
...“Bart … jangan lupa kirimkan foto kita kemaren.” – Ciara A. Garnacho...
...❣️...
...“Foto … kita?” – Abercio Sanchez...
...❣️❣️...
...“Oh God ... sepertinya akan ada perang dingin di rumah ini.” – Axel Harrison...
“Are you okay?” tanya Abercio sambil memegang lengan Ciara yang saat itu ingin keluar dari mobil. Abercio sudah menunggu sambil berdiri di dekat pintu mobil.
Ciara hanya mengangguk pelan mengiyakan. Pasalnya, saat ingin mengeluarkan kaki dari mobil tadi, Ciara sempat meringis sesaat karena ia merasakan perih di organ tubuh bagian bawahnya. Yah, mungkin karena pertama kali baginya. Jadi ia belum terbiasa.
“D-Daddy! Turunin aku. Malu diliatin orang,” rengek Ciara saat Abercio tiba-tiba membopong tubuhnya. Matanya berkeliling melihat ke beberapa sudut di mana ada pengawal Abercio yang sedang berjaga di rumah itu.
“Nggak ada yang berani melihat ke arahku,” tutur Abercio dingin.
Pria itu benar. Meskipun sedang bertugas menjaga keamanan, tak ada yang berani melihat ke arah Abercio. Hal tersebut memang sudah diberitahukan sejak awal sebelum mereka menjadi pengawal Abercio. Pria itu tak suka dengan tatapan-tatapan aneh dari orang sekitarnya. Jadi, kalau ada apa-apa dan selagi hal itu tak berbahaya, mereka tak boleh melirik ke arah Abercio.
__ADS_1
Ciara hanya diam. Ia tertunduk dengan wajah yang suram. Tak ingin melawan karena ia sadar, saat ini hanya Abercio yang dapat membantunya. Selain itu ia tak tahu lagi ingin meminta bantu pada siapa saat ini.
“Bart!” gumam Ciara dalam hati.
Ciara yang semula suram, ia langsung mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Bart yang saat itu sedang berdiri di depan pintu dengan gagahnya.
Bart menatap lurus ke depan dan enggan menatap ke arah Ciara serta Abercio yang saat itu berjalan ke arahnya dari sisi kanan untuk memasuki pintu rumah. Namun Ciara yang tak tahu menau ada perselisihan antara Abercio dan Bart, gadis itu malah memanggil Bart dengan santai.
“Bart,” panggil Ciara sembari tersenyum cerah. Matanya yang semula layu, kini mendadak membulat dan berbinar-binar. Ia mengulurkan kedua tangannya ke arah Bart untuk meminta sesuatu.
“Hp-ku,” ucap Ciara sambil tersenyum girang menampakkan giginya yang rapi. “Oh iya, sekalian simpan nomormu di hp-ku, ya. Dan jangan lupa kirimkan foto kita kemaren.”
Jleb!
Bart mendadak menelan salivanya. Ia merasakan ada aura dingin yang menjalar ke tubuhnya. Aura dingin tersebut berasal dari pria yang sedang menggendong tubuh Ciara. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Abercio Sanchez. Si pria gila yang sebentar lagi akan menghukumnya tanpa belas kasih.
“Foto … kita?” ulang Abercio sambil menatap ke arah Bart sembari sedikit memiringkan kepalanya. Ia bertanya dengan suara yang dingin dan sorot mata yang menatap tajam ke arah Bart.
“Pak … maaf. ART baru sudah menunggu di dalam,” ucap Axel yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
Axel mengetahui ada yang tak beres antara Abercio dan Bart sejak tadi malam. Pasalnya, Bart tak pernah secengeng itu sebelumnya. Bahkan saat ia dihadapkan dengan hidup dan mati pun tak pernah sekalipun pria itu takut. Berbeda dengan Bart yang ia lihat malam tadi.
__ADS_1
“Apa saya suruh dia ke sini?” ucap Axel mencoba mengalihkan perhatian Abercio.
“Wanita lagi?” tanya Ciara sambil menatap ke arah Abercio. Sorot mata Ciara saat itu benar-benar menunjukkan keengganannya untuk menerima kehadiran wanita lain di sisi Abercio. Ia benar-benar muak harus melihat hal yang menyakiti mata dan hatinya itu.
“Hmm. Wanita,” sahut Abercio sambil menganggukkan kepalanya pelan ke arah Ciara.
Ciara menghela nafasnya dengan kasar sembari memutarkan kedua bola matanya. Terlihat ekspresi muak dan kesal yang bercampur menjadi satu di wajah gadis itu. Dengan perasaan yang kesal dan kecewa, Ciara melompat turun dari gendongan tangan Abercio.
“Ciara?” Abercio menatap heran ke arah Ciara. Sepertinya gadis itu merajuk karena ART yang baru saat ini juga wanita. Lagi pula, di mana-mana jarang sekali dan hampir tak ada pria yang mau menjadi ART.
“Tunggu dulu, Sayang,” ucap Abercio sembari menahan tangan Ciara. “Aku kenalin kamu—”
“Daddy aja yang kenalan sama dia,” potong Ciara ketus.
“Dasar buaya!” geram Ciara dalam hati sambil berjalan memasuki rumah.
Gadis itu menggerutu tanpa suara. Sudut mulutnya mencibir dengan sangat menggemaskan. Abercio tersenyum melihat tingkah Ciara. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa sadar. Dan saat ia menggelengkan kepalanya, ia melihat Bart juga tersenyum saat menatap tingkah menggemaskan Ciara.
“Oh God ... sepertinya akan ada perang dingin di rumah ini,” tebak Axel dalam hati sambil menghela nafasnya tanpa bersuara. Kedua bahu lebarnya beringsut seiring dengan nafas tak bersuara yang ia keluarkan tadi. Tanpa sengaja, ia melihat dua mata pria itu tertuju pada Ciara dengan perasaan yang sama, yaitu cinta.
...❣️❣️❣️...
__ADS_1
...BERSAMBUNG…...