
...“Itu dia … My Sweet Little Fox. Come to Daddy, Baby. Kali ini, Raja Rubah sedang berbaik hati membantu Rubah Kecil sepertimu.” – Abercio Sanchez...
Drtt… Drttt…
Ponsel Abercio bergetar. Saat itu, Abercio sedang bersandar di luar mobilnya yang sedang terparkir di pinggir jalan tepat di depan Hotel Nerium Oleander. Ia menatap lobby hotel dari kejauhan sembari menghisap rokoknya.
“Hmm.” Abercio menjawab panggilan dari Bart.
^^^“Pak, saat ini Ciara di Hotel Nerium Oleander room 2301 lantai 35.”^^^
^^^“Tadi Leo hampir membawa Ciara pergi.”^^^
^^^“Lalu saya menahan pria itu dan membawa Ciara kembali ke hotel.”^^^
^^^“Maaf … tadi saya menggendong Ciara karena kakinya terluka.”^^^
^^^“Saya akan mengirimkan rekaman pembicaraan saya dan Ciara sejak awal masuk ke kamar sampai saya pergi.”^^^
Abercio menyeringai tipis. Ternyata Bart tak mengkhianatinya. Pria itu benar-benar setia padanya dan mengatakan semua yang sudah ia lihat. Yah, meski yang benar-benar ia lihat hanya di pinggir jalan tadi saja.
^^^“Apa yang harus saya lakukan sekarang, Pak?”^^^
“Teror Rubah Kecil itu sampai ke kamar hotel.”
“Sekarang juga.”
^^^“Tapi, Pak. Dia bersandiwara bukan karena ingin menyakiti anda.”^^^
“Kau pikir aku menerornya karena sandiwara itu?”
“Aku hanya ingin dia kembali padaku dengan kakinya sendiri.”
Bart sempat terdiam beberapa detik. Kemudian ia menyahuti ucapan Abercio tanpa membantah.
^^^“Baik, Pak.”^^^
Setelah menelefon Abercio, Bart memutuskan panggilan tersebut dan perlahan keluar dari lobby hotel sembari menghubungi seseorang. Abercio dapat melihat Bart yang saat itu sedang keluar dari lobby hotel sembari menelefon seseorang.
Abercio menatap jam mewah yang sedang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit.
“Lima menit,” gumam Abercio sambir tersenyum miring dengan mata elangnya yang mengerikan menatap lurus ke arah lobby Hotel Nerium Oleander. “Lima menit lagi Rubah itu pasti akan keluar.”
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
Malam kian larut. Ciara memaksakan memejamkan matanya meski ia kesulitan untuk tidur. Kini ia benar-benar sedang sendiri di hotel megah itu karena Bart telah pergi meninggalkannya tanpa sedikitpun belas kasih.
Drtt… Drttt…
Ponsel Ciara bergetar. Lagi-lagi nomor tak dikenal itu menghubungi Ciara. Seperti sebelumnya, Ciara tak mengangkat panggilan tersebut sampai beberapa kali. Hingga akhirnya ada pesan masuk. Ia memaksakan duduk dari tidurnya untuk membaca pesan tersebut.
Ting! Ting! Ting!
^^^“Aku di lobby.”^^^
^^^“Mau aku sendiri yang ke kamar 2301 di lantai 35?”^^^
^^^“Atau kau sendiri yang turun menyerahkan diri?”^^^
Sekujur tubuh Ciara kembali bergetar dengan sangat hebat karena ketakutan. Jantungnya berdetak dengan kencang karena ketakutan. Tangannya gemetaran sampai-sampai ponsel yang ia pegang jatuh ke atas selimut tebal putih tersebut.
Drttt… Drttt…
Lagi-lagi peneror tersebut menghubungi Ciara. Ciara langsung bangkit dari duduknya dan bergegas menapaki lantai seperti orang kesetanan. Ia meraih tas selempangnya dan mengambil heels tanpa memakainya terlebih dahulu.
“Lebih baik aku disiksa di luar biar ada yang melihat dan membantu. Daripada aku di kamar sendirian dan disiksa sampai mati,” gumam Ciara frustasi.
“Ku mohon, please cepat terbuka,” batin Ciara saat itu sambil menatap pintu lift.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Jantung Ciara saat itu benar-benar tak aman saat mendengarkan langkah kaki seorang pria dari belakangnya. Terlebih lagi pria tersebut berjalan semakin dekat ke arah Ciara. Sedangkan pintu lift tak kunjung terbuka.
“A-aku harus menelefon, Bart,” gumam Ciara dalam hati.
Ia bergegas mencari kontak Bart di ponselnya. Tapi sayangnya ia tak pernah sekalipun menyimpan kontak pria itu. Lalu, kepada siapa ia harus meminta bantuan kali ini?
Apa … ia benar-benar harus meminta bantuan pada Abercio? Tak ada lagi yang dapat membantunya saat ini selain pria berpengaruh tersebut? Lagi pula pria itu memiliki banyak pengawal. Pikir Ciara saat itu.
Dengan berat hati, Ciara menekan tombol memanggil Abercio di ponselnya. Tak membutuhkan waktu lama, panggilan tersambung dan Abercio mengangkat panggilan tersebut.
Ting!
Belum sempat Ciara berbicara dengan Abercio di telfon, pintu lift terbuka. Ciara bergegas masuk ke dalam lift dan berusaha berbicara dengan Abercio. Namun sayang, sinyal terputus saat di dalam lift sehingga panggilan tiba-tiba terputus.
Ting!
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Ciara akhirnya tiba di lantai dasar. Ia bergegas berlari keluar lobby dengan penampilan yang sangat berantakan. Para pengunjung hotel tersebut menatap heran ke arah Ciara yang bertelanjang kaki dan menenteng high heels tanpa mengenakannya.
Drttt… Drttt…
Lagi-lagi peneror tersebut memanggil Ciara. Ciara tak peduli. Yang jelas ia harus kabur dahulu dan keluar dari hotel tersebut. Tak ada tempat aman selain rumah Abercio pikirnya saat itu. Ia harus bergegas kembali ke rumah itu. Harus!
“Itu dia … My Sweet Little Fox,” gumam Abercio sembari menyeringai menatap Ciara yang sosoknya mulai terlihat di lobby hotel sebrang ia berdiri.
Abercio kembali menatap jam mewah miliknya. Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh tiga menit.
"Ck! Ternyata lebih lambat tiga menit," gerutu Abercio. "But it's okay. Mood ku kembali membaik setelah melihat Rubah Kecil itu."
Abercio membuang puntung rokoknya ke aspal. Lalu ia menginjak puntung rokok tersebut sembari membuka beberapa kancing kemejanya dan mengacak-acakkan rambutnya agar terlihat berantakan. Ia benar-benar bersandiwara bahwa ia sedang cemas dan khawatir mencari-cari Ciara setelah mendapatkan kabar dari Bart.
“Come to Daddy, Baby. Kali ini, Raja Rubah sedang berbaik hati membantu Rubah Kecil sepertimu.”
Di saat yang sama, ada seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam dengan topi hitam yang menutupi setengah wajahnya. Pria tersebut berjalan mendekat ke arah Ciara dan memegang bahu Ciara. High heels dan ponsel yang Ciara pegang mendadak lepas dari pegangannya saat itu juga.
Ciara benar-benar takut setengah mati dan membalikkan tubuhnya ke arah sosok pria yang memegang bahunya. Jantungnya seolah-olah berhenti berdetak dan darahnya seolah-olah membeku karena ketakutan. Ingin rasanya ia berteriak meminta tolong, namun kerongkongannya tercekat dan bibirnya seolah-olah bungkam saat itu juga.
“Siapapun … tolong bantu aku,” lirih Ciara dalam hati. Kedua tangannya ia satukan dan ia kepalkan dengan kuat menempel ke dada. Ia bergidik ngeri sembari perlahan melangkah mundur setapak demi setapak.
“D-Daddy Cio … ku mohon, datanglah. Aku benar-benar membutuhkanmu saat ini. A-aku … aku akan patuh asal kau menyelamatkanku kali ini. Aku takut … aku benar-benar takut disiksa lagi,” batin Ciara putus asa.
Bruk!
Langkah mundur Ciara terhenti karena punggungnya tertabrak sesuatu dari belakang. Ada aroma pekat maskulin yang tak asing di hidungnya dan ada dada bidang yang menjadi sandaran kepalanya. Dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan, Ciara memberanikan dirinya mengangkat wajah ke atas untuk melihat sosok pria yang lebih tinggi darinya itu.
“D-Daddy Cio, hikss… hiks…”
Seketika tangis Ciara membuncah tak terhentikan. Tangisannya begitu pilu dan menyayat hati. Ia tak lagi mampu menahan rasa takut yang perlahan membunuhnya hidup-hidup itu. Ciara bergegas memutar tubuhnya menghadap Abercio dan memeluk tubuh kekar itu.
“D-Daddy, Ciara takut. Hiks… hikss… tolong Ciara, Daddy.”
“Ciara … Ciara akan melakukan apapun yang Daddy mau,” ucap Ciara yang saat itu sedang sangat frustasi dan depresi.
Sesaat kemudian, Abercio memeluk tubuh Ciara dengan sangat erat dan membawa kepala gadis itu tenggelam ke dada bidangnya. Lalu, ia menyeringai puas karena Rubah Kecil itu akhirnya masuk ke dalam jebakannya. Seperti keinginannya, gadis itu dengan sendirinya datang dan memohon padanya.
“It’s okay, Sayang. It’s okay. Ada aku di sini. Kamu jangan takut lagi.” Ucap Abercio dengan suara yang benar-benar hangat bak pangeran berkuda putih yang datang menyelamatkan tuan putrinya.
“Tenanglah, kamu akan baik-baik saja. Aku bersyukur akhirnya menemukanmu. Aku benar-benar khawatir sampai-sampai tak bisa tidur karena memikirkanmu. Aku takut terjadi sesuatu padamu.”
...❣️❣️❣️...
__ADS_1
...BERSAMBUNG…...