
Sebuah kota di tepi jurang. Begitulah yang kusaksikan.
Bangunan berbentuk batuan menjulang berjejer menuruni jurang. Membuat jurang seperti berundak. Bangunan tersebut di didominasi dengan warna cokelat disertai pepohonan yang tumbuh di beberapa bagiannya. Mungkin sebagai kamuflase. Jendela dan pintu tertutup rapat, melindungi mereka dari RP-2. Terdapat air terjun yang membelah kota dan membentuk kolam-kolam alami. Air terjun tersebut terlihat berkilau dan jernih. Suaranya menggema di tengah ngarai yang saling berhadapan. Beberapa pesawat, bukan, itu lebih terlihat seperti mobil dengan turbo di bawahnya. Mobil tersebut beterbangan di atas kota, mengantarkan barang dari gedung ke gedung.
“Uy! Jangan hanya melongo! Kita harus membawa temanmu ke rumah sakit.” Ujar salah satu dari mereka.
Aku mengangguk.
Kami menuruni anak tangga. Jumlahnya ratusan, atau ribuan mungkin? Entahlah, aku tidak sempat menghitungnya, kami harus bergegas, Marko butuh pertolongan. Begitu kami sampai di bawah, sebuah mobil terbang mengambang di hadapan kami. Kami bergegas masuk. Salah satu dari mereka mengatakan tempat tujuan, otomatis mobil melesat dengan cepat. Menuju rumah sakit terdekat.
Kami tiba di sebuah gedung tiga lantai. Bentuknya abstrak, lebih seperti batu raksasa. Salah satu gerbang terbuka. Mobil memasuki gedung dan mendarat di salah satu tempat parkir yang tersedia. Kami bergegas turun, tim medis sudah menunggu kedatangan kami. Mereka membawa tandu dan meletakkan Marko di atasnya, melepaskan helm dan memasang alat bantu pernapasan. Tentu saja fungsinya berbeda dengan tabung daur ulang oksigen.
Sementara Marko dirawat, kami beristirahat di ruang tunggu. Para pasukan hijau masih menemani kami. Aku menunggu dengan cemas keadaan Marko. Jika sesuatu terjadi padanya, aku akan menyalahkan diriku sendiri.
“Lian, sebenarnya ada apa dengan Marko?” Vero bertanya di sela-sela keheningan.
Aku terdiam sejenak. Aku belum cerita soal penyakitnya.
“Dia mempunyai penyakit.” Aku menjawab singkat.
“Kenapa kau tidak memberi tahu kami?” Vero berseru ketus. Raut wajahnya terlihat marah.
“Tenang dulu, Vero! Lian pasti punya alasan untuk mengajaknya. Bukankah kau sudah melihat sendiri kemampuan Marko saat bertanding dengan Master Sejah?” Bundara menengahi.
Vero terdiam. Tidak lagi menatapku. Jora menepuk pelan bahuku, berusaha menghibur. Bilang ini bukan salahku sepenuhnya.
Salah satu pasukan hijau mendekati kami. “Aaaa.... Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, Kawan. Tapi temanmu akan baik-baik saja. Oh, ya... sebenarnya pesawat kalian terjatuh karena kami.”
Seketika kami semua menoleh. Vero yang baru saja tenang kembali naik pitam.
“Kau bilang apa?” Vero mencengkeram kerah baju prajurit tersebut.
Bundara melerai. Menjitak kepala Vero. Dia mengaduh kesakitan, bersungut-sungut.
Sosok tersebut melepas maskernya. Wajahnya masih muda. Usianya mungkin setara dengan Vero. Matanya berwarna cokelat terang dengan rambut hitam yang lurus menutupi dahi.
“Kalian bisa melepas masker kalian di tempat ini. Aku juga akan menjelaskan apa yang terjadi.” Ujarnya.
Kami melepaskan helm kami masing-masing. Sosok tersebut kembali menjelaskan.
“Sebelumnya perkenalkan, aku Dikes. Walikota The-pi. Soal pesawat kalian sepenuhnya salah kami. Salah satu senjata kami mendeteksi benda asing datang dan mengira kalian adalah salah satu pasukan bandit. Otomatis senjata tersebut menyerang kalian. Kami sungguh tidak tahu, maaf.”
“Hanya maaf saja?” Vero bertanya ketus. Dia tidak terima hanya mendapatkan permintaan maaf.
“Eh, tentunya kami juga akan memperbaiki pesawatmu. Namun itu membutuhkan waktu yang lama.”
“Berapa lama?” Aku bertanya khawatir.
Dikes berpikir sejenak. Memegangi dagunya. “Mungkin sekitar satu bulan untuk memperbaiki keseluruhannya.”
Aku mengusap wajahku. “Itu terlalu lama. Kami tidak bisa menunggu selama itu.”
Dikes kembali berpikir. “Kalau begitu, beri kami waktu dua minggu. Kami juga akan melakukan upgrade pada pesawat kalian sebagai permintaan maaf kami.”
Kami berpikir sejenak. Itu pilihan yang lebih baik. Setidaknya kami bisa beristirahat sampai pesawat kami pulih seutuhnya.
Sepuluh menit kemudian, seorang perawat memberi tahu kami keadaan Marko.
__ADS_1
“Dia baik-baik saja, hanya pingsan. Namun karena penyakitnya dia membutuhkan waktu istirahat yang lebih lama.”
Aku mengangguk. Aku tahu hal itu. Aku mengenal Marko lebih dari siapapun.
“Bagaimana jika kalian aku ajak berkeliling? Tenang saja, area ini aman dari para robot tersebut.” Ujar Dikes. Dia mencoba menghibur.
Aku menggeleng pelan. Aku akan tetap di sini sampai Marko sadar. Ada hal yang ingin aku ucapkan padanya.
“Aku ikut denganmu, Dikes!” Vero mengangkat tangan. Tampaknya dia masih kesal padaku.
“Lian, aku juga akan ikut dengan Vero. Anak itu harus ada yang mengawasi. Kalau tidak, dia macam ayam yang terlepas dari kandang.” Bundara menepuk pelan bahuku.
Kini aku menatap Jora yang duduk disebelahku. “Kau juga bisa ikut mereka, Jora.” Aku berujar lirih.
Jora menggeleng pelan. “Aku akan tetap di sini.”
Baiklah, itu keputusannya. Aku tidak bisa memaksanya.
Satu jam kemudian, Marko sudah sadar. Salah satu perawat memanggil kami. Aku bergegas menemui Marko, disusul Jora. Kami berdua menuju kamarnya. Marko masih terlihat lemas. Dia mencoba untuk duduk bersandar begitu melihatku. Aku membantunya.
“Marko, aku minta maaf karena melibatkanmu dalam bahaya.” Aku berujar lirih sembari menunduk penuh penyesalan.
“Ja... Jangan seperti itu, Kapten. Mau bagaimanapun, akulah yang merepotkan tim ini. Akulah penghambat perjalananmu. Sewaktu kau mengajakku, aku sangat senang. Rasanya sungguh mengharukan mengetahui jika ada satu orang yang menghargaiku dan percaya padaku. Sebelum masuk Akademi Langit, aku adalah murid dari seorang guru. Beliaulah yang mengajariku teknik bernama Tha-pak. Namun, sebelum aku bisa menguasai seluruh ajarannya, beliau meninggal dunia.”
Lengang sejenak, Marko menatap langit-langit rumah sakit yang berhias lampu kristal. Matanya berkaca-kaca. Dia terlihat sangat sedih.
“Dia sama sepertiku, orang yang tidak pernah diakui oleh Akademi Langit. Di punya penyakit mematikan yang membuat hidupnya singkat. Karena tidak pernah diakui, dia membuat teknik beladiri sendiri dan mengajarinya padaku.”
“Guruku punya satu impian, dia ingin melihat dunia luar sebelum meninggal. Dia ingin menatap langit sebelum ajal menjemputnya. Maka dari itu, dia punya cita-cita menjadi prajurit terdepan. Agar bisa menyaksikan dunia luar. Melihat burung beterbangan, merasakan angin berhembus menerpa wajah, mendengar gemericik air sungai yang mengalir pelan, membiarkan hujan membasahi wajah, dan masih banyak lagi keinginannya.”
Ruangan kembali hening. Kalimat Marko sungguh membuatku tersentuh. Dia lebih muda dua tahun dariku, tapi aku sungguh menghormatinya.
Seseorang melangkah masuk ke dalam ruangan. Vero, dia berdiri di samping Marko. Menatapnya tajam.
“Kau bisa menghinaku sesuka hatimu, Vero.” Untuk pertama kalinya, Marko menyebut nama Vero.
Vero tersenyum. Merangkul leher Marko dam memiting kepalanya. “Kau harus lebih menghormatiku, Marko. Ucapanmu sok keren sekali.”
Aku sempat khawatir tadi. Kukira Vero akan marah. Tapi tidak, mereka berdua justru tertawa bersama-sama.
“Hei, kalian tahu? Vero tadi menguping dari luar ruangan. Wajahnya terlihat cemas. Dia ingin sekali bergabung dengan kalian. Namun dia gengsi ingin mendekat.”Bundara berceletuk. Dia sudah berdiri di belakangku.
“Benarkah? Aku sungguh tidak tahu dia bisa seperti itu.” Marko mengangkat alis. Tersenyum sinis.
“Di...Diam kau, Bocah Sialan! Kau juga Bundara! Kenapa kau memberi tahu hal yang tidak perlu seperti itu sih?” Muka Vero macam kepiting rebus. Salah tingkah.
“Kau sudah lupa cara memanggil nama orang dengan benar, ya? Dasar Tua Bangka pelupa!” Marko membalas makian Vero padanya.
Mereka kembali bertengkar. Seperti biasa, Jora dan Bundara melerai. Jika sudah begini, aku tidak perlu khawatir. Itu artinya tim ini kembali seperti semula.
“Mmmm...Apa kita tidak jadi berkeliling?” Dikes yang sejak tadi berdiri di daun pintu memotong pertengkaran.
***
Dikes mengajak kami berkeliling di Kota The-pi sementara Marko dirawat.
Kami tidak berkeliling menggunakan mobil terbang, melainkan menggunakan perahu. Menelusuri sungai-sungai yang tertutup batuan tebing seperti sebuah lorong. Di beberapa dindingnya terdapat kaca bening seukuran jendela rumah. Kami bisa melihat pemandangan kota dari kaca tersebut.
__ADS_1
“Maaf, aku tidak bisa mengajak kalian berkeliling menggunakan mobil terbang. Kendaraan tersebut hanya digunakan dalam situasi darurat dan juga untuk mengantarkan barang. Tapi Perahu ini tidak kalah canggih dengan mobil-mobil tersebut. Para penduduk di sini menggunakan perahu yang dilengkapi engine sebagai transportasi sehari-hari.”
Kami mengangguk, tidak keberatan.
Dikes mengajak kami menelusuri air terjun tertinggi di kota ini. Mereka menyebutnya Air Terjun Cakrawala. Aku bisa melihat pelangi di dekat air terjun tersebut. Tetesan air menerpa wajah kami. Beruntungnya, di kota ini kami tidak perlu memakai masker kemana-mana. Udara di sini bersih. Mungkin karena daerah pegunungan. Aku tengah asik mendengar suara gemuruh air yang berjatuhan dan membuat suara dentuman di sekitar tebing. Jora bahkan meminta Dikes untuk sedikit lebih dekat dengan air terjun. Namun dia menolak, arus di dekat air terjun sangat deras. Bisa-bisa perahu tenggelam dibuatnya.
Sesekali kami menyapa penduduk sekitar. Begitu melihat Dikes mereka menunduk hormat, lantas tersenyum. Mereka semua sungguh ramah. Satu dua bahkan memberi kami salam ala penduduk The-pi. Mengangkat kedua tangan sembari berujar “Ahlan!”. Sejujurnya lucu sekali melihatnya. Vero bahkan meniru gerakan mereka.
Kami memasuki salah satu gedung. Di dalamnya dipenuhi dengan pilar-pilar berwarna putih. Atapnya dilukis dengan konsep alam. Tampaknya penduduk di sini menyukai sesuatu yang berhubungan dengan pemandangan alam. Terutama hutan. Dikes bahkan menjelaskan maksud dari berbagai lukisan tersebut.
Kami mengunjungi sebuah sekolah. Hei! Tempat tersebut seperti Akademi Langit. Mereka juga mempelajari berbagai teknik. Tentunya berbeda dengan di Akademi Langit. Mereka lebih memfokuskan pada Keseimbangan dan kecepatan. Mungkin hal itulah yang membuat mereka dengan mudahnya menuruni jurang dan menghindari serangan RP-2. Dikes bahkan menawarkan diri untuk mengajari kami berbagai teknik yang mereka kuasai. Itu ide bagus. Kami masih terbilang awam jika menghadapi RP-2.
Terakhir, Dikes mengantar kami ke sebuah penginapan. Tempat tersebut di kelilingi pohon. Akar-akarnya bahkan dibiarkan menyatu dengan dinding bangunan. Terdapat lampu lampion berbentuk bunga lotus di sekitar kanopi. Membuat nuansa penginapan sangat dekat dengan alam. Kami memasuki penginapan tersebut. Seorang perempuan telah menunggu kami di dermaga sembari melambaikan tangan ke arah Dikes. Kukira dia teman dari Dikes, namun aku keliru. Dia adalah istri Dikes.
“Kau sudah punya istri?” Vero melongo. Tidak percaya dengan ucapan Dikes.
Dikes mengangguk polos. “ Tentu saja, di kota kami rata-rata penduduknya menikah di usia 18 tahun. Paling maksimal usia 20. Itu sudah menjadi peraturan. Alasannya agar penduduk Kota The-pi tetap bisa bertahan.”
Ini sungguh berbanding terbalik dengan Kota Keios. Di kota ini mereka memperbanyak penduduk, sedangkan Kota Keios berusaha mengurangi jumlah penduduk.
Istri Dikes menyambut kami dan mengantarkan kami ke kamar masing-masing. Udara di dalam ruangan sejuk. Beberapa lukisan digantung di sisi dinding. Kasurnya terasa empuk dan nyaman. Aku berbaring. Melepas lelah.
Esoknya sesuai janji Dikes, dia mengajari kami teknik melaju di tempat terjal. Dia membawa kami menuju lintasan bebatuan.
“Ada tiga kunci penting untuk menguasai teknik ini. Yang pertama adalah keyakinan. Jika kalian ragu sedikit saja, kalian akan berakhir dengan kegagalan. Yang kedua adalah ketelitian. Sementara tubuh kalian bergerak, kalian harus bisa menganalisis tempat yang sekiranya aman untuk kalian pijak. Dan yang terakhir adalah kecepatan.”
Kami mengangguk serempak.
Dalam simulasi ini, aku berkali-kali tergelincir. Untungnya pakaian yang kukenakan melindungi tubuhku dari benturan. Namun tetap saja terasa sakit. Bundara berkali-kali mengeluh. Tubuhnya terlalu besar untuk melakukan lompatan di atas bebatuan. Vero berkali-kali meledeknya. Jora cukup cepat dalam menguasai teknik ini. Dia tidak terlalu kesulitan saat mendaratkan tubuhnya di atas bebatuan. Dia jelas gadis yang berbakat. Mempelajari teknik ini cukup menguras waktu.
Seminggu kemudian, aku sudah mulai lihai. Tidak lagi terjatuh. Hanya saja aku masih belum bisa secepat Dikes. Terkadang aku masih ragu dalam menentukan tempat untuk mendarat atau melakukan lompatan. Kali ini Marko sudah bergabung kembali dengan kami. Namun aku tak mengizinkannya untuk mengikuti latihan. Dia sempat protes, bersungut-sungut jika dia baik-baik saja. Aku menolak dengan tegas.
Tak terasa dua minggu telah berlalu. Dikes memberi tahu kami jika pesawat kami telah usai diperbaiki. Tapi apa yang kami lihat sungguh mengejutkan. Itu bukan pesawat! Itu sebuah kapal yang mengambang beberapa senti di atas air.
“Apa-apaan ini? Ini bukan pesawat kami!” Vero mengeluh tidak terima.
Dikes menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku minta maaf, pekerjaku tidak mengerti dengan konstruksi pesawat kalian. Dia memutuskan merombaknya dan mengubahnya menjadi kapal terbang. Setidaknya fungsinya masih sama, bisa terbang. Namun kapal ini hanya mampu melayang di atas air. Selain itu tidak bisa. Aku benar-benar minta maaf atas kebodohan pekerjaku.”
Vero hendak mencengkeram kerah baju Dikes, tapi Bundara lebih dulu mencegatnya dan menjitak kepalanya. Vero mengaduh, mukanya terlihat masam.
“Lian, katakan sesuatu!” Vero menatapku.
Tentu saja aku menjawab, “Tidak apa-apa. Asal kami bisa melanjutkan perjalanan, itu tidak masalah.”
Vero melotot ke arahku. Berseru tidak terima.
“Baiklah, kalau begitu semoga kalian bisa menyelesaikan misi kalian. Tenang saja, RP-2 takut dengan air. Mereka tidak akan nekat berenang dan mengejar kalian.” Dikes tersenyum ramah.
Aku mengangguk. Kami menaiki kapal tersebut. Warnanya tetap sama, biru metalik. Moncongnya runcing dengan warna keemasan. Terdapat dua layar dari bahan khusus sehingga tidak mudah robek. Di dalam dek kapal terdapat tiga kamar. Kemudinya masih sama dengan kemudi pesawat. Vero tidak perlu mengutak-atik tombol kapal atau mempelajarinya terlebih dahulu.
“Oh, ya, aku ingatkan kalian untuk berhati-hati dengan air terjun!” Dikes mengucapkan kalimat tersebut sembari melambaikan tangan.
Aku mengangkat tanganku. Memberi penghormatan. Kapal mulai melaju meninggalkan Kota The-pi. Melayang menelusuri sungai.
__ADS_1