Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
NOMADEN


__ADS_3

“Pesawat kalian sudah jadi, tapi tidak secanggih yang kalian inginkan. Peralatan dan bahan kami sangat terbatas.” Arrow yang tengah berjalan di lorong-lorong kapal menjelaskan.


“Apa maksudmu, Arrow?” Aku bertanya penasaran.


“Kalian akan tahu begitu melihatnya.


Kami terus menelusuri lorong dan tiba di sebuah ruangan layaknya basement. Sebuah pesawat terparkir mengambang beberapa meter dari lantai. Bentuknya lebih kecil dari pada Falcon. Warnanya abu-abu metalik dengan bentuk setengah lingkaran yang sedikit gepeng. Dibawahnya terdapat empat turbo dan beberapa senjata.


“Jika kalian tidak suka, aku akan menyuruh anak buahku untuk merombaknya.”


“Bisakah kami memasukinya?” Vero menyela. Dia yang lebih mengerti soal mesin. Tentu saja hanya dia yang bisa menilai.


Arrow mengangguk, lantas memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan pesawat tersebut. Seketika, turbo pesawat perlahan menghilang. Pesawat tersebut berpijak dengan anggunnya. Mengeluarkan empat tumpuan. Sebuah ruangan terbuka dan tangga menjulur dari dalam ruangan. Kami semua memasuki pesawat. Setidaknya di dalam cukup luas. Ruangannya tidak jauh berbeda dengan Falcon.


Kami mulai menuju ruang kabin dan ruang kemudi. Vero mulai mengutak-atik beberapa tombol. Mempelajari fungsi dari tombol-tombol tersebut. Dia mengangguk-angguk dan tersenyum.


“Ini sudah lebih dari cukup, Arrow.”


Arrow tertawa. “Syukurlah, jika kalian puas, aku juga ikut puas. Namun, pesawat ini menggunakan bahan bakar. Kami tidak bisa membuatkan panel surya seperti yang kalian inginkan. Anak buahku kurang mengerti bagaimana cara membuatnya. Jadinya mereka membuatkan pesawat ini menggunakan bahan bakar sebagai pembangkit listriknya.”


“Eh, bahan bakarnya dari apa?” Vero bertanya dengan nada ragu.


“Avtur. Avtur adalah crude oil  atau bisa disebut dengan minyak mentah. Namun minyak itu harus lebih dulu melalui proses refining. Yaitu proses penyilangan minyak sehingga mendapatkan sifat-sifat optium dari minyak tersebut dan menghasilkan bahan bakar yang sebenarnya. Dalam satu kali pengisian membutuhkan 5000 liter  untuk tujuh jam.”


Aku menepuk jidat. Itu banyak sekali. Dan bagaimana cara kita mendapatkan bahan bakar sebanyak itu jika seandainya pesawat kami kehabisan bahan bakar. Kami semua mendesah pelan.


“Hei! Tentu saja aku sudah mengisi pesawat kalian untuk satu minggu ke depan. Jangan bersedih hati, Nak. Jika kurang, kami bisa memberikan kalian cadangan lainnya. Kami ini tinggal di tepi laut. Kami bisa dengan mudahnya mendapat ratusan atau ribuan liter minyak lagi jika kalian mau. Tapi itu membutuhkan beberapa hari lagi. Kami harus melalukan proses refining terlebih dahulu.”


Aku terdiam sejenak. Tidak bisa. Waktu kami tinggal dua bulan lagi. Kami tidak bisa berlama-lama di tempat ini. bisa-bisa kami gagal dalam menjalankan misi.


“Arrow, apakah ada cara lain untuk mendapatkan bahan bakar tersebut?”


Arrow memegangi dagunya. Berpikir sejenak. “Ada! Kalian mungkin bisa mendapatkannya dari kota-kota terdekat. Jika kalian pergi ke arah utara maka kota yang paling dekat dari tempat ini adalah Kota Parit. Jaraknya sekitar empat hari jika menggunakan pesawat.”


Baikalah. Setidaknya kami bisa tenang soal bahan bakar.


“Kalau begitu, kami harus pamit, Arrow.”


“Kalian akan pergi sekarang?”


Aku mengangguk. “Misi kami sangat penting. Kami harus segera menyelesaikannya.”


Arrow menatap kami satu persatu. Tersenyum tipis. “Kalian semua sungguh anak-anak pemberani. Aku pasti akan merindukan rombongan ini.”


“Arrow, apakah kau tahu kota mati bernama Batana?”


“Hmmm... Kota mati, ya? Aku tidak terlalu tahu, Nak. Kota mati selalu dicoret dan dihapus dari peta. Aku hanya tahu beberapa kota mati, tapi aku tidak pernah mendengar yang namanya Batana. Maafkan aku, Nak.”


Aku mengangguk. Aku akan kembali pada petunjuk pergi ke arah utara.


“Tapi, bagaimana cara kami untuk lepas landas? Aku tidak bisa menemukan satupun gerbang yang cukup untuk membuat pesawat tersebut lepas landas” Marko mengangkat tangannya, bertanya.


Arrow kembali tertawa. Astaga, sudah berapa kali aku melihatnya tertawa. Sejauh aku mengenalnya, dia selalu tertawa seperti itu. Padahal tidak ada yang lucu.


“Kau terlalu meremehkan kami, Anak Muda. Walau kami nelayan bukan berarti kami  ketinggalan zaman. Jalan keluar pesawat ada di atas kalian.”


Seketika, atap kapal terbuka. Fondasi-fondasinya bergerak cepat. Mengeluarkan suara dentuman dan desingan. Dalam tujuh menit, atap kapal terbuka sempurna. Menampakkan langit biru yang bersih. Kami bergegas memasuki pesawat. Langkahku terhenti sejenak. Menatap Arrow untuk terakhir kalinya. Dia tersenyum dan mengepalkan tangannya. Menyemangati. Aku mengangguk, membalas dengan kepalan tangan terangkat. Lantas memasuki pesawat.


Vero mulai menyalakan mesin. Kaki pesawat mulai terlipat. Turbo-turbonya menyala gagah. Pesawat mulai mengambang beberapa meter. Kami bisa melihat Arrow melambaikan tangannya disusul seluruh anak buahnya. Pesawat mulai melaju. Meninggalkan tempat itu.


“Ada yang membuatku penasaran. Jika Arrow punya teknologi secanggih itu, kenapa dia tidak membuat pesawat untuk dirinya sendiri dan para pemduduknya?” Jora memecah lengang.


“Mungkin dia punya alasan tersendiri.” Bundara mengangkat bahu. Matanya tengah asik menatap pemandangan di bawah sana.


Vero mengangguk setuju. “Bisa saja dia sudah jatuh cinta pada pantai. Ingat tidak sewaktu dia mengajak kita bermain di hari pertama kita datang? Wajahnya terlihat senang sekali menatap sunset. Dan sepertinya tempat tersebut tidak terjamah oleh Robot Penghancur, Eh... Maksudku RP-2. RP-2 sepertinya tidak menyukai air. Makanya mereka tidak mengicar tempat-tempat yang banyak airnya.”


“Dasar sok tau! Kalau begitu seharusnya air menjadi solusi menghancurkan RP-2 dari dulu!” Bundara menjitak kepala Vero.


Vero mengaduh kesakitan. Mengomel. “Kan aku hanya bilang jika RP-2 membencinya. Bukan berarti mereka bisa mati karena air!”

__ADS_1


“Dari pada RP-2, ada yang membuatku lebih penasaran.” Marko bercelutuk. Menghentikan pertengkaran Bundara dan Vero.


Kami serempak menoleh ke arahnya.


“Kenapa oarang-orang sangat antisipasi dengan para bandit dibandingkan RP-2? Misalnya di Kota The-pi. Mereka tidak terlalu memfokuskan senjata mereka untuk menghancurkan RP-2, tapi lebih untuk para bandit. Dan yang berikutnya adalah tempat Arrow.”


Jora mengangguk. “Aku tidak terlalu menyadari hal itu. Tapi sepertinya, orang-orang lebih membenci bandit dari pada RP-2. Apakah para bandit  lebih kejam dari pada RP-2?”


Aku menelan ludah. Soal bandit, tentu saja aku pernah bertemu langsung dengan mereka. Bahkan dengan pemimpinnya.


“Ada baiknya kita menghindari pertemuan dengan mereka.” Aku menambahi.


“Tapi kami tidak tahu seperti apa mereka. Teknologi seperti apa yang mereka miliki, dimana saja jaringan dan antek-antek mereka, dimana tempat mereka tinggal, dan kendaraan macam apa yang mereka miliki. Kita tidak tahu ciri-ciri mereka. Aku sedikit menyesal tidak menanyakan soal bandit kepada Arrow.” Vero mengeluh.


“Tapi mau bagaimana lagi, Arrow sepertinya tidak ingin membicarakan tentang para bandit.” Jora mencoba menenangkannya.


Kabin hening. Menyisakan suara pesawat yang berdesing pelan.


“Aku tahu seperti apa mereka.” Aku menunduk. Meremas jemariku.


Seketika, semua pandangan tertuju padaku.


“Nama pemimpin mereka adalah Zenzen. Mereka merampas barang-barang berharga beserta makanan secara paksa. Bahkan, mereka bisa saja membunuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.” Aku berujar dengan suara datar.


Ruangan kembali lengang. Mereka semua menatapku dengan tatapan prihatin. Entah apa yang  mereka pikirkan.


“Bagaimana jka kita membicarakan hal lain saja? Topik soal bandit sungguh tidak menyenangkan.” Vero mencoba membelokkan pembicaraan.


“Aku setuju! Lihatlah! Ada segerombolan angsa melintas di samping kapal!” Bundara berseru sembari menunjuk ke arah luar. Padahal itu bukan angsa, melainkan segerombolan burung bangau putih.


Aku mendesah pelan. Kenyataan bahwa aku masih belum bisa menceritakan masa laluku membuatku terbebani.


“Tidak apa-apa, Lian.” Jora menepuk pelan bahuku.


 


 


 


 


Tiga hari kemudian.


“Kapten, ada sesuatu di bawah sana!” Marko yang awalnya tengah asik menatap pemandangan berseru terkejut.


Kami serempak menyaksikan hal apa yang ditunjuk Marko.


Astaga! Itu sekumpulan bangkai Rp-2. Area itu terlihat berantakan. Pepohonan tumbang, tebing-tebing runtuh, dan ada asap dimana-mana. Itu artinya seseorang, bukan! Sebuah pasukan pasti tengah bertempur dengan RP-2.


“Vero, terbang lebih rendah!” Aku memberi perintah.


“Siap!”


Pesawat berdesing. Aku bisa menyaksikan bangkai-bangkai RP-2 tersebut dengan jelas.


DUAR!


Kami baru saja mendengar suara dentuman yang sangat keras. Dentuman itu bahkan membuat pesawat terguncang. Vero menaikkan pesawat sedikit lebih tinggi. Takut jika ada senjata yang akan menghancurkan pesawat. Kami tidak ingin kejadian yang sama terulang seperti saat berada di Kota The-pi.


“Apakah asal suara tadi berasal dari Kota Parit?” Jora berujar lirih.


“Bukan, Kota Parit masih jauh. Radar di pesawatku menangkap segerombolan benda tengah bergerak. Banyak sekali jumlahnya.” Vero menjelaskan.


“Lalu, apakah itu bandit?” Kali ini aku yang bertanya.


“Aku tidak tahu.” Vero menggeleng pelan. “Tapi yang jelas, RP-2 tengah mengejar gerombolan benda yang bergerak itu.”


Tiba-tiba, radio di pesawat kami tidak sengaja menangkap sebuah sinyal.

__ADS_1


“Zzzzzzzttttt... KAMI BUTUH BANTUAN DI SINI! RP-2 BARU SAJA MENGHANCURKAN BAGIAN MOBIL KAMI!”


“TENANG SAJA! SEBENTAR LAGI KITA AKAN SELAMAT!”


Kami semua terdiam mendengar suara tersebut. Dari kalimatnnya, tampaknya mereka dalam bahaya.


“Lian, tampaknya mereka bukan bandit. Bagaimana jika kita mencoba memeriksanya.” Jora memberi saran.


Aku mengangguk. Menyetujui saran tersebut. Meminta Vero untuk mendekati gerombolan tersebut. Pesawat melesat dengan cepat.


Jora benar. Mereka bukan para bandit. Kendaraan mereka berbeda jauh dengan kendaraan milik para bandit yang kutemui dua tahun lalu. Kendaran mereka berbentuk van dengan beberapa senjata yang menggantung di sisinya.


Mereka tengah dikejar oleh gerombolan RP-2. Setiap kali robot tersebut menyentuh mobil, senjata tersebut otomatis melepaskan tembakan. Membuat robot-robot tersebut hancur berkeping-keping.


Radio di pesawat kami kembali menangkap sinyal. Kali ini lebih jelas. Tampaknya mereka tengah dalam situasi kritis. Aku mendengar jeritan perempuan dan anak-anak. Aku segera meminta Vero untuk melepaskan tembakan ke arah robot-robot tersebut. Dia mengangguk. Menghentikan laju pesawat. Mengaktifkan senjata.


DUAR!


Tepat sasaran. Senjata kami berhasil menghancurkan kelompok robot-robot tersebut. Membuat mereka hancur tak tersisa. Namun kami mendapatkan masalah lain. Bahan bakar pesawat berkurang drastis. Vero mengeluh. Kami terpaksa mendarat.


Kami mencari tempat luas yang datar. Lantas mendarat di atasnya.


“Aku tidak tahu jika melepaskan tembakan membuat bahan bakar pesawat berkurang drastis. Jika begini, kita tidak bisa melanjutkan perjalanan.” Vero menanggapi.


Astaga. Ini sungguh situasi yang buruk. Ternyata penggunaan bahan bakar lebih ribet dari pada panel surya. Jika bahan bakar habis, otomatis kami tidak akan bisa melanjutkan perjalanan. Kami sibuk berdebat dan mengemukakan pendapat kami masing masing. Hingga terdengar suara gemuruh berdatangan. Kami bergegas mengambil senjata kami.


Hei! Itu bukan robot. Itu adalah sekumpulan mobil yang kami selamatkan tadi. Mereka mendekati pesawat kami. Lantas dalam waktu lima menit, mobil-mobil mereka mulai berubah bentuk layaknya sebuah rumah. Tunggu sebentar! Aku pernah mendengar mobil yang bisa berubah bentuk dari Happy. Jangan-jangan mereka suku nomaden.


Mereka keluar dari rumat tersebut satu persatu. Beberapa ada yang mendekati pesawat kami.


“Tenang saja! Kami tidak akan menyakiti kalian! Kami bukan Bandit!” Ujar salah satu dari mereka.


Kami mulai membuka pintu pesawat. Aku tidak mengenakan helmku. Aku juga takut kalau mereka menyangka kami adalah bandit. Bukankah hal itu yang selalu terjadi pada kami?


Mereka menyambut kami. Tersenyum dan menjabat tangan kami.


“Aku sungguh berterima kasih atas pertolongan kalian. Suku kami sangat menjunjung kebaikan sekecil apapun. Bahkan senyuman tipis yang diberikan orang lain pada kami harus dibalas. Jadi kami ingin membalas kebaikan kalian.” Salah satu pria paruh baya melangkah ke depan. Tersenyum ramah.


“Bisakah aku meminta bahan bakar?” Vero berceletuk. Bundara menyikut bahunya.


“Hahaha, tentu saja. Pesawat kalian pasti menggunakan bahan bakar avtur. Kami memilikinya. Tapi membutuhkan waktu untuk mengisinya. Sementara itu, kalian bisa beristirahat di tempat kami. Tapi, aku sarankan kalian untuk sering tersenyum dengan penduduk kami. Mereka tidak suka dengan orang-orang berwajah sangar ataupun suram.”


Aku menelan ludah. Tersenyum di hadapan orang asing lebih berat dari pada mengalahkan RP-2 bagiku. Selama ini aku selalu tersenyum di belakang. Vero dan Jora tidak mengalami masalah. Tinggal aku, Marko, dan Bundara. Kami adalah kumpulan orang kaku yang sulit tersenyum dengan orang asing.


Vero tertawa terbahak-bahak menatap kami bertiga yang tersenyum kaku. Terutama Bundara. Dia tersenyum, namun wajahnya terlihat seperti preman yang tengah mengintimidasi lawannya. Bundara berseru marah, menjitak kepala Vero. Menyuruhnya untuk menghentikan tawanya.


Aku sungguh dibuat takjub oleh suku tersebut. Mobil-mobil mereka benar-benar disulap menjadi sebuah rumah. Bahkan beberapa rumah memiliki toko dan lampion-lampion jingga yang indah. Jika kau melihat sekilas, kau tidak akan menyadari jika rumah-rumah tersebut adalah sebuah mobil.


Para penduduk tersenyum ramah. Beberapa anak kecil berlarian di sekitar kami. Lantas kabur begitu melihat wajah seram Bundara. Bundara berseru tertahan.


“Sebenarnya kalian ini siapa?” Jora bertanya penasaran.


“Kami suku yang suka berpindah-pindah tempat atau bisa disebut nomaden. Sebenarnya kami bukan suku, hanya sebuah kelompok. Namun-namun orang lebih sering menyebut kami suku. Kami menggunakan teori migrasi untuk berpindah tempat. Saat ini kami tengah menuju daerah hangat untuk tinggal selama beberapa bulan. Biasanya kami mengikuti arah burung-burung yang berterbangan.”


“Kalau misalnya kalian hidup berpindah-pindah seperti itu, mengapa kalian tidak menggunakan pesawat saja.” Marko memberi saran.


Pria itu menggeleng. “Kami semua lebih suka melakukan perjalanan menggunakan mobil. Entahlah, ini semacam tradisi. Kami sangat menikmati petualangan yang memicu adrenalin. Lagipula, biasanya kami bisa dengan mudah mengalahkan RP-2. Namun untuk hari ini, entah mengapa kami kesulitan. Tapi berkat bantuan kalian, kami bisa selamat. Aku sungguh berterima kasih.” Dia menunduk hormat sembari memasang senyum lima senti.


“Apakah kalian pernah mendengar kota dengan nama Batana?” Aku tidak melewatkan kesempatan untuk menanyakan hal tersebut. Mereka penduduk nomaden, itu artinya mereka pasti pernah mengunjungi berbagai tempat.


Seketika. Langkah pria tersebut terhenti. Dia memegangi dagunya. Terlihat sedang mengingat sesuatu.


“Sepertinya aku pernah mendengarnya. Tapi bukan sebuah kota. Melainkan sebuah kelompok.”


Aku mengerjapkan mataku. Nyaris melompat kegirangan.


“Benarkah? Bisakah kau memberi tahu kami detailnya?” Jora berujar penuh harap.


Pria tersebut mengangguk. “Tentu saja, tapi akan lebih baik jika kita membicarakannya di dalam tendaku. Sementara itu, para penduduk akan mengisi bahan bakar pesawat kalian.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2