
...“Ini belum selesai, Sayang.” – Abercio Sanchez...
...❣️...
...“In this car? Again?” – Ciara A. Garnacho...
Peringatan! Bab ini berbahaya buat di bawah umur ya!!! 🫣
...❣️❣️❣️...
Brak!
Abercio memegang kepalanya yang mendadak pusing. Penglihatannya mendadak buram sampai-sampai dia menabrak mobil yang terparkir saat berjalan menuju mobilnya.
“Daddy kenapa?” tanya Ciara khawatir.
Abercio menggeleng-gelengkan kepalanya berharap agar sakit kepala itu hilang. Tapi sayang sakit itu semakin menjadi-jadi. Bahkan tubuhnya mendadak aneh karena ada rasa panas terbakar yang tak biasa. Setibanya ia di samping mobil, ia memegang mobil untuk menopang tubuh.
“Rasain! Siapa suruh telat dateng!” geram Ciara dalam hati dengan wajah yang cemberut.
“Daddy, aku telfon Bart bentar. Biar dia yang anterin kita pulang,” ucap Ciara sambil merogoh ponselnya di dalam tas.
Abercio tak tahan dengan panas yang menggila itu. Ia bergegas membuka pintu mobil Range Rover hitamnya, kemudian ia menarik Ciara masuk ke dalam mobil tersebut.
“Bentar Daddy, aku lagi nelfon B— … hmpph!!!”
Ciara terbelalak saat Abercio langsung menciumi bibirnya. Niat hati ingin melarikan diri setelah menjebak Abercio dengan membubuhkan obat perangsang ke minuman pria itu, malah dia yang terkena jebakannya sendiri.
__ADS_1
Abercio langsung mengambil posisi di atas Ciara. Gadis itu terbaring di bawah kungkungan Abercio tepatnya di kursi mobil belakang dengan posisi kedua kaki yang di tekuk.
“Ciara …” panggil Abercio sambil menyeringai menatap gadis itu. “Berani-beraninya kamu memasukkan obat perangsang di minumanku, hmm?”
Ciara mendadak cengengesan. “He— … hehehe.”
“Lagian, siapa suruh Daddy telat menyelamatkanku tadi? Hmm? Memangnya Daddy aja yang boleh menjadi gila?”
Sudut bibir kiri Abercio terangkat setengah, menghasilkan sebuah seringai yang penuh arti. Sorot mata hazelnya yang begitu tajam itu menatap Ciara dengan tatapan yang sangat liar. Seperti tatapan seekor singa yang sedang bersiap-siap ingin melahap mangsanya.
“D-Daddy … kita nggak mungkin melakukannya di sini, ‘kan?” tanya Ciara sambil melihat seisi mobil. Ia mendadak menelan salivanya saat Abercio melepaskan jas dan melonggarkan dasinya.
Pria tampan berdarah dingin tersebut tak tahan lagi. Ia mengunci mobil dari dalam dan bergegas menerkam mangsa yang kini berada di bawah kungkungannya itu.
“D-Daddy … kita pulang dulu, ya?” Ciara memelas menggunakan mata andalannya.
“Sorry, Baby. Mata andalanmu itu tak berguna untuk saat ini,” ucap Abercio.
Ciara bergegas melepaskan bibirnya dari bibir Abercio. Kemudian ia memegang kedua pipi Abercio dan menatap mata hazel yang indah itu.
“Daddy, I’m yours.” Bisik Ciara penuh penghayatan.
Abercio cukup terpancing dengan ucapan Ciara barusan. Bagaimana tidak? Gadis itu menyerahkan dirinya sendiri untuk diterkam. Bukankah itu kesempatan emas? Lagipula reaksi obat perangsang tersebut sudah sangat membuatnya tersiksa.
Ciara mengalungkan kedua tangannya memeluk tengkuk Abercio. Kini ia yang menarik kepala pria tersebut dan melu.mat bibir pria itu sambil memejamkan matanya. Padahal, sebelumnya ia sempat tak mempercayai pria itu. Bahkan ia sampai jijik dengan pria itu. Tapi sekarang semuanya sirna dan berubah menjadi cinta yang menggebu-gebu.
“Mhh … nghhh … ah ….” Leng.uhan tak henti-hentinya keluar dari bibir merekah milik Ciara. Bibir yang sedikit bengkak dan basah akibat lu.matan Abercio yang tak sabaran itu.
Abercio mengikuti permainan Ciara. Ia tak menolak dan tak juga pasrah. Pria bertubuh kekar ikut hanyut dalam gairah yang gadis itu berikan. Ia bahkan menuntun gadis itu menuju surga terlarang antara ia dan anak tirinya. Meskipun terpaut usia yang jauh, entah kenapa ia begitu bersemangat saat bercinta dengan gadis itu.
__ADS_1
“I love you … Abercio,” bisik Ciara dengan keringat yang mengucur dan nafas yang terengah-engah.
“Sial!” umpat Abercio. Ia semakin mempercepat pacuannya saat gadis itu menyebut namanya. Gairahnya semakin memuncak saat itu juga.
“D-Daddy …” panggil Ciara. Saat itu Ciara sedang duduk di atas pangkuan Abercio dan saling berhadapan. Ia menjambak rambut Abercio dengan kepala yang sedikit terangkat ke atas. Matanya terpejam dengan wajah yang mengeram.
“Arghhh…” pekik Ciara dengan tubuh yang mendadak menggelinjang dan tegang karena ia telah mencapai puncaknya.
Tak lama kemudian, Abercio pun ikut mengakhiri pergumulannya di dalam mobil tersebut. Ia memegang kedua pinggul Ciara dengan kuat dan menekan tubuh gadis itu ke bawah. Kemudian ia menyemburkan semua cairan cintanya ke dalam tubuh gadis itu.
“Ini belum selesai, Sayang,” bisik Abercio ke telinga Ciara beberapa menit setelah ia mengatur nafasnya.
Ciara langsung mengangkat wajahnya menatap ke arah Abercio. Ia dapat merasakan sesuatu yang kembali mengeras di bawah sana. Sesuatu yang tak pria itu cabut dan masih bersemayam di dalam tubuhnya.
“In this car? Again?” tanya Ciara menatap Abercio dengan mata yang terbelalak dan sempurna membulat.
...❣️❣️❣️...
Flashback sesaat setelah Bart dan pengawalnya membawa Darren keluar dari room VIP 57.
“Sayang, are you okay?” tanya Abercio sambil berjalan mendekat ke arah Ciara yang saat itu berdiri di pojok ruangan. Ia berdiri di sana agar tak terlibat dengan baku hantam yang terjadi.
“Hmm. I’m okay.” Ciara mengangguk dengan wajah yang sedikit kesal. Kemudian ia membungkuk untuk mengambil dua buah gelas yang sudah ia isi alkohol. Satu ia berikan pada Abercio.
“Daddy, aku ingin menutup peristiwa hari ini dengan segelas alkohol dan cheers bersamamu.”
Ciara mengangkat gelasnya sejajar dengan bahunya. Lalu ia mendekatkan gelas tersebut ke gelas Abercio.
“Cheers, Baby. Kamu udah melakukan yang terbaik hari ini. Aku bangga padamu,” ucap Abercio sambil tersenyum.
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...