
Sebagai tanda perlombaan dimulai, Arinalah yang akan meniup peluit. Kami berdua bersiap di posisi masing-masing. Tidak ada yang namanya keberuntungan. Aku harus benar-benar memenangkan pertandingan ini menggunakan seluruh kemampuanku.
Peluit berbunyi. Terdengar suara hentakan dari kaki kami. Bastian bergerak lebih cepat dibandingkan pertandingan sebelumnya. Dia berada beberapa meter di hadapanku. Konsentrasiku tidak akan pecah walau dia berada jauh di depanku. Justru aku sangat tenang saat ini. Mempercepat laju kakiku hanya akan membuatku tergelincir di atas licinnya tanah yang berlumpur.
Petir menyambar bertubi-tubi. Membuat sekitar kami berpendar dengan terang sesaat. Jarakku dan Bastian semakin menipis. Satu putaran telah terlewati yang itu artinya putaran ini adalah putaran penentuan. Langkahku tetap terjaga. Kucondongkan tubuhku sedikit ke depan. Kuatur nafasku sebaik mungkin. Walau hujan membuat mata perih dan sulit melihat, takkan kubiarkan tanganku mengusap tampias hujan yang mengalir dari keningku. Satu kesalahan hanya akan membutku kalah.
Kami nyaris tiba di garis finis. Saat itulah aku manfaatkan situasi tersebut. Aku mengerahkan seluruh pikiranku pada bagian kaki. Kenapa demikian? Karena aku tengah memanfaatkan perasaan Bastian. Semua orang pasti berpikir dirinya akan menang begitu mendekati garis finis. Namun perasaan itulah yang bisa membunuh seseorang. Menghancurkan angan yang sudah tercipta terlebih dahulu sebelum kenyataan terjadi. Karena hal itu akan memecah konsentrasi seseorang dan perasaan senang sudah lebih dulu menguasainya tepat sebelum mencapai garis finish.
Aku mengerahkan seluruh pikiranku. Kaki bionikku menderu kencang. Asap mengepul dari seluruh tubuh bionikku. Kubuat kakiku seminimal mungkin menyentuh tanah. Dengan demikian lumpur tidak akan terlalu mengganggu. Aku semakin dekat dengan Bastian. Ketika dia tepat berada di depan garis, aku dengan cepat melesat. Aku terseret beberapa meter karena licinnya tanah lapangan. Pertandingan selesai.
Bastian yang menyaksikanku sudah berada di seberang garis finis terdiam. Dia tersungkur di tanah. Tubuhnya kotor oleh lumpur. Aku yakin dia sangat terpukul sekali. Anak-anak lain hanya menganga, tidak menyangka aku akan memenangkan perlombaan ini untuk kedua kalinya. Arina bergegas menghampiri kami sembari membawa payung. Sementara itu aku mendekat ke arah Bastian sembari berdiri di hadapannya. Bastian memukul-mukul. Aku yakin dia masih tidak terima dengan kenyataan pahit ini.
“Kau! Ador pasti sudah mengubah mode tubuh bionikmu kembali seperti semula, kan? Atau dia menambahkan sesuatu tanpa sepengetahuan kami, kan?” Bastian menggeram marah. Matanya berkilat-kilat ditimpa cahaya petir.
Arina telah tiba menaungi Bastian dengan payung. “Bastian, ayo kita kembali.” Bujuknya dengan suara lirih.
Bastian menangkis sentuhan Arina. Tetap bersikeras untuk diam di tempatnya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Sungguh menjijikan rasanya melihat seseorang yang masih bertingkah seperti itu padahal umurnya sudah besar.
“JAWAB PERTANYAANKU JIKA AKU BERTANYA, SIALAN!” Bastian berteriak marah. Berusaha mengalahkan suara hujan yang menderu.
Aku tersenyum sinis. “Astaga... Kau sungguh kekanak-kanakkan sekali. Biar aku beri tahu perasaanku saat ini. Aku merasa sangat kasian padamu.”
“AKU TIDAK BUTUH SIMPATIMU!”
Aku menggeleng. “ Bukan, ini bukanlah simpati. Melainkan kalimat merendahkan.”
Petir menyambar galak. Suaranya memekakkan telinga. Angin kencang menderu-deru. Membuat butiran hujan terhempas ke sana kemari tak karuan.
“Lalu, hal kedua yang ingin aku sampaikan adalah kau telah kalah dari pertandingan kali ini hanya karena satu perasaan ambisimu yang akhirnya membuang-buang waktumu. Kau sudah merasa dirimu lebih unggul hanya karena kaki palsu baru tersebut. Kau merasa akan memenangkan pertandingan ini hanya karena kau sudah merasa lebih kuat dengan kaki sialan itu. Tapi disitulah letak kesalahanmu. Aku yakin kau sama sekali tidak bisa berkonsentrasi selama pertandingan tadi.”
Bastian berseru tertahan. Dia mengatupkan rahangnya. “Aku tidak butuh ceramahmu. Aku hanya ingin jawaban atas pertanyaanku!”
Aku kembali tersenyum. “Oke, kalau begitu aku akan langsung menjawab pertanyaanmu. Saat aku berlomba denganmu tadi, tubuh bionikku masih memakai mode sederhana sama seperti pertandingan kemarin. Sejatinya aku ingin meminta Ador segera mengembalikan ke mode sebelumnya. Namun begitu aku tiba di kamarnya, pria tua itu malah menceritakan kisah payahmu yang membuat sakit telinga. Jadi kesimpulannya adalah, aku mengalahkanmu dengan menggunakan mode sederhana. Bagaimana? Kau terkejut, bukan?”
Bastian membulatkan mata. Walau hujan membuat samar wajahnya, aku tahu saat ini dia sangat terkejut dengan fakta tersebut. Aku yakin dia sudah menangis sedari tadi setelah pertandingan usai. Aku bisa tahu dari suaranya yang terdengar bergetar dan nafasnya menderu tidak karuan. Arina kembali membujuknya untuk kesekian kali.
“Kau tidak perlu mendengarkan ucapannya, Bastian.” Arina berbisik pelan. Menggenggam ganggang payung dengan erat.
Bastian tidak mendengarkan perkataan Arina sama sekali. Dia masih syok dengan perkataanku.
__ADS_1
Aku tertawa pelan. “Arina, jangan menyebarkan virus tidak mendengarkan perkataan-mu kepada orang lain, dong. Orang ini harus mendengarkan perkataanku. Seseorang harus menyadarkannya dari halusinasi panjangnya tersebut. Bahwa dia bukanlah yang terbaik. Tapi dia adalah yang paling lemah. Dan akan terus menjadi yang terlemah!”
Hening. Hanya terdengar suara hujan disekitar kami. Bastian menunduk. Aku menghembuskan nafas sejenak. Lantas beranjak dari posisiku. Mulai menjauh darinya. Namun aku mendengar suara tapakan kaki yang sangat cepat mengarah mendekatiku. Aku dengan cepat berbalik dan mendapati bahwa tinju itu sudah berada di depanku.
Aku terguling, tubuhku menjejal tanah. Licinnya tanah membuatku terpental beberapa meter. Aku berusaha menghentikan laju tubuhku sebelum terpental lebih jauh dengan tanganku. Darah segar mengalir dari sudut bibirku. Sejatinya aku masih sempat menangkis pukulan tersebut. Namun karena terlambat menyadari, akibatnya bibirku terhantam oleh tanganku sendiri. Aku menyeka darah di bibirku. Pandanganku sedikit buram karena terkena lumpur dan derasnya hujan. Aku berusaha menerka-nerka apa yang telah tejadi.
Kusaksikan Bastian tengah berdiri. Gelapnya cuaca dan derasnya hujan membuatnya terlihat samar-samar dari kejauhan. Namun aku bisa menyaksikan asap mengepul dari tangan kanannya. Tidak salah lagi, itu sarung tangan tinju pemberian Ador.
“Bastian! Hentikan!” Arina berusaha menghentikannya.
Bastian tertawa getir dan menepis Arina dengan sangat keras. Tubuhnya terpental dan terkapar di atas tanah. Lantas tak bergerak. Anak-anak yang lain bergegas menghampiri Arina dan membawanya ke tempat aman.
Aku meludah. Mengeluarkan sisa darah yang ada di dalam mulutku. Ini situasi yang sungguh tidak terduga. Aku tidak menyangka jika Bastian membawa sarung tangan itu sedari tadi. Bastian mendekat ke arahku. Menunjukkan tangan kanannya yang sudah berbalut sarung tangan besi berwarna keemasan.
“Kau lihat itu? Ini sungguh luar biasa! Ini pemberian terbaik yang pernah aku terima! Kenapa Tuan Ador tidak pernah memberiku benda seperti ini, sih?” Bastian berteriak-teriak seperti orang gila. Tidak tersisa lagi raut wajahnya yang selalu tenang dan kalem. Dia telah menunjukkan sifat aslinya.
Aku berdiri dan menyeka lumpur yang memenuhi pakaianku. Tetap berusaha tenang walaupun aku tengah dihadapi oleh situasi tak terduga ini.
“Hei! Kurasa itu bukan hadiah terbaik untukmu. Menggunakan benda itu hanya akan membuatmu semakin lemah. Karena pukulan tadi bukanlah berasal dari kekuatan aslimu. Melainkan berasal dari sarung tangan tersebut.”
Bastian tersenyum getir. “Kita lihat apakah kau masih bisa mengucapkan kalimat-kalimat aroganmu.”
Kini giliranku yang melesat maju. Aku melakukan tendangan sabit tepat ke kepalanya. Bastian menghindar dan memutar tubuhnya. Menangkap kakiku dengan tangan kanannya. Lantas dengan kakinya, dia memusatkan tenaga dan menendang tepat ke arah perutku, aku menahannya dengan kedua tanganku. Walau demikian aku tetap terkena dampaknya. Jari-jari bionikku retak. Satu dua bahkan patah. Aku dengan cepat menggunakan sikutku untuk menghancurkan kaki miliknya.
Berhasil! Setidaknya kaki bioniknya mengalami sedikit keretakan. Kami berdua mundur beberapa langkah. Aku memasang kuda-kuda. Kami kembali saling menyerang. Aku harus melakukan sesuatu dengan sarung tangan milik Bastian. Setidaknya tanpa sarung tangan itu dia hanyalah Bastian yang biasa.
Aku menemukan celah. Jika aku menghancurkan mata palsunya, kemungkinan besar aku bisa membuatnya lengah dan mengambil sarung tangan tersebut dari tangannya. Aku mengincar bagian wajah. Bastian dengan cepat menahan tanganku dan kembali melesatkan tendangan. Aku menggunakan tangan kiriku untuk menahan tendangannya. Sial! Hujan membuat tanganku meleset. Kaki itu mengarah telak ke tubuhku. Aku tersungkur di atas tanah yang licin. Aku tidak bisa lagi menggunakan tanganku dengan maksimal saat ini. Beberapa bagian sudah retak dan hancur. Air hujan juga membasahi sirkuit yang ada pada tangan bionikku. Membuatku sedikit kesulitan untuk mengendalikannya.
Ini lebih sulit dibandingkan saat di tengah simulasi. Setidaknya jika di simulasi robot-robot itu akan memberi jeda sedikit jika terkena seranganku atau saling bertubrukan. Namun kali ini aku melawan seorang manusia yang sangat membenciku. Mana ada jeda waktu seperti itu. Yang ada dia menyerangku tanpa ampun sedikitpun, setidaknya sampai membuatku lumpuh tak berkutik.
Bastian melesatkan tinju ke arah wajahku, aku menghindar ke samping lantas mencoba melesatkan tinjuku ke arah wajahnya. Aku sangat yakin tinjuku akan mengenai tepat di mata palsunya. Sayangnya prediksiku salah. Bastian justru memanfaatkan kesempatan itu untuk meninju bagian perutku. Aku terpental. Wajahku kotor oleh licak lumpur. Aku belum sempat memantapkan kuda-kudaku. Bastian tidak memberiku waktu. Dia merengsek maju dan menendang tubuhku. Aku menahannya kembali dengan kedua tanganku. PRAAK! Tangan kanan bionikku hancur berkeping-keping. Menyisakan bagian lengan sampai ke bahu. Aku meringis kesakitan, tubuhku terbentur beberapa batu yang terpendam di dalam lumpur. Aku mengusap wajahku dengan lenganku. Wajahku sudah dipenuhi lebam dan goresan luka.
Aku dengan cepat berdiri dan memusatkan pikiranku tepat ke bagian kaki. Setidaknya dengan demikian aku bisa membuat hempasan dan damage pada tinjuku akan bertambah. Kali ini aku hanya bisa menggunakan tangan kiriku untuk meninju. Sementara lengan kananku akan aku gunakan sebagai tameng dan senjata tajam. Aku bisa menggores beberapa bagian tubuhnya dengan lengan kananku yang rusak. Cara itu berhasil, Bastian sedikit bingung meladeni seranganku. Ini sudah sangat parah. Kami berdua dihadapi oleh situasi antara hidup dan mati.
Aku melesatkan tendangan menyamping ke arah perutnya. Bastian menangkis dengan sarung tangannya. Aku dengan cepat berputar dan menggunakan tangan kiriku untuk memukul bagian wajahnya. Seranganku kali ini telak mengenainya. Bastian mundur beberapa langkah. Menyeka darah yang mengalir di bibirnya. Aku yakin itu pasti sakit sekali. karena aku sudah merasakannya tadi. Mau bagaimanapun kami tetaplah manusia. Jika bagian bagian yang tidak terlindungi terhantam oleh suatu benda yang keras itu sungguh terasa menyakitkan.
Bastian meludah dan menyeka pipinya yang lebam. Kembali maju dan menyerangku. Gerakannya sudah tidak beraturan. Jika saja aku bisa bertahan sedikit lebih lama, mungkin aku bisa memenangkan pertandingan ini. Aku melesatkan pukulan dari arah bawah ke dagunya sembari menggunakan lenganku sebagai pengalih perhatian. Bastian mulai kewalahan.
Ketika petir menyambar untuk kesekian kalinya, aku dengan cepat melesatkan tinjuku ke arah mata kanannya. Bastian terjatuh. Dia terdiam sejenak di atas tanah sembari menunduk. Kudapati mata palsunya telah hancur dan terjatuh kemudian berputar-putar sejenak di atas tanah.
__ADS_1
“Sudah berakhir.” Aku menghembukan napas. Membuat asap mengepul-ngepul di ujung bibir. Kuseka air hujan dan lumpur yang memenuhi wajahku.
Tapi Bastian tidak menyerah secepat itu. Dia mendorongku dan membuatku terjatuh. Aku hendak menghindar. Namun dia lebih dulu memukul-mukul wajahku dengan sarung tangan besi miliknya. Aku berlindung dengan kedua tanganku yang semakin rusak. Entah mengapa situasi ini mengingatkanku saat tengah bertengkar dengan kakak.
Aku terdesak. Aku tidak bisa memindahkan posisi tanganku sama sekali. Bastian terus menerus meninju tanganku. Hingga di pukulan kesekian, tanganku hancur tak bersisa. Tangan kanan Bastian melesat setinggi mungkin. Cahaya berwarna jingga tampak berpendar dari sela-sela ruas jemarinya. Mataku membulat, aku harus segera keluar dari situasi ini.
Tepat ketika tangannya hendak memukulku, aku menghindar ke samping. Kugunakan kakiku untuk menendang tubuhnya. Karena kehilangan mata palsunya, Bastian tidak bisa melihat dengan baik. Aku dengan cepat mengunci tangan kanannya dengan kedua kakiku, menguncinya sekuat tenaga lantas kutarik tangan besi itu dengan posisi kakiku yang menjepit tangannya. Berhasil! Sarung tangan besi tersebut lepas. Aku dengan cepat menendang sarung tangan besi itu menjauh dari kami.
“KEMBALIKAN!” Bastian berteriak marah.
Sebelum dia berhasil menggapai tangan besi miliknya, aku lebih dulu menghancurkannya dengan menginjaknya menggunakan kaki kananku. Aku berkonsentrasi sekuat tenaga. Kaki bionikku mengeluarkan asap. Walau tidak dalam mode bertarung, setidaknya aliran listrik pada kaki bionikku bisa aku manipulasi sesukaku. Aku mengarahkan aliran listrik itu tepat di bagian telapak kaki. Setelah kurasa semuanya terkumpul, kuhentakkan kakiku sekuat tenaga dan tangan besi tersebut hancur.
“TIDAAAAAKKKK!!!!”
Sudah selasai. Semua ini sudah berakhir. Kaki kananku juga hancur akibat tekanan yang aku berikan pada tangan besi tersebut. Aku terkulai di tanah dengan posisi menghadap ke langit-langit. Bastian menghampiri tangan besinya yang telah hancur. Terisak di bawah naungan hujan yang tak kunjung reda.
Kepalaku terasa sakit dan dari mulutku mengepulkan asap. Tubuhku mulai terasa dingin. Walau sudah sejak lama aku tidak pernah merasa dingin karena tubuh bionikku mengalirkan rasa hangat pada tubuh asliku. Aku melirik, menatap Bastian yang tengah menangis dan memeluk tangan besinya yang telah hancur. Saat ini aku tidak bisa bergerak kemanapun. Kaki kanan, tangan kanan, dan tangan kiriku telah hancur. Aku tidak bisa berjalan dengan satu kakiku. Apalagi kepalaku terasa sangat sakit karena mengerahkan seluruh pikiranku untuk memperkuat kaki kananku saat menginjak benda tersebut.
Naasnya, Bastian yang melihatku terkulai mulai mendekatiku sembari membawa bangkai tangan besi yang tersisa ke arahku. Aku tahu apa yang dia pikirkan saat ini. Dia akan membunuhku.
Bastian berjalan gontai. Mata kirinya menatap galak. Wajahnya yang penuh goresan luka dan licak lumpur terlihat sangat mengerikan. Ditambah petir yang menggelegar. Aku tidak bisa bergerak. Pasrah menatap Bastian yang mendekatiku sembari membawa tangan besi tersebut. Setidaknya dia masih memiliki anggota tubuh asli. Sedangkan aku? Apa yang kumiliki selain kaki kiriku yang masih utuh. Hanya saja tidak bisa lagi kugunakan karena daya listriknya yang semakin habis.
Bastian mengangkat bangkai tangan besi tersebut. Petir kembali menggelegar, membuat tangan besi itu mengkilat ditimpa cahaya kilat yang berpendar. Bastian dengan cepat mengarahkan tangan besi itu ke kepalaku.
“BASTIAAAAAN!!!”
Terdengan suara teriakan dari pinggir lapangan. Gerakan tangan Bastian terhenti. Nyaris mengenai kepalaku. Aku berusaha menoleh untuk melihat siapa yang tengah berteriak memanggil nama Bastian. Kudapati Ador berlari dengan tergesa-gesa sembari membawa payung.
Bastian melepas genggamannya pada tangan besi tersebut. Tampak syok dengan kedatangan Ador yang tiba-tiba. Aku semakin merasa kedinginan. Ador dengan cepat menaungiku dengan payung. Beberapa anak mulai memberanikan diri untuk mendekat ke arah kami. Jika dugaanku benar, seseorang sepertinya menghubungi Ador dan memberi tahu situasi ini.
“Tu..Tu.. Tuan, aku bisa jelaskan semuanya,” Bastian berujar gagap.
Ador hanya terdiam. Tatapan matanya terlihat kosong.
“Anak-anak, tolong bawa Zenzen ke ruang perawatanku.” Ador berujar lirih. Nada bicaranya terdengar sangat tidak ramah.
Seseorang menggendong tubuhku. Mudah saja baginya karena kini tubuhku sangat ringan. Aku berusaha melihat apa yang terjadi di antara Ador dan Bastian. Namun aku sangat kedinginan dan kepalaku terasa sangat pusing. Kemudian terkulai tak sadarkan diri.
__ADS_1