
Selama perjalanan Victor menjelaskan padaku berbagai hal tentang Kota Pandai Besi. Salah satu bangunan paling simbolis dari kota ini adalah bangunan raksasa dengan 700 lantai yang terletak tepat di jantung kota. Bentuk bangunan tersebut seperti tangan raksasa yang menggenggam sebuah bor. Tempat itu merupakan perusahaan tambang. Aku bisa menyaksikan bangunan tersebut dari kejauhan.
Victor memberiku berbagai informasi mengenai pusat perbelanjaan, layanan kesehatan, tempat bermain, dan berbagai fasilitas di kota ini. Perjalanan menjadi tidak membosankan. Hingga aku telah tiba di tempat tujuan. Sebuah bangunan yang paling sederhana di antara bangunan-bangunan megah yang kusaksikan sepanjang perjalanan.
Bangunan tersebut besar layaknya sebuah gudang raksasa. Hanya saja terlihat seperti bengkel yang telah terbengkalai lama. Dinding besinya dipenuhi karat yang berwarna kecokelatan. Berbagai barang tergeletak sembarang di depan bangunan.
“Semoga hari anda menyenangkan.” Victor berdenting pelan. Lantas berlalu meninggalkanku yang tengah berdiri di hadapan bangunan usang tersebut sembari memasang wajah bingung.
Aku memutuskan untuk mengetuk gerbang bangunan tersebut. Begitu aku mengetuknya, aku bisa mendengar suara ketukanku menggema di dalam ruangan. Suaranya sangat memekakkan telinga dan membuatku ngilu. Aku mengernyit. Apa benar Tatu tinggal di tempat ini?
Hingga gerbangpun terbuka. Suara besi yang bergesekkan dengan lantai cukup untuk membuatku menutup kedua telingaku sembari bergidik ngeri. Gerbang terbuka sempurna, sebuah robot kecil seukuran kucing yang terlihat tidak proposional menyambutku. di tubuhnya tergantung dua tangan yang menjulur sampai ke lantai. Membutanya terlihat seperti menyapu lantai. Kepala robot tersebut berbentuk persegi panjang dan hanya menayangkan sebuah ekspresi sederhana berwarna biru terang. Wajahnya terlihat senang.
“Aku ingin bertemu dengan Tatu. Apakah dia tinggal di sini?” Aku bertanya ragu.
Robot tersebut hanya mengeluarkan suara dengung yang tidak bisa kujelaskan. Dia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya. Kurasa dia baru saja menyuruhku untuk mengikutinya. Aku mengikutinya. Bau besi berkarat memenuhi ruangan yang dipenuhi barang rongsokan. Beberapa lumut dan tanaman liar bahkan merambat di sela-sela lantai dan dinding bangunan yang retak. Hingga aku mendengar keramaian di salah satu ruangan. Apakah itu Tatu?
Robot kecil itu menuju ke ruangan tersebut. Aku hanya berdiri di depan ruangan. Tidak berani mengintip. Benar saja, suara berisik tadi berasal dari Tatu. Dia tergopoh-gopoh mendatangiku dengan peluh yang membasahi wajah. Mukanya terlihat kotor. Dia menggunakan sarung tangan usang dipenuhi dengan oli. Baunya bahkan lebih buruk dari pada besi berkarat.
“HAHAHA! Lihat siapa yang datang!” Tatu menghampiriku dan menepuk keras bahuku.
Aku mengernyitkan dahi. Pukulan keras tadi cukup membuatku mengelus bahuku. Padahal aku baru saja sembuh. Bisa-bisa dia menggeser kembali tulangku yang baru saja patah. Aku bahkan sedikit kesal begitu mengetahui oli yang ada pada tangannya membekas di bajuku seperti sebuah stampel berbentuk tangan.
“Mari ikuti aku!” Tatu melambaikan tangan besarnya. Mengajakku memasuki sebuah ruangan.
Keramaian semakin terdengar. Tampaknya Tatu tidak tinggal sendirian di bengkel raksasa ini. semakin aku masuk, semakin banyak benda-benda aneh yang bergerak-gerak tidak stabil. Semua benda itu didominasi dengan warna cokelat karat. Beberapa bahkan mengagetkanku. Tatu hanya mengomel setiap kali ada benda nyasar yang melayang ke arahnya. Dari tempat ini aku bahkan bisa menilai karakter Tatu.
Di ruangan besar dengan berbagai benda aneh dan berkarat, aku menjumpai empat orang aneh dengan berbagai alat tidak wajar yang melekat di tubuh mereka. Salah satunya ada Natania, dan sisanya tidak kukenal. Salah satunya duduk di atas kursi roda. Dia memakai masker dengan selang yang tersambung ke kursi roda yang dilengkapi dengan empat tabung. Sosok tersebut terlihat sangat tua dan sepuh. Mungkin usianya lebih tua beberapa puluh tahun dari Ruzdora. Dua orang lagi adalah pria kekar bermata sipit. Mereka berdua terlihat kembar dan rambut mereka berwarna kemerahan dengan model jabrik. Kedua tangan mereka dilapisi besi yang dilengkapi dengan beberapa senjata yang melingkar. Mereka semua tampaknya tengah berdebat. Entah mempermasalahkan apa.
__ADS_1
“Hei! Kita kedatangan tamu...” Tatu mencoba menghentikan perdebatan mereka.
Mereka tetap berdebat. Tidak menghiraukan ucapan Tatu. Tatu menggeram sejenak. bersiap mengeluarkan suara terbesarnya. Aku menutup telingaku. Kebisingan ini bisa membuatku menjadi gila.
“AKU BILANG KITA KEDATANGAN TAMU!!!” Suara Tatu menggelegar. Membuat lampu-lampu yang tergantung di langit bergetar. Suara besarnya membuat keempat orang itu terhenti seperti boneka pajangan. Menyisakan suara lampu yang berayun ke sana kemari.
Tatu berdeham sejenak. “Sambut teman kecil kita, anak dari Batrice Clue. Namanya Lian Clue.”
Mereka bergegas menghampiriku. Kecuali Natania. Dia sudah bertemu dua kali denganku. Tentu saja ini bukan sesuatu yang baru. Namun bagi tiga orang lainnya, itu tentu mengejutkan mereka.
Pria tua di atas kursi roda memicingkan mata ke arahku. Menatapku dengan tatapan menerawang. Aku melirik ke arah Tatu lalu kembali menatapnya.
“Ini aneh, seingatku anak Batrice tidak sebesar ini.” Ujar pria tua itu sembari memegangi maskernya.
“Hei! Kau keren, Bung!” Dua orang kembar berambut merah tersebut menepuk bahuku bersamaan. “Tapi kau terlalu kurus untuk ukuran remaja laki-laki.” Ujar mereka berdua nyaris bersamaan.
Apa mereka baru saja menghinaku? Dan hei! Bisakah mereka tidak menepuk bahuku? Aku yakin tulangku akan bergeser jika diperlakukan seperti ini terus menerus.
“Walau aku lebih suka dipanggil Tuan Ador. Hanya saja orang-orang di sini sama sekali tidak pernah menghargai pria tua ini. Sial! Padahal usiaku nyaris satu abad.” Ador bersungut-sungut sembari mengarah ke meja yang dipenuhi benda-benda aneh berkarat.
Tatu tertawa pelan, “abaikan saja pria tua itu. Dia memang selalu terobsesi pada dirinya sendiri. Lalu dua kembaran bermata sipit ini bernama Jin dan Jun. Agak sulit memang membedakan mereka berdua. Tapi kau akan segera tahu perbedaan mereka dari rambut mereka. Jin berambut jabrik sedikit mengarah ke kanan sedangkan Jun mengarah ke kiri.”
Aku mengangguk, begitu Tatu menjelaskan hal tersebut, aku segera tahu mana yang Jin dan mana Jun.
“Tatu, kau bilang kau akan membawa orang aneh yang mirip seperti kita. Tapi aku tidak melihat adanya keanehan di tubuhnya?” Tanya Jin dengan wajah polos.
Jun mengangguk. “Aku sudah memeriksanya dan mengitari tubuhnya, tapi tidak ada yang aneh darinya.”
__ADS_1
“Tentu saja dia juga aneh, maksudku aneh dalam artian lain.” Tatu kembali tertawa.
Astaga! Apakah mereka tengah menghinaku atau bagaimana? Aku yakin tadi Tatu menyebutku aneh dalam artian lain. Apa maksudnya?
“Akan aku tunjukkan kepada kalian.” Tatu beringsut dan mengambil sebuah alat berbentuk kotak dengan moncong seperti ujung spuit. Dia membalik badanku dan menempelkan alat tersebut tepat di belakang leherku.
Alat tersebut sangat efisien. Menampilkan secara utuh bentuk dari Emotional Modifer. Aku bahkan baru tahu jika alat tersebut terlihat seperti chip dengan enam kaki yang merambat di bagian tulangku. Alat tersebut seukuran ibu jari pria dewasa dengan warna biru menyala. Dulu Ruzdora pernah menunjukkan padaku bentuk dari alat tersebut, hanya saja tidak sedetail dan serumit proyeksi milik Tatu.
“Ini sungguh EM?” Tanya dua kembaran tersebut bersamaan.
Ador yang sempat tidak tertarik kembali mendekati Tatu dan mengambil alat berbentuk kotak tersebut secara kasar. Dia memicingkan matanya dan mengocok-ngocok alat tersebut.
“Kau yakin benda rongsokan ini tidak rusak?” Ador mengernyit tidak percaya.
“Enak saja! Alat ini masih berfungsi dengan baik sejak delapan tahun yang lalu. Aku bahkan memakainya untuk memeriksa sakit lambungku dengan alat ini.” Tatu berseru tidak terima.
Wajah Ador yang terlihat tidak ramah berubah menjadi berseri-seri. “Astaga! Ini kabar bagus! Kau, kau bisa menyelamatkan kita, Nak.” Ador menunjuk ke arahku.
Natania yang awalnya terlihat tidak peduli mendekat ke arah Ador. “Aku sudah bilang, kan? Tapi kau menganggap cerita ini palsu. Dia benar-benar anak dari Batrice Clue. Dia sama persis seperti dulu, tidak memakai masker kemanapun.”
Kata-kata Batrice mengingatkanku pada suatu hal. “Tunggu sebentar! Jika EM memblok ingatanku, mengapa aku masih bisa ingat jika aku tidak memakai masker sejak usiaku lima tahun?”
Ador menyeringai. “Tentu saja alat itu tidak sepenuhnya memblok ingatanmu, Anak Muda. Alat itu hanya menyaring beberapa ingatan yang sekiranya tidak diinginkan tubuhmu. Lantas menahannya di dalam alat tersebut.”
“Itu artinya, apakah aku bisa melihat kembali kenangan-kenangan tersebut?”
Tatu tertawa terbahak-bahak. “Tentu saja kau bisa, apa gunanya aku menyuruhmu ke sini jika kami tidak bisa memecahkan masalahmu. Lagi pula kami membutuhkan otakmu. Eh, maksudku bukan benar-benar mengambil atau membelah otakmu, kami hanya ingin ingatanmu. Yah, kau tahu itu hanya sekedar kiasan, kan?”
__ADS_1