
Aku kembali ke penjara. Meletakkan pemberian Ruzdora di ruang tengah. Vero dan Bundara sepertinya masih bekerja. Aku tak mendapati mereka di ruangan manapun. Setidaknya aku menikmati kesunyian ini.
Aku kembali mencerna setiap perkataan Ruzdora. Aku benar-benar penasaran siapa yang menanamkan alat di dalam tubuhku. Dan untuk tujuan apa? Jangan-jangan Zenzen mencariku untuk mendapatkan alat yang ada dalam tubuhku? Aku menghela nafas, begitu banyak hal yang tidak kumengerti.
Sekitar satu jam kemudian, Vero dan Bundara telah kembali. Penampilan mereka terlihat berantakan, terutama Bundara. Tubuhnya dipenuhi tanah.
“Woh! Kau sudah kembali lebih dulu, Lian. Hei! ngomong-ngomong apa yang ada dalam keresek ini?” Vero bertanya penasaran. Menunjuk keresek pemberian Ruzdora. “Apakah ini pemberian Dokter Ruzdora?”
Aku mengangguk.
“Bukankah ini teh? Boleh aku mencobanya?”
Sekali lagi aku mengangguk.
Selain kamar, di penjara ini juga terdapat dapur. Tahanan bisa memasak sesuka hati mereka jika mendapatkan upah berupa benda atau bahan makanan dari hasil pekerjaan mereka. Seperti Vero yang mendapatkan sayuran dan Bundara mendapatkan ember.
“Bundara, kau hari ini sangat tidak beruntung, ya? Kau hanya mendapatkan ember.” Ujar Vero meledek sembari menunjukkan hasil pekerjaannya.
“Kau pikir ember tidak ada gunanya? Ini juga benda penting, terutama untuk urusan mencuci baju. Kau sendiri, memangnya kau bisa mengolah sayur tersebut? Bulan lalu saja saat kau mau mencoba memasak, kau malah membakar dapur. Membuat prajurit kewalahan. Lihatlah akibatnya! Kau mendapatkan hukuman tambahan. Kau mau mendekam di sel lantai sembilan?” Bundara membalas kalimat Vero. Dia tidak terima dikatai tidak beruntung.
Vero mengerutkan wajah. Dia baru saja dipermalukan.
“Heh, aku ini pria yang tak mudah menyerah. Jika aku gagal, aku hanya perlu bangkit kembali. Akan aku buktikan dari teh ini.” Vero beranjak, mulai memasak air panas. “Kau lihat baik-baik, Bun! Aku akan membuatmu takjub karena aku adalah miracle man”
Vero menyeduhkan air panas ke dalam gelas, kemudian memasukkan teh. Mengaduknya dan menambahkan gula.
“Silahkan!” Vero menyodorkan teh tersebut ke Bundara.
Bundara mulai meminumnya. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
“BWEH! APA-APAAN INI? KAU MENGERJAIKU, YA?” Bundara berteriak galak. Matanya melotot. Dia jelas kesal sekali.
“Eh, aku sudah membuatnya sepenuh hati, loh. Kau pasti berbohong , ya?” Vero menjawab santai. Dia tidak tahu jika rasa teh tersebut benar-benar tidak enak.
“Kalau gitu, kau coba sendiri!” Bundara memberikan teh tersebut. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi ke kamar tidurku. Sebenarnya aku penasaran apa yang akan terjadi setelah ini. Pasti akan lucu melihat mereka bertengkar. Namun aku malas jika ditanyai apapun soal teh tersebut.
“HWUEK! Teh apa ini? Rasanya tidak enak. Pasti ada yang salah dengan teh ini.” Vero berujar sembari memasang muka masam.
“Kau saja yang tidak benar membuatnya!”
Pukul 23.00
Aku terbangun dari tempat tidurku. Aku hanya mampu tertidur dalam waktu satu jam. Mungkin efek dari teh Ruzdora membantuku, namun tidak sepenuhnya. Gelang di tanganku tidak berbunyi.
Aku memutuskan untuk minum. Merilekskan tubuhku. Berharap aku bisa melanjutkan tidurku. Aku tidak mau meminum teh pemberian Ruzdora lagi. Untuk satu tegukan saja rasanya aku mau muntah. Dan yang membuat aneh, semakin ditambah gula, semakin tidak enak.
Aku berjalan ke arah dapur, namun langkahku terhenti. Aku melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu penjara. Wajahnya tidak begitu terlihat. Jeruji besi menutupi penglihatanku. Aku memutuskan untuk mendekati sosok mencurigakan tersebut.
__ADS_1
Aku terkejut, begitu juga dengan sosok tersebut. Sosok tersebut ialah gadis yang dipanggil Nona Kei. Wajahnya terlihat kaku.
“A, aku kemari untuk memeriksa keadaanmu. Bagaimana? apakah obat pemberian Ruzdora membantu?” Suaranya bergetar. Dia pasti merasa canggung.
“Obat itu hanya membantuku tidur dalam satu jam. Setelahnya aku juga tidak bisa tidur. Nona Kei sendiri?” Aku bertanya.
“Ja, Jangan panggil aku dengan nama itu! Panggil aku Jora saja. Bukankah dulu kau memanggilku demikian?” Dia memotong kalimatku. Wajahnya terlihat semakin kaku.
Aku menghela nafas. Aku tidak punya ingatan apapun tentangnya. Hal ini membuatku merasa menyedihkan. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Sebisa mungkin tidak memicu ia membicarakan soal masa lalu.
“Kau sendiri tidak tidur?” Aku bertanya singkat. Sebagai jawaban dia hanya menggelengkan kepala. Suasana hening sejenak.
Aku mengambil posisi duduk sembari bersandar ke dinding sel. Jora juga ikut duduk. Tampaknya dia ingin membicarakan sesuatu.
“Apa kau nyaman tinggal di penjara untuk sementara? Jika tidak, aku akan meminta Ayahku untuk mengurangi masa tahananmu.”
Aku menggeleng. Menolak tawarannya. Saat ini penjara adalah tempat terbaik untukku. Selain itu aku juga merasa tidak enak dengan Vero dan Bundara.
“Soal Liana, kami sudah memakamkannya di tempat yang layak.”
Tanganku mulai bergetar. Saat mendengar namanya saja, separuh kekuatanku seakan menghilang. Aku menahannya, berusaha sekuat mungkin tidak menunjukkan kelemahanku. Seperti kata Ruzdora, aku harus menerima.
“Jika kau mau, kau bisa mengunjungi makam adikmu. Aku akan memintakan izin ke petugas penjara seperti aku meminta izin agar gelang di tanganmu tidak berbunyi saat malam hari. Aku tahu kau tidak bisa tidur setelah mengalami kejadian kemarin.” Dia mulai prihatin. Kini aku tahu alasan mengapa gelang di tanganku tidak berbunyi
Aku menghela nafas panjang. Pembicaraan ini masihlah sensitif bagiku. Separuh diriku ingin mengunjungi makamnya sedang separuhnya lagi tidak ingin. Butuh waktu lama untuk menerima segalanya bagiku.
“Bagaimana kau tahu nama adikku?” Aku memutuskan bertanya.
“Saat kau kemari, gerbang utama memberikan informasi semua tentangmu. Juga tentang keluargamu. Aku yang mendaftarkan namamu delapan tahun yang lalu. Itulah sebabnya kau bisa masuk kemari.”
Jadilah malam itu malam perbincangan kami berdua. Sesekali kami terdiam, mencari topik untuk dibicarakan. Jora yang lebih banyak bercerita. Setidaknya ini mengurangi rasa sedihku atas kehilangan. Walaupun aku masih belum bisa menceritakan kisahku padanya.
Hari esok datang begitu cepat.
Seperti biasa, gelang ditanganku mulai berbunyi.
“Waktu untuk bangun. Jika anda tidak mematuhi peraturan yang berlaku, kami akan menambah hukuman anda.”
Aku sudah lebih dulu bangun sebelum gelang di tanganku berbunyi. Tentu saja karena aku tidak tidur semalam. Namun anehnya, gelang itu masihlah berbunyi. Apakah alat ini rusak?
“Oi! Vero! Bangun!” Suara Bundara terdengar dari kamar Vero. Tampaknya suara tadi bukanlah berasal dari gelangku. Melainkan milik Vero.
“VERO!” Bundara berseru lebih galak. Membangunkan Vero dari mimpi indahnya.
Vero meregangkan badan. Terlihat santai. “Sialan kau, Bundara! Aku baru saja bermimpi bertemu dengan gadis cantik. Dia benar-benar tipeku. Rambutnya kecokelatan dengan mata hijau cemerlang. Dia datang kemari dan menungguku di depan penjara”
GLEK! Apakah dia baru saja membicarakan Jora?
__ADS_1
“Tapi dia sangat mirip sekali dengan putri Walikota Keios. Gadis itu juga tampak berbincang dengan seseorang. Hmmm.. mungkin saja orang itu aku.”
“Siapa juga yang peduli soal mimpimu. Dasar aneh!”
Pukul 08.00
Aku mendatangi rumah Ruzdora. Dia telah menyambutku di halaman rumahnya. Kali ini penampilannya terlihat kusut.
“Aku sudah menunggumu, Nak. Kali ini aku akan memindai kembali tubuhmu. Hanya untuk memastikan apakah semua analisisku benar.”
Aku mengangguk. Hari ini aku lebih bersemangat. Tidak seperti kemarin.
Aku kembali berbaring di tabung pemindai. Cahaya kehijauan menyiram tubuhku selama lima menit. Hasilnya tetap sama, monitor menunjukkan kembali gambar alat yang tertanam dalam tubuhku. Lebih tepatnya melekat di belakang tulang leherku. Ruzdora mengangguk. Tersenyum puas. Dia merasa analisinya tidak sia-sia.
“Baiklah, Nak. Akan aku jelaskan fungsi dari alat ini.”
Aku menunggu tidak sabaran. Semoga hal alat ini bisa menjadi jawaban dari semua pertanyaanku.
“Seperti yang kujelaskan kemarin. Alat ini berfungsi sebagai pemblok ingatan. Kemungkinan besar alat ini ditanam saat 10 tahun. Mungkin saja kau memiliki kenangan yang sangat buruk, Lian. Kenangan yang membuatmu bisa menjadi gila saat usiamu sepuluh tahun.”
“Ada dua dugaanku yang bersangkut paut dengan kenangan burukmu. Yaitu tragedi kebangkitan RP-2 alias Robot Penjaga Perbatasan dan tragedi ledakan nuklir. Dua kejadian tersebut terjadi enam tahun yang lalu. Yang berarti saat itu usiamu 10 tahun. Karena hal itulah yang membuat Nona Kei juga tidak bisa tidur.”
Sekarang aku tahu alasan Jora menggelengkan kepala saat aku menanyakan kenapa dia tidak tidur. Jelas dia memiliki trauma dalam kehidupannya. Mungkin bisa jadi lebih parah dariku. Dia memiliki ingatan itu, ingatan soal kebangkitan RP-2 dan ledakan nuklir. Membekas dipikirannya dan menjadi trauma sepanjang hidupnya. Entah aku harus bersyukur atau tidak dengan adanya alat pemblok ingatan dalam tubuhku.
“Lalu fungsi lain dari alat tersebut ialah sebagai ketahanan tubuh. Tidak kah kau merasa aneh dengan lukamu?”
Aku berpikir. Tunggu sebentar! Bukankah aku memiliki luka di lenganku saat kejar-kejaran dengan RP-2. Aku baru sadar luka tersebut sudah sembuh.
“Luka di tubuhmu sembuh dengan cepat akibat dari alat tersebut. Alat tersebut membantu regenerasi selmu dan menyembuhkan lukamu. Aku benar-benar terkejut saat menemukan fakta ini, Lian. Alat ini benar-benar dibutuhkan di dunia ini.”
“Fungsi berikutnya sebagai kekuatan. Aku sudah mendengar soal ini, Lian. Dimana kau memukul salah satu prajurit dan membuatnya terpental beberapa meter. Aku bahkan dibuat tertawa dengan wajahnya yang lebam. Alat ini memanipulasi ototmu. Membuatnya puluhan kali lebih kuat dari manusia biasa. Hasilnya kau memiliki kekuatan yang di luar akal sehat manusia. Membuatmu layaknya super hero.”
“Dan fungsi berikutnya ialah, kau mampu membuka seluru gerbang di penjuru dunia. Inilah keuntungan sekaligus kekurangannya. “ Wajah Ruzdora berubah serius. “Jika alat itu bisa membuka seluruh gerbang di dunia, itu artinya orang jahat juga akan mengincarmu, Lian. Terutama pasukan bandit. Itulah mengapa aku menyarankanmu untuk merahasiakan hal ini. Siapapun bisa jadi akan menggunakanmu sebagai alat penguasa dunia. Bahkan lebih parahnya lagi, kau bisa kehilangan oarng-orang berharga di sekitarmu.”
Aku menelan ludah. Apakah Zenzen membunuh keluargaku demi mendapatkan alat yang tertanam pada tubuhku? Aku menunduk. Itu artinya aku sangat tidak senang dengan alat yang ada di dalam tubuhku.
“Ruzdora, tidak bisakah kau mengeluarkan alat ini? Aku tidak ingin orang lain tersakiti.” Aku bertanya lirih.
“Maafkan aku, Lian. Aku tidak ingin kau membunuh dirimu sendiri. Bahkan alat tersebut juga seperti nyawamu. Jika kau mati, alat tersebut tidak akan berfungsi. Mau bagaimanapun, nyawamu lebih penting dari pada alat tersebut.” Ruzdora berujar sedih. Dia paham dengan situasiku. Dia paham dengan keadaanku.
“Aku sudah bilang padamu, Lian. Sepahit apapun kehidupanmu, kau harus menerimanya. Hampir semua orang juga memiliki kenangan buruk tentang kehilangan. Mau tak mau kau harus melanjutkan hidupmu, Lian.” Ruzdora mencoba menghiburku.
Tubuhku terasa lemas. Kenyataan untuk terus hidup membuatku bingung. Aku tidak punya tujuan, bagaimana bisa aku akan melanjutkan kehidupanku sedang seluruh keluargaku sudah tiada? Bukankah itu artinya aku egois?
__ADS_1