Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Kau Tak Boleh Pergi, My Queen


__ADS_3

..."Baby. Kamu nggak boleh pergi ke mana-mana kalau Abercio Sanchez sudah memilihmu untuk menjadi Ratu-nya." – Abercio Sanchez...



“Axel, cepat panggil Ajeng ke sini,” perintah Abercio sambil menahan tangan Ciara agar gadis itu tak beranjak pergi.


“Ajeng?” gumam Ciara sembari menoleh ke belakang dan memposisi tubuhnya menghadap ke arah Abercio. Wajahnya saat itu benar-benar merah karena menahan emosi yang meledak-ledak.


“Pasti pelacur lagi?! Dari namanya aja, pasti dia cantik?! Tubuhnya pasti kayak gitar Spanyol?! Argh! Abercio Sanchez sialan!” pekik Ciara dalam hati. Secara tak sadar, ia memperlihatkan dengan jelas rasa cemburu yang kini merasuki dirinya.


Abercio tersenyum. Sedikitpun ia tak merasa kesal. Sebaliknya ia merasa senang saat melihat rasa cemburu yang tergambarkan dari merajuknya gadis itu.


Di saat yang sama, Bart berusaha terlihat tak peduli meskipun hatinya begitu hancur dan sakit. Kini ia sadar, gadis yang mencuri hatinya itu, kini telah jatuh cinta pada Abercio, majikan sekaligus penyelamat hidupnya.


“Sudahlah, Bart. Lupakan dia,” lirihnya dalam hati.


“Selamat siang.”


Terdengar suara seorang wanita yang begitu lembut menyapa tiga orang yang sedang berdiri di depan pintu masuk rumah.


Abercio tersenyum ramah ke arah wanita yang sedang Ciara belakangi saat itu. Bagaimana semakin tak meledak gadis itu dibuatnya?!


"Ugh!" Ciara melepas paksa genggaman tangan Abercio di lengannya. Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah wanita itu dengan wajah yang amat sangat kecut!


Sesaat kemudian Ciara terdiam membisu. Sekujur tubuhnya mendadak kaku dan lidahnya terasa kelu.


Ciara berusaha memutarkan kepalanya ke belakang. Ia menatap ke arah Abercio dengan hati-hati dan penuh sesal.


"D-Daddy ..." panggil Ciara sembari memaksakan senyumnya. Mata ambernya yang semula suram, kini mendadak berkilat-kilat menatap ke arah Abercio dengan penuh sesal. "Sorry, Daddy ...."


Abercio menaikkan kedua alisnya. Kemudian ia tersenyum.


"Ini Bibi Ajeng yang ke depannya akan mengurus segala urusan rumah tangga." Axel memperkenalkan seorang wanita yang berusia lima puluhan bertubuh sedikit gendut kepada Ciara dan Abercio.


"Mulai dari memasak dan bersih-bersih akan di urus oleh Bibi Ajeng. Tapi Bibi Ajeng ke sini hanya setiap pagi dan tidak menginap," sambung Axel.


...❣️❣️❣️...

__ADS_1


"Kamu tidur siang, ya? Ada pekerjaan tertunda yang harus segera ku selesaikan," ucap Abercio sambil membelai lembut rambut Ciara dan mengecup lembut pipi gadis itu.


Ciara mengangguk pelan dan tersenyum. Kemudian ia memejamkan matanya karena mengantuk.


Setelah Ciara terlelap, Abercio bergegas meninggalkan kamar tersebut dan pergi menuju ke ruang kerjanya.


"Pak—"


Buk!


Sebuah tonjokan melayang ke perut Bart dari tangan Abercio. Bart mengepalkan kedua tangannya dengan kuat dengan ekspresi wajah menahan sakit.


"Kau keterlaluan, Bart."


Buk!


Abercio kembali melayangkan sebuah tonjokan ke perut Bart. Ia melampiaskan amarah dan emosinya akibat pria itu berani mencintai gadisnya.


"Tapi, Pak. Kalau Ciara tau Bapak dalang di balik semua kejadian ini, Bapak sendiri yang akan rugi." Bart berusaha menyadarkan Abercio. Kelakuan pria itu tak dapat dibenarkan lagi meskipun itu adalah bentuk cinta yang Abercio anggap tulus.


"Memangnya kenapa?" tanya Abercio dengan wajah yang dingin dan menyeramkan. Ia menampilkan wajah aslinya di depan Bart. Wajah yang selama ini tak pernah ia tunjukkan pada Ciara.


"Dan kau tau siapa dalang di balik ini semua?!" Abercio mencengkeram kerah kemeja hitam Bart dengan sangat erat. Ia menatap tajam kedua bola mata hitam Bart.


"Darren!" bisik Abercio dengan penuh penekanan. "Gadis itu akan diperkosa oleh beberapa orang sekaligus!!!"


Abercio terlihat begitu marah. Rahangnya menegang dengan pembuluh darah yang timbul begitu jelas.


Brak!


"Siapa dalang di balik semua itu?!!!" sergah Ciara yang ternyata menguping di balik pintu. Nafasnya memburu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak mendengarkan point penting itu karena Abercio berbisik.


Abercio menoleh ke belakang ke arah pintu. Kemudian ia kembali menoleh ke arah Bart dan melayangkan sebuah tonjokan lagi tepat di pipi Bart.


"Sial!" umpat Abercio berlari ke arah Ciara.


"Jangan mendekat!" bentak Ciara menatap jijik ke arah Abercio. "Siapa dalang di balik semua ini?!"

__ADS_1


"Kau 'kan ... Abercio Sanchez?!!!" tuduh Ciara dengan amarah yang membabi buta. Rasanya sakit sekali saat mengetahui penyebab ia diteror adalah Abercio. Ia juga tak menyangka, ternyata Abercio bersekongkol dengan Markus untuk menidurinya dan merenggut mahkotanya.


"Dengar—"


Plak!


Ciara menampar wajah Abercio dan membuat pria itu terpotong dari pembicaraannya.


"Kau menjijikkan Abercio! Pantas saja kau tak ingin hubungan yang serius. Ternyata kau hanya ingin tubuhku saja!" geram Ciara dengan sorot mata yang tajam dan pupil mata yang kecil.


Ciara menoleh ke arah Bart yang ada di dalam ruang kerja Abercio. Ia berniat menghampiri Bart yang ternyata berusaha menyelamatkannya semalam. Kini ia mengerti apa maksud dari pembicaraan Abercio dan Bart.


"Mau ke mana?" Abercio menahan lengan Ciara. Wajahnya yang semula hangat dan mengiba, kini berubah menjadi sangat mengerikan. Topeng yang selama ini ia gunakan untuk menutupi wajah itu kini tak ia gunakan lagi.


"Lepas!" Ciara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Abercio.


Abercio tak berkutik. Sebaliknya, ia menggendong tubuh Ciara ke atas bahu kekarnya seperti sedang memikul karung beras. Sebelum ia beranjak pergi meninggalkan ruang kerja itu, ia menoleh ke arah Bart. "Aku tak ingin ada orang di dalam rumah ini selama beberapa hari. Kalian cukup menjaga keamanan dari luar rumah."


...❣️❣️❣️...


Abercio masuk ke kamar dan mengunci pintu. Kemudian ia masuk ke ruang pakaiannya yang besar itu dan membuka sebuah laci. Lalu ia mengambil sebuah borgol yang berbulu. Setelah itu ia keluar dan berjalan ke arah ranjang.


Brak!


Tubuh Ciara dihempaskan ke atas ranjang dan kedua tangan gadis itu langsung di borgol oleh Abercio. Ciara berusaha meronta-ronta ingin melepaskan diri, tapi sulit karena tangan kekar Abercio menahan tangannya.


"Lepasin! Dasar bajingan!" geram Ciara dengan bibir yang bergetar.


"No, Baby. Kamu nggak boleh pergi ke mana-mana kalau Abercio Sanchez sudah memilihmu untuk menjadi Ratu-nya," lirih Abercio sambil melepaskan kancing kemeja putihnya.


"Kamu penasaran 'kan, siapa dalang di balik semua ini?" tanya Abercio dengan mata yang menatap lapar ke arah Ciara.


"Darren," ucap Abercio sembari melepaskan kemejanya dan membuangnya ke lantai. "Mereka berdua sekarang berada di tempat yang aman. Jadi, kamu jangan khawatir."


"Karena sebentar lagi, aku akan menghabisi mereka yang berani sekali menyentuh Ratu-ku," sambung Abercio sambil meraih kaki kanan Ciara dan mengecup lembut punggung kaki itu.


...❣️❣️❣️...

__ADS_1


...BERSAMBUNG......


__ADS_2