
..."Semua orang tau kalau Abercio Sanchez itu gila. Karena kegilaanku ini aku bisa sukses di bidang apapun yang aku sukai. So, nggak ada salahnya 'kan kalau sekarang aku ingin menjadi gila demi bisa bercinta denganmu." – Abercio Sanchez...
Di tengah-tengah ruangan kantor yang besar tersebut, hati Ciara hancur sehancur hancurnya. Entah kenapa luka kali ini begitu sakit dan sulit ia maafkan. Pasalnya, ia melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bahwa pria yang ia cintai bercinta dengan seorang pelacur!
"Ciara, dengarkan—”
"Apalagi yang harus aku dengarkan?!" potong Ciara dengan suara yang lantang dan mata yang melotot. "Kamu pikir aku ini polos dan bodoh?!"
Abercio menghela nafas kasar. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah Ciara. Ia berusaha meraih tangan Ciara dengan mimik wajah yang penuh penyesalan. Entah kenapa, ini pertama kalinya ia merasa begitu takut citranya buruk di depan seorang wanita. Padahal, sebelumnya ada ratusan wanita yang pernah melihat ia bercinta dengan wanita manapun.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" Ciara menempik tangan Abercio. Nafasnya terdengar kasar dengan dada yang naik turun karena amarah yang meledak-ledak.
"Ciara! Aku ini ayah tirimu!" bentak Abercio yang kini juga mulai tersulut emosi. Ia merasa kesal karena Ciara memandang hina dirinya saat ini. "Memangnya kau sesuci apa sampai-sampai mengatakan aku kotor?!"
"Seluruh isi di balik dress mu itu sudah ku lihat. Bahkan aku sudah menyentuh dan mencicipinya!" sambung Abercio tak kalah lantang.
Plak!
Tanpa sadar Ciara menampar wajah Abercio dengan sangat kuat. Ia menumpahkan seluruh kekesalannya pada sebuah tamparan di wajah tampan Abercio.
"Kamu benar. Kamu memang ayah tiriku dan aku memang nggak sesuci itu. Tapi setidaknya ... aku nggak pernah memberikan tubuhku pada pria lain selain padamu." Tanpa terasa, butiran bening keluar dan mengalir membasahi pipi Ciara.
"Markus Alejandro Garnacho! Pria yang merupakan cinta pertamaku telah menyakitiku sampai-sampai aku tak percaya lagi dengan cinta lain selain dari Mommy dan Kak Darren. Sampai akhirnya Abercio Sanchez datang, aku mencoba kembali percaya dengan cinta yang telah hancur itu. Tapi ternyata kalian berdua tak ada bedanya. Kalian berdua sama—”
Abercio tak membiarkan Ciara melanjutkan ucapannya. Ia langsung membungkam bibir Ciara menggunakan bibirnya. Kedua tangan kekarnya menahan kepala Ciara yang terlihat meronta-ronta ingin melepaskan diri.
__ADS_1
"Hmphhh!!!"
Abercio melu.mat bibir Ciara dengan rakus cukup lama sampai akhirnya ia melepaskan bibir gadis itu. Lipstick merah yang Ciara oleskan di bibirnya kini berantakan.
"Dengarkan aku, Ciara Alejandro Garnacho," Abercio mengusap lembut bibir Ciara menggunakan ibu jarinya sehingga lipstick merah tersebut semakin belepotan hingga ke pipi.
"Permainan yang sebenarnya baru akan dimulai. Jadi, jangan berfikir untuk menjauhiku," bisik Abercio pelan dengan tatapan yang melotot mengerikan saat kedua wajah mereka berjarak setengah jengkal.
Ciara mengeram dengan kesal dan penuh amarah. Memangnya dia ini sebuah mainan yang dengan seenaknya saja Abercio bisa memutuskan kapan ingin memulai dan kapan ingin mengakhiri?!
"Katakan! Di mana Mommy sekarang?!" teriak Ciara dengan penuh amarah. Ia tak mempedulikan ucapan Abercio tadi.
Abercio menyeringai tipis. Ia sangat faham bahwa salah satu kelemahan terbesar Ciara adalah Lucy. Dengan menggunakan Lucy, ia dapat membuat Ciara tetap berada di dekatnya dan tak bisa kabur ke mana-mana.
"Mommy mu baik-baik saja selagi kamu nggak berulah," sahut Abercio dingin.
"Kamu pikir aku nggak tau kalau kamu menikahi Mommy sebatas kontrak?! Aku bakalan sebarkan berita ini biar reputasimu jatuh!" ancam Ciara. Ia kembali berusaha mendorong tubuh Abercio dengan sangat kuat.
Kemudian Abercio menaikkan kelopak matanya untuk menatap ke arah Ciara. Lalu ia kembali menyeringai dan berkata dengan lirih. "Yang rugi itu kamu sekeluarga. Bukan aku. Bahkan Mommy mu akan kehilangan nyawa hanya dengan tindakan sia-siamu itu."
Gluk!
Ciara terdiam. Darahnya mendadak berhenti saat itu juga. "Mommy ... ke-kehilangan nyawa?!"
Ciara memegang dan menarik kemeja putih Abercio. Dicengkeramnya dengan kuat dan erat sembari ia mempelototi Abercio.
"Apa yang sebenarnya terjadi?! Apa yang kamu lakukan pada Mommy?!"
__ADS_1
"Jangan menyentuhnya!"
"Jangan menyakitinya!"
"Dan ... dan jangan membuatnya terluka," lirih Ciara putus asa.
Abercio terdiam. Pikirnya, gadis di depannya saat ini sudah mengetahui semuanya. Ternyata, ia hanya tahu sebatas pernikahan kontrak. Isi dari pernikahan kontrak tersebut gadis itu tak tahu?
"Good! Aku memenangkan permainannya," batin Abercio.
Abercio memegang kedua tangan Ciara yang kini sedang menarik kemejanya. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Ciara dan berkata dengan lirih.
"Sayang ... Mommy-mu baik-baik saja kalau kamu patuh padaku," ucap Abercio pelan. "Temani aku tidur, temani aku bercinta dan kita bersenang-senang."
"Kamu nggak akan rugi kok. Aku akan memberikanmu kemewahan dan aku juga tampan," sambungnya dengan penuh percaya diri.
Ciara melepaskan kedua tangannya dari kemeja Abercio dengan kasar sembari mendorong tubuh Abercio menjauhinya.
"Dasar gila!" umpat Ciara.
"Semua orang tau kalau Abercio Sanchez itu gila. Karena kegilaanku ini aku bisa sukses di bidang apapun yang aku sukai. So, nggak ada salahnya 'kan kalau sekarang aku ingin menjadi gila demi bisa bercinta denganmu," sahut Abercio tanpa basa basi. Ia benar-benar menunjukkan kegilaannya yang selama ini ia tutupi dengan topeng pria hangat dan baik hati.
"Mimpi! Aku nggak akan pernah mau tidur dengan pria bekas sepertimu! Nggak menutup kemungkinan kalau kamu memiliki penyakit menular seperti HIV!" sembur Ciara sembari membalikkan tubuhnya.
Ciara berjalan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Abercio. Namun Abercio tak kunjung menyerah.
"Ciara! Datanglah ke kamarku kalau berubah pikiran. Karna hanya aku yang tau di mana Mommy-mu berada!" ucap Abercio tanpa sedikitpun rasa bersalah.
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG......