Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Sebatas Foto


__ADS_3

..."Pak Abercio ... maaf jika aku sedikit egois. Tak masalah 'kan jika aku menyimpan fotonya saja? Karna hanya itu yang bisa ku miliki tanpa menyakiti siapapun." – Bart Lincoln Fernandez...



“Bart. Yang itu bagus nggak?”


Ciara menunjuk ke sebuah gaun yang di pajang di balik kaca transparan yang ada di dalam mall tersebut. Gaun kembang berwarna putih yang indah seperti ‘Princess Disney’ pada umumnya.


“Itu gaun buat nikah,” tutur Bart dingin tanpa ekspresi.


Ciara mengerutkan bibirnya dengan tatapan penasaran melihat gaun putih tersebut lebih dekat lagi. Kemudian ia menghela nafasnya dengan keras. Bart dapat mendengarkan helaan keras tersebut. Tapi pria itu berlagak tuli dan tak peduli.


"Fokus ke tujuan utama. Biar kamu nggak telat." Bart mengatakannya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ciara.


Ciara hanya cemberut mendengarkan ucapan pria itu. Tapi dia juga tak bisa berbuat banyak. Memang sifat asli pria di sampingnya itu cuek dan dingin.


"Aku penasaran, pacarmu stress nggak sih ngadepin kamu?" celetuk Ciara sembari matanya berkeliling mencari-cari toko baju yang menarik perhatiannya.


Bart terhenyak mendengarkan ucapan Ciara. Kenapa gadis itu tiba-tiba menanyakan hal random yang tak masuk akal?


"Ya ... aku penasaran aja. Soalnya kamu itu cuek, dingin. Apa jangan-jangan kamu juga belum pernah pacaran?" Ciara mengalihkan pandangannya ke arah Bart sembari menunjuk pria itu menggunakan telunjuknya.


Bart menjadi salah tingkah. Ia ingin mengatakan ya pada tuduhan Ciara tadi. Karena itu memang benar. Tapi, apa untungnya dia menjawab pertanyaan itu?


"Kayaknya itu bagus." Bart mengalihkan topik pembicaraan sambil menunjuk ke arah dress dark maroon yang begitu manis di balik kaca pajangan.


Ciara langsung mengalihkan pandangannya ke arah dress yang ditunjuk oleh Ciara. Mata gadis itu langsung membulat dengan sempurna sembari mulutnya sedikit melongo karena terpesona akan cantiknya dress pilihan Bart itu.


"Okay! Aku akan membeli itu." Ciara menetapkan pilihannya pada dress pilihan Bart.


Dress yang indah untuk sosok bidadari pilihan hati, pikir Bart saat itu.


"Tapi ... aku ke salon dulu deh, abis itu baru ke sini lagi buat beli dressnya," ucap Ciara yang bingung. Apakah ia harus memakai baju dulu atau pergi ke salon dulu. Namun akhirnya ia memutuskan pergi ke salon untuk menata rambut dan merias wajahnya.


...❣️❣️❣️...


"Bart ... aku haus," rengek Ciara manja sambil menunjukkan mata memelas andalannya.

__ADS_1


Bart menghela nafasnya. Ia tak mungkin mengajak Ciara yang saat itu rambut dan wajahnya sedang di tata dan di rias. Bart yang semula duduk di kursi tunggu tepat di belakang Ciara, ia pun bangkit dari duduknya.


"Mau minum apa?" tanya Bart datar.


"Aku mau Chatime. Yang brown sugar milk tea. Pake boba," pinta Ciara sambil tersenyum girang menampakkan giginya yang putih dan rapi itu.


Bart hanya mengangguk pelan dan keluar dari salon tersebut tanpa berkata apa-apa.


"Pacarnya ganteng ya, Mbak," celetuk salah seorang perias yang saat itu sedang merias wajah Ciara.


"Hehehe. Bukan pacar saya." Ciara mengatakannya sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, wajah dan rambut Ciara sudah selesai di tata dan di rias. Ia melihat pantulan dirinya ke depan cermin.



"Padahal makeup yang di pilih soft nude, tapi wajah Mbak kelihatan cantik banget," puji salah satu yang sejak tadi merias Ciara.


Ciara yang sudah biasa melihat wajahnya di cermin, ia tak begitu terkejut kalau dirinya memang cantik. Hahaha! Dia sadar akan kecantikan yang ia warisi dari Markus bajingan itu.


"Makasi, Mbak. Saya mau langsung bayar," ucap Ciara sesaat setelah melihat jam di tangannya.


"Bentar doang kok, Bart. Tunggu ya, aku nggak lama," gumam Ciara sambil berlari-lari ke arah toko baju yang ia tuju.


...❣️❣️❣️...


"Yah ... Mbak-nya baru aja pergi, Mas," ucap wanita yang tadinya merias Ciara.


Bart langsung terkejut. Pasalnya gadis itu tak memegang ponsel sama sekali. Karena ia masih memegang ponsel Ciara untuk menyelidiki nomor asing yang menghubungi Ciara.


Tanpa berfikir lagi, Bart langsung berlari mencari-cari Ciara. Ia sama sekali tak berfikir bahwa Ciara akan kembali ke toko baju tadi. Jadi, ia berlari-lari mencari Ciara seperti orang kehilangan anak di tengah-tengah pusat belanja kelas atas tersebut.


"Duh ... kalau sampai dia terluka gimana?" pikir Bart khawatir.


Bart berhenti di sebuah titik di mana di depannya ada sebuah toko baju yang sedang memajang dress maroon. Seketika ia teringat, bahwa setelah ke salon, gadis itu akan kembali lagi ke toko dress pilihannya.


"Haaa..." Bart menghela nafasnya dengan kasar untuk meluapkan semua kekesalan dan kekhawatirannya.

__ADS_1


Kemudian ia berlari ke arah toko yang menjadi tujuan kedua Ciara. Saat ia tiba di depan toko tersebut, ia melihat dengan jelas punggung seorang gadis yang begitu familiar. Rambut panjang yang lurus itu pun ia tau milik siapa.


"Syukurlah," gumam Bart sembari terengah-engah karena kelelahan berlari ke sana ke sini untuk mencari gadis itu.


"Bart!" seru Ciara sambil melambaikan tangannya. Gadis itu tersenyum sambil berjalan setengah berlari ke arah Bart dengan rambut tergerainya yang melenggok ke kiri dan ke kanan.


Bart tertegun melihat indahnya gadis yang kini sedang berlari sembari tersenyum ke arahnya. Ia berharap agar waktu berhenti sejenak agar ia dapat memeluk gadis itu sekali saja dalam hidupnya. Dengan begitu, ia ikhlas melupakan cinta pertamanya itu.


"Jelek ya?" tanya Ciara sambil cemberut.


"Cantik," gumam Bart pelan dengan pipi yang merona karena tertegun dengan tampilan Ciara saat ini.


Gadis yang berbalut dress dark maroon dengan sentuhan makeup soft nude, serta tatanan rambut yang sederhana. Sungguh kecantikan yang murni dan begitu menggoda.


"Cantik?" tanya Ciara sembari tersenyum dengan mata yang bersemangat menunggu pujian yang kedua kalinya dari Bart.


Bart memalingkan wajahnya. Ia tak ingin kembali terlarut dalam perasaan terlarang tersebut. "Ayok. Nanti kamu telat."


"Ish! Cuek banget sih jadi orang," celetuk Ciara kesal.


Ciara menahan tangan Bart yang saat itu berjalan membelakanginya. Kemudian Bart menoleh ke belakang dengan wajah yang semakin memerah.


"Pinjem hp, boleh? Aku mau selfie. Soalnya hp ku 'kan di pegang, Daddy," ucap Ciara dengan garis bibir yang ia buat horizontal dan sejajar dengan telinga.


"Hp mu a— ..." Bart tak melanjutkan ucapannya. Ia mengurungkan niat mengatakan pada Ciara bahwa ia memegang ponsel gadis itu. Tapi ia malah merogoh sakunya dan memberikan ponsel miliknya pada Ciara.


"Pak Abercio ... maaf jika aku sedikit egois. Tak masalah 'kan jika aku menyimpan fotonya saja? Karna hanya itu yang bisa ku miliki tanpa menyakiti siapapun," gumam Bart dalam hati.


"Bart, foto yuk! Buat kenang-kenangan!" Ciara tiba-tiba menarik Bart mendekat ke arahnya. Kemudian ia menangkap foto tersebut secara spontan tanpa mendapatkan persetujuan dari Bart terlebih dahulu.


Cekrek!


Ciara tersenyum dengan sangat manis, sementara Bart menatap kamera dengan wajah yang terkejut dan belum siap untuk di foto.


"Terima kasih untuk hari ini," bisik Bart dalam hati. "Cause a picture is all that I have."


Wajah yang datar tanpa ekspresi itu memang tak menjelaskan apa-apa. Tapi, Bart sadar bahwa saat ini hatinya sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG......


__ADS_2