Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Luka Yang Tak Sebanding


__ADS_3

...“Ciara … andai kamu tau yang sebenarnya. Luka di punggung pria itu tak sebanding dengan luka batin yang kamu terima karena kegilaannya.” – Bart Lincoln Fernandez...



Pagi itu, awan begitu mendung dan gelap. Langit menumpahkan seluruh cairannya ke bumi. Sosok ‘Pluviophile’ pastinya senang saat hujan turun. Tapi tidak bagi Ciara. Ia yang memiliki rasa takut terhadap bunyi guruh dan petir sangat membenci hujan.


Ciara terbangun dari lelap dan lelahnya. Gadis bermata amber dengan bulu mata yang lentik itu membuka matanya. Ia menaikkan kedua tangannya ke udara untuk meregangkan badan. Lalu, ia mengucek pelan matanya sembari mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Loh, kapan aku ganti baju?” gumam Ciara saat melihat baju tidur satin pria berwarna abu-abu yang sedang ia kenakan.


Mata Ciara berkeliling menatap seisi ruangan. Ruangan yang familiar dan aroma yang tak asing. Ciara tersentak. Ia menoleh ke samping, menatap aroma maskulin yang tak asing itu berasal. Terlihat sosok pria yang sedang terlelap dengan pakaian kantor yang belum diganti.


“Ck! Menggantikan pakaianku, tapi dia sendiri tak mengganti pakaiannya,” gumam Ciara lirih.


Ciara memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Abercio. Di tatapnya wajah tenang yang sedang terlelap itu. Entah setan apa yang merasukinya, tangannya tak tahan untuk tak menyentuh pipi Abercio. Ada perasaan hangat yang menyeruak di dada. Rasanya, rindu itu menggebu-gebu meski hanya beberapa hari ia tak melihat sosok itu.


Ciara menjauhkan tangannya dari pipi Abercio. Peristiwa menyakitkan kembali terlintas di ingatannya. Ia masih belum terima dengan kelakuan Abercio yang bercinta dengan pria lain di kantor waktu itu.


“Tapi … kalau semalam dia nggak ada … apa sekarang aku akan baik-baik saja?” pikir Ciara saat itu. Bahkan, ia dapat merasakan bahwa ia tidur dengan lelap dan nyenyak malam tadi tanpa rasa khawatir.

__ADS_1


Ciara menghela nafasnya berat. Ia bergegas duduk dari tidurnya dan menapaki lantai. Kemudian ia menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Setelah menyikat gigi, mencuci muka dan buang air kecil, gadis itu sedikit merapikan rambutnya yang berantakan hanya menggunakan jari. Lalu ia keluar dari kamar mandi tersebut.


Ciara berniat ingin mengambil ponselnya yang ada di atas meja kecil samping ranjang. Tapi, sorot matanya tiba-tiba terfokus pada punggung Abercio. Kemeja yang pria itu kenakan terdapat noda darah. Ciara kembali mengingat kejadian semalam.


“D-dia … dia terluka karena menyelamatkanku,” gumam Ciara tersentak.


Tanpa berfikir panjang, Ciara bergegas keluar dari kamar dan menuruni tangga untuk ke lantai satu.


“Megan!” panggil Ciara. “Megan!”


Ciara bergegas menuju ke kamar Megan untuk menanyakan di mana letak kotak P3K. Lalu ia membuka pintu kamar wanita tersebut. Tak ia temukan sosok wanita yang ia cari.


Tiba-tiba Bart datang menghampiri Ciara dengan wajah penuh tanda tanya. Ciara menoleh ke belakang ke arah suara itu berasal.


“Bart?” wajah Ciara yang semula suram, perlahan mulai cerah saat melihat Bart. “Kamu tau di mana kotak P3K?”


“Oh … sebentar,” Bart bergegas mengambil kotak P3K dan kembali ke posisi di mana Ciara berdiri. Kemudian ia menatap lutut dan kaki Ciara yang terluka.


“Apa lukanya masih—”

__ADS_1


“Bukan. Bukan aku, Bart. Tapi Daddy,” ucap Ciara dengan sorot mata yang penuh akan kekhawatiran. “Daddy terluka karena aku. A-aku harus mengobati lukanya.”


Bart terdiam. Ia menghela nafasnya dengan wajahnya yang datar dan dingin itu. Seperti biasa, Bart tak berkata apa-apa dan hanya diam. Ia memberikan kotak P3K tersebut kepada Ciara.


“Thank you, Bart.” Ciara tersenyum mengambil kotak tersebut dari tangan Bart. “Makasi untuk semalam. Aku yakin, Daddy mengetahui lokasiku dari mu, ‘kan?”


Lagi-lagi Bart hanya diam tak memberikan respon. Entah kenapa tiba-tiba sorot matanya teralihkan ke dada Ciara. Ada sesuatu yang tercetak dengan sangat jelas. Sesuatu yang tak seharusnya ia lihat. Bart mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah memerah merona dan telinga yang juga ikut memerah.


“Pergilah ke atas,” ucap Bart dingin karena sadar bahwa saat itu Ciara tak mengenakan bra. “Jangan keluar kamar sebelum ganti baju.”


Ciara menatap heran ke arah Bart. Ia tak mengerti dengan ucapan pria itu. Ia pun berbalik badan dan pergi meninggalkan Bart di lantai satu. "Bye, Bart."


Bart menatap kepergian Ciara yang berlari dengan penuh kekhawatiran itu. Terlebih lagi saat itu Ciara mengenakan baju tidur milik Abercio. Pikirnya, pasti Abercio yang menggantikan baju itu untuk Ciara.


“Ciara … andai kamu tau yang sebenarnya. Luka di punggung pria itu tak sebanding dengan tekanan batin yang kamu terima karena kegilaannya,” lirih Bart dalam hati dengan sorot mata sendunya.


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...

__ADS_1


__ADS_2