Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Kamu Harus Patuh!


__ADS_3

..."Sayang ... kalau kamu nggak patuh, aku akan mendekati pelacur-pelacur itu lagi loh. Kamu mau?" – Abercio Sanchez...



Peringatan! Bab ini berbahaya buat di bawah umur ya!!! 🫣


...❣️❣️❣️...


"Karena kamu itu licik!" geram Abercio sembari mencubit gemas hidung Ciara.


Entah kenapa jika Abercio mengingat lagi tingkah lick gadis itu, perutnya terasa geli seperti ada yang menggelitik. Bukannya kesal, tapi ya menggemaskan saja. Karena yang ditargetkan Rubah Kecil itu adalah Raja Rubah. Jadi, yang terkena jebakan bukan dirinya, melainkan gadis itu sendiri.


"Ih! Kok aku licik sih?" Ciara merengut tak setuju dengan pendapat Abercio bahwa dirinya itu licik.


Abercio menarik Ciara ke dalam pelukannya. Lalu ia memeluk tubuh gadis itu sambil membelai lembut rambut gadis itu. Sorot matanya menatap lurus ke langit-langit kamar kala itu.


"Saat pertama kali aku melihatmu, entah kenapa kamu itu berbeda dengan sosok wanita yang pernah aku temui sebelum-sebelumnya."


"Aku terkejut saat mengetahui tingkah polos dan manjamu itu. Bahkan awalnya aku sempat tertipu dengan sandiwara polosmu yang menggemaskan itu."


"Sampai di suatu malam, kamu mengigau. Kata-kata yang kamu ucapkan sangat berbeda dengan Ciara polos yang ku kenal." Ucap Abercio dengan suara yang lirih tapi penuh arti. Ia mengatakannya sambil tersenyum dengan pupil mata yang membesar.


"Emangnya ... aku ngomong apa?" tanya Ciara sambil mengangkat wajahnya menatap Abercio.


"Karena ini hanya mimpi ... Daddy Cio bisa berbuat semaumu. Aku akan menikmatinya tanpa perlawanan." Abercio mengulang kembali apa yang sempat gadis itu gumamkan saat tidur.


Ciara mendadak malu mendengarkan Abercio mengulang kembali kalimatnya. Wajahnya memerah bak udang rebus karena menahan malu. Memangnya, dia pernah berkata seperti itu? Tapi … waktu itu dia pernah bermimpi sih, kalau dia dan Abercio pernah melakukan aksi panas, pikir Ciara saat itu.


“Apa yang kamu pikirkan? Hmm?” Abercio memutar tubuhnya dan membawa tubuh Ciara terlentang ke atas ranjang. Kini tubuh kekar Abercio berada di atas tubuh Ciara dengan kedua tangan dan kedua lututnya yang tertumpu di atas ranjang menopang tubuhnya.


“Me-memangnya apa yang ku pikirkan?” Ciara memalingkan wajahnya karena malu. Ia juga tak bisa mengelak dengan apa yang Abercio katakan. Karena wajahnya yang memerah saat ini sudah menjadi bukti bahwa ucapan saat ia tidur waktu itu benar.

__ADS_1


Abercio menyeringai menatap tingkah menggemaskan Ciara. Terlebih lagi saat gadis itu malu dan salah tingkah. Apa … ini saat yang pas untuk Raja Rubah menerkam Rubah Kecil itu? Pikir Abercio sambil menatap lapar wajah Ciara.


Abercio mendekatkan wajahnya ke telinga Ciara. Sesekali ia mengecup lembut telinga gadis itu untuk memberikan sensasi geli yang menggoda adrenalin Rubah Kecil-nya.


“Baby … jangan terlalu menggemaskan. Aku ini bukan pria yang sabar,” bisik Abercio lirih dengan suara baritonnya yang khas.


Ciara menggelinjang karena geli. Ia menaikkan bahunya ke atas karena sentuhan angin lembut dari bibir Abercio ke telinganya.


“D-Daddy. Berhenti mengusikku,” rengek Ciara manja.


Abercio menjauhkan wajahnya dari telinga Ciara, kemudian ia menatap wajah gadis itu sembari menaikkan alis kirinya. “Nggak kebalik?”


“Nggak!” Ciara memalingkan wajahnya ke kiri dengan manja.


Sesaat kemudian, Abercio langsung mendaratkan bibirnya ke leher jenjang Ciara. Ia mengecup inci demi inci leher jenjang gadis itu dan meninggalkan beberapa kiss mark meskipun kiss mark sebelumnya masih belum memudar.


“Mhh… Daddy. Jangan tinggalin jejak,” rengek Ciara manja. “Nghh … n-nanti … n-nanti ‘kan di liat orang.”


“Ah …” Ciara mende.sah saat tangan kekar Abercio mulai mere.mas dadanya. Pijatan tangan pria yang sudah ahli itu entah kenapa makin lama makin brutal dan kasar. “Daddy … pelan-pelan.”


“No. Rubah kecil sepertimu harus diberi hukuman,” lirih Abercio. Kemudian ia mendaratkan bibirnya ke bibir Ciara dan melahap bibir gadis itu seperti orang kelaparan.


“Hmph!” Ciara memejamkan matanya menikmati sensasi-sensasi aneh yang Abercio berikan pada tubuhnya. Meskipun aneh, entah kenapa rasanya begitu nikmat. Ini kedua kalinya ia merasakan sensasi nikmat yang membuatnya mengawang.


Abercio semakin menggila. Tangannya yang semula bergerilya di dada gadis itu, perlahan mulai turun ke bawah dan meraba lembah terlarang yang belum pernah ternodai.


“Ngg…” Ciara berusaha mengatakan tidak. Namun bibirnya dibungkam dengan rapat oleh bibir Abercio. Kedua tangan Ciara berusaha menahan tangan Abercio yang diam-diam menyusup masuk ke dalam panty yang ia kenakan saat itu.


"Sayang ... kalau kamu nggak patuh, aku akan mendekati pelacur-pelacur itu lagi loh. Kamu mau?" goda Abercio.


"Daddy curang!" Ciara mendadak kesal dengan ucapan Abercio. "Pergi aja kalo Daddy mau ninggalin aku yang masih ting-ting ini."

__ADS_1


Abercio menyeringai mendengarkan ucapan gadis itu. "Kamu memang cocok ku panggil Rubah. Ck!"


"Kyaaa! Daddy!" Ciara berteriak saat kedua tangannya Abercio bawa ke atas dan menguncinya menggunakan satu tangan sehingga ia tak bisa bergerak.


"Tenanglah. Kamu akan menikmatinya," bisik Abercio dengan suara yang menggoda.


Sembari tangan kanan Abercio mengunci kedua tangan Ciara di atas, tangan kirinya ia gunakan untuk menjelajahi lembah terlarang yang belum sempat ia sentuh tadi. Tangan itu mulai masuk ke dalam panty dan meraba lembut rambut tipis milik Ciara.


"Kamu merawatnya dengan baik," bisik Abercio pelan ke telinga Ciara.


"Daddy. Bisa nggak sih jangan mengatakan hal yang memalukan seperti itu?" rengek Ciara sambil memalingkan wajahnya yang saat itu memerah karena malu.


Lagi-lagi Abercio menyeringai tipis melihat tingkah menggemaskan gadis itu. Ia menghela nafasnya, bersiap-siap ingin membuat gadis itu terisak-isak karena kenikmatan. Tanpa jeda, Abercio menyelinapkan jari tengahnya ke lipatan tebal milik Ciara yang ternyata sudah basah.


“Ah!” de.sah Ciara terkejut dengan dada yang sedikit terangkat ke atas.


Tok! Tok! Tok!


Abercio tak mengindahkan ketukan pintu tersebut. Jarinya semakin nakal bergerilya di bawah sana mengusap lembut belahan basah milik Ciara.


“Mhh… Daddy,” des.ah Ciara dengan suaranya yang merdu.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu tersebut sepertinya tak menyerah meskipun Abercio tak menyahut dari dalam.


“Sial!” umpat Abercio dalam hati.


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...

__ADS_1


__ADS_2