
Tiga tahun berlalu.
Suasana stadion terdengar sangat ramai dan berisik. Langit biru dipenuhi dengan ledakan kembang api dan berbagai hologram. Berbagai petinggi akademi tampak duduk di salah satu ruangan kaca yang bentuknya sedikit condong ke depan. Seluruh murid akademi tampak bersorak dan menjagokan idola mereka masing-masing. Tidak ada media yang meliput, hanya berbagai drone yang melayang pelan di sekitar arena datar seluas lapangan sepak bola. Memang ada beberapa orang dan agensi yang bisa mengikuti agenda tahunan ini, tapi mereka tidak diizinkan untuk membawa gadget. Hanya sekedar kertas dan buku sebagai catatan. Ador juga menghadiri agenda penting ini karena satu alasan. Yakni menyaksikanku yang berhasil lolos ke babak final.
Usiaku sudah delapan belas tahun dan aku sudah cukup matang untuk menantang berbagai murid terbaik di Akademi Talenta. Bahkan murid kebanggan Cario juga ikut memeriahkan pertandingan ini. Dia sudah lulus sejak dua tahun yang lalu, walau begitu masih belum ada yang bisa mengalahkan kepintarannya dan kekuatan fisiknya. Entah apakah itu benar-benar murni karena kekuatannya atau memang tubuh bioniknya yang didesain secanggih mungkin.
Aku sudah melalui seleksi akademis kemarin dan berhasil melaluinya dengan nilai yang sempurna. Untuk sesi akademis tidak ditentukan siapa yang akan menjadi pemenangnya. Sejatinya agenda tahunan ini lebih ditujukan ke kemampuan fisik dibandingkan kemampuan akademis. Walau begitu tidak sembarang orang bisa melalui semua hal tersebut. Karena nilai akademis juga mempengaruhi penilaian dari pertandingan ini.
Namaku juga sudah terdengar di mana-mana. Selama tiga tahun ini aku mengikuti berbagai olimpiade dan pertandingan fisik lainnya. Melatih diriku sampai tiba saatnya mengalahkan “si Anak Multitalenta” itu. Dan hari ini aku akan memberi tahu namanya. Reifoi, seorang remaja laki-laki berusia dua puluh satu tahun. Sampai sekarang belum ada murid yang memiliki predikat setara dengannya. Namanya sudah dikenal di penjuru negeri. Tidak ada satupun orang yang tidak mengenalnya. Baik anak kecil maupun orang dewasa, baik tua maupun muda, semua orang mengenalnya. Dia menjadi tokoh inspirasi bagi anak-anak disabilitas. Dia pun melanjutkan sekolah di universitas terbaik di luar kota. Apalagi yang kurang darinya?
Tapi seperti yang Ador bilang. Semua itu akan terasa menyenangkan jika menjatuhkan seseorang yang sedang berada di puncak kesuksesannya dan tengah menikmati ketenarannya. Berkat anak bernama Reifoi itu, Cario menjadi semakin dikenal di mata dunia. Saat aku tengah melakukan agenda di luar akademi, sering sekali aku menyaksikan wajahnya di hologram-hologram raksasa yang ditayangkan di atas gedung-gedung tinggi. Berbagai produk tubuh bionik yang ia kenakan dibeli masyarakat dengan harga yang mahal sekali. mereka rela mengeluarkan uang bermilyar-milyaran demi membeli produk keluaran Cario. Perusahaannya semakin menggurita dan menjadi raksasa. Cario menjadi tidak terkalahkan oleh perusahaan tubuh bionik lainnya. Bahkan aku pernah mendengar dari Ador saat dia sesekali berkunjung ke akademi untuk sekedar menjengukku, tubuh bionik buatan Cario sudah dipakai oleh petarung ilegal yang diselanggarakan di daerah teritorial mafia. Tempat dimana aku bertarung dengan Badas.
__ADS_1
Soal Badas aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Selama ini aku juga diam-diam mencari informasi keberadaan Kudeta. Tidak hanya itu, aku juga mencari beberapa anggota kelompok pencuri lainnya. Tapi bagai jejak di atas pasir yang dihempas ombak, mereka tidak pernah kutemukan.
Hei! Jangan tanyakan padaku tentang si Pengkhianat itu. Aku memang mencari anggota kelompok pencuri tapi tidak untuknya. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk bertemu dengannya apalagi memaafkannya. Dialah penyebab sebenarnya kakakku tewas. Aku masih mengingat hari itu dengan detail. Membuat luka besar di hatiku yang tidak akan pernah sembuh walau waktu terus berjalan.
Terdapat sekitar dua puluh kontestan yang berhasil masuk pada babak final pertandingan fisik ini. Berbeda dengan pertandinganku tiga tahun yang lalu di kawasan mafia. Dalam pertandingan ini disediakan berbagai senjata dan senapan. Ini bukanlah pertarungan biasa yang hanya mengandalkan kekuatan fisik saja, karena itu seleksi akademis juga dilakukan.
Arena tersebut bahkan dibuat layaknya sebuah arena pertarungan sesungguhnya. Setiap peserta yang mengikuti pertandingan dibimbing oleh agensi mereka masing-masing. Karena event-event seperti inilah yang akan menentukan masa depan mereka dan masa depan agensi yang membawahi mereka.
Ada seorang murid yang pernah bertanya padaku mengapa aku tidak pernah mengikuti event besar ini pada tahun-tahun sebelumnya. Padahal ada kemungkinan jika aku bisa mengalahkan Reifoi sejak dulu. Kutegaskan sekali lagi, aku bukanlah tipe yang gegabah dan tidak sabaran. Bukankah menyenangkan jika memakan buah yang matang alami di pohonnya dibandingkan matang dengan cara kimia? Hal seperti itulah yang tengah aku terapkan sekarang. Menunggu buah masak di pohonnya. Dan begitu tiba saatnya, aku hanya perlu menjatuhkannya ke tanah bak dahan pohon yang telah rapuh.
Mari kita percepat saja kisah ini. Sangat mudah sekali ditebak. Bagiku kontestan lain hanya sebuah batu loncatan yang perlu aku lewati. Aku berhasil masuk pada babak final. Aku selalu menghancurkan setiap tubuh bionik milik lawanku. Agar semua orang tidak lagi meremehkanku. Satu hal yang paling kusukai pada setiap pertandingan ini adalah melihat wajah ketakutan mereka yang menyaksikanku berdiri dengan keadaan kedua tangan bionikku yang berasap.
__ADS_1
Hari ini para agensi bertanya-tanya dan saling berbisik dari mana aku berasal dan dari mana aku mendapatkan tubuh bionik ini. Aku yakin mereka tidak pernah menyaksikan tubuh bionik dengan model seperti ini. Hanya buatan Ador satu-satunya yang berbeda dengan tubuh bionik lainnya. Rata-rata perusahaan pembuatan tubuh bionik memiliki desain dan kegunaan serta dayanya yang nyaris mirip. Karena sebenarnya mereka memiliki patokan sebagai contoh untuk pembuatan tubuh bionik mereka. Patokan mereka tak lain adalah perusahaan milik Cario.
Akhirnya tibalah pertandingan final dari IFM. Agenda tahunan di Akademi Talenta.
Reifoi memiliki fisik yang nyaris serupa denganku. Tubuh bioniknya tampak berlapis baja dengan model elegan yang mengkilap. Di ujung kedua telapak tangannya, terdapat lingkaran cahaya berwarna keunguan yang juga menghiasi ruas-ruas jemarinya. Kedua kakinya dilengkapi semacam turbo mini yang berada tepat di bagian betis belakangnya. Hal itu berguna untuk mempercepat pergerakannya saat berlari. Dari segi model jelas tubuh bionik milik Reifoi menang. Dia mengenakan berbagai pelindung tubuh di bagian kepala dan dada yang terlihat mahal dan sangar. Walau begitu, aku sama sekali tidak merasa terintimidasi apalagi ketakutan. Aku malah merasa semakin ingin mengalahkannya. Menghancurkan karir serta harapannya yang telah dia bangun selama bertahun-tahun.
Tak perlu berlama-lama. Pertarunganpun dimulai. Seperti dugaanku, Reifoi akan bergerak sangat cepat menggunakan kedua kakinya. Dengan kecepatan itu dia bisa menyamai kecepatan seekor cheetah. Dia melesat cepat ke arahku. Aku tetap tenang dan menunggu momentum yang tepat. Begitu dia sudah mendekatiku, aku dengan cepat menunduk, merentangkan kaki kananku kebelakang dan mengayunkan tangan kananku. Tendangan Reifoi mengenai udara. Aku melesatkan tinjuku ke arah perutnya. Dia tampak terkejut dan berusaha menghindar. Aku tahu dia bisa bergerak dengan sangat cepat berkat kedua kakinya, karena itu aku melakukan gerakan tipuan. Aku dengan cepat melakukan tendangan sapuan yang kupelajari dari Badas dulu saat kami bertanding. Reifoi terjatuh, aku bergegas mengunci bagian kakinya dan menariknya sekuat tenaga. Reiofoi berteriak. Berusaha melepaskan kakinya dari cengkramanku. Dia mengaktifkan turbo di kaki kanannya sehingga membuatku melepaskannya.
Aku tidak memberinya celah sekecil apapun, dengan cepat kembali menerjangnya. Keseimbangan Reifoi tampak kacau. Aku bergegas mengaktifkan tenaga internal tepat di ujung telapak tangan kananku. Menargetkannya ke arah wajah. Reifoi tidak bisa menghindarinya. Begitu tanganku menyentuh helm miliknya, terdengar suara dentuman keras. Reifoi terpental beberapa meter. Ketika tubuhnya masih dalam keadaan melayang, Aku bergegas berlari dan menggunakan tinju mautku yang kusebut sebagai palu godam. Lantas menghantamkannya tepat ke arah punggung Reifoi. Armor bagian belakangnya hancur. Reifoi tergeletak di atas tanah. Tidak bergerak sedikitpun.
__ADS_1