Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Sudah Kuperingatkan ...


__ADS_3

..."Sudah kuperingatkan, Bart. Jangan melewati batasmu. Tapi ... kau benar-benar tak mengindahkan ucapanku dan berlaku sesukamu. Sepertinya, kau harus ku berikan hukuman yang berat." – Abercio Sanchez...



"Kak Darren!"


Ciara menuruni mobil dengan tergesa-gesa sesaat setelah Bart berhenti di lobby Hotel One Day.


Gadis itu tersenyum dengan girang saat kembali dipertemukan dengan Darren. Matanya berkaca-kaca karena tak mampu menjelaskan kebahagiaan yang kini sedang ia rasakan.


"Kak, Ciara kangen," ucap Ciara manja.


"Jangan nangis." Darren membelalakkan matanya. Ia faham betul bahwa adik perempuan satu-satunya itu sangat cengeng. Yah, walaupun pada kenyataannya ia tak sepenuhnya faham dengan sifat asli adiknya itu.


"Ciara sendirian tau," rengek Ciara dengan sudut bibir yang melengkung ke bawah. Ia menarik nafasnya dengan kasar agar tak terbawa suasana sedih malam itu.


Bart menatap sendu punggung Ciara yang saat itu sedang merengek manja pada Darren. Saat ia menyelidiki masa lalu Ciara, entah kenapa hatinya begitu terenyuh dengan hal berat yang telah gadis itu lewati.


"Mulai detik ini, aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu," gumam Bart dalam hati dengan sangat sungguh-sungguh. Ia benar-benar tulus mengharapkan kebahagiaan Ciara.


Tak lama kemudian, Darren membawa Ciara masuk ke restoran yang ada di hotel tersebut. Saat Ciara melangkahkan kakinya masuk ke restoran itu, ada sosok punggung yang tak asing di matanya. Punggung yang begitu familiar. Punggung yang selalu ia lihat saat suara Mommy-nya berteriak memohon belas kasih untuk menghentikan penyiksaan.


Sekujur tubuh Ciara mendadak bergetar dengan hebat. Keringat dingin perlahan membasahi tubuhnya. Nafasnya entah kenapa tiba-tiba terasa sesak.


"Ciara?"


Darren memanggil adiknya. Membuyarkan lamunan Ciara akan masa kelam yang begitu membekas diingatannya.


"Kak ..." Ciara menahan tangan Darren. "Ciara mau balik."


Darren membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ciara. "Loh kenapa? Kita 'kan belum ketemu Daddy?"


"Emangnya Ciara nggak kangen sama Daddy? Kan udah hampir sepuluh tahun kita nggak ketemu Daddy?" sambung Darren menatap heran ke arah Ciara.


Ciara tertunduk sembari menggigit bibirnya. Sejujurnya, ia sangat tak nyaman bertemu lagi dengan Markus itu. Meskipun itu adalah ayah kandungnya sendiri. Tapi entah kenapa ia benar-benar ingin mengakhiri semuanya hari ini.


"Ayok." Darren meraih tangan Ciara dan menuntun adiknya itu menuju ke meja di mana Markus sudah menunggunya di sana.


Perasaan Ciara mendadak tak tenang. Tatapan Markus saat itu entah kenapa begitu mengerikan. Ciara sampai tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap ayah kandungnya itu.

__ADS_1


"Daddy!" seru Darren sembari memeluk tubuh ayahnya.


Berbeda dengan Ciara. Gadis itu lebih memilih duduk dan hanya tersenyum paksa sesaat, kemudian kembali menundukkan pandangannya.


Markus sempat menyeringai tipis ke arah Ciara saat Darren memeluk tubuhnya tadi. Seringai yang begitu sarat akan makna itu entah kenapa ia tujukan kepada Ciara.


...❣️❣️❣️...


Sesaat setelah menurunkan Ciara di lobby, Bart pun ikut turun untuk mengawal gadis itu dari jauh. Tiba-tiba ia melihat Axel yang juga berada di hotel tersebut.


"Axel?"


Bart berjalan mendekat ke arah Axel yang saat itu terlihat sedang tergesa-gesa.


"Lo ngapain di sini?" tanya Bart penasaran sembari menahan bahu Axel dari belakang.


Axel menoleh ke belakang. Ia mendapati Bart sedang menahannya. "Ntar gue ceritain."


Bart hanya menaikkan kedua alisnya sembari bibirnya ia kerutkan dan melengkung ke bawah. Tapi, entah kenapa matanya tak mampu teralihkan dari gerak gerik aneh Axel saat itu.


Axel berjalan ke arah seorang waiters yang sedang membawa nampan berisikan minuman. Kemudian ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah plastik kecil yang cukup membuat curiga.


Bart terbelalak. Ia langsung mendekat ke arah Axel dan menahan tangan sahabatnya yang bersiap-siap ingin menuangkan sesuatu ke dalam gelas.


"Nggak ada waktu, Bart." Axel bersikeras ingin memasukkan benda tersebut ke dalam gelas, namun Bart mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan tangan Axel.


Axel pun mulai menyerah. Ia mendekatkan bibirnya ke wajah Bart dan berbisik, "Ini obat perangsang. Pak Abercio menargetkan Ciara malam ini."


Sesaat setelah mendengarkan ucapan Axel, rahang Bart langsung menegang. Ia merampas obat perangsang tersebut sembari mengeram dengan sangat kasar.


Seketika amarah Bart memuncak saat mendengarkan Abercio ingin merenggut paksa kehormatan Ciara menggunakan obat itu. Bart mengambil obat perangsang yang ada di tangan Axel, kemudian ia tumpahkan ke lantai.


"Bart! Gimana kalo Pak Abercio tau?!" kecam Axel dengan tatapan yang tak mengerti dengan tindakan yang Bart ambil.


Bart hanya diam dan tak mengatakan apa-apa. Waiters yang sejak tadi menunggu pun di suruh masuk oleh Bart. Ia menghela nafas lega karena malam ini Ciara akan baik-baik saja dan tak akan terluka.


Bart meninggalkan Axel yang saat itu sedang pusing memikirkan alasan apa yang harus ia berikan pada Abercio karena obat tersebut telah dibuang oleh Bart.


"Sial!" umpat Bart tak lama kemudian. Pasalnya, Ciara sudah tak terlihat di meja yang ia tempati tadi.

__ADS_1


Bart bergegas menanyakan Ciara, Markus dan Darren yang saat itu sudah tak ada di meja yang mereka tempati.


"Tadi Mbak-Mbak yang cantik itu pusing. Jadi di bawa sama ayahnya ke kamar," jawab seorang waiters yang sedang membersihkan meja makan.


Bart langsung menghela nafas kasar. Kemudian ia kembali mendekat ke arah Axel dan menarik kerah baju Axel dengan kasar.


"Katakan Plan B, lo?!" tanya Bart penuh amarah dan mata yang melotot.


"Hah?" Axel tak mengerti dengan ucapan Bart.


"Lo udah nyuruh orang lain 'kan buat ngasih obat perangsang ke minuman Ciara?!" kecam Bart tak tahan.


Axel terdiam. Namun sesaat kemudian ia langsung tersentak kaget. Matanya terbelalak dengan sempurna dengan nafas yang tiba-tiba tertahan sesaat.


"Bart! Kayaknya Markus menjebak Ciara buat di jual! Kemaren gue sempat ngelacak pesan dia—"


"Sial!" umpat Bart memotong ucapan Axel.


"Katakan! Bajingan itu di room berapa?!!!" tanya Bart lantang dan penuh penekanan. Suaranya menggema sampai membuat seluruh fokus pengunjung di sana teralihkan padanya.


"R-room 2056. Lantai tujuh," ucap Axel. Ia mendadak merinding dengan kegilaan Bart yang selama ini tak pernah ia lihat.


Bart bergegas berlari menuju lantai tujuh menggunakan tangga darurat karena lift begitu penuh dan sesak. Setibanya ia di lantai tujuh, ia begitu terkejut melihat sosok Abercio sedang berdiri tepat di depan Room 2056. Room yang Axel sebutkan tadi. Ciara berada di dalam sana.


Abercio terlihat sedang melonggarkan dasinya dan membuka beberapa kancing kemejanya. Lalu pria itu juga mengacak-acakkan rambutnya. Tak lama kemudian Abercio masuk ke dalam Room 2056 dengan wajah yang tiba-tiba berubah drastis.


"Ciara?! Apa yang terjadi, Sayang?!" Abercio masuk ke kamar 2056 dengan wajah yang panik dan penuh khawatir.


Bart penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Ia memberanikan diri berjalan mendekat ke arah pintu kamar tersebut sembari menajamkan pendengarannya.


"D-Daddy Cio ... tolongin Ciara," suara memelas memohon bantuan Ciara terdengar oleh Bart.


"Badan Ciara panas, Daddy. Badan Ciara rasanya aneh," sambung Ciara dengan suara yang lemah tak berdaya.


Bart terbelalak dan tak tahan untuk tak melihat ke arah dalam ruangan tersebut. Ia pun memberanikan dirinya melihat ke dalam untuk memastikan apa benar itu adalah gadis yang ia cintai? Jika benar, ia harus menyelamatkan Ciara dari efek gila obat perangsang.


"Sudah kuperingatkan, Bart. Jangan melewati batasmu," tukas Abercio dengan suara yang mengerikan saat menyambut sosok Bart yang berdiri tepat di depan pintu. "Tapi ... kau benar-benar tak mengindahkan ucapanku dan berlaku sesukamu."


"Sepertinya, kau harus ku berikan hukuman yang berat, Bart."

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG......


__ADS_2