
..."Sorry Kak Ben. Sebelum itu terjadi, aku akan menjadi Nyonya di rumah ini. Ups ... sorry. Maksudku, Nyonya Abercio Sanchez." – Ciara A. Garnacho...
Di saat Abercio sedang berada di lantai dua dengan alasan ingin mengambil kunci mobil serta dompet, diam-diam ia sengaja memperhatikan bagaimana tingkah Rubah Kecil-nya itu dalam menghadapi Benicio, adiknya yang sulit ditebak itu.
Abercio melihat Ciara sambil tersenyum tipis. "Good girl. Aku tak suka Ratu yang lemah."
Di saat yang sama, sorot mata Abercio tiba-tiba terfokus ke arah Bart yang mau menginjakkan kaki masuk ke dalam rumah. Namun Bart langsung melihat ke atas ke arah Abercio.
Bart mendapatkan aba-aba melalui tatapan Abercio. Ia diperintahkan untuk tak melewati ruang tamu dan dua orang itu terlebih dahulu. Bart pun mengerti dan kembali membalikkan tubuhnya keluar dari rumah tersebut.
"Pffttt!" tiba-tiba Benicio terlihat sedang menahan tawa. Ia menatap ke arah Ciara yang berbisik ke telinganya.
Kedua mata mereka bertemu dan jarak mereka hanya setengah jengkal karena Benicio langsung menoleh ke samping ke arah Ciara.
"Hei, anak kecil," bisik Benicio, "jangan bangga dengan status Sugar Baby-mu itu."
"Kak Abercio nggak akan bertahan lama denganmu," sambungnya.
Ciara terbelalak. Kemudian kini ia yang balik menahan tawa. "Pfttt ... hahaha!"
Ciara tertawa terbahak-bahak dengan postur tubuh yang spontan setengah menjarak dari tubuh Benicio. Kemudian ia kembali menatap tajam ke arah Benicio yang tingginya bisa ia gapai dengan menjinjitkan kaki.
"Kak Benicio yang ganteng ... kalau Daddy nggak bertahan lama denganku, memangnya kamu ikhlas ... Sabrina yang kamu kejar-kejar itu mengejar kakak-mu?"
"Dia tuh menempel ke Daddy kayak lintah," celetuk Ciara dengan ekspresi yang jijik, "aku heran apa sih yang kamu kejar-kejar dari lintah yang tak tau diri itu."
__ADS_1
"Kalo aku jadi dia sih ... aku nggak bakalan mau terus menerus mengejar seseorang yang jelas-jelas menolakku secara blak-blak an."
Sesaat setelah mengatakan hal tersebut, Ciara berdiri dengan tegak di depan Benicio. Kemudian ia memegang mulutnya dengan sengaja. Ia juga sengaja membelalakkan matanya sembari menunjukkan ekspresi terkejut.
"Upsss ... aku lupa, kamu juga 'kan ngejar-ngejar seseorang yang jelas-jelas menolakmu?"
"Nggak cape?" ejek Ciara sembari menyengir.
Benicio mengepalkan kedua tangannya. Ia mengeram dengan kasar dan menatap tajam ke arah Ciara.
"Pergi nggak dari rumah ini?!" bentak Benicio dengan suara yang pelan namun penuh penekanan. Ia tak ingin Abercio mengetahui bahwa ia mengusir gadis itu.
Ciara menatap malas ke arah Benicio. Sekarang ia sudah berani. Rasa takut yang semula menyelimuti dirinya, kini sudah hilang dan sirna. Yang ada, ia semakin ingin mengusili Benicio. Sama sekali tak ada niat jahat. Hanya ingin memberi sedikit salam perkenalan.
"Kak Ben ..."
"Yang membawa aku ke rumah ini Daddy Cio. Jadi ... yang berhak membuatku keluar dari rumah ini, Daddy juga."
"Sorry Kak Ben. Sebelum itu terjadi, aku akan menjadi Nyonya di rumah ini," ucap Ciara sambil berlalu pergi.
"Ups ... sorry. Maksudku, Nyonya Abercio Sanchez," sambung Ciara pelan.
Ciara tersenyum puas dan penuh kemenangan. Ia benar-benar sukses melawan rasa takutnya. Bahkan ia berhasil mengusili calon adik iparnya itu!
Di saat Ciara melengos meninggalkan Benicio dan ingin menapaki tangga menuju pantai dua, tiba-tiba ia melihat Abercio yang sedang berjalan menuruni tangga.
"Daddy ..." panggil Ciara manja. "Kok Daddy lama? Ciara 'kan laper."
__ADS_1
Kedua bola mata Benicio mendadak terbelalak dan membulat dengan sempurna. Ia menoleh ke arah Ciara. Bagaimana bisa suara yang semula penuh ejekan dan sinis itu berubah menjadi begitu manja di depan Abercio?!
Dasar gadis licik! Umpat Benicio saat itu.
"Liat aja, aku bakalan bikin kamu nggak betah di rumah ini!" geram Benicio dalam hati.
"Ayok," ajak Abercio yang sudah berada di lantai satu. Ia merangkul pinggang ramping Ciara dengan sangat romantis di depan Benicio.
"Kamu mau makan apa, Ben?" tanya Abercio sambil menatap ke arah Benicio.
"Ciara mau makan steak, Daddy," rengek Ciara sambil memeluk tubuh Abercio dari samping. Kemudian ia menatap ke arah Abercio dengan tatapan mematikannya. Mata yang berkilau-kilau dan memukau.
Benicio semakin kesal melihat tingkah Ciara. Bukankah yang mengatakan lapar tadi dirinya? Lalu, barusan Abercio bertanya padanya, bukan pada Ciara. Kenapa malah gadis itu yang mensahuti?!
Benicio menapaki tangga satu per satu. Ia melewati Ciara dan Abercio dengan wajah yang super duper kesal dan masam.
"Aku ngantuk! Laparku mendadak hilang bergantikan mual!" ketus Benicio.
"Ben," panggil Abercio pelan.
Benicio tak mengindahkan panggilan Abercio. Ia terus berjalan menuju ke kamar yang ada di samping kiri Abercio. Kemudian ia membuka pintu kamar tersebut.
"KAKKK!!!" teriak Benicio dari atas.
Abercio dan Ciara saling bertatapan. Kemudian mata mereka menoleh ke arah Benicio secara bersamaan. Benicio terlihat di ujung tangga atas dengan ekspresi yang amat sangat suram.
"Sejak kapan kamarku menjadi warna pink dengan sprei bunga-bunga?!" teriak Benicio kesal.
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG......