Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Ikut Aku ke Neraka


__ADS_3

...“Aku tau akhirnya akan seperti apa. Jadi, dia juga harus mati dan ikut aku ke neraka!” - Markus A. Garnacho...



"Ugh ...."


Ringisan Sabrina terdengar lirih. Kedua kaki dan tangannya terikat dengan posisi ia tidur menyamping di atas lantai. Posisinya saat itu sedang menghadap Ciara.


"Hei ... apa yang terjadi?" tanya Ciara dengan raut wajah yang cemas menatap ke arah Sabrina.


Sabrina membuka matanya secara perlahan. Kepalanya terasa begitu sakit dan pandangannya buram. Namun perlahan pandangannya mulai sedikit jelas saat ia berulang kali mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Kepalamu berdarah," lirih Ciara mengiba, "maaf aku nggak bisa berbuat apa-apa."


"Ck!" Sabrina berdecak sebal saat menyadari tangan dan kakinya terikat. Kemudian, ia melempar pandangannya ke arah Ciara yang sedang duduk di sebelahnya.


"Tenang aja, Kak Aber dan Kak Ben sedang menuju ke sini," tukas Sabrina dengan penuh keyakinan.


Ciara mengerutkan keningnya. Tatapannya penuh dengan tanda tanya dan tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sabrina.


Sabrina menghela nafasnya pelan. Ia berusaha memposisikan tubuhnya untuk duduk dengan susah payah dalam keadaan terikat.


"Bersandarlah di punggungku," ucap Ciara lembut sembari duduk membelakangi Sabrina.


Sabrina tertegun. Ia sempat tersentak sesaat. Kenapa gadis itu begitu baik padanya? Bukankah gadis itu terjebak di tempat ini karenanya? Namun sesaat kemudian ia tersenyum lirih dan menggeleng pelan.


"Sekarang aku tau, kenapa Kak Aber sangat tergila-gila padamu," gumam Sabrina lirih.


Lagi-lagi Ciara tak mengerti dengan apa yang diktakan oleh Sabrina. Tapi ia hanya diam sembari menyodorkan punggungnya menunggu Sabrina bersandar.


Sabrina mendekat ke arah Ciara dengan susah payah, lalu ia menyandarkan punggungnya ke punggung Ciara.


Kedua wanita tersebut kini saling bersandar dan saling membelakangi. Bedanya, Sabrina menyandarkan kepalanya ke tengkuk Ciara karena rasa pusing yang masih menguasai kepalanya. Sabrina memejamkan matanya.


Cukup lama mereka terdiam dan saling tenggelam dengan perasaan dan pikiran masing-masing.


"Maaf ...." Tiba-tiba satu kata sarat makna itu keluar dari bibir Sabrina setelah beberapa menit suasana gudang itu hening.


"Kalau bukan karena aku, kita nggak akan ada di sini," sambung Sabrina.

__ADS_1


Ciara menghela nafas sesaat. Kemudian ia tersenyum.


“Sejujurnya, aku membencimu, Sabrina,” ucap Ciara mengungkapkan isi hatinya.


“Kamu yang seenaknya mendekat ke arah Daddy Cio, kamu juga yang seenaknya menyingkirkan gadis yang ia cintai.”


“Lalu sekarang, kamu juga yang membuat hidup dan matiku berada di tangan Markus bajingan itu.”


Kurang lebih beberapa detik, Ciara terdiam sejenak.


“Tapi nggak apa-apa. Cinta selalu membuat orang melakukan hal-hal yang tak wajar,” imbuh Ciara pelan.


“Yang penting, sekarang Daddy Cio sedang berjalan menuju ke sini.”


“Aku harap, setelah keluar dari sini, kita bisa hidup lebih baik dan menjadi teman.”


“Jangan mimpi!” sergah Markus yang tiba-tiba muncul di balik pintu besi yang mengunci Ciara dan Sabrina di dalamnya.


Markus datang masuk ke dalam ruangan tersebut diikuti beberapa orang berwajah bengis dan menyeramkan. Dua di antaranya mendekat ke arah Ciara. Sedangkan dua lagi mendekat ke arah Sabrina.


Empat orang suruhan Markus tersebut membuka tali ikatan di kaki Ciara dan Sabrina. Kemudian mereka memaksa dua wanita tersebut berdiri.


“Sayangnya, saat pahlawan kalian datang, organ tubuh kalian sudah hilang! HAHAHAHA!” ucap Markus sembari menyeringai, dilanjuti tawanya yang keras memenuhi ruangan kumuh tersebut.


“Dasar bajingan!” umpat Sabrina dengan sorot matanya yang menajam ke arah Markus. Tatapan yang begitu penuh dengan kebencian dan amarah.


Markus berjalan mendekat ke arah Sabrina. Kemudian tangan kasarnya yang besar itu menjambak rambut Sabrina dengan kuat.


“Akk!” pekik Sabrina spontan bersamaan dengan kepalanya yang mendongak ke atas karena rambutnya dijambak paksa.


“Cuih!” Ciara yang sejak tadi diam, ia meludah ke wajah Markus dengan penuh keberanian. Hal tersebut membuat Markus langsung menatap ke arah Ciara dengan penuh amarah.


“Lepasin dia! Kepalanya masih luka dan—”


Ciara terdiam saat Markus benar-benar melepaskan jambakan tangannya dari rambut Sabrina. Ia menyeka ludah Ciara yang mendarat tepat di pipi kirinya. Kemudian pria itu berjalan mendekat ke arah Ciara.


“Dasar anak kurang ajar!” bentak Markus dengan wajah yang memerah karena marah. Matanya terbelalak dengan kedua bola mata yang seolah-olah akan keluar.


Kini Markus menjambak rambut Ciara. Ciara mendongak ke atas sembari bibirnya meringis kesakitan. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya yang masih terikat.

__ADS_1


“Mentang-mentang udah jadi pelacur pria kaya, kamu menjadi sombong ya?!” bentak Markus dengan suara yang lantang sehingga menggema di ruangan tersebut.


Mendengarkan bentakan Markus, bukannya membuat Ciara bergidik ngeri. Sebaliknya, Ciara malah tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha! Kau lucu sekali Markus,” ejek Ciara tak tahan.


Seluruh orang yang ada di ruangan itu menatap heran ke arah Ciara. Begitu juga Markus dan Sabrina.


“Sejak kapan kau menjadi ayahku? Lagipula, aku tak pernah sudi memiliki ayah sepertimu!” tegas Ciara dengan sorot mata yang penuh kebencian.


Setelah mendengarkan cerita panjang dari Lucy, ibu angkatnya, Ciara mengetahui bahwa sebenarnya ia adalah anak kandung dari Markus. Hanya saja, ia sulit menerima kenyataan bahwa pria itu merupakan ayah kandungnya. Bagaimana tidak? Pria yang begitu kejam itu tak layak dipanggil ayah!


“Ck! Ternyata kamu sudah tau.” Markus berdecak sebal. Ia kemudian melepaskan jambakan tangannya dari rambut Ciara. Kemudian ia menatap ke arah Ciara sembari membusungkan dadanya dengan penuh kesombongan.


“Kamu itu, anak pelacur!” tuding Markus dengan kasar, “bahkan wanita yang melahirkanmu saja nggak tau siapa ayah dari bayi yang ia lahirkan.”


“Malah menitipkan anak haram sepertimu ke istriku!”


Ciara menggigit bibirnya menahan kekecewaan yang mendalam saat ia dikatakan bahwa ia adalah anak haram. Meskipun kenyataannya benar bahwa ia anak haram hasil hubungan gelap. Matanya memanas dan mulai berkaca-kaca.


Memangnya aku pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia dengan status anak haram? Memangnya aku tahu aku akan lahir dari rahim siapa? Pikir Ciara saat itu.


“Sudahlah! Cepat lakukan proses pengambilan organ tubuhnya!” perintah Markus kepada empat pria suruhannya.


Dor! Dor! Dor!


Belum sempat mereka beranjak dari ruangan tersebut, terdengar suara tembakan yang saling bersahutan dari luar ruangan. Markus mengepalkan kedua tangannya.


“Sial! Gimana bisa mereka menemukan tempat ini dengan cepat!”


Brakkk!!!


Pintu besi ruangan itu ditendang dengan sangat kuat oleh seorang pria bertubuh tegap dan kekar. Saat pintu tersebut terbuka, terlihat Abercio, Benicio dan Bart di depan sana. Raut wajah mereka begitu kusut dan penuh kekhawatiran. Masing-masing dari mereka memegang senjata api. Sepertinya mereka berhasil melumpuhkan penjaga-penjaga di luar tadi.


Markus yang terlanjur kebingungan, ia langsung mengeluarkan pistol dari saku celananya. Kemudian ia menarik Ciara dari genggaman pria suruhannya dan menodongkan pistol tersebut ke kepala Ciara.


“Aku tau akhirnya akan seperti apa,” ucap Markus, “jadi, dia juga harus mati dan ikut aku ke neraka!”


“Ini bukan pilihan, tapi ini sudah menjadi keputusan.”

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2