Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Menangislah. Ada Aku Di Sini


__ADS_3

..."Menangislah. Tak ada yang melihatmu di sini selain aku." – Bart Lincoln Fernandez...



"Bart, temani aku tidur malam ini, ya?" pinta Ciara ketakutan.


Bart menghentikan gerakan tangannya yang saat itu sedang mengobati luka di lutut Ciara. Beberapa detik ia sempat terdiam saat mendengrkan ucapan Ciara. Tapi setelahnya ia kembali melanjutkan mengobati kaki Ciara dengan wajah datar dan dingin.


"Saya harus bertemu Pak Abercio. Ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada beliau," tutur Bart tanpa ekspresi apa-apa.


Lagi-lagi Ciara menangkupkan kedua tangannya ke dada dengan mata yang berkaca-kaca dan alis yang melengkung ke bawah karena mengiba.


"Bart, aku nggak berani sendiri. Kalau aku di culik? Kalau aku di apa-apain? Kamu nggak kasian sama aku, Bart? Kita 'kan teman, Bart," ucap Ciara memohon.


Bart menelan salivanya. Batinnya berteriak saat Ciara mengatakan bahwa mereka adalah teman. "Teman, ya?"


"Pulanglah dan minta tolong ke Pak Abercio. Tak ada yang tak bisa beliau lakukan," ucap Bart dingin.


Sebenarnya Bart tak rela jika Ciara kembali ke rumah itu. Terlebih lagi kembali ke sisi Abercio. Ia benar-benar tak rela karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ciara.


"Nggak, Bart! Kamu nggak tau dia itu pria gila!" Ciara mengatakannya dengan lantang dan penuh penekanan.


"Ya, dia memang gila. Saking gilanya, dia menghalalkan segala macam cara untuk membuatmu bertekuk lutut," sahut Bart dalam hati.


"Kamu tau? Dia menyuruhku untuk tidur dan bercinta dengannya! Memangnya masuk akal ayah tiri meminta hal gila seperti itu?! Padahal, dia sudah bergonta-ganti wanita untuk bercinta. Tapi kenapa sekarang dia mengincarku?" sambung Ciara meluapkan emosinya.


"Karena kamu menarik Ciara. Kamu berbeda dengan wanita-wanita lain yang pernah dia temui. Kamu itu istimewa," batin Bart.


Bart hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. Ia hanya fokus mengobati luka Ciara.


"Bart ... apa kamu tau Mommy-ku ada di mana?" tiba-tiba Ciara bertanya sambil menatap gerakan tangannya dengan tatapan yang kosong. Suara gadis itu terdengar lemah.


"Nggak," sahut Bart datar.

__ADS_1


"Tadi ... ada yang menerorku," ucap Ciara bergetar. "Dia ... dia ingin menyakiti Mommy lagi."


"Dia bilang, kalau dia nggak menemukan Mommy, dia akan menculikku biar Mommy datang menyerahkan diri."


Mata Ciara berkaca-kaca. Tubuhnya kembali bergetar dengan hebat. Begitu juga wajahnya yang kembali pucat pasi. Dadanya terasa begitu sesak sampai-sampai rasanya susah sekali untuk bernafas dengan lega.


"Apa yang harus ku lakukan, Bart? A-aku ... hiks... hiks... aku takut."


"Hiks... hiks..."


"Aku takut kalau aku dan Mommy disiksa lagi. Itu sangatlah menyakitkan."


"Apa sesulit itu untukku dan Mommy bahagia?"


"Memangnya kami salah apa sampai-sampai diperlakukan seperti binatang?"


Bart benar-benar tak tega mendengarkan semua keluh kesah Ciara. Ingin rasanya ia bergegas memeluk tubuh ringkih gadis itu yang sedang ketakutan. Ingin rasanya ia menenangkan gadis itu. Tapi ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa dan tak ingin mengkhianati Abercio yang telah berjasa dalam hidupnya.


Bart tak mengangkat wajahnya untuk melihat Ciara. Ia membereskan alat-alat P3K yang tadi ia pinjam ke hotel.


"Karena aku hanya ingin tahu apa alasannya menikah kontrak dengan Mommy. Aku hanya tak ingin Mommy tersakiti untuk kedua kalinya," jelas Ciara dengan suara yang pelan.


"Dan alasanku terlihat seperti anak kecil di depan orang-orang adalah ... aku hanya ingin mendapatkan perhatian lebih."


"Aku ... aku hanya ingin dicintai dengan kehangatan."


"Yah ... meskipun tingkah manja itu hanya sebagai topeng untuk menutupi semua kesedihan dan rasa sakit yang ku alami selama ini."


"Aku tau ... dengan mengatakan semua ini mungkin kamu nggak akan percaya, Bart. Tapi—”


Bart tak tahan lagi mendengarkan Ciara yang memaksa menjelaskan semua kepedihan yang ia alami. Pria itu bergegas memeluk Ciara meskipun ia tahu bahwa hal itu merupakan sebuah pantanga baginya. Karena dengan ia memberikan kehangatan seperti itu, rasa sukanya pada gadis itu semakin tak terbendung dan meluap-luap.


Bart memeluk Ciara dalam kebisuannya. Ia membawa kepala gadis itu kepelukannya dan membelai lembut rambut Ciara agar gadis itu tenang.

__ADS_1


Sebaliknya, bukan malah tenang. Tapi tangis Ciara semakin tak tertahankan. Selama ini ia tak pernah sekalipun bercerita dan berkeluh kesah seperti ini pada siapapun. Ini pertama kalinya ia meluapkan semuanya dalam bentuk kata dan airmata.


"Bart ... hiks... hiks... sakit," isak Ciara pilu. Ia menangis sesenggukan di pelukan Bart saat itu.


"Menangislah. Tak ada yang melihatmu di sini selain aku," gumam Bart dalam hati.


Tanpa Ciara sadari, sedari tadi percakapan antara ia dan Bart sedang Bart rekam untuk diberikan kepada Abercio. Semua itu Bart lakukan agar Abercio tak merasa dikhianati meski Bart benar-benar telah berkhianat.


"Bart ... kamu tau ..."


"Bodohnya aku ..."


"Perlahan aku mencintai pria gila itu."


Deg!


Ucapan Ciara barusan sukses membuat Bart kembali tersadar. Ia yang sebelumnya sempat terbawa suasana karena ingin menenangkan gadis itu, kini ia disadarkan bahwa gadis itu takkan menjadi miliknya. Terlebih lagi gadis itu perlahan menyukai Abercio, majikannya.


"Aku salah melabuhkan hatiku pada pria gila itu."


"Aku tau ini perasaan terlarang antara seorang ayah dan anak. Tapi aku juga nggak bisa mengontrol hatiku, Bart. Hiks... hiks..."


Bart menjauhkan tubuhnya dari Ciara. Kemudian ia menatap wajah gadis itu dengan penuh sesal dan kecewa.


"Istirahatlah. Aku harus pulang sekarang." Ucap Bart dingin tanpa sedikitpun belas kasih.


"Kamu benar-benar tak bisa menemaniku malam ini?" tanya Ciara sembari menatap kedua bola mata Bart.


Bart menggelengkan kepalanya sembari menatap kedua bola mata hazel Ciara. Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya karena tak sanggup menatap indahnya mata gadis itu.


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2