengendara motor. Pengendara motor yang mengenakan jas hujan berwarna hitam tersebut menoleh ke arah Ciara yang duduk di dalam mobil.
Seluruh wajah pengendara motor tersebut tertutup oleh kaca helm yang berwarna hitam. Hanya bibirnya yang terlihat.
Ciara mengerutkan keningnya melihat pengendara motor tersebut menoleh ke arahnya. Sesaat kemudian, orang itu terlihat menyeringai ke arah dirinya.
“Aneh,” gumam Ciara merasa tak nyaman dengan seringai pria itu.
Bart terlihat berbincang-bincang dengan pengendara motor tersebut. Sedangkan Ciara, ia mulai bosan. Lalu ia meraih ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi Abercio.
Sesaat setelah panggilan ke Abercio terhubung, tiba-tiba pintu mobil dari sisi Ciara terbuka. Ciara menoleh ke kiri dan membelalakkan matanya karena terkejut.
“M-Markus ….” Sekujur tubuh Ciara bergetar dengan sangat hebat. Tiba-tiba saja petir mendadak menggelegar.
Belum sempat Ciara berteriak histeris karena ketakutan melihat sosok Markus, di saat yang sama juga Ciara mendadak terserang panik akibat mendengarkan suara petir yang begitu hebat.
Kerongkongan Ciara serasa tercekat. Dadanya begitu sesak dan terasa sulit untuk bernafas. Sekilas kejadian-kejadian lampau yang mengenaskan melintas dipikiran Ciara. Teriakan pilu Lucy dan isak tangis Lucy memohon maaf karena dibantai oleh Markus mendadak membuat Ciara semakin ketakutan.
“Haaa … dasar sampah!” rutuk Markus lirih. Ia begitu kesal dan benci menatap Ciara. Menatap gadis yang tak jelas asal usulnya sejak kecil itu.
Markus langsung membekap mulut dan hidung Ciara menggunakan sehelai sapu tangan. Ciara sempat meronta-ronta sambil berusaha menatap ke arah Bart yang masih asik bernegosiasi dengan pengendara di motor. Entah apa yang membuat Bart dan pengendara motor itu sampai mereka begitu lama bercakap-cakap.
Tak membutuhkan waktu yang lama, sekujur tubuh Ciara mendadak lemah tak berdaya. Matanya yang semula melotot dengan sempurna mendadak sayu dan perlahan terpejam.
__ADS_1
Setelah Ciara berhasil ia tumbangkan, Markus membopong tubuh gadis itu ke mobil yang tadinya sempat memberikan klakson panjang. Setelah ia memasukkan Ciara ke dalam mobil tersebut, mobil itu melaju dengan kencang meninggalkan Bart yang masih sibuk bernegosiasi.
“Jadi mau Bapak gimana? Saya ajak damai nggak mau, padahal Bapak yang salah loh?!” suara Bart sudah mulai meninggi dan terdengar kesal. Pasalnya sejak tadi pria itu enggan membiarkan ia pergi dan terus menerus mengatakan bahwa Bart yang lebih dulu mencipratkan air ke tubuhnya.
“Saya juga nggak tau kalau mobil saya nyipratin air ke—”
Belum sempat Bart menyelesaikan pembicarannya, pengendara tersebut bergegas pergi meninggalkan Bart yang kesal sambil meremas kuat payung yang berada di atas kepalanya.
Drrttt… Drrttt…
Sesaat setelah kepergian pengendara tersebut, ponsel Bart bergetar. Ternyata Abercio yang menghubunginya. Bart mengangkat panggilan tersebut dan meletakkan benda pipih itu ke telinganya.
“Halo, Pak,” sapa Bart sambil membalikkan badannya. Namun, langkah kakinya terhenti dengan tubuh yang mematung kaku. Sorot matanya menatap terkejut ke arah mobil yang pintunya terbuka dan Ciara tak ada di dalam sana. Apa yang terjadi sebenarnya?
^^^“Mana Ciara?!”^^^
Suara Abercio terdengar marah dan panik di balik ponsel.
^^^“Aku mendengarkan suara Markus!”^^^
^^^“Dia mengatakan Ciara sampah!”^^^
^^^“Di mana kalian sekarang?! Ciara baik-baik aja ‘kan, Bart?!”^^^
Bart mematung membisu. Payung hitam yang ia pegang dengan erat tadi mendadak lepas dari genggamannya dan jatuh ke jalanan. Sekujur tubuhnya basah kuyup terkena guyuran hujan yang saat itu begitu deras.
Tanpa menjawab pertanyaan Abercio, Bart bergegas berlari ke arah pintu mobil yang terbuka. Kemudian ia mendapati ponsel Ciara tergeletak di atas kursi.
^^^“BART!!!”^^^
^^^“APA KAU BUDEK?!”^^^
^^^“JAWAB AKU, CIARA BERSAMAMU ‘KAN?!!!”^^^
“M-maaf, Pak. Saya lalai—”
^^^“BANGSATTT!!!”^^^
Panggilan terputus sesaat setelah Abercio mengumpati Bart. Meskipun ia tahu bahwa Bart belum menyelesaikan ucapannya, tapi Abercio langsung menyimpulkan bahwa saat ini Ciara sedang dalam bahaya.
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...