
..."Bart ... jangan sampai aku tahu kalau kau masih menaruh perasaan pada gadis ini. Jangan melewati batasmu, Bart. Sadarlah, kau tak akan bisa memiliki wanitaku." – Abercio Sanchez...
"Just a minute," bisik Abercio ke telinga Ciara.
Kemudian, Abercio mengecup lembut pipi gadis itu dengan penuh kehangatan. Lalu ia menggendong Ciara masuk ke dalam selimut dan menyelimuti gadis itu.
"Aku akan kembali," lirih Abercio sambil mengusap lembut pipi Ciara.
Tok! Tok! Tok!
"Pak ... maaf ini mendesak."
Terdengar suara Bart dari balik pintu tersebut. Ternyata, dia lah yang sedari tadi mengganggu kesenangan antara Abercio dan Ciara.
Abercio bergegas berjalan menuju pintu sembari membetulkan letak daging tak bertulangnya yang sudah sejak tadi membengkak di balik celana kantor abu-abu yang belum ia ganti sejak semalam.
Ceklek!
"Kenapa?" tanya Abercio dingin dengan sorot mata yang tajam seperti ingin memakan Bart yang mengganggunya saat itu juga.
Bart tak mengatakan apa-apa. Tapi pria bertubuh jangkung itu menunjukkan ponsel Ciara yang sedari tadi berdering tanpa henti.
"Daddy M," lirih Abercio pelan saat membaca nama yang tertera di ponsel milik Rubah Kecil-nya.
Abercio menghela nafasnya dengan kasar. Kemudian ia memijit kepalanya yang tak sakit. Karena yang saat ini sakit adalah kepala bawahnya.
"Haaa ... kalau begini terus, kapan aku bisa memakannya," gumam Abercio yang samar-samar terdengar oleh Bart.
"M-maksudnya, Pak?" tanya Bart sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Abercio menggelengkan kepalanya. Lalu ia menoleh ke dalam kamar melihat ke arah Ciara yang berbaring menyamping menghadap ke arah pintu. Gadis itu sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang khawatir.
"Kamu istirahat aja dulu. Ada pekerjaan mendesak yang harus ku selesaikan," pesan Abercio sambil tersenyum. Kemudian ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya.
Sembari berjalan menuju ke ruang kerjanya, Bart menatap ke arah punggung belakang Abercio. Kaos putih yang berantakan dan rambut yang acak-acakan. Siapapun pasti tahu pria itu usai melakukan hal apa saat berduaan di kamar dengan seorang gadis muda yang cantik bak bidadari itu.
Setibanya mereka di dalam ruang kerja, seperti biasanya, Abercio meraih sebungkus rokok yang ada di atas meja dan mengapitnya ke bibir. Lalu ia membakar ujungnya.
"Pak ... ada pesan masuk juga dari Darren," ucap Bart sambil membuka aplikasi pesan singkat di ponsel Ciara.
Abercio menuju ke arah balkon, kemudian ia berbalik badan membelakangi taman dan menyandarkan dirinya ke pembatas balkon tersebut.
"Apa katanya?" tanya Abercio sesaat setelah ia menghembuskan asap rokoknya.
^^^"Ciara? Kamu baik-baik aja, 'kan?"^^^
^^^"Tumben kamu slow respon?"^^^
^^^"Malam ini Kakak akan menghubungimu lagi."^^^
^^^"Kita sleep call kalo kamu nggak bisa tidur kayak kemaren ni."^^^
Sesaat setelah membacakan pesan dari Darren tersebut, Bart mengangkat wajahnya menatap ke arah Abercio. Tapi ... entah kenapa sorot matanya malah terfokus ke arah sesuatu yang timbul dan membengkak di balik celana Abercio.
"Bart ... sadarlah, gadis itu milik pria yang sangat berjasa padamu," gumam Bart dalam hati. Meskipun rahangnya mengeras menahan amarah dan rasa cemburu, Bart berusaha untuk menahan dan menasehati dirinya sendiri.
Meskipun belum lama ini Bart mulai menyukai Ciara, tapi entah kenapa perasaan itu semakin lama semakin membengkak dan tumpah-tumpah. Ia tak mampu membendung perasaan yang tak terkontrol tersebut. Padahal, ia sadar bahwa semua kegilaan dan semua usaha yang Abercio kerahkan seutuhnya demi keselamatan dan kebahagiaan gadis yang majikannya itu cintai.
"Bart?" panggil Abercio sambil meniupkan asap rokoknya lurus ke arah Bart.
Meskipun asap rokok tersebut tak mengenai Bart, Bart langsung tersentak dari lamunannya. Ia mengutuki dirinya yang tak bisa fokus saat bekerja. Apa ... sebaiknya ia ambil cuti saja sementara waktu? Sembari ia menjaga jarak dengan Ciara untuk menata hati, sambil itu juga ia mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lama ia paksa bekerja tanpa kenal lelah.
__ADS_1
"Sekarang seleramu berubah, Bart? Kau menyukai sesama jenis?" ucapan Abercio spontan membuat Bart terbelalak kaget.
"Ngapain matamu melotot ke arah burungku? Kau juga 'kan punya burung?"
"Ck! Bart ... aku menyuruhmu untuk tak menaruh hati hanya pada Ciara. Bukan ke semua wanita sampai-sampai kau memutuskan untuk menyukai pria," ucap Abercio sembari memijat kepalanya yang tak sakit dengan rokok yang masih terapit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Ng-nggak, Pak. Saya masih menyukai lawan jenis kok," sanggah Bart meyakinkan Abercio.
Abercio berjalan mendekat ke arah Bart. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Bart. Ia menatap Bart seolah-olah ingin memakan Bart saat itu juga. Apa jangan-jangan Abercio yang menyukainya saat ini? Pikir Bart.
"Bart ... jangan sampai aku tahu kalau kau masih menaruh perasaan pada gadis ini," bisik Abercio dengan suara yang amat sangat dingin dan menyeramkan.
"Kau pikir, aku tak tahu kenapa kau begitu brisik mengetuk pintu berulang kali hanya untuk sebuah panggilan dari Markus dan pesan Darren?" kecam Abercio dengan sorot matanya yang tajam.
Abercio mendekatkan wajahnya ke wajah Bart dan mensejajarkan wajahnya ke telinga Bart.
"Kenapa? Tak rela gadis yang kau sukai menjadi pemuas nafsuku? Hmm?" Abercio menyeringai tajam. Matanya menatap lurus ke depan ke arah pintu yang saat itu sedang tertutup.
Abercio kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Bart. Lalu ia membelakangi Bart dan berjalan kembali ke arah balkon sembari menghisap rokoknya.
"Kita bersama untuk waktu yang lama. Jadi, aku tau betul seperti apa kebiasaanmu itu. Jangan melewati batasmu, Bart."
"Sadarlah, kau tak akan bisa memiliki wanitaku," tukas Abercio dengan suara yang tenang namun penuh ancaman.
Gluk!
Bart mendadak menelan salivanya. Ucapan menohok Abercio sukses membuat nyalinya menciut. Terlebih lagi sifat arrogant dan dingin Abercio itu cukup membuat ia bergidik ngeri meskipun ia merupakan salah satu body guard terbaik Abercio karena ilmu bela dirinya yang tak terkalahkan.
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG......
__ADS_1