
Kami mulai berdiri di sisi lapangan. Musuh terberatku mungkin adalah Bastian. Dia memiliki keunggulan dengan kaki buatannya. Namun jika aku tidak mencoba maka aku tidak akan pernah tahu.
“Kalian akan aku beri waktu untuk menenangkan diri dan mencoba untuk membiasakan perangkat milik kalian masing-maisng.”
Aku mengangguk paham. Aku butuh pembiasaan pada mode sederhana ini. Rasanya sedikt berbeda. Gerakanku menjadi agak kaku dan lambat. Tapi seperti yang dikatakan Ador sebelumnya. Semua itu hanyalah pengaruh dari pikiran kita. Jika aku bersugesti buruk dan menganggap tubuh ini lebih lemah dari tubuh sebelumnya, itu hanya akan berdampak buruk pada alat bantu tersebut. Inti dari pengendalian ini merupakan kekuatan pikiran.
Mudah sekali merumpamakannya. Misalnya, seseorang yang tengah duduk dan menyimak sebuah mata pelajaran yang tidak disukainya hanya akan termenung dan cepat lelah. Otak mereka berpikir jika mereka tidak bisa menguasai bidang tersebut dan berdampak buruk pada tubuh mereka secara alami. Mereka akan cepat lelah dan mengantuk dalam pelajaran tersebut. Berbeda halnya jika seseorang menyukai suatu pelajaran dan memahami setiap kalimat yang disampaikan pengajar kepada mereka. Otak mereka akan dengan mudah menagkap semua pelajaran tersebut dan hal itu berdampak baik pada tubuh mereka. Mereka tidak lelah atu merasa tegang selama pelajaran berlangsung. Justu merasa sangat santai dan menikmati pelajaran tersebut.
Lima menit berjalan dengan cepat. Aku berusaha memberikan sugesti baik pada tubuh bionikku. Menenangkan pikiranku dan hanya fokus pada pengendalian.
“Baik, waktu pemanasan telah habis. Ambil posisi kalian masing-masing.”
Kami mulai berjajar rapi seperti barisan tentara yang siap berperang.
“Peraturannya sederhana. Lari mengelilingi lapangan ini sebanyak lima kali. Tidak ada yang boleh memotong jalan. Kalian harus benar-benar mengitari lapangan. Saling jegal dan tarik-tarikkan juga tidak diizinkan. Siapapun yang bisa mencapai garis finis terlebih dahulu, adalah pemenangnya. Aku akan menghitung sampai tiga.”
Kami mulai mengambil ancang-ancang. Ador mulai menghitung.
“satu...”
Keringat dingin mulai mengucur dari keningku.
“Dua...”
Aku memantapkan posisi kakiku sembari menarik nafas panjang. Sedikit saja pikiranku kacau, aku hanya akan berada dalam masalah.
“Tiga!”
Tepat pada hitungan tersebut, kami semua serentak berlari sekencang mungkin. Bastian sudah melesat di depan. Disusul beberapa anak-anak lainnya. Aku berada di urutan paling belakang. Hal ini membuat pikiranku sedikit kacau dan jantungku berdegup dengan kencang. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku terus menenangkan pikiranku bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa wajahku. Melihat anak-anak di depan hanya akan mengacaukan pikiranku. Yang harus aku lakukan saat ini adalah, memandang jauh sampai aku tidak lagi mendapati siapapun berdiri di hadapanku. Cara ini berhasil, aku telah melewati satu dua anak. Kakiku bergerak semakin kencang. Putaran pertama terlewati.
Tersisa delapan orang di hadapanku. Aku terus melakukan metode yang sama. Kali ini mencoba menambahkan cara baru. Aku tidak hanya terfokus pada kecepatan kakiku. Aku mencoba untuk membagi fokusku pada kedua tanganku. Kuayunkan secepat mungkin dengan posisi badan tegap dan ujung jari-jari yang dirapatkan. Tiga orang terlalui. Sisa lima orang. Putaran kedua terlewati.
Membagi pikiran seperti ini memang cukup sulit. Aku tidak akan membiarkan siapapun berada di depanku dan mencoba untuk menjatuhkanku. Ambisi besar inilah yang mendorongku untuk terus berlari maju. Aku mencondongkan tubuhku ke arah depan. Semakin mempercepat laju kaki dan ayunan tanganku. Dalam sudut seperti ini aku bisa mempercepat lajuku dan meringankan tubuhku. Dua orang terlalui. Putaran ketiga terlewati. Sisa dua putaran lagi. Kali ini di depanku tersisa tiga orang. Aku belum merasa lelah sedikitpun. Mungkin jika aku masih menggunakan tubuh asli, aku akan kalah dalam perlombaan ini.
Ini sulit sekali, mereka bertiga adalah tiga orang senior yang sudah lama tinggal di laboratorium ini. Tentunya mereka yang paling lama dalam penggunaan tubuh bionik dan memiliki pengendalian yang lebih unggul dibandingkan yang lainnya. Walau demikian hal itu tidak akan menyurutkan api semangat di dalam hatiku. Aku semakin cepat dan mencoba memfokuskan kekuatanku pada tubuh bagian bawah. Sedikit demi sedikit aku mulai mensejajari dua orang terbelakang. Mereka berdua berusaha menghalangiku dengan merapat. Membuatku tidak bisa menemukan celah untuk menyalip.
“Baiklah, jika kalian ingin bermain pintar akan aku ladeni.”
Sejatinya posisiku sangat diuntungkan. Jika mereka sesekali melihat ke belakang, konsentrasi mereka hanya akan pecah . Mereka akan lebih sibuk menghadangku agar tidak bisa berada di garis depan. Hal itu akan berdampak pada kecepatan laju mereka. Semakin mereka terfokus padaku, semakin besar peluangku untuk bisa menyalip.
Aku mulai berlari zig-zag. Sesuai dugaanku, jika aku mengarah sedikit ke kiri, mereka akan ikut ke kiri. Jika aku mengarah ke kanan, mereka akan ke kanan. Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Jika ada celah sedikit saja, akan aku terobos secepat mungkin.
Tepat ketika putaran ke-empat nyaris berakhir, dua orang didepanku membuat celah di bagian kiri. Aku dengan cepat melesat dan merentangkan kaki bionikku selebar mungkin. Mereka berdua terkejut dan nyaris terjerembab. Aku yakin mereka tidak akan menduga jika aku berhasil melalui celah kecil tersebut.
Tersisa satu orang di depanku. Tak lain ia adalah Bastian. Nafasku mulai tersengal. Rasa lelah mulai menghampiriku. Ditambah atmosfer tegang yang semakin mencekik, hanya tersisa satu putaran lagi dan inilah momen penentuan siapa yanag akan lebih dulu mencapai garis finis.
Aku terus berusaha memusatkan konsentrasiku pada tubuh bagian bawah semaksimal mungkin. Tidak akan kubiarkan ketegangan membuat konsentrasiku pecah dan mengacaukan rencana yang sudah kususun sejauh ini. Aku mengatupkan rahang. Keringat bercucuran deras dari keningku. Angin terasa sangat kencang menerpa wajahku. Membuat keringat-keringat di wajahku bercucuran bagai hujan. Sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi aku bisa menyajari langkahku dengannya.
Tepat ketika detik-detik terakhir kami mencapai garis finis, aku dengan cepat memperlebar langkah kakiku semaksimal mungkin. Aku memusatkan pikiranku tepat di ujung kakiku. Alhasil begitu Bastian nyaris menyentuh garis finis, aku melompat sejauh mungkin dan berhasil tiba di garis finis terlebih dulu. Tubuh kami berdua terjatuh karena kehilangan keseimbangan setelah berlari selama lima putaran. Aku terjerembab dan berguling-guling di tanah. Membuat kepulan debu beterbangan di sekitar kami. Melihat hal itu Ador bergegas menghampiri.
__ADS_1
“Kalian berdua baik-baik saja?”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Ador. Dadaku terasa sesak dan nafasku menderu tidak beraturan., begitu juga dengan Bastian. Dia meringkuk di tanah dengan wajah dan tubuh bermandi keringat.
Hasilnya sudah diputuskan. Aku memenangkan perlombaan ini. Aku bisa menyaksikan wajah kecewa Bastian dan anak-anak lainnya.
“Aku sudah memberi tahu kalian dan menjelaskan semuanya. Bahkan kalian sendiri yang menyaksikanku mengubah pengaturan sistem tubuh bionik Zenzen di depan mata kalian. Sejatinya aku hanya berharap kalian semua bisa akrab dan saling mengerti.
“Tidak bisa!” Bastian berseru ketus.
Astaga... Keras kepala sekali anak itu. Padahal usianya sudah tujuh belas namun sikap dan karakternya masihlah seperti anak berusia tujuh tahun. Aku bahkan nyaris menepuk jidatku. Jika saja keadaannya tidak seperti ini, aku yakin aku sudah melesatkan tinjuku tepat ke hidungnya.
“Tuan Ador, kumohon beri aku kesempatan lagi. aku yakin setelah ini aku akan menunjukkan hasil yang lebih memuaskan.”
Hening sejenak. Ador menatap tajam ke arah Bastian. Suasana semakin tegang. Anak-anak lainnya menahan nafas. Kenapa dia harus membuat masalah ini menjadi lebih besar, sih? Ini sungguh menyebalkan.
“Bagaimana jika aku dan Zenzen bertarung satu lawan satu. Aku tidak ingin pertarungan seperti ini. Aku ingin kami benar-benar beradu tinju dalam satu arena.”
Ador mengusap rambutnya. Dia jelas sangat bingung menghadapi Bastian yang sangat bebal.
“Bastian, kau sudah kembali tenggelam pada masa lalumu.” Ujar Ador dengan nada dingin.
Bastian tampak terkejut dengan kalimat Ador. Matanya membulat dan tangannya mengepal.
“Sebenarnya tadi aku sudah berpikir bahwa kau akan memenangkan pertandingan ini. Tapi aku bisa melihat ada sesuatu yang memberati kakimu. Tatapanmu tidak seperti biasanya. Aku yakin pertarungan tadi mengingatkanmu dengan masa lalumu, kan?”
“Kita sudahi dulu untuk hari ini. Istirahatkanlah tubuh kalian dan jangan lupa untuk mengisi tenaga pada tubuh bionik kalian. Aku yakin karena perlombaan tadi membuat daya pada inti tubuh bionik kalian cepat terkuras dan habis. Pikirkan baik-baik apa kesalahan kalian masing-masing. Tidak ada pengecualian apapun.”
Kami semua mulai bubar. Semua anak tampak memasang wajah kecewa dan sedih. Tentu saja aku senang dengan hasil ini. Aku tidak pernah menyangka jika menjadi unggul dari yang lainnya membuatku sangat senang. Hal pertama yang sangat membuatku senang adalah melihat Bastian yang sangat terpuruk. Ada semacam kepuasan tersendiri yang menggebu-gebu dalam hatiku. Apakah ini yang dirasakan oleh orang-orang yang berada di atasku? Apakah mereka selalu tertawa atas keterpurukan orang lain?
Sore menjelang. Aku kembali termenung di pinggir lapangan sembari menatap langit. sejak bisa keluar dari kamar pasien aku selalu suka memandang langit sembari memikirkan berbagai hal. Terutama jika keadaan sedang sunyi. Aku suka sekali berangan-angan. Sudah menjadi bawaan sejak kecil. Berangan-angan selalu bisa menghiburku. Walau aku tahu semua itu hanya ilusi semata.
Formasi burung gagak tampak melintasi langit. Suaranya kicaunya terdengar nyaring memecah kesunyian. Kepakan sayap mereka cenderung kasar dan tidak beraturan. Sebuah bulu burung gagak melayang jatuh dan terkulai tepat di depanku. Aku mengambil bulu burung gagak tersebut.
“Zenzen, apa yang kau lakukan di sini?”
Aku menoleh dan mendapati seorang anak bertanya padaku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Bingung dengan situasi ini. Kenapa bisa ada seseorang yang bertanya lebih dulu padaku?
Dia adalah seorang gadis. Sejatinya tidak hanya aku yang paling muda di antara mereka. Namun aku belum tahu fakta itu setelah mengenal gadis yang kini berdiri di hadapanku. Aku selalu melihatnya bersama Bastian dan gengnya. Tentu saja aku menganggap dia lebih tua dariku. Fisiknyapun bahkan lebih tinggi beberapa senti dariku. Sisi mana coba yang tidak aku anggap usianya lebih tua dibandingkan usiaku.
“Kenapa kau mengajakku berbicara?” Aku bertanya ketus.
Gadis itu merengut. “Kau pikir aku mau berbicara denganmu?”
Aku mengangkat satu alisku. “Lantas mengapa kau bertanya aku sedang apa?” Aku menggeleng pelan lantas kembali menatap ke langit.
Gadis itu mengembungkan wajahnya sembari bersungut-sungut. Lantas hendak beranjak dari posisinya. Namun langkahnya terhenti. Dia kembali berbalik dan mendekat ke arahku.
“Apa lagi?” Aku bertanya tidak peduli.
__ADS_1
“Ada yang harus aku katakan kepadamu tentang Bastian.”
“Kenapa? Kau menyukainya.” Aku tersenyum sinis.
Gadis itu berseru salah tingkah. “Enak saja! Mana mungkin aku...”
“Sudah terlihat jelas di wajahmu.” Aku berujar santai sembari memutar-mutar bulu burung gagak dengan jariku. “Apa perlu aku buktikan? Akan aku ambilkan cermin dan akanku arahkan tepat di hadapan wajahmu.”
Gadis itu semakin kesal. Dia memegangi keningnya dan mencoba untuk bersabar. “Dengar, ya. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Suka? Kau pikir aku menyukainya?”
“Semakin kau menyangkal, semakin pula kau menunjukkan sebuah kebenaran. Berhentilah berpura-pura. Jika tidak ada yang penting, aku yang akan pergi dari sini.” Aku menatap tajam ke arahnya.
Hening sejenak. Menyisakan kesiur angin yang berhembus di sekitar kami. Rerumputan di tepi lapangan bergoyang pelan. Membuat suara gemerisik. Gadis itu mulai tenang.
“Benar, aku menyukainya. Karena aku menyukainya aku jadi membencimu.”
“Aku sudah tahu. Jika hanya itu yang ingin kau katakan, aku tidak punya urusan untuk berbicara denganmu. Pergilah selagi aku bicara baik-baik. kau hanya mengganggu ketenanganku.” Aku menanggapi dengan santai. Kembali fokus pada bulu burung gagak yang aku pegang.
Entah apa yang dipikirkan gadis itu. Dia malah duduk di sampingku. Aku reflek menjauh dan berseru ketus.
“Kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi, hah?”
“Kenapa? Kalau kau tidak suka seharusnya kau sudah beranjak dari tadi, kan? Ternyata kau juga ingin memiliki teman, ya?”
Aku mengatupkan rahang. Situasi ini sungguh menyebalkan. Tapi aku tidak mau kalah darinya. Tentu saja aku tidak mengalah dan bersikeras untuk tetap duduk di sini.
“Bastian itu sebenarnya adalah orang yang baik. Tapi kau membuatnya menjadi buruk di depan Tuan Ador.”
“Hei, percuma kau mengatakan hal itu padaku. Aku tidak akan pernah peduli.”
“Namaku bukan “Hei”, aku punya nama. Namaku A-RI-NA. Kau bisa memanggilku Ari.”
Aku hanya mendengus kasar tidak peduli. Masih sibuk memainkan bulu burung gagak yang kupegang sembari menopang dagu.
“Aku tidak peduli kau mau mendengarkanku atau tidak. Tapi, hah. Sejatinya aku sedikit iri padamu. Setidaknya kau bisa mendengar suara dengan jelas karena kau masih memiliki kedua telingamu. Tapi itu tidak penting. Toh, aku bersyukur bisa bertemu dengan Ador dan anak-anak lainnya. Bicara soal Bastian. Aku sangat mengerti mengapa dia sangat membencimu. Dia yang paling tua di antara kami. Dan fakta itu yang membuatnya berpikir bahwa dia adalah anak kebanggaan Tuan Ador dan harus menjadi yang paling unggul diantara yang lainnya. Karena itu dia sangat menghormati Tuan Ador dan tidak ingin sekalipun mengecewakannya.”
“Tapi kedatanganmu dua bulan lalu membuat Tuan Ador nyaris melupakan kami. Aku juga sempat menaruh rasa curigaku pada Tuan Ador yang mulai jarang menghabiskan waktu bersama kami. Dia lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Termenung selama beberapa hari. Bahkan Tuan Ador nyaris sakit karena tidak makan selama berhari-hari. Hal itu membuat kami sedikit kecewa padanya dan merasa kesal akan sikapnya. Bastian yang memberi kami pengertian. Mengatakan jika Ador tengah merawat seseorang. Hanya saja kami tidak pernah diberi tahu alasannya. Kami berusaha mengerti karena Bastian yang paling tua di antara kami.
“Tapi kami tahu, Bastianlah yang paling merasa terpukul. Kami tahu jika Bastian benar-benar ingin menjadi satu-satunya anak kebanggan Ador. Maka dari itu dia berlatih lebih keras dibanding siapapun. Hingga kau muncul dengan tubuh yang berbeda dengan kami. Tubuh bionik milikmu terlihat mewah dan sangat bagus. Melihat hal itu membuat Bastian sangat tertekan. Kenyataan bahwa Tuan Ador membuatkan alat yang lebih mutakhir dibandingkan milik kami pada anak baru sepertimu. Karena itu Bastian sangat membencimu. Tidak, lebih tepatnya dia membenci dirinya sendiri.”
Hening sejenak. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Benar-benar alasan yang sungguh konyol.
“Kalau begitu mengapa kau mengatakannya kepadaku? Kau bisa mengatakannya langsung ke Tuan Ador jika kalian keberatan. Buang-buang waktu saja.” Aku melempar bulu burung gagak dari tanganku. Angin sore bertiup. Membuat bulu burung tersebut melayang terbawa angin. Lantas menghilang ke balik bangunan.
“Ceritamu sederhana sekali tapi tampak dibuat berbelit-belit. Kalian hanya iri padaku namun menyembunyikannya dengan perasaan kalian semua melalui penghormatan kalian pada Tuan Ador. Kalau kesal pada Tuan Ador jangan dilimpahkan kepadaku, dong. Menyebalkan.” Aku beringsut dan menepuk-nepuk celanaku. Lantas meninggalkannya sendirian di tepi lapangan.
__ADS_1