Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Pria Yang Menjijikkan!


__ADS_3

..."Ayo kita akhiri sandiwara ini. Bukan hanya anda, tapi saya juga lelah berhadapan dengan anda yang menjijikkan ini." – Ciara A. Garnacho...



Beberapa hari telah berlalu. Ciara benar-benar sulit tidur karena memikirkan ucapan terakhir Abercio. Setelah mengucapkan kalimat penuh misteri tersebut, pria itu benar-benar tak lagi mengejarnya atau membujuknya. Kini pria itu balik mendiamkannya sehingga ia menjadi gelisah sendiri.


Sore itu, waktu menunjukkan pukul empat sore. Ciara menoleh ke kiri, ke arah meja kecil samping ranjang. Di atas meja itu ada dua kartu yang Abercio pernah berikan padanya beberapa hari lalu. Ditatapnya kedua kartu tersebut dengan seksama. Untuk apa pria itu memberikannya dua kartu itu?


"Haaa ..." Ciara menghela nafasnya. Ia benar-benar tak bersemangat dan merasa sangat frustasi.


“Aku harus menemuinya untuk mencari tahu. Kalau ketahuan, ya sudah. Aku juga nggak boleh terlalu berlarut-larut dalam kegilaan ini. Lagi pula, dia nggak punya alasan untuk menyentuh dan menyakiti Mommy,” gumam Ciara.


Gadis itu bangkit dari ranjangnya dan menapaki lantai. Kemudian ia bergegas mandi dan mengganti pakaiannya serta sedikit berdandan. Setelah itu, ia menatapi pantulan dirinya yang kini berada di depan cermin.


“Dress hitam dan lipstick merah. Ck! Kononnya penampilan menambah kepercayaan diri seseorang,” celetuk Ciara sambil memaksakan senyumnya dengan bibir yang bergetar karena takut dan gelisah.


...❣️❣️❣️...


Ciara tak henti-henti melihat layar ponselnya. Ia dibuat gelisah setengah mati saat terjebak kemacetan sedangkan jam sudah menunjukkan pukul enam sore.


"Gimana kalo Daddy Cio udah balik? Sia-sia dong aku ke sana?"


"Haaa ... seharusnya aku menunggunya di rumah aja. Ngapain sampe nyamperin ke kantor sih?!"


Ciara menyandarkan kepalanya dengan raut wajah yang tak bersemangat dan lemas. Ia mengutuki dirinya yang sembrono dan tak berfikir dulu sebelum bertindak.


"Lagian! Ngapain nyamperin jam segini sih?!" rutuk Ciara tak henti-henti.


Supir taksi yang Ciara tumpangi terlihat tak peduli dengan Ciara yang sejak tadi berbicara sendiri. Dia hanya fokus menatap jalan agar penumpangnya segera sampai tujuan dengan selamat.


“Nggak apa-apa. Yang penting dateng dulu ke kantornya. Ntar ada orang atau nggak urusan belakangan,” ucap Ciara menyemangati diri sembari melemparkan pandangannya ke arah luar jendela taksi.


Ciara menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia membuangnya dengan kasar. Tanpa ia sadari, telunjuknya mengetuk-ngetuk layar ponselnya karena tak tenang.


Setelah menunggu dengan gelisah selama dua puluh menit, akhirnya Ciara tiba di lobby kantor Abercio.

__ADS_1


Ciara mengeluarkan kaki kirinya dari mobil diikuti kaki kanan. Lalu ia berjalan memasuki lobby dan menuju pintu lift private.


Saat di dalam lift, Ciara menatapi dirinya dari atas hingga bawah ke pantulan tubuhnya di pintu lift. Dress hitam selutut yang membentuk tubuh serta rambut hitam legam yang ia biarkan tergerai dipadukan dengan heels hitam setinggi tujuh senti.


"Ck! Ciara, Ciara. Mau ngapain sih sampai dandan segala? Mau nebar pesona? Come on, Ciara! Move on! Dia itu cowo brengsek!"


Ciara menyadarkan dirinya sembari memegang tas mungil cream dengan erat untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Ting!


Pintu lift terbuka. Jantung Ciara semakin berdebar-debar. Rasanya benar-benar sesak dan entah kenapa sekujur tubuhnya terasa berat sehingga ia malas untuk melangkah.


"Yuk, bisa yuk!"


Ciara langsung keluar dari lift tersebut. Matanya berkeliling sembari menatap ruangan yang kosong dan hampa karena semuanya sudah pulang.


"Mungkin dia udah pulang," ucap Ciara putus asa.


Ciara memutuskan untuk tak melanjutkan langkahnya ke ruangan Abercio. Ia juga takut karena lantai tersebut begitu sepi. Jadi, ia bergegas memencet tombol lift untuk turun.


"Mbak ... baru ya?"


"Ng-nggak, Bu. Saya mau nemuin Daddy," sahut Ciara saat menemukan seseorang yang bertanya padanya tadi. Ternyata itu adalah staff kebersihan yang masih bertugas mengumpulkan sampah-sampah yang ada di tong sampah di depan pintu lift.


"Daddy?" wanita paruh baya tersebut mengernyitkan keningnya.


"M-maksud saya Bapak Abercio Sanchez," ucap Ciara. "Karena Daddy udah pulang, jadi saya mau tunggu di rumah aja."


"Oh. Pak Abercio. Beliau masih di ruangan kok, Mbak. Beliau sering lembur. Wajar kalau CEO banyak kerjaan," wanita paruh baya tersebut terlihat sedang mendorong tong sampah sambil tersenyum dengan ramah.


Mendengarkan ucapan wanita paruh baya tersebut, Ciara langsung pamit kepada petugas kebersihan tersebut dan memutuskan melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Abercio.


“Pertama, apa yang harus ku katakan saat bertemu dengannya? Apa sebaiknya aku tanya Mommy di mana? No. No. No. Aku minta nomor Mommy aja. Terus, aku bilang mau tinggal di kontrakan Gea. Ya alasannya karna wanita dan pria itu nggak seharusnya tinggal seatap. Soalnya dia bukan ayah kandungku. Terus ... ntar aja deh dipikirin," gumam Ciara sembari berjalan menuju ruangan Abercio.


Ciara menarik nafasnya saat berada di depan pintu ruangan Abercio. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, yang penting ia harus mengetahui keberadaan Lucy terlebih dahulu. Dengan begitu, ia dapat memutuskan hal-hal yang lain.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Ciara mengetuk pintu tersebut. Namun tak terdengar sahutan.


Tok! Tok! Tok!


Lagi-lagi tak terdengar sahutan. Ciara menempelkan telinganya ke pintu tersebut.


"Ah... mmhh... ahh... Pak Aber. A-aku ... aku mau keluar, Pak."


Sekujur tubuh Ciara bergetar dengan hebat saat mendengarkan suara desa.han wanita di dalam ruangan tersebut. Badannya mendadak keringat dingin dan memanas seketika.


Ceklek!


Ciara membuka pintu secara perlahan dan menampakkan dirinya di depan pintu tersebut. Wajah yang telah ia dandani sedemikian rupa untuk menambahkan kepercayaan diri, kini mendadak suram dan pucat pasi. Lipstick merah yang ia gunakan tak ada artinya jika dibandingkan dengan rasa terkejutnya saat melihat Abercio sedang bercinta dengan seorang wanita yang tak lain adalah Elina, sekretaris Abercio di kantor.


"Daddy Cio," gumam Ciara pelan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menahan diri sembari mengepalkan kedua tangannya agar airmata tersebut tak jatuh untuk pria bajingan seperti Abercio.


Abercio yang saat itu sedang duduk bersandar di atas sofa terbelalak kaget saat mendapati Ciara menatapnya dengan tatapan jijik. Begitu juga dengan Elina, wanita murahan tersebut langsung turun dari atas paha Abercio dan bergegas meraih bajunya yang berserakan di lantai.


"M-maaf, Pak. Saya keluar dulu," ucap Elina dengan wajah bergetar ketakutan. Pasalnya ia tahu bahwa Ciara merupakan anak tiri Abercio.


Ciara memberanikan dirinya masuk ke dalam ruangan tersebut sembari menepuk tangannya. Meskipun bibirnya bergetar dan mata sudah berkaca-kaca, ia tetap memaksakan senyumnya. Dengan anggun, Ciara berjalan mendekati Abercio sambil tetap menepuk tangannya.


"Anda sangat luar biasa, Abercio Sanchez! Hahaha," Ciara tertawa dengan paksa. Tawanya benar-benar kaku! Siapapun akan menyadarinya.


Di saat yang sama, Elina langsung keluar dari ruangan tersebut setelah mengenakan pakaiannya. Kini hanya Abercio dan Ciara yang tersisa di ruangan tersebut.


Abercio berdiri membelakangi Ciara sembari melepaskan pengaman yang ia gunakan dan membuangnya ke tong sampah. Lalu ia memasukkan batang saktinya ke dalam celana.


"Daddy Cio ..." Ciara menyebutkan nama tersebut dengan nada mengejek. "Ayo kita akhiri sandiwara ini."


"Bukan hanya anda, tapi saya juga lelah berhadapan dengan anda yang menjijikkan ini." Sambung Ciara sembari menyilangkan kedua tangannya dan membusungkan dada.


"Kasih sayang seorang ayah disampaikan dalam bentuk pelecehan seksual? Ck! Kau bodoh sekali Ciara. Mengikuti permainan pria sampah ini!" rutuk Ciara kesal dengan emosi yang meluap-luap.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG......


__ADS_2