
Seminggu kemudian, Ador mengirimku ke pusat kota untuk menjalani kelas percepatan. Yang itu artinya aku akan jarang melakukan aktifitas di laboratorium. Anak-anak mulai bertanya-tanya apa yang terjadi padaku. Ador sudah menjelaskan situasinya pada mereka agar tidak terjadi kesalah pahaman. Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu repot-repot menjelaskan kepada mereka satu persatu.
Ada beberapa hal yang perlu aku persiapkan sebelum pergi ke tempat tersebut. Tentu saja yang pertama adalah penampilan.
“Mulai sekarang kau harus menggunakan pakaian rapi dan pergi dalam keadaan bersih. Aku tidak akan mengulangi instruksiku. Kau akan bertemu dengan anak-anak hebat lainnya di tempat seperti itu. Karena itulah kau harus mementingkan penampilanmu.”
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Dan kedua adalah sikapmu. Jangan sampai orang-orang di sana membencimu karena kau bersikap angkuh pada mereka. Tapi jika mereka yang lebih dulu bersikap angkuh, kalahkan mereka dengan otakmu. Jangan kau kalahkan mereka dengan fisikmu.” Ador menunjuk tubuh bionikku sebagai peringatan.
Aku mengangguk.
“Dan yang ketiga adalah,” Kali ini Ador menunjuk ke arah mataku. “ Jangan menatap semua orang dengan tatapan tajam itu. Kau bisa membuat mereka salah paham.”
“Tatapanku memang tajam dari dulu. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa diubah.” Aku menyangkal hal ketiga.
“Oke, sepertinya kau sudah paham. Tapi sebelum itu aku mau kau melakukan sesuatu pada rambutmu.”
Aku memegangi rambutku. Memangnya apa yang salah dari rambutku?
“Mana ada anak zaman sekarang yang memiliki rambut sepanjang itu?”
Oh, benar juga. Sudah dua bulan lamanya aku tidak memotong rambutku dan kini rambutku sudah terlihat panjang dan tak terurus. Satu dua helai rambut bahkan mencuat. Aku mengangguk.
“Aku akan memotongnya.”
“Tidak aku yang akan memotongnya. Aku yakin kau akan memberi potongan rambut yang jelek jika memotongnya sendiri.”
“Tidak, aku yang akan memotongnya.” Aku bersikeras untuk menolak perintahnya.
“Aku yang akan memotongnya!” Ador berseru lebih lantang. Dengan cepat dia mengambil gunting di atas meja. “Kemari kau, Bocah.”
Aku mundur beberapa langkah. Ador telah berdiri dan menatapku dengan tatapan serius.
Aku kalah. Pasrah membiarkan Ador menggunting rambutku. Dia tidak membiarkanku melihat cermin selama rambutku dipotong.
“Usahakan jangan membuat wajahku jelek seperti wajah anda saat muda. Aku tidak mau wajahku yang tampan ini tercoreng hanya karena potongan rambutku yang tidak sempurna.”
“Diam kau! Aku jadi tidak bisa berkonsentrasi. Memotong rambut itu membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. Jika kau terus menerus mengoceh, maka...”
CKREK!
Aku melihat sekumpulan rambut sepanjang ukuran jari orang dewasa berjatuhan tepat di depanku. Padahal Ador tengah memotong poniku. Kusaksikan rambut itu berjatuhan bagai bulu burung yang terlepas dari sayapnya. Ador juga terdiam dan menyaksikan rambut itu tergeletak di atas lantai. Kami berdua terdiam. Hening sesaat.
“Oke, kurasa kita membutuhkan shampoo penumbuh rambut.”
Aku berseru tak terima. Pertengkaran kecil di antara kami terjadi. Lebih banyak adu mulut yang terjadi. Pada akhirnya Ador menyerah dan memberikan gunting itu kepadaku. Aku memotongnya sendiri dengan melihat di depan cermin. Kubuat potongan belahan tepat di bagian samping agar poniku tidak tampak seperti mangkok. Ador hanya tercengang melihatku lebih handal dalam memotong rambutku sendiri.
“Dari, dari mana kau...”Ador tidak bisa berkata-kata sembari menunjuk rambutku yang telah rapi dengan tangan bergetar.
Aku memutar gunting dengan jariku. “Aku ini sudah terbiasa hidup mandiri. Tentu saja soal menggunting rambut sudah biasa aku lakukan sendiri. Anda pikir aku ini tidak bisa melakukan apapun sehingga harus semuanya anda yang mengerjakan.” Aku menggelengkan kepala. “Tidak bisa dipercaya... Aku sudah lebih dulu diremehkan oleh anda sebelum orang lain yang meremehkanku. Ck, ck, ck.” Sekali lagi aku menggelengkan kepala. Berlagak seakan perasaanku sedang disakiti saat ini.
Ador hanya mengantarkanku sampai ke halte. Sebenarnya dia ingin mengantarku sampai ke tempat tujuan. Tapi aku menolak. Aku sudah mengingat seluk beluk kota ini sewaktu Ador mengajakku makan di kedai mie kenalannya. Seperti yang dia katakan, aku ini memang jenius. Hanya saja terkadang aku malas menggunakan otakku yang jenius ini utuk mendengarkan berbagai penjelasan yang berulang-ulang secara terus menerus. Karena itu aku selalu menyederhanakan berbagai penjelasan dan kalimat rumit Ador dengan mencari intinya saja. Begitu juga dengan kota ini. Kau hanya cukup menghafalkan beberapa tempat dan bagian yang menurutmu menarik. Dari situlah kau bisa menyederhanakan sebuah logika dan membuatnya menjadi sesuatu yang mudah dipahami.
Aku menatap langit yang tampak cerah oleh sinar matahari yang lembut. Sejauh ini aku masih lebih suka memandang langit dibandingkan pemandangan kota yang ramai dan padat. Mungkin karena aku tidak pernah menyaksikan langit sebersih ini ketika berada di daerah kumuh.
Lima belas menit kemudian bus telah berhenti. Ador memberiku sebuah gadget untuk kugunakan sebagai alat komunikasi seandainya aku tersesat. Sepertinya aku tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Butuh berjalan kaki setidaknya selama sepuluh menit agar aku tiba di tempat tujuan. Aku menyaksikan banyak anak yang seusia denganku berjalan kaki bersama orang tua mereka. Satu dua bahkan tampak bergandengan tangan sambil tertawa bersama. Aku menghembuskan nafas sejenak. Untuk apa menyaksikan orang lain bahagia jika aku sendiri tidak bisa membuat diriku bahagia.
Aku telah tiba di tempat tujuan. Terlihat semakin banyak anak-anak yang tampak diantar oleh orang tua mereka sampai masuk ke dalam gedung. Sekali lagi aku tidak peduli dan mulai memasuki gedung tersebut. Ador sudah mendaftarkanku seminggu yang lalu dan memberiku petunjuk di mana kelasku dan siapa guruku. Dengan mudah kutemukan kelasku berkat berbagai papan penunjuk yang tergantung dimana-mana.
__ADS_1
Kalian pasti bertanya-tanya apakah aku memakai masker atau tidak. Jawabanku adalah, ya. Saat ini aku memang mengenakan masker. Ador tidak ingin semua orang menganggapku aneh hanya karena aku tidak mengenakan masker saat berpergian. Karena itu dia memaksaku untuk mengenakan masker mulai detik ini. Sejujurnya aku sedikit kesal dengan perintah ini. Aku sudah memutuskan untuk tidak mengenakan masker setelah sekian lama. Tapi hari ini aku berjumpa kembali dengan benda yang malah membuatku tidak bisa bernafas dengan lega. Bagiku saat ini berpergian tanpa masker merupakan suatu kebebasan tersendiri bagiku. Walau udara yang di hirup terasa sesak tapi hal itulah definisi bebas bagiku. Dimana kau tidak terkekang oleh sesuatu dalam bentuk apapun.
Aku juga mengenakan sarung tangan untuk menutupi tangan bionikku. Setidaknya Ador menyuruhku berbohong soal aku memiliki penyakit dimana aku sangat tidak tahan dengan udara di bawah dua puluh lima derajat selsius. Kurasa itu adalah alasan payah yang sangat tidak masuk akal. Kenapa di antara seribu alasan lainnya Ador harus mengambil alasan tak masuk akal tersebut? Aku juga sempat memperdebatkan masalah itu tadi pagi. Sekali lagi aku memutuskan untuk mengalah.
“Kau anak baru?” Dua orang anak perempuan mendatangiku yang tengah duduk di bangku sembari menatap ke luar jendela.
Aku menatap kedua gadis itu. Tiba-tiba terbesit kata-kata Ador soal bagaimana seharusnya aku bersikap pada orang lain. Aku mulai tersenyum dan mengangguk.
Gadis itu menjulurkan tangannya. “Salam kenal.”
Aku terdiam sejenak sembari menatap tangan anak tersebut. Kali ini aku menatap tanganku yang berbalut sarung tangan. “Maaf, tapi aku memakai sarung tangan. Apakah kau baik-baik saja jika aku bersalaman denganmu tanpa melepaskannya?” Aku bertanya sesopan mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Eh? Memangnya ada apa dengan tanganmu?”
Aku mengangkat bahu. “Aku memiliki semacam alergi dimana aku tidak bisa bertahan pada suhu di bawah dua puluh lima derajat selsius. Hal itu selalu membuatku mudah sakit dan tidak bisa fokus saat pelajaran. Karena itulah dulu aku sering sakit dan tidak masuk sekolah. Orang tuaku memutuskan untuk memasukkanku ke kelas ini agar aku bisa masuk sekolah menengah atas tahun depan. Sayang jika aku hanya berdiam diri dan mengurung diri dirumah.” Aku berujar semeyakinkan mungkin. Anak itu hanya terdiam.
“Ah, begitu rupanya. Kurasa itu adalah hal biasa.”
“Eh?”
“Tentu saja itu merupakan hal biasa. Rata-rata anak-anak di sini memiliki kasus yang hampir mirip denganmu. Mereka banyak yang memiliki penyakit sehingga membuat mereka jarang bersekolah. Contohnya aku, aku memiliki penyakit anemia sehingga aku harus dirawat beberapa kali di rumah sakit. Aku jarang masuk sekolah sehingga aku terpaksa tidak bisa melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Well, sampai saat inipun aku masih begitu. Di kelas ini saja aku hanya bisa masuk dua kali dalam seminggu. Melebihi jadwal-jadwal tersebut membuatku tidak enak badan dan cepat pusing.” Ujar gadis itu sembari tersenyum.
“Aku juga begitu.” Kali ini anak gadis di belakangnya ikut menyaut. “Aku punya alergi serbuk sari sehingga aku tidak bisa masuk sekolah di saat musim semi. Alasannya adalah aku tidak tahan dengan serbuk bunga yang bertebaran di musim semi. Semua orang menganggap musim semi sebagai musim paling indah sepanjang tahun. Matahari bersinar hangat, bunga-bunga bermekaran, rerumputan menghijau, angin berhembus sejuk. Tapi bagiku semua itu adalah mimpi buruk. Sekali saja aku melangkahkan kaki ke luar rumah di saat bunga-bunga itu bermekaran,” Anak itu bergidik ngeri. “aku akan bersin-bersin sepanjang hari.”
Aku mengangguk paham.
“Bagimu pasti musim dingin adalah musim yang paling mengerikan.” Kedua gadis itu lantas duduk tepat di hadapanku. “Ceritakan bagaimana kau bisa melalui musim dingin dengan alergi yang kau miliki?”
Aku menelan ludah. Kenapa pula mereka bertanya soal itu. Tidak cukupkah aku menjelaskan semuanya. Apakah aku harus menambah kebohonganku untuk membuat mereka percaya?
“Yeah, bagiku musim dingin adalah musim paling buruk sepanjang tahun.” Akhirnya aku memilih untuk menambah cerita kebohonganku. “Di kamarku dilengkapi dengan penghangat ruangan dan kasur yang memiliki tekstur untuk menyerap panas. Aku tidak bisa bermain dengan anak-anak lain di saat musim dingin.” Karena aku memang tidak pernah bermain sepanjang musim salju dengan anak-anak lain. Hal itu dikarenakan aku lebih sibuk mencari makanan yang sangat sulit didapatkan saat musim dingin. Karena itu aku tidak sulit membuat cerita penuh kebohongan kepada mereka. Aku hanya perlu menambahkan beberapa bumbu maka cerita itu akan menjadi sebuah mahakarya.
Aku kembali melanjutkan kisahku. “Setiap hari aku hanya mengintip anak-anak lain berlarian ke sana kemari dengan teman-teman mereka. Saling melempar bola salju ke teman mereka tanpa khawatir dingin menyerang tubuh mereka.” Aku memejamkan mata sembari meremas jemari. Tengah mendramatisir. Aku ini memang ahli dalam bidang menipu. Tentu saja hal seperti ini sangat mudah aku lakukan. “Tapi apalah dayaku yang memiliki penyakit aneh ini sejak lahir. Setiap musim dingin kuhabiskan waktu empat bulan dalam kamarku yang pengap. Seperti terkurung di dalam penjara layaknya dongeng-dongeng.” Aku mendesah pelan. Berusaha menghayati sepenuh hati.
“Oh, apa perlu aku perkenalkan kau dengan seorang pakar pembuat pakaian hangat di saat musim dingin?” Gadis satunya bercelutuk. “Kenalan orang tuaku merupakan seorang perancang busana ternama di kota ini. Dia mendesain berbagai pakaian dan pernah masuk dalam salah satu top fashion designer dalam sebuah acara peragaan busana internasional. Jika kau berkenan aku bisa memintanya untuk membuatkan satu pakaian untukmu. Kurasa itu bisa membantu.”
Aku hanya tersenyum. Ternyata seperti ini gaya hidup anak-anak orang kaya. Ador benar. Kelas ini dipenuhi oleh anak-anak orang kaya. Pantas saja dia bersikeras membelikanku berbagai pakaian brand ternama agar aku bisa bergaul dengan baik dalam kelas ini. Jika saja aku tidak mengenakan pakaian mahal, mereka berdua pasti tidak akan menghampiriku dan bercerita berbagai hal. Atau bahkan lebih buruknya, aku akan dikucilkan di kelas ini sebelum aku sempat mengikuti satu mata pelajaran.
“Kurasa tidak perlu. Aku tidak akan keluar rumah di musim dingin apapun yang terjadi. Menghindari musibah lebih aku sukai dibandingkan menghadapinya.” Aku tersenyum ramah.
Hari berjalan dengan baik. Aku mulai mengenal beberapa anak lainnya. Sebenarnya aku tidak peduli mengenal mereka atau tidak. Tapi situasi ini membuatku terpaksa harus mengenali mereka.
Hari berjalan dengan cepat.
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Sore menjelang dan kepalaku sudah dipenuhi oleh pelajaran dari berbagai mata pelajaran. Setidaknya tubuhku tidak terasa lelah karena duduk di atas bangku sembari menatap fokus ke arah depan. Beberapa anak-anak lain sempat menawarkanku untuk bermain dengan mereka seusai pelajaran. Tapi aku menolak. Aku ingin pulang dan beristirahat. Apalagi Ador bisa memarahiku jika aku pulang terlambat di hari pertama kelasku.
Tidak, aku berbohong. Itu hanya alasan yang kubuat sendiri. Sejatinya aku sangat jijik dengan mereka semua. Berjabat tangan walau dengan tangan bionik saja sudah membuatku merasa merinding. Apalagi jika aku masih memiliki tangan sesungguhnya sekarang. Aku pasti sudah muntah di depan mereka semua. Bayang-bayang akan proyek perluasan tanah elit membuat wajah-wajah mereka yang polos berubah menjadi semacam topeng badut dengan senyum licik di mataku. Entah apa ini semacam ilusi atau otakku yang merasa lelah karena menerima semua pelajaran hari ini. Tapi satu hal yang pasti, kebencianku pada mereka tak akan berubah walau mereka berbaik hati padaku.
Sore hari, langit tampak memancarkan semburat kemerahan. Anak-anak berhamburan keluar kelas dan di sambut oleh orang tua mereka masing-masing. Aku mencoba menghindari untuk menyaksikan pemandangan yang menyayat hati tersebut. Bagaimana bisa mereka tetap tersenyum bahagia padahal ada seratus anak yang kehilangan keluarga mereka akibat insiden kebakaran tersebut? Sungguh ironi yang pilu. Itulah mengapa aku sangat menyukai lagu yang dinyanyikan Ibu sebelum aku dan kakak hendak tidur di tengah gelapnya malam. Lagu itu memiliki makna yang sangat dalam tentang kehidupan kami. Karena itulah aku sangat senang menyanyikannya di dalam hati sebelum aku tertidur, Rasanya lagu itu mengisi bagian yang kosong di lubuk hatiku yang paling dalam. Membuat malam menjadi nyaman dan tentram. Seakan mereka bertiga ikut menemani malamku yang serasa sepi setiap hari.
Pemandangan kota dipenuhi oleh orang-orang yang pulang dari aktivitas mereka selama seharian. Orang-orang pekerja yang berjalan pulang, satu dua tampak lelah dan rambut mereka terlihat kusut. Bus-bus dipenuhi oleh pekerja kantoran dan murid-murid remaja yang membawa gadget sepanjang perjalanan. Aku telah menaiki bus sembari memandang ke luar jendela bus. Menuju kembali ke laboratorium milik Ador. Aku tidak pernah mengatakan ‘pulang’ sekalipun. Bagiku tempat Ador bukanlah tempat pulang bagiku. Definisi pulang bagiku adalah kembali ke pelukan keluargaku. Keluarga yang sebenarnya. Bukan definisi keluarga dalam pandangan Ador. Dulu Ador selalu mengatakan jika mereka adalah keluargaku saat ini. Aku membantah dalam hati setiap kali dia mengatakan hal tersebut. Mana ada keluarga jika kami sama sekali tidak memiliki hubungan darah sedikitpun.
Aku menguap. Malas sekali memikirkan hal itu. Lebih baik memandang langit sore yang tampak cerah berkilauan. Tak sengaja aku menyaksikan segerombolan burung gagak melintas di antara gedung-gedung pencakar langit. Melihat sekumpulan gagak selalu membuatku merasa tenang. Entah sejak kapan aku terpesona oleh mereka. Yang jelas aku suka sekali melihat warna bulu mereka yang hitam pekat dan sedikit berkilauan. Sangat kontras dengan warna langit senja yang tampak sendu.
Bus telah tiba di tempat pemberhentian. Kudapati Ador tengah duduk di halte sembari tertidur pulas. Kenapa pula dia ada di sini? Aku menyenggol bahunya. Ador terkejut dan nyaris terjatuh. Matanya terlihat kemerahan dan rambutnya sangat berantakan, hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian. Aku memutar bola mataku dan berusaha tersenyum.
“Oh, kau sudah kembali rupanya.” Ador mengusap matanya dan beranjak dari tempat duduknya.
“Apa yang anda lakukan di sini?” Aku bertanya lirih.
__ADS_1
Ador menguap lebar. “Tentu saja aku menunggumu.”
Aku menggelengkan kepalaku. “Dari jam berapa anda tertidur di sini?”
Ador mengusap rambutnya yang berantakan. “Entahlah, aku tidak tahu. Hei! Itu tidak penting sekarang. Kau harus menceritakan kepadaku apa saja yang kau alami hari ini di kelas barumu.”
Aku menghembuskan nafas sejenak. Lantas melangkah menjauh darinya secepat mungkin.
“Hei, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” Ador menyusul dan berjalan tepat di sampingku.
“Itu bukan sebuah pertanyaan, lebih mengarah pada kalimat perintah. Setidaknya ada satu pelajaran yang sangat berguna tadi. Pelajaran bahasa. Kini aku tahu mana kalimat pertanyaan dan mana kalimat perintah berkat pelajaran tadi. Dan sekarang aku baru saja mengamalkannya dalam bentuk tindakan. Salah satunya menghindari Anda yang bersikeras memerintahku untuk menceritakan berbagai hal yang tidak menarik dari kelas itu.”
Ador menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Oke, aku akui tadi adalah kalimat perintah. Jadi ceritakanlah bagaimana kelasmu hari ini, Nak. Aku ingin mendengarnya sekali saja…” Ador memasang wajah memohon.
Aku menghembuskan nafas. Aku menyaksikan daun-daun berguguran di sisi jalan. Cahaya senja membuat daun-daun itu menghasilkan siluet yang tampak berjatuhan ke pinggir jalanan.
“Baguslah, sebentar lagi musim gugur dan aku akan kebingungan mencari alasan lainnya.”
“Eh? Apa maksudmu?”
“Anda tahu? Tadi aku mengatakan satu alasan yang sama persis seperti yang anda pinta. Yaitu memberi alasan jika aku menggunakan sarung tangan karena aku memiliki alergi pada suhu di bawah dua puluh lima derajat selsius. Dan sebentar lagi musim panas akan berakhir dan kini saatnya kita beralih ke musim gugur. Astaga… Sekarang bagaimana caranya aku mencari alasan yang lain, ya? Apa perlu aku menggunakan syal super tebal dan baju berlapis kulit beruang?” Aku memegangi daguku sembari menghela nafas panjang.
“Sebenarnya apa yang kau maksud?”
Aku tersenyum dan menatap wajah Ador yang terlihat bodoh. “Anda ini cerdas tapi sangat tidak peka sekali dengan situasi. Hmmm… Aku adalah seorang anak yang memiliki alergi oleh suhu di bawah dua puluh lima derajat selsius. Dan sekarang musim gugur akan tiba. Ah, bagaimana ini? Bukannya suhu rata-rata musim gugur di bawah dua puluh satu derajat selsius? Ah, tidak ada pilihan. Sepertinya aku harus membeli pakaian musim salju untuk aku kenakan di musim gugur.” Aku memasang wajah memelas. Kembali berjalan kaki.
Ador tertawa. “Aku tahu kau sedang menyindirku, Bocah.” Ujarnya dengan suara lantang sembari kembali menyusulku.
Keesokan harinya perkataanku benar-benar dilakukan oleh Ador. Dia membelikanku pakaian musim dingin setebal lima senti.
***
Satu tahun berlalu.
Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana caraku melewati musim salju dengan segala kebohongan yang telah aku ciptakan, bukan? Hei! Apakah penting membahas itu sekarang? Tentu saja ada hal yang lebih penting. Aku telah berusia tiga belas tahun dan hari ini adalah hari kelulusanku sebagai murid accel. Untuk apa membahas yang tidak perlu jika ada hal lain yang lebih penting.
Kelulusanku dirayakan dengan meriah. Kelasku bahkan menyewa sebuah gedung untuk dijadikan sebagai perayaan hari kelulusan. Aku mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkannya? Jawabannya sederhana. Aku memang jenius.
Ador ikut bergabung dalam perayaan ini sebagai wali dariku.
Sebenarnya aku tidak mengharapkan dia hadir dalam perayaan kelulusan ini. Bahkan aku sama sekali tidak ingin dia hadir. Tapi tadi pagi dia memaksa untuk pergi sebagai wali dariku dalam perayaan tersebut. Aku pasrah. Lebih baik dia ikut dibandingkan aku terlambat dalam acara perayaan tersebut.
Walau demikian ada sedikit perasaan senang pada perayaan ini. Aku tidak pernah sekolah dari dulu. Aku hanya bisa menyaksikan berbagai mata pelajaran dari buku-buku bekas yang aku temukan di tempat pembuangan. Itupun aku hanya membacanya sekilas. Aku lebih sibuk mengais makanan untuk aku dan Kakak bertahan hidup.
Aku juga mempelajari berbagai hal sejak bergabung dengan kelompok pencuri. Kudeta memiliki berbagai buku pengetahuan dalam melakukan trik dan ilusi mata. Hal itu dibutuhkan untuk melancarkan aksi-aksi kami. Setelahnya aku tidak pernah mempelajari hal-hal lainnya.
Nama kami dipanggil satu persatu untuk mendapatkan sertifikat kelulusan kami. Sertifikat itu sangat dibutuhkan untuk melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya. Karena itu Ador mengirimku ke kelas ini agar aku bisa masuk ke akademi yang dia sebutkan satu tahun lalu. Tidak, hampir setiap hari dia menceritakan dan menjelaskan akademi itu secara berulang-ulang di hari libur dan sepulang aku dari sekolah. Aku sungguh muak mendengarnya menjelaskan hal itu secara berulang-ulang. Sekali lagi aku hanya bisa menahan emosiku selama satu tahun ini.
Dan akhirnya penderitaanku berakhir. Aku telah lulus dan akan segera mendaftar ke akademi tersebut. Aku akan tinggal di asrama yang disediakan oleh akademi. Jarak akademi dengan laboratorium milik Ador sangatlah jauh. Karena itu aku lebih memilih tinggal di asrama dibandingkan bolak-balik dari laboratorium ke akademi.
Seusai acara, anak-anak diminta berkumpul untuk melakukan sesi foto. Aku ingin sekali segera kembali dan cepat-cepat pergi menuju akademi. Kenapa pula harus ada sesi semacam ini?
__ADS_1