
Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan berganti. Aku tak kunjung mengenal Marko dengan baik. Jadwalku semakin banyak. Aku tidak sempat mengurusi urusan orang lain. Seragamku telah berganti menjadi warna biru tua yang itu artinya aku sudah menjadi salah satu senior di Akademi Langit. Membimbing murid baru, walau tugasku hanya sekedar mencatat murid-murid yang melakukan pelanggaran. Aku tidak pandai berteriak atau membentak layaknya senior-senior terdahuluku.
Hingga suatu hari, Untuk pertama kalinya Marko melontarkan pertanyaan untukku. Seperti biasa dia berbaring di atas ranjangnya. Aku tengah merapikan kasurku. Bersiap untuk tidur.
“Lian, apa tujuanmu kemari?”
Aku mengerja-ngerjap, menatapnya dengan wajah bingung. Ini kejadian yang sungguh langka.
“Entahlah, mungkin aku hanya ingin membuat diriku sibuk.”
“kalau begitu, kau ingin jadi apa jika sudah lulus dari Akademi ini?” Dia kembali melontarkan pertanyaan.
Aku tidak pernah memikirkan itu selama ini. Tentang menjadi apa. Aku memutuskan menggeleng. “Aku belum tahu ingin menjadi apa.” Aku menjawab pertanyaan itu dengan wajah menunduk. Marko menatapku sekilas, lantas kembali menutupi wajahnya dengan lengannya.
“Kau, jika bisa jangan sampai sepertiku. Seberapa keras aku berjuang, tidak akan ada yang pernah mengakuiku. Seberapa kuat aku melangkah, aku tidak akan pernah bisa menggapai impianku.”
Lengang sejenak. Marko tidak menunjukan tanda-tanda akan bicara lagi. Sejujurnya ini kesempatan emas agar aku bisa mengenalnya lebih baik
“Kenapa? Kenapa kau ada di daftar gelap?” pertanyaan itu terlontar begitu saja. Aku sedikit menyesal. Marko tidak bereaksi, dia pasti tidak ingin membicarakan hal tersebut.
Namun, sekali lagi aku salah menilai Marko. Dia bukanlah tipe orang yang tidak suka berbicara. Hanya saja di selalu menunggu orang lebih dulu menyapanya. Menunggu aku bertanya. Di keesokan hari, kami tak lagi membisu seperti hari-hari yang berlalu. Karena aku menanyakan tentangnya, tentang mengapa dia ada di dalam daftar gelap.
Marko tersenyum, senyum yang berbeda saat dulu aku memperkenalkan diriku. Senyuman itu senyuman tulus. Tidak ada paksaan. “Aku sakit” Dia menjawab singkat. Jawaban yang menghilangkan semua pertanyaanku tentangnya.
“Sebenarnya aku sempat menyembunyikan penyakit ini saat berada di Akademi Langit. Namun, teman sekamarku membocorkan hal tersebut. Membuatku terjebak di tengah ambang mimpiku. Alhasil impianku hanya sebuah angan-angan. Aku tidak diperbolehkan mengikuti seluruh latihan di Akademi Langit. Pada akhirnya, aku hanya bisa menatap iri murid lain yang tengah berlatih. ”
__ADS_1
“Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak akan pernah diakui seberapa keras aku mencoba kembali melangkah. Karena aku memiliki penyakit ini. Penyakit yang tidak pantas membuatku menjadi seorang prajurit garis depan.”
“Penyakit apa yang kau miliki?” Aku bertanya dengan suara lirih. Fakta ini sungguh menggetarkan hatiku. Bagaimana bisa aku dengan entengnya mengatakan padanya jika aku tidak memiliki tujuan sedang dia justru memiliki impian yang mungkin tidak akan pernah terwujud? Bagaimana bisa aku dengan sombongnya mengatakan hal tersebut di atas derita orang lain?
“Aku punya gangguan pernafasan. Jika kau sering melihatku tersengal, itu bukan karena aku lelah. Semua itu karena gangguan pernafasanku. Jika kau melihatku terbangun di tengah malam atau aku tidak tertidur, semua itu juga karena gangguan pernafasanku. Aku tidak ingin orang lain beranggapan jika aku lemah karena penyakit ini. Jadilah aku tidak pernah ingin kau melihatnya. Ingat saat kau tengah menyeduh teh di malam hari dan aku menanyakan padamu seakan aku terganggu? Semua itu lantaran agar kau tidak melihat sisi lemahku.”
“Kenapa kau baru bilang sekarang?” Aku semakin menunduk. Merasa bersalah dengan semua prasangka burukku tentangnya.
“Tentu saja karena aku akan menye...”
“Jangan menyerah!” Suaraku menggema. Mengagetkan Marko yang tengah berbaring di atas ranjangnya. Ia terduduk, mengangkat kedua alisnya.
“Aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini. Tapi kumohon, jangan menyerah atas semua impianmu. Kau sungguh orang yang sangat beruntung memiliki tujuan. Tidak semua orang bisa memiliki hal spesial tersebut. Dan aku salah satu diantaranya”
Marko tertawa. Tawa yang tidak bisa terdefinisikan. “Bagaimana bisa aku melanjutkan impianku? Aku bahkan sudah diberhentikan sejak aku masih mengenakan seragam putih. Aku juga tidak diperbolehkan mengikuti latihan.”
“Aku.” Aku terdiam sejenak. Kini mataku menatap tajam ke arahnya. “Aku akan mengajarimu, Marko. Mengajarimu semua yang sudah kupelajari.”
“Kau bodoh! Memangnya boleh mengajari salah satu murid daftar gelap?” Ia berseru ketus. Namun, aku masih bisa melihat harapan yang tergantung di wajahnya.
“Tentu saja boleh. Asal itu murid sepertimu.” Aku menjawab dengan tegas. Walau sebenarnya aku tahu ada larangan untuk mengajari murid daftar gelap.
Seketika Marko menangis. Tangisannya tak lebih seperti anak kecil yang tersesat. Ia menghampiriku, memberi hormat. “Senior, aku... Aku akan mematuhi semua perintahmu! Aku akan mengikuti semua arahanmu!”
Esoknya, sesuai janjiku, aku mengajari Marko semua yang aku pelajari. Kami melakukan semua ini secara sembunyi-sembunyi. Hanya ada satu tempat yang dimana kami tidak dapat diawasi. Yaitu di dalam kamar. Karena dia memiliki masalah pada pernafasannya, aku membuat latihannya lebih ringan. Aku juga mengajari cara mengatur dan menyembuhkan masalah pernafasan. Ruzdora pernah mengajariku cara memberikan pertolongan pertama pada seseorang yang memiliki gangguan pernafasan. Ruzdora juga memberikan obat herbal yang mampu menghilangkan rasa sesak. Tentunya teh tak sedap tersebut. Teh yang sudah tidak pernah aku teguk lagi. Aku menyuruh Marko meminumnya. Dia tetap menurut walau dengan terpaksa.
Kami melakukan aktivitas ini di waktu senggang atau di malam hari. Sejauh ini Marko belajar dengan cepat. Aku cukup mengulangi satu gerakan beberapa kali dan dia sudah mampu menguasainya. Mungkin tekadnyalah yang membuatnya demikian. Hubungan kami mulai dekat. Aku tidak lagi menjulukinya sebagai teman sekamar yang misterius. Justru aku sendiri yang masih menyandang gelar tersebut.
“Senior, sebenarnya berapa usiamu?” Marko sudah tidak lagi menunggu aku yang terlebih dahulu menyapa atau bertanya. Ia bertanya di tengah latihannya.
__ADS_1
“Enam belas” Aku menjawab singkat.
“Enam belas?” Dia terlihat terkejut. Memastikan kembali.
Aku mengangguk.
“Eh, itu artinya Senior lebih tua dua tahun dariku. Maaf atas semua sikap tidak sopanku!” Entah sejak kapan dia menjadi sentimental seperti ini. Terkadang hormatnya padaku sangat berlebihan. Namun aku juga terkejut mengetahui dia lebih muda dua tahun dariku. Pantas saja terkadang dia terlihat kekanak-kanakan.
Hari berlalu dengan cepat. Tidak terasa sudah dua tahun lamanya aku berada di Akademi Langit. Tahun ini adalah tahun terakhir pembelajaran untukku. Setelahnya aku akan diangkat menjadi salah satu prajurit. Aku masih belum memutuskan akan menjadi apa. Sesekali Marko memberi usul. Aku sering sekali merasa malu jika dia memberiku usul dengan wajah semangat. Aku merasa diriku tidak pantas berada di Akademi Langit. Akhirnya aku memutuskan menjadi prajurit garis depan.
Soal traumaku? Tentunya sudah hilang jauh-jauh hari. Aku bahkan pernah melakukan simulasi bertarung dengan robot tersebut. Aku sama sekali tidak ketakutan. Mungkin keseharianku di Akademi Langit membantuku melupakan kenangan buruk tersebut. Mengubah rasa takutku menjadi sebuah kekuatan. Ditambah rasa maluku terhadap Marko mebulatkan tekadku. Aku akan menjadi prajurit garis depan.
Kini aku tengah menghadapi tes terakhirku di Akademi Langit. Yaitu simulasi pertempuran. Para murid yang akan diujikan dikumpulkan di sebuah hutan buatan. Kami akan mengerahkan semua hasil latihan kami di hutan tersebut. Peraturannya sederhana, kami diminta untuk menuju sungai yang berada di ujung hutan. di dalam hutan tersebut dipenuhi jebakan dan juga tiruan dari RP-2 yang telah diberi cat berwarna merah, barang siapa yang terkena cat tersebut akan langsung gagal. Kami hanya dibekali sebuah senapan. Itupun hanya ada sepuluh peluru.
Sekali lagi aku tidak kesulitan menghadapi ujian ini. Aku pernah menghadapi yang sebenarnya, tentunya membuat simulasi ini seakan hanya sebuah batu loncatan bagiku. Aku mampu menyelesaikan ujian dalam kurun waktu setengah jam.
Besoknya hari kelulusan sekaligus serah terima jabatan untukku telah tiba. Kami diberi sertifikat dan kartu tanda pengenal Akademi Langit sebagai bukti kelulusan kami. Hanya ada lima orang saja yang berani mengajukan diri menjadi prajurit garis depan. Marko memberiku selamat.
“Senior, aku sungguh berterima kasih atas semua bimbinganmu selama ini. Seperti katamu dulu, soal jangan menyerah. Aku pasti tidak akan menyerah walau itu artinya aku harus berada di Akademi ini selamanya. Aku pasti akan mewujudkan impianku dan menyusulmu berada di garis depan.” Marko mengatakan kalimat tersebut dengan semangat walau sebenarnya terdengar sangat menyedihkan. Aku hanya mengangguk. Menghormati.
Marko membungkukkan badannya. Memberi penghormatan. Aku masih tidak terbiasa dengan sikap hormatnya padaku. Aku memutuskan menyentuh pundaknya, menggeleng tidak perlu. Dia kembali ke posisi semula.
“Marko, aku bukan lagi seniormu. Kau tidak perlu memberi penghormatan apapun lagi untukku. Sebagai gantinya aku hanya minta satu hal padamu. Jika suatu hari aku kembali dan meminta tolong padamu, maukah kau membantuku?”
Marko tersenyum. Dia terlihat sangat senang. “Tentu saja, Senior! Aku dengan senang hati membantu!”
Aku mengusap wajahku. Dia masih saja memanggilku dengan sebutan senior. Tapi aku membiarkannya. Tidak tega menegurnya.
Seluruh murid, tidak kami bukan murid lagi. Seluruh calon prajurit dibawa menggunakan bus. Kami akan dipindahkan ke Markas Pasukan Keios. Jaraknya cukup jauh dari Akademi Langit. sekitar tiga jam perjalanan. Markas tersebut berada di jantung Kota Keios. Tidak seperti Akademi Langit yang berada di tepi kota. Aku menatap Gedung Akademi Langit untuk terakhir kalinya. Bus mulai menjauh, membelah jalanan. Meninggalkan jutaan kenangan yang tersimpan di tempat itu. Aku pasti akan merindukan hari-hariku di sana.
__ADS_1
“Selamat tinggal Akademi Langit. Selamat tinggal Marko.” Ujarku dengan suara lirih.