
..."Ck! Nggak pernah dengerin kata tukang parkir sih. Di suruh mundur tuh ya mundur." - Ciara A. Garnacho...
Keesokan paginya. Seperti biasa, Abercio ke kantor untuk bekerja dan Ciara ke kampus untuk kuliah. Sedangkan Lucy dan Benicio, mereka tinggal berdua di rumah besar tersebut.
Lucy mengurungkan niatnya untuk kembali ke Amerika karena menunggu pernikahan antara Ciara dan Abercio berlangsung terlebih dahulu.
Pagi itu, mereka sarapan bersama.
"Daddy ... ntar balik jam berapa?" tanya Ciara manja. Gadis itu bertanya sambil mengunyah nasi goreng di mulutnya.
"Mungkin bakalan lembur sih. Soalnya ada rapat penting hari ini dan besok," sahut Abercio sambil menyeruput kopi hitamnya yang hangat.
Ciara mengerucutkan bibirnya dan membawa bibir tersebut menepi ke kiri. Kemudian ia terdiam sejenak dan menghela nafasnya.
"Kenapa? Hmm?" tanya Abercio pelan.
Lucy dan Benicio menikmati sarapan mereka tanpa mengindahkan dua orang tersebut.
Meskipun awalnya Lucy belum sepenuhnya memberikan restu dan kepercayaan kepada Abercio, tapi perlahan ia mulai ikhlas. Apalagi saat melihat tatapan Abercio pada Ciara. Tatapan yang penuh dengan cinta dan ketulusan.
Lucy tersenyum lega. Tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan saat menyerahkan Ciara pada Abercio.
"Hari ini kamu ke mana?" tanya Abercio pada Benicio.
__ADS_1
"Ke rumah Sabrina," jawab Benicio singkat.
Mendengar jawaban Benicio, Ciara berdecak pelan sembari tersenyum mengejek. Kemudian ia nyeletuk dengan suara yang pelan namun cukup terdengar di telinga tiga orang yang ada di meja makan tersebut.
"Ck! Nggak pernah dengerin kata tukang parkir sih. Di suruh mundur tuh ya mundur," celetuk Ciara pelan.
Abercio yang mendengarkan hal tersebut hanya tersenyum lirih. Benicio menangkap senyuman kakaknya dengan tatapan kesal dan tak suka. Bagaimana bisa kakaknya itu mendukung 'Sugar Baby' yang baru hadir di hidupnya dan membiarkan adiknya di ejek?!
"Ciara," bisik Lucy pelan sambil mencubit pelan lengan Ciara.
"Aw! Mommy," rengek Ciara manja.
Sesaat sesudah Ciara merengek manja pada Lucy, Abercio menyudahi sarapannya. Ia menyeka lembut bibirnya menggunakan tisu. Kemudian ia berdiri dari duduknya.
Ciara yang sudah faham pun bergegas menyudahi sarapannya dan menenggak habis susu putih di gelasnya. Setelah itu ia bergegas keluar mengikuti Abercio sampai lupa menyeka susu yang masih belepotan di bibirnya.
"Daddy," panggil Ciara manja. Kemudian ia bergegas memeluk Abercio yang langsung menoleh ke arahnya saat dipanggil.
"Kuliah yang bener ya?" lirih Abercio pelan sambil menatap ke bawah ke arah Ciara yang sedang memeluknya dengan kepala yang menengadah menatap ke arahnya.
Mendengar ucapan Abercio tersebut, Ciara merenggut. Wajahnya mendadak kesal. Kemudian ia menggerutu.
"Ngomongnya kayak ayah yang lagi ngingetin anaknya. Aku 'kan calon istri Daddy! Bukan anak Daddy!" rengek Ciara kesal.
Abercio tak mengindahkan rengekan Ciara. Ia malah terfokus pada sisa-sisa susu yang masih menempel di bibir atas Ciara.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Abercio mendaratkan bibirnya ke bibir Ciara. Pria itu menge.mut gemas bibir gadis itu dan membersihkan seluruh sisa susu sampai bibir gadis itu bersih. Bahkan lipstick yang gadis itu gunakan menjadi hilang!
"Ugh! Daddy!" Ciara mendorong dada kekar Abercio dengan kedua alis yang menyatu.
Tangan Abercio melingkar ke pinggul Ciara dengan erat dan membuat gadis itu tak bisa menjarak darinya.
"Kan lipstick-ku hilang!"
"Ntar bisa di touch up, Sayang," lirih Abercio sambil menyeka lembut bibir atas Ciara yang sedikit membengkak akibat ciuman darinya.
"Daddy kenapa sih akhir-akhir ini ngeselin?" gerutu Ciara kesal. Ia memalingkan wajahnya ke samping.
"Dari tadi aku ngomong, tapi Daddy nggak merespon ucapanku."
"Terus Daddy ngapain lembur sih hari ini?"
"Hari ini kita mau final fitting! Masak aku sendiri yang fitting? Emangnya aku doang yang nikah?"
"Apa jangan-jangan Daddy nggak serius nikahin aku?!"
Abercio menepuk dahinya sambil menghela nafasnya. "Sorry, Baby. Aku melupakan itu."
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG......
__ADS_1