Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Kepulangan Benicio Sanchez


__ADS_3

...“Kau tumbuh dengan sangat baik, Ben.” – Abercio Sanchez...



“Breaking news!”


“Abercio Sanchez. Pebisnis sukses yang selalu menjadi buah bibir para wanita di Indonesia, ia memberikan sebuah kabar yang mengejutkan!”


“Pria tersebut mengumumkan pernikahannya dengan seorang wanita yang berusia dua belas tahun di bawahnya!”


“Hal yang mengejutkan lagi adalah, wanita tersebut adalah anak dari wanita yang sebelumnya menjadi istrinya!”


Seluruh Indonesia sedang hangat oleh berita tentang pengumuman pernikahan Abercio dan Ciara. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah, kedua orang tersebut menjadi buah bibir dan mendapatkan banyak gosip miring.


Abercio yang tiba-tiba muncul dari belakang sofa, ia meraih remot televisi dari atas meja kaca dan menekan tombol merah yang ada di remot televisi itu.


Televisi yang berukuran 75 inci itupun mati. Abercio duduk di sebelah Ciara yang saat itu sedang duduk menatap televisi dengan wajah yang sendu. Tersirat kegundahan dari raut wajahnya.


“Ngapain sih nonton gosip kayak gitu?” Abercio merangkul tubuh Ciara ke pelukannya. Kemudian ia mengecup lembut dahi gadis itu.


“Daddy,” Ciara mengangkat wajahnya ke atas, menatap ke arah Abercio.


“Aku takut,” sambungnya gelisah.


Abercio menghela nafasnya pelan. Kemudian kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang sangat menawan. “Apa yang kamu khawatirkan, Baby?”


“Satu Indonesia me—”


“Baru satu Indonesia?” potong Abercio gemas, “aku berharap satu dunia membicarakanmu.”

__ADS_1


“Membicarakan tentang gadis yang berhasil merebut hatiku.”


Ciara merenggut manja. Pasalnya, ia sedang berkeluh kesah dengan Abercio. Tapi pria itu malah bercanda.


“Ini bukan saatnya becanda, Daddy!”


Abercio menyandarkan tubuhnya ke sofa sembari tetap memeluk tubuh Ciara. Ia menatap kedua bola mata indah Ciara. Mata amber yang selalu membuatnya jatuh cinta berulang kali.


“Berhenti memanggilku Daddy,” pinta Abercio pelan, “aku ‘kan calon suamimu, lagipula Mommy-mu dan aku sudah bercerai.”


Ciara mengerucutkan bibirnya dan membawa bibir tersebut ke kiri. Ia merajuk manja sembari memalingkan wajahnya ke kiri. Saat ini, Ciara sedang menampakkan sisi lain dari dirinya pada Abercio.


“Call me Honey,” bisik Abercio ke telinga Ciara.


“Kak? Kakak? I’m home!” seru suara berat seorang pria yang terdengar sedang menuju ke arah ruang tamu di mana Ciara dan Abercio sedang berpelukan manja.


Abercio mengerutkan keningnya. Suara yang begitu akrab di telinganya. Ia pun menoleh ke samping kanan, di mana arah pintu masuk rumah berada.


“Ben?!” Abercio terbelalak kaget saat melihat kehadiran Benicio.


Ciara yang tak tahu siapa pria itu, tapi saat mendengarkan Abercio mengatakan ‘Ben’, sudah jelas pria itu adalah ‘Benicio’, adik laki-laki yang selalu Abercio sebut-sebut saat menceritakan kisah kelamnya di masa lalu. Ciara membawa tubuhnya sedikit menjarak dari Abercio. Ia memberikan ruang pada pria itu untuk bisa segera menyambut kedatangan Benicio.


Benicio Sanchez. Seorang pria berhidung mancung dan bermata hazel persis seperti Abercio, ia tersenyum menatap Abercio, kakak kandungnya. Namun ada yang aneh dari senyuman tersebut. Senyuman yang tak tulus dan terkesan penuh paksaan.


“Hmm. Ini aku, Kak,” sahut Benicio sembari melepaskan kupluk hodie dari kepalanya.



Abercio bergegas bangkit dari duduknya dan mempercepat langkahnya mendekat ke arah Benicio. Setelah mereka berhadapan, Abercio tak langsung memeluk Benicio, tapi matanya berkaca-kaca menatap Benicio dari ujung kepala hingga ujung kaki.

__ADS_1


“Kau tumbuh dengan sangat baik, Ben,” gumam Abercio haru.


Ben tersenyum. Lagi-lagi senyuman tersebut begitu kaku. Tanpa berkata apa-apa, Ben bergegas memeluk Abercio yang menatapnya dari atas hingga ke bawah tersebut. Ia memeluk Abercio yang kini tingginya sama dengan dirinya.


“Sudah tujuh tahun ya, Kak,” ucap Ben.


Di saat Abercio dan Benicio sedang berpelukan, Ciara mematung tanpa tahu harus berbuat apa-apa. Ia hanya menatap kedua orang adik beradik yang sedang melepaskan rindu tersebut. Namun, sesaat matanya beradu pandang dengan sorot mata Benicio.


Benicio menatap Ciara dengan tatapan yang dingin dan terkesan tak bersahabat. Namun, Ciara berusaha menempik pikiran buruknya. Ia mencoba tersenyum ke arah Benicio yang saat itu masih memeluk Abercio.


“Dia … nggak seperti yang ada di pikiranku, ‘kan?” pikir Ciara saat itu.


Di saat yang sama, saat di mana Abercio dan Benicio sedang bertemu, di saat itu juga Lucy pergi mengunjungi Darren ke rumah sakit jiwa yang berada di kota Jakarta. Ia memasuki sebuah ruangan khusus. Ruangan di mana Darren sedang di rawat.


Lucy menatap Darren dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya begitu hancur dan pilu menatap anak laki-laki yang satu-satunya darah dagingnya sedang meringkuk ketakutan di sudut ruangan tersebut.


Lucy berjalan mendekat ke arah Darren secara perlahan-lahan.


“Darren, ini Mommy.”


Darren memegang dan menutupi kepalanya menggunakan kedua tangan. Ia menyudutkan dirinya ke sudut ruangan tersebut sembari meringkuk di atas lantai yang dingin itu.


Darren ketakutan! Ia sangat ketakutan saat Lucy berjalan mendekat ke arahnya. Bayangan John yang datang mendekat ke arahnya membuat ia semakin depresi.


“Jangan! Jangan pukul aku lagi!” teriak Darren dengan wajah yang tertunduk dan tertutup oleh kedua tangannya.


Lucy menangis terisak-isak melihat kondisi Darren yang begitu menyedihkan itu.


“Kenapa kamu jadi seperti ini, Nak,” isak Lucy pilu.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2