Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Aku Tak Ingin Kita Bercerai


__ADS_3

...“Ciara … kamu boleh meminta apapun dari ku. Bahkan nyawaku pun kamu boleh memintanya. Tapi tidak dengan pernikahan. Aku nggak mau kita cerai.” – Abercio Sanchez...



Flashback Off! Kembali ke masa sekarang.


Abercio menceritakan semua itu dengan ekspresi yang datar. Ia seperti manusia yang tak memiliki hati dan perasaan saat menceritakan kisah kelam di masa kecilnya.


Ciara menatap nanar ke arah Abercio. Ia mendadak merasa bersalah karena membuat pria itu terpaksa menceritakan sesuatu yang sepertinya dengan susah payah pria itu kubur.


“Lima tahun setelah bajingan itu menikah, aku mendapat kabar bahwa pernikahan mereka kandas,” jelas Abercio datar. “Pernikahan mereka kandas karena Cindy berselingkuh.”


Abercio menghela nafasnya. Kemudian ia menatap ke arah lain. Kali ini, matanya mendadak berkaca-kaca. Wajah tanpa ekspresi tadi mendadak sendu.


“Hari itu adalah hari terakhir aku melihat Ben tersenyum,” ucap Abercio dengan suara yang pelan. Dadanya terasa begitu sesak. Namun rasa sesak itu sirna dan kini ia tersenyum saat mengingat lagi senyuman Benicio yang berlari-lari di taman kala itu.


“Ben nggak pernah senyum lagi sejak hari itu. Dia menjadi pendiam dan tertutup.”


Ciara meraih kedua tangan Abercio. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang penuh penyesalan dan penuh rasa bersalah.

__ADS_1


“Daddy … maaf. Gara-gara aku Daddy jadi—”


“No. Lambat laun kamu akan mengetahui luka ini,” potong Abercio. Tangannya yang semula digenggam oleh Ciara, kini ia gunakan untuk menggenggam tangan Ciara.


“Aku tau ini terdengar konyol. Terlebih lagi keluar dari mulut seorang pria yang telah berusia,” ucap Abercio. “But you know, aku sangat mencintaimu, Ciara.”


“I know this is weird. Tapi cinta itu tak memandang usia, ‘kan? Benar aku mencintai tubuhmu—”


“Daddy!” Ciara menarik tangannya sambil cemberut. Ia kesal saat mendengarkan Abercio mengatakan bahwa ia dicintai karena tubuhnya saja.


Abercio tertawa terbahak-bahak. Suasana sedih tak nyaman tadi mendadak tergantikan dengan suasana girang dan hangat. Perutnya geli melihat tingkah menggemaskan Ciara.


“Aku mencintaimu ya karena itu kamu. Aku mencintai semua yang ada pada dirimu. Karena semua yang ada padamu itu membuatku bahagia,” jelas Abercio bersungguh-sungguh.


Abercio menghela nafasnya dengan berat. Ia mengangkat tangan Ciara dan menciumi kedua punggung tangan gadis itu silih berganti.


“Jangan pergi dariku, hmm? Cinta itu tak mesti berakhir di pelaminan. Tapi komitmen antara kedua orang yang menjalaninya.”


Abercio masih bersikukuh dengan pendapatnya tentang pernikahan. Hal tersebut cukup bertolak belakang dengan Ciara yang menginginkan kepastian dari hubungan yang mereka jalani. Meskipun saat itu usianya masih sangat muda untuk menjadi istri orang.

__ADS_1


“Kalau ada yang nanya,” Ciara menatap ke dalam ke mata hazel Abercio, “aku ini siapa, Daddy jawab apa?”


“Wanita yang kucintai,” jawab Abercio dengan lugas.


“Tapi, posisi ku di—”


“Ratu di hidupku,” potong Abercio. “Kamu boleh memegang kendali sepenuhnya dalam hidupku.”


“Tapi aku nggak punya hak, Daddy.”


“Kenapa kamu nggak punya hak?” tanya Abercio sambil mengerutkan keningnya.


“Karena aku ini bukan pacar atau istri, Daddy. Aku—”


“Ciara … kamu boleh meminta apapun dari ku. Bahkan nyawaku pun kamu boleh memintanya. Tapi tidak dengan pernikahan. Aku nggak mau kita cerai,” potong Abercio dengan wajah yang serius.


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...

__ADS_1


__ADS_2