
..."Teror dia dengan cara apapun! Dan buat gadis itu sendiri yang mencariku dan memohon pertolongan dariku!" – Abercio Sanchez...
Malam begitu larut dan jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Saat itu, Abercio terlihat sedang menghisap rokoknya di balkon ruang kerjanya yang berada di rumah.
"Rubah itu masih di hotel?" tanya Abercio dingin tanpa membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Axel dan Bart.
"Masih, Pak," sahut Bart. "Saya sudah menugaskan beberapa orang untuk mengawasi Ciara sebelum saya ke sini."
"Kau Axel, sudah mendapatkan informasi yang ku butuhkan?" tanya Abercio lagi.
"Sudah, Pak." Axel terlihat meletakkan amplop coklat di atas meja kerja Abercio.
"Besok pagi, salah satu dari kalian temani aku melakukan medical check up," pinta Abercio sembari menghisap rokoknya.
Axel dan Bart saling bertatapan saat mendengarkan permintaan Abercio. Untuk apa? Bukankah setiap bulan Abercio selalu melakukan medical check up untuk memastikan bahwa tubuhnya baik-baik saja?
"Tapi, Pak. Anda baru medical check up seminggu yang lalu. Bulan depan jadwal selanjutnya—”
"Ada yang harus ku pastikan sebelum aku benar-benar ingin melahap Rubah Kecil itu," Abercio memotong pembicaraan Axel dengan dingin.
Axel tak membantah. Iya hanya menggangguk pelan meski Abercio tak melihatnya. Entah apa yang ingin Abercio rencanakan kali ini, yang jelas, majikannya itu selalu tak terkontrol jika sedang menginginkan sesuatu.
"Bayar orang untuk menakuti Rubah Kecil itu," ucap Abercio sembari memutar tubuhnya menghadap Axel dan Bart. Pria itu bersandar ke pembatas balkon sembari mematikan puntung rokoknya di dalam asbak rokok yang ada di dekatnya.
"M-maksud, Bapak?" kini Bart penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Abercio. Tak mungkin Abercio ingin menyakiti Ciara menggunakan kelemahan gadis itu demi untuk memiliki gadis itu bukan?
"Teror Rubah Kecil itu menggunakan nama Markus, lalu buat dia ketakutan sampai dia datang sendiri padaku dan memohon perlindungan," ucap Abercio.
"Biar dia tahu, tanpa aku dia itu tak bisa apa-apa," sambung Abercio sembari menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Tapi, Pak. Saya rasa itu terlalu kejam untuk Ciara yang memiliki trauma dengan masa lalunya. Dan kalau sampai Ciara tau itu perbuatan, Bapak—”
"Bart. Kalau aku mendapati kau menyimpan sedikit saja perasaan pada Rubah Kecil itu, aku tak akan takut untuk menghabisimu saat itu juga," Abercio menatap tajam ke arah Bart.
Pria sukses nan tampan itu, ia begitu terkenal dengan sifat hidung belangnya. Bart hanya tak ingin Ciara, gadis yang ia cintai terluka karena kegilaan Abercio yang begitu terobsesi pada gadis itu.
__ADS_1
"Kalau sampai Rubah Kecil itu tahu aku lah yang menerornya, semua itu karena kau, Bart!" kecam Abercio mengerikan. Suara yang tak lantang tapi penuh penekanan.
"Cukup lakukan apa yang ku suruh tanpa harus membantah! Teror dia dengan cara apapun! Dan buat gadis itu sendiri yang mencariku dan memohon pertolongan dariku!" perintah Abercio dengan sangat lantang dan mengerikan.
Axel dan Bart hanya mengangguk tanpa berani membantah. Keduanya benar-benar tak berani melawan Abercio yang rela melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tok! Tok! Tok!
"Maaf, Pak. Ini saya, Megan."
"Masuk," ucap Abercio.
Saat itu, Megan masuk ke dalam ruangan tersebut setelah mendengarkan pembicaraan tersebut tanpa sepengetahuan tiga orang tersebut.
"Pak, s-saya mau ambil cuti," ucap Megan sembari memegang kedua tangannya dan tertunduk.
"Mau aborsi?" tanya Abercio tak peduli.
Axel dan Bart saling bertatapan saat mendengarkan ucapan Abercio. Bukankah Abercio selalu menggunakan pengaman saat bercinta, lalu kenapa Megan bisa hamil?
"Iya, Pak." Jawab Megan. "Jadi saya butuh cuti untuk istirahat."
...❣️❣️❣️...
Di saat yang sama, di sebuah hotel di mana Ciara sedang berisitirahat, gadis itu duduk meringkuk di atas ranjang. Sorot matanya begitu kosong dan nelangsa. Pikirannya berkecamuk.
"Mommy di mana sih?" lirihnya tak berdaya.
Riasan wajah yang berantakan dan bekas airmata yang mengering di pipi benar-benar membuat ia terlihat begitu frustasi dan depresi.
Ciara menatap ponsel miliknya. Lalu ia menghubungi Darren. Empat kali panggilannya tak di angkat oleh Darren. Namun, panggilan yang kelima di angkat oleh Darren.
^^^"Halo... kenapa, Ra?"^^^
Suara Darren begitu serak. Terdengar seperti ia sedang tidur saat Ciara menghubunginya tadi.
"Kak Darren. Ciara ke Bandung, ya?" Ciara memelas dengan suara yang tak kalah serak karena usai menangis.
__ADS_1
^^^"Jangan, Dek. Kamu di sana aja sementara."^^^
^^^"Suara kamu kenapa? Abis nangis?"^^^
^^^"Kamu kangen Mommy, ya?"^^^
Darren bertanya dengan intonasi yang sepertinya masih belum sadar sepenuhnya dari tidur. Pasalnya ia begitu ngantuk saat itu.
Ciara hanya menangis tersedu-sedu. Entah ke siapa lagi ia harus mengadu selain Darren, kakak kandungnya.
^^^"Cup. Cup. Cup."^^^
^^^"Jangan nangis lagi ya."^^^
^^^"Kakak yakin Mommy baik-baik aja."^^^
^^^"Sekarang kamu tidur ya?"^^^
^^^"Kakak nggak matiin telfonnya sampai kamu tidur."^^^
^^^"Kakak temenin Ciara tidur."^^^
Darren berusaha membujuk Ciara dengan suara yang makin lama makin tak terdengar. Pasalnya malam itu ia teramat sangat lelah dan ngantuk karena usai bekerja paruh waktu.
"Kak," panggil Ciara sembari terisak. "Daddy Cio jahat."
"Dia ... dia menyentuh Ciara, Kak. Ciara takut dia makin lancang sama Ciara, Kak."
"Terus, dia juga mengancam Ciara menggunakan Mommy. Katanya kalau Ciara nggak ngikutin kata-katanya, Mommy bisa celaka."
"Ciara takut Mommy kenapa-kenapa, Kak."
Ciara menangis tersedu-sedu saat mengadu kepada Darren. Ia berharap dengan mengatakan semua itu Darren dapat mengizinkannya ke Bandung. Tapi sayangnya, Darren saat itu sudah terlelap dan tak memberikan respon apa-apa sama sekali.
Ciara hanya bisa menangis terisak-isak karena khawatir dan takut. Cinta yang semula menggebu-gebu dan terasa begitu indah baginya, entah kenapa sekarang membuatnya ketakutan setengah mati. Sejak kapan cinta yang menjadi penawar itu berubah menjadi racun yang sangat berbahaya?
"Mungkinkah ... cinta yang kukira penawar itu, ternyata racun yang paling berbahaya dan mematikan?" gumam Ciara tak berdaya.
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG......