
..."Kenapa nggak sekalian aja sih tadi melakukannya berkali-kali, biar aku nggak perlu mandi berkali-kali." – Ciara A. Garnacho...
Abercio masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan yang berisikan sepiring nasi putih yang bertaburkan blackpaper beef di atasnya. Lalu ada juga segelas jus apel di atas nampan tersebut.
Pria itu berjalan mendekati ranjang dan meletakkan nampang tersebut ke atas meja samping ranjang. Kemudian ia duduk di sisi ranjang dan mencondongkan tubuhnya ke arah Ciara.
"Ciara, wake up Baby," bisik Abercio pelan sambil mengusap pelan bahu mulus Ciara. Kemudian ia mengecup lembut dahi gadis itu.
Lelapnya tidur gadis itu terusik karena bisikan Abercio di telinganya. Bisikan tersebut memberikan sentuhan lembut dari angin yang keluar dari bibir Abercio. Ia mengerutkan wajahnya sebelum kedua bola matanya terbuka.
"It's time to lunch," bisik Abercio menatap sayang wajah Ciara. "Tadi kamu melewatkan sarapan."
Ciara memasang wajah cemberut dengan bibir yang sempurna mengkerut ke bawah. Kemudian ia merengek dengan ketus kepada Abercio. "Gara-gara siapa sampai aku melewatkan sarapan?"
Abercio terkekeh pelan. Ia kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Ciara. "Tubuhmu terlalu nikmat. Jadi aku nggak bisa menahannya."
"Daddy Cio!" wajah Ciara sempurna memerah mendengarkan ucapan Abercio. Ia mendorong dada bidang pria itu untuk menciptakan jarak di antara mereka.
Lagi-lagi Abercio tertawa. Ia lupa, peristiwa apa dulu yang membuatnya tak bisa tertawa sampai bertahun-tahun. Tapi, sejak kehadiran gadis itu ke dalam hidupnya, hidupnya yang semula hampa dan tak berwarna itu kini mulai terasa penuh dan penuh dengan warna. Ia sampai tak sadar bahwa kini ia kembali bisa merasakan tertawa dengan lepas tanpa beban.
__ADS_1
"Akkk!" teriak Ciara tak sadar saat ia menggerakkan tubuhnya. Pinggangnya mendadak di sentrum saat itu. Siapa lagi pelaku dan penyebabnya kalau bukan Abercio Sanchez.
Abercio tersenyum menatap Ciara yang meringis karena pinggangnya yang sakit. Ia merasa sangat bahagia dan puas karena itu ulahnya. Ulahnya yang membuat gadis itu sampai kesakitan. Kalau dihitung-hitung, sepertinya mereka melewati tiga sampai empat ronde. Yah ... siapa suruh gadis itu memiliki tubuh yang begitu enak? Singa mana yang tak lapar dibuatnya? Pikir Abercio dalam hati.
Ciara merasa kesal melihat senyuman licik Abercio itu. Pasti pria itu sedang kesenangan melihatnya yang sedang kesakitan? Pikir Ciara saat itu.
"Daddy, aku mau mandi dulu. Abis itu baru makan."
...❣️❣️❣️...
"Daddy nggak makan?" tanya Ciara sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Saat itu ia hanya menggunakan jubah mandi berwarna biru tua dengan belahan dada yang sedikit terekspos. Rambutnya yang basah ia lilitkan menggunakan handuk biru tua di atas kepala.
"Aku akan makan setelah kamu selesai makan," goda Abercio sambil menatap belahan indah milik gadis itu.
"Kenapa nggak sekalian aja sih tadi melakukannya berkali-kali, biar aku nggak perlu mandi berkali-kali," sambung Ciara menggerutu.
Abercio terbelalak kaget mendengarkan ucapan Ciara. Namun, seketika wajah kaget itu berubah menjadi sebuah seringai yang penuh arti.
Ciara tersentak. Tiba-tiba ia tersadar akan apa yang baru saja ia celetuk tadi. Ia menggigit bibirnya sambil mengutuki dirinya yang berbicara tanpa berfikir. Kemudian kedua matanya yang bulat itu menatap Abercio dengan ragu-ragu.
"D-Daddy ... lupakan apa yang aku ucapkan tadi. Hehehe," kekeh Ciara memaksakan senyumnya.
__ADS_1
"Sayangnya, aku ini bukan pelupa," ucap Abercio.
"Baiklah. Sesuai permintaan Ratu-ku, aku akan melakukannya berkali-kali sebelum kamu mandi. Yah ... mungkin tujuh atau sepuluh kali? Gini-gini staminaku kuat loh," goda Abercio sembari mencolek manja hidung Ciara.
"Aaa ... Daddy!" rengek Ciara manja. "Daddy curang. Yang enak Daddy doang. Aku 'kan kesakitan."
"Yakin kesakitan?" tanya Abercio menyelidiki sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ciara.
Ciara tersentak. Ia memalingkan wajahnya yang saat itu mendadak memerah. Pasalnya, ia juga tak dapat memungkiri bahwa ia begitu menikmati olahraga bercocok tanam dengan Abercio itu. Apalagi saat ia mencapai kli.maks berkali-kali akibat hentakan dari pria itu. Ia serasa terbang mengawang dan rasanya begitu sulit ia ungkapkan.
Abercio tersenyum. Lalu ia menjauhkan wajahnya dari wajah Ciara. "Habiskan makananmu. Kalau kurang, nanti kita pesan lagi makanan yang kamu inginkan."
Ciara mengangguk pelan. Ia meraih sendok dan kembali menyuapi mulutnya dengan makanan.
"Daddy ... apa yang harus aku lakukan pada Markus dan Kak Darren?" tanya Ciara yang mulutnya penuh dengan makanan.
"Aku 'kan harus melihat dulu bukti-bukti dari tuduhan Daddy?"
"Terus, kalau benar semua seperti apa yang Daddy katakan, aku harus bagaimana?" tanya Ciara dengan wajah yang kembali suram.
Jauh di lubuk hati Ciara, ia sangat berharap bahwa Darren tak seperti yang Abercio katakan. Tapi, sampai saat ini Darren tak menghubunginya sekalipun. Bahkan mengirim pesan saja tidak. Padahal, Bart sudah mengembalikan ponselnya sejak beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG......