
...“Be my lady? Hmm? Aku tak akan bercinta dengan wanita lain selain dirimu. I will treat you like a queen in my life, I promise.” – Abercio Sanchez...
Saat Abercio sedang tertidur dengan posisi miring, Ciara menggunting kemeja Abercio dari belakang. Yah, tak ada cara lain lagi untuk membuka baju pria itu. Lagi pula tubuh Abercio terlalu kekar dan besar, jadi Ciara yang mungil dan kecil itu tak akan sanggup mengangkat tubuh pria itu untuk membuka bajunya.
“Ugh…”
Tak lama kemudian tanpa sadar Abercio meringis kesakitan saat merasakan perih karena lukanya yang terkena antiseptik. Wajah Ciara ikut mengkerut seolah-olah ia dapat merasakan rasa sakit yang Abercio rasakan saat itu.
Ciara mendekatkan wajahnya ke punggung Abercio. Kemudian ia meniup lembut luka pria itu. Tindakan Ciara tersebut membuat Abercio membuka matanya dengan paksa dan ia terbangun dari tidurnya.
“D-Daddy … Ci-Ciara … Ci-Ciara hanya ingin mengobati luka itu,” ucap Ciara bergidik ngeri saat melihat Abercio yang langsung duduk dari tidurnya.
“Maaf mengganggu Daddy tidur,” sesalnya.
Abercio tak berkata apa-apa. Ia langsung memeluk tubuh Ciara dengan sangat erat. “Aku bahagia dapat melihatmu lagi saat pertama kali membuka mata di pagi hari."
Ciara terdiam. Kata-kata pria itu kenapa begitu menggetarkan jiwanya? Padahal ucapan tersebut terkesan biasa saja. Tapi, kenapa jantungnya berdetak dengan sangat kencang?
Ciara mengangkat wajahnya ke atas untuk melihat Abercio. Mata ambernya terlihat begitu sendu dan mengiba. Sorot mata itulah yang selalu menggoda Abercio dan mengalahkan akal sehat pria itu.
“Daddy … maafin Ciara.” Ucap Ciara pelan.
Abercio membelai pipi kanan Ciara sambil satu tangannya lagi masih memeluk tubuh gadis itu. Kemudian ia berkata dengan lirih. “No. Aku yang seharusnya minta maaf.”
“Maaf. Kelakuanku di kantor saat itu benar-benar kasar dan—”
“No. It’s okay, Daddy. Ciara yakin, Daddy pasti punya alasan kenapa melakukan itu,” Ciara memaksakan senyumannya. Meskipun ia belum seutuhnya memaafkan Abercio yang bercinta dengan Elina.
“Seperti yang kamu tau … aku melakukan pernikahan kontrak dengan Lucy. Bukan pernikahan sesungguhnya. Jadi, tak ada salahnya ‘kan …”
Abercio mendekatkan bibirnya ke telinga Ciara dan berbisik dengan lirih, “… tak ada salahnya ‘kan jika aku mencintai anak tiriku sendiri?”
Deg! Deg! Deg!
__ADS_1
Jantung Ciara benar-benar tak aman saat itu. Rasanya ingin meledak saat itu juga ketika mendengarkan ungkapan cinta dari pria yang diam-diam ia sukai itu. Tapi, meskipun pernikahan Abercio dan Mommy-nya itu kontrak, apa tak apa-apa jika mereka menjalin hubungan?
“Bukankah ini … hubungan yang terlarang?” tanya Ciara yang mulai terhipnotis dan terhanyut akan rayuan dan kata-kata manis Abercio.
Abercio menatap mata amber Ciara dengan seksama. “Dengarkan aku, Baby.”
“Kamu bukan anakku dan aku tak pernah menganggapmu sebagai anak tiriku. Jadi, ini bukanlah hubungan terlarang. Aku juga tak terlibat perasaan apa-apa dengan Lucy. Bahkan setelah menikah sebatas kertas dengannya, kamu tidur sekamar dengannya lalu keesokan harinya dia pergi ke US.” Jelas Abercio.
“Tapi … selama ini—”
“Maaf, aku hanya berpura-pura mengatakan kamu anakku. Karena hanya itu alasan yang bisa kugunakan untuk mendekatimu,” Abercio memotong ucapan Ciara.
Abercio mengusap lembut bibir sensual Ciara menggunakan ibu jarinya.
“Sorry, Baby. But I really love you,” bisik Abercio sambil mengecup lembut bibir Ciara.
Meskipun sempat terbuai dan terhanyut dengan tutur kata manis Abercio, Ciara lagi-lagi teringat bahwa pria di depannya ini adalah pria hidung belang. Sekilas terlintas beberapa peristiwa di mana Abercio bercinta dengan wanita yang berbeda.
“T-tapi, Ciara nggak bisa terima cinta Daddy,” Ciara mendorong tubuh Abercio dengan perlahan. Ia membuat jarak dengan pria itu sembari wajahnya perlahan tertunduk.
Abercio membuat tubuh Ciara terlentang ke atas ranjang dengan posisi sekarang dia di atas tubuh gadis itu. Lalu, ia menyentuh lembut pipi Ciara.
“Baby … aku tau aku salah bercinta dengan banyak wanita.”
“Tapi, aku ini pria normal. Pria yang memiliki nafsu dan gairah untuk bercinta. Terlebih lagi hampir setiap hari kita melakukan kemesraan yang memancing naluri lelakiku.”
“Meskipun bukan sepenuhnya salahmu yang merangkak ke atas ranjangku, tapi aku juga tetap salah karena tergoda dengan gadis yang membutuhkan perlindungan dariku.”
“Aku … aku hanya belum menemukan sosok yang benar-benar mau ku jadikan satu-satunya wanita yang akan melayaniku sampai akhir,” jelas Abercio dengan suara yang perlahan.
“Aku harap, kamu mau menjadi satu-satunya wanita yang ku cari itu,” sambungnya dengan suara baritonnya yang serak namun penuh dengan ketegasan.
Abercio terdiam beberapa detik setelah menjelaskan hal-hal yang tak sempat ia jelaskan selama ini. Ia menatap wajah Ciara, gadis yang perlahan mencuri hatinya itu.
“Be my lady? Hmm? Aku tak akan bercinta dengan wanita lain selain dirimu. I will treat you like a queen in my life, I promise,” ucap Abercio dengan gamblang.
__ADS_1
Deg! Deg! Deg!
Lagi-lagi Ciara terbuai dengan kalimat Abercio tersebut. Meskipun ucapan itu tak sepenuhnya dapat dipercaya, tersirat ketulusan dan kesungguhan dari pria itu saat mengucapkan keinginan serta janjinya itu. Ia sangat bersungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan saat itu.
“Kenapa, Daddy? Kenapa harus aku wanitanya?” tanpa sadar ucapan tersebut keluar dari mulut Ciara dengan spontan. Ia bertanya dengan penasaran dan suara yang perlahan.
“Because you are special,” bisik Abercio lembut sambil mendaratkan bibirnya ke bibir Ciara.
Tak ada penolakan dari Ciara saat Abercio mulai melahap bibirnya. Gadis itu memejamkan matanya menerima bibir Abercio. Bibir pria itu bergerilya dengan sangat liar dari luar hingga ke dalam mulut Ciara. Saat lidah mereka bertemu, tangan Abercio mulai menyusup masuk ke dalam baju tidur yang Ciara kenakan.
“Mhh…” Ciara tak sadar mengeluarkan desa.hannya saat tangan kekar pria itu memijat lembut dadanya yang tak mengenakan bra itu.
Abercio kembali berbisik dengan penuh penghayatan. “Will you be my lady?”
Ciara membuka matanya perlahan. Menatap kedua mata hazel Abercio yang tajam itu. Seolah-olah terhipnotis, Ciara menganggukkan wajahnya perlahan mengiyakan permintaan Abercio.
Tanpa bisa menahan gejolak di dada, Abercio langsung mendaratkan bibirnya ke leher jenjang Ciara. Kemudian ia memberikan beberapa kiss mark di leher gadis itu sambil tangannya memijat kasar dada Ciara dengan penuh bersemangat.
“D-Daddy … nghhh ….”
Ciara menceracau tanpa henti saat Abercio melakukan tindakan gilanya itu. Benar, ia telah mendapatkan lampu hijau dari Ciara, tapi entah kenapa rasanya ia belum puas jika tak bercinta dengan gadis itu saat itu juga.
Drrttt… Drrttt…
Di saat Abercio mulai menggila dengan nafsu binatangnya, tiba-tiba ponsel Ciara bergetar. Ada panggilan masuk dari nomor asing yang tak dikenal.
Ciara terbelalak kaget. Ia segera memeluk tubuh Abercio dengan tubuh yang bergetar. Entah kenapa mendengarkan getaran ponsel saja sekarang membuatnya bergidik ngeri. Ia benar-benar lengah karena melupakan ancaman yang membuatnya hampir gila semalam.
“D-Daddy, Ciara takut.”
Abercio menatap heran ke arah ponsel Ciara. Bukankah Ciara sudah pulang ke rumah? Seharusnya tak ada lagi teror yang mengganggu gadisnya itu? Kenapa nomor asing tersebut masih terus-terusan menghubungi Ciara? Sepertinya ada yang tak beres dan ada yang tak sesuai rencana.
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...
__ADS_1