
...“Lakukan semua yang kalian bisa dan cek cctv yang ada di sekitar. Aku akan menaikkan upah kalian tiga kali lipat dari sebelumnya!” – Abercio Sanchez...
Tak lama sebelum Sabrina menghubungi Abercio.
Di sebuah ruang kerja di lantai dua rumah mewah itu, Abercio terlihat kalut dan berantakan. Dasi yang miring dan longgar, terlihat bergelantungan di kerah baju Abercio dengan tiga buah kancing kemeja atasnya yang dibiarkan terbuka.
Sudah satu bungkus rokok yang Abercio habiskan sambil mondar mandir bak setrika panas di balkon ruang kerjanya itu.
Tangan kanan Abercio memegang rokok, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang. Ia menghembuskan hembusan asap rokok tadi dengan kasar ke udara. Sesaat kemudian ponselnya bergetar.
Drrttt… Drrttt…
Dengan sigap Abercio melempar puntung rokoknya ke luar. Kemudian ia bergegas berlari ke arah meja kerjanya di mana ponselnya sedang tergeletak.
“Sial!” umpat Abercio saat melihat nama Sabrina di layar ponselnya. Ia langsung menolak panggilan tersebut. Namun wanita tersebut tak menyerah menghubunginya.
“Jaalang ini kenapa sih?!” teriak Abercio kesetanan sambil terus menolak panggilan masuk dari Sabrina.
Axel serta beberapa orang hacker yang Abercio perintahkan semakin bergidik ngeri saat mendengar Abercio berteriak keras dengan penuh emosi. Mereka mengerahkan seluruh upaya mereka untuk mencari keberadaan Markus dan Ciara.
Drrtttt… Drrrttt…
Ponsel milik Axel bergetar. Ada panggilan masuk dari Bart. Axel bergegas mengangkat panggilan tersebut.
^^^“Markus nggak di sini.”^^^
^^^“Sepertinya dia sengaja meninggalkan ponselnya di hotel agar kita nggak bisa melacak keberadaannya.”^^^
“Sial!” umpat Axel sambil menyeka kasar rambutnya.
Meskipun Axel tak memiliki rasa pada Ciara, tapi ia memiliki tanggung jawab untuk menemukan gadis yang kelak akan menjadi istri dari atasannya itu.
Axel segera mematikan ponselnya. Kemudian ia mendekat ke arah beberapa orang hacker yang sejak tadi sibuk dengan laptop mereka di sofa yang ada di ruang kerja Abercio.
__ADS_1
“Bagaimana?” tanya Axel cemas.
Serentak semuanya menatap ke arah Axel dengan tatapan yang berat. Mereka menggeleng pelan tanpa berani menjawab.
“Sial! Hal kecil seperti itu aja kalian nggak bisa?!” bentak Abercio yang menangkap respon para hacker saat ditanyai oleh Axel tadi.
“Lakukan semua yang kalian bisa dan cek cctv yang ada di sekitar. Aku akan menaikkan upah kalian tiga kali lipat dari sebelumnya!” perintah Abercio dengan penuh amarah.
Seluruh yang ada di ruangan tersebut mengangguk patuh tanpa berani membantah. Kemudian Abercio kembali menyambar bungkus rokok di atas mejanya.
Tok! Tok! Tok!
“Siapa lagi sih?!” ketus Abercio sambil meremas bungkus rokok ditangannya dengan kuat karena kesal.
Ceklek!
“Kak, ini a—”
Benicio terdiam dan tak melanjutkan ucapannya. Ia menatap seisi ruangan. Ruangan tersebut begitu mencekam. Raut wajah orang-orang asing yang berada di depan laptop membuat Benicio mengerutkan keningnya. Ditambah lagi dengan penampilan berantakan Abercio saat itu.
“Ada apa?” tanya Abercio dingin.
“Kenapa lagi sih dia?!” potong Abercio yang mendadak kesetanan saat mendengarkan nama Sabrina. Baginya, Sabrina adalah wanita parasit yang selalu saja mengganggu kesehariannya.
“Jangan sekarang, aku lagi sibuk,” tolak Abercio sambil melempar rokoknya ke balkon. Kemudian ia mengambil bungkus rokok yang masih tersegel dan belum terbuka.
Benicio tak kunjung menyerah. Ia bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut dan menutup pintu.
“Tolong, Kak—”
“BENNN!!!” bentak Abercio lantang dengan penuh amarah. Matanya melotot dengan pembuluh darah yang menonjol di lapisan kulitnya karena mengeram.
Semua yang ada di ruangan tersebut termasuk Axel dan Benicio, mereka terhenyak. Semuanya tersentak kaget saat mendengarkan kegilaan Abercio karena amarahnya yang semakin tak terkendali. Bahkan adik yang sangat Abercio sayangi pun sanggup dibentaknya dengan kasar dan lantang.
Sesaat setelah Abercio membentak Benicio dengan begitu lantang, ia langsung tersadar akan kelakuan kasarnya tersebut. Abercio meletakkan kembali rokoknya ke atas meja, kemudian ia berjalan mendekat ke arah Benicio.
__ADS_1
“Sorry,” tutur Abercio sambil menghela nafas berat.
“Ciara … Ciara diculik.”
“Apa yang harus ku lakukan?” sambungnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Benicio menghela nafasnya. Kemudian ia menoleh ke arah pria-pria yang sedang fokus menatap laptop. “Mereka sedang mencari keberadaan Ciara?”
Abercio mengangguk pelan.
Benicio menghela nafas pelan. Kemudian ia bergegas berjalan mendekat ke arah para hacker tersebut. Lalu ia menyodorkan ponselnya pada hacker tersebut.
“Cari tau lokasi pemilik nomor ponsel ini tadi sedang ada di mana. Lacak keberadaannya,” perintah Benicio.
Abercio terbelalak. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah Benicio dan menarik kasar bahu Benicio.
“Apa yang kamu lakukan?!” bentak Abercio kesal.
“Kak, Ciara dan Sabrina berada di tempat yang sama!” jelas Benicio mulai kesal.
Benicio menjelaskan apa yang ia dengarkan saat tadi ia menghubungi Sabrina. Kemungkinan besar, saat ini dua orang wanita itu sedang di sekap di tempat yang sama.
“I got it!” seru salah seorang hacker yang ada di sana.
Abercio dan Benicio bergegas menoleh ke arah suara tersebut secara serentak.
“Kirimkan lokasinya ke ponselku,” perintah Abercio saat itu juga.
“Axel, suruh Bart dan yang lainnya ke titik itu!”
“Kau ikut aku dan Benicio. Kita ke sana sekarang!”
"Markus bajingan!!!" umpat Abercio penuh amarah sambil keluar dari ruang kerjanya.
Di saat yang sama, Lucy mendengarkan umpatan Abercio. Sejak tadi, ia diam-diam mencari tahu apa yang sedang terjadi di rumah itu.
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...