Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
RENCANA ZENZEN


__ADS_3

“Jadi apa rencanamu kedepannya?”


Aku yang berdiri di depan pintu keluar terhenti begitu mendapati Ador berada di depan pintu.


“Aku sudah bilang jika aku memiliki satu rencana kemarin. Untuk apa aku mengulangi kalimat yang sama.” Aku berujar datar dan mencoba berjalan melewatinya.


Tapi Ador menghalangiku. Aku terdiam, lantas kembali mengambil jalan yang lain. Sekali lagi Ador kembali menghalangiku sembari tersenyum lebar.


Aku berseru ketus. “Apa yang sebenarnya kau lakukan, hah?”


Ador terkekeh. “Bukan rencana itu yang aku maksudkan. Tapi rencana liburanmu.”


Aku memicingkan mataku. “Aku sudah bilang jika aku akan kembali ke asrama hari ini.”


“Oi! Setidaknya luangkan waktu lebih lama bersamaku. Kita sudah dua tahun tidak bertemu. Bagaimana mungkin kau begitu mudahnya melangkahkan kakimu keluar dari laboratorium ini.”


Aku mengusap rambutku. “Baiklah, jadi apa yang kau inginkan?” Pada akhirnya aku mengalah.


Ador menepuk bahuku. “Ikuti saja aku, kau mungkin akan terkejut begitu melihatnya.”


Kami kembali menaiki bus dan menuju ke sebuah daerah. Hei! Aku kenal daerah tersebut. Daerah itu tak lain kawasan di mana aku mengikuti sebuah pertandingan agar bisa mengeluarkan energi internalku. Tempat ini terlihat berbeda dibandingkan dengan malam hari. Lebih ramai dan bersih. Kukira bangunan-bangunan kosong yang terbengkalai itu tidak ada yang menempati, tapi siang ini semuanya buka dan penuh dengan pertokoan. Hari ini tidak ada salju yang turun. Langit tampak cerah dan matahari bersinar terang. Membuat udara tidak terlalu dingin.


Kami berhenti tepat di depan sebuah bangunan setinggi dua lantai. Ador bergegas memasuki gedung tersebut. Aku mengekor di belakang Ador seperti seekor anak ayam yang mengikuti induknya sambil melihat-lihat sekelilingku, siapa tahu menemukan hal menarik.


Begitu aku memasuki gedung tersebut, beberapa orang berjas tampak keluar dari gedung. Saat aku saksikan salah satunya, aku terkejut dan bergegas menghampirinya. Sempat lupa jika Ador masih berjalan di depanku.


“Badas.” Sapaku pelan.


Badas tampak terkejut dan berbalik menatapku. Lantas berbisik pelan. “Apa yang kau lakukan di sini?”


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Akupun juga tidak tahu mengapa aku di sini.”


Badas menatap ke sekerumunan orang berjas tersebut dan melakukan isyarat tangan. Mereka menunduk hormat lantas meninggalkan kami berdua.


“Aku hanya punya waktu lima belas menit untuk berbicara denganmu, Zenzen. Jika ada yang ingin kau bicarakan, bicarakanlah.”


Aku menggaruk kepalaku sekali lagi. Aku tidak tahu harus berbicara apa. “Aku hanya sekedar menyapamu.” Ujarku singkat.


Badas mengerjapkan kedua matanya. “Jadi tidak ada yang ingin kau bicarakan  kepadaku?”


Aku mengangguk. Menegaskan kembali pertanyaannya.


Badas menepuk jidatnya. “Tidak ada pilihan lain, karena kau sudah terlanjur membuatku berbuat seenaknya di depan adik-adikku, aku akan mentraktirmu. Setidaknya kita masih bisa menghabiskan waktu sejenak sebelum kita benar-benar tidak bisa bertemu lagi, kan?”


Aku memutar bola mataku. “Kurasa itu bukan ide buruk.”


Badas mengajakku ke salah satu cafe terdekat dan memesankan beberapa menu makanan untuk menemani perbincangan kami.


“Hei, kenapa kau hanya diam saja?” Badas bertanya dingin dan menatapku dengan tatapan tajam.


Aku lupa jika dulu aku memiliki hubungan yang buruk dengannya. Aku menelan ludah. Walau kami memiliki hubungan buruk di masa lalu, aku tetap menghargainya sebagai bagian dari kelompok pencuri. Mau bagaimanapun mereka adalah tempatku bernaung ketika aku sudah tidak bisa menemukan jalanku lagi.


“Kenapa kau menyebut mereka dengan sebutan adik?”

__ADS_1


Badas tersenyum tipis. “Itu sudah jelas, kan? Dalam peraturan mafia siapapun itu walaupun mereka bukan saudara kandungmu, kami harus memanggilnya dengan sebutan saudara ataupun keluarga. Suka tidak suka aku harus melakukannya.”


Aku terdiam sejenak. Mencari topik lain untuk dibicarakan. Tapi aku benar-benar tidak memiliki ide. Sejatinya aku hanya ingin menyapanya tadi. Tak kusangka jika dia mengira aku hendak mengajaknya berbicara.


“Jadi apa yang kau lakukan di sini?” Kali ini Badas yang memulai pertanyaan.


“Entahlah, aku sedang bersama seseorang dan dia mengajakku ke gedung dua lantai yang tadi.”


Badas menjentikkan jari. “Sepertinya aku tahu apa yang hendak kau lakukan di sana. Tempat itu semacam bank sentral. Mungkin seseorang yang sedang bersamamu akan mengambil uang yang sudah terkumpul berkat pertandinganmu tempo lalu.”


Aku mengangguk. “Jadi bagaimana dengan tanganmu?”


Badas menggerak-gerakkan tangan kanan bioniknya yang berbalut besi. “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong apa rencanamu selanjutnya? Aku sudah memperingatimu untuk pergi dari kota ini, Zenzen. Kenapa kau masih di sini dan menunda semuanya sebelum terlambat? Atau jangan-jangan ada seseorang yang tengah menahanmu.”


Aku menelan ludah. Badas menatapku dengan tatapan menyelidik. Tapi itu memang benar. Untuk sementara ini aku tidak bisa melakukan banyak hal. Terlalu gegabah jika aku lari sekarang. Setidaknya aku ingin membuat sebuah peluang bagiku untuk mencapai tujuanku.


“Aku punya rencana.” Ujarku singkat sembari menatap cangkir kopi yang mengepul.


“Rencana?”


“Iya, saat ini aku tengah menempuh pendidikan di salah satu akademi bergengsi di kota ini. Setidaknya sampai aku lulus dari tempat itu, aku bisa menjalankan rencanaku dan mencapai keinginanku. Karena itu aku tidak akan lari dari kota ini sebelum menuntaskan apa yang harus aku kerjakan.”


Badas tersenyum simpul. “Kau ini memang luar biasa. Aku sungguh tidak menyesal bisa mengenalmu, Zenzen. Seharusnya dulu aku tidak pernah menentang kata-katamu dan menghinamu. Tapi pada kenyataannya aku melakukannya. Mungkin aku sedikit iri denganmu. Ah, lupakan... Itu hanyalah masa lalu. Setidaknya kehidupan kita berbeda sekarang. Kau harus bisa menikmati hidupmu sebaik mungkin, Zenzen. Jangan berakhir sepertiku ataupun Kudeta.”


Aku terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.


“Jadi apa nama akademimu?”


“Hei! Pantas saja saat aku bertarung denganmu gaya bertarungmu berbeda dengan orang-orang yang aku pernah lawan sebelumnya. Kau jelas menguasai beberapa tehnik bela diri yang membuat gaya bertarungmu menjadi berkelas. Keirianku padamu menjadi semakin besar.”


Aku tersenyum tipis. Dia memujiku terlalu berlebihan. Walau sejatinya aku tidak pantas mendapatkan pujian tersebut.


Tiba-tiba terbesit suatu perkataan dalam benakku. Perkataan Ador mengenai sistem uang di perkotaan ini. Aku ingin mengatakannya kepada Badas, tapi aku ragu. Aku takut dia akan merasa sangat terpukul dan menyalahkan dirinya. Atau lebih parahnya lagi dia akan membuat masalah.


Aku hendak membuka mulut. Namun terhenti begitu mendengar suara notifikasi dari gadget milik Badas. Badas meminta waktu sebentar dan mengecek sebuah pesan masuk. Lantas kembali menutup gadget miliknya.


“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” Badas kembali melanjutkan perbincangan.


Aku ragu. Akhirnya aku mengatakan hal yang berlainan dari apa yang inginku katakan  sebelumnya.


Waktu lima belas menit berlalu dengan sangat cepat. Perbincangan kami harus terhenti mau tidak mau.


“Hei, Zenzen!” Badas menghentikanku yang hendak beranjak pergi.


Aku berbalik dan mengangkat kedua alisku. Menyaksikan Badas yang tengah merogoh isi tasnya lantas melemparkan sebuah miniatur pesawat kepadaku. Aku menangkapnya dan menatap Badas dengan tatapan bingung.


“Kurasa anak kecil sepertimu menyukai sesuatu yang berhubungan dengan sebuah miniatur. Simpan itu bersamamu. Kuharap kau menemukan jalan keluarmu, Dik”


Aku mengerjap. Badas baru saja menambahkan kata “Dik” di akhir kalimatnya. Aku sangat senang mendengarnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa hubungan seseorang bisa membaik karena telah lama berpisah. Mungkin itulah yang terjadi padaku.


Badas melambaikan tangannya dan bergegas menghampiri kerumunan orang berjas yang sedari tadi menunggunya di tepi jalan. Mereka lantas pergi meninggalkanku yang mematung di sisi jalan sembari memegang miniatur pesawat pemberian Badas.


Ador yang baru saja keluar dari gedung menyaksikanku tengah berdiri di depan gedung sembari menatap miniatur pesawat. Ador bergegas menghampiriku.

__ADS_1


“Oi! Kemana saja kau, hah? Aku sedari tadi mencarimu kemana-mana.” Ador melotot ke arahku.


Aku mengabaikan ucapannya. Masih menatap ke arah miniatur pesawat berwarna hitam dengan kedua sayapnya yang runcing dan memiliki duri di sisinya. Harus kuakui jika selera Badas sangat buruk.


“Benda apa ini? Kau pergi hanya untuk membeli barang seperti ini?” Ador yang dari tadi memperhatikan ekspresiku akhirnya bertanya.


“Bukan, ini adalah pemberian.” Aku kembali menatap ke arah depan. Begitu aku sadari, Badas telah menghilang di ujung jalan.


Ador menggeleng pelan. “Sesuatu pasti terjadi saat aku berada di dalam gedung, kan? Wajahmu terlihat berbeda dari biasanya. Kau jelas tengah senang saat ini.”


Aku bergegas mengubah raut wajahku menjadi datar. “Dari mana kau tahu aku terlihat senang, hah?” Aku bertanya ketus.


Ador melambaikan tangannya. “Sudahlah, itu tidak penting sekarang. Nah, ini milikmu.” Ador menyerahkan sebuah kartu padaku.


“Benda apa ini?” Aku menerima kartu tersebut.


“Ini uang yang berhasil terkumpul berkat pertandinganmu kemarin malam. Jumlahnya sangat besar. Ah, aku tidak perlu menyebutkannya. Sekarang uang ini adalah hakmu. Terserah mau kau gunakan untuk apa uang ini.”


Aku mengangguk. Ini bisa digunakan suatu saat nanti jika aku membutuhkannya. Lagi pula untuk mencapai tujuanku aku juga membutuhkan sejumlah uang.


Kami kembali ke laboratorium. Sudah tidak ada hal lain lagi yang perlu aku lakukan di laboratorium ini. Jadilah aku mempersiapkan barang bawaanku untuk kembali ke akademi. Ador yang menyaksikanku tengah mengemasi barang-barangku hanya menggeleng. Aku tahu dia akan berusaha mendesakku atau memberi sebuah alasan agar aku tidak kembali ke Akademi Talenta secepatnya.


“Kau yakin akan pergi sore ini?” Ador bertanya di sela-sela aku membereskan barang-barangku.


“Iya.” Aku menjawab singkat.


“Kau yakin tidak ingin beristirahat lebih lama lagi?” Dia kembali bertanya.


“Tidak.”


“Hei! Sebegitu semangatnya kau kembali ke Akademi Talenta. Padahal laboratorium inilah tempatmu untuk kembali.”


“Aku tidak punya tempat kembali selain rumahku.” Aku berujar dingin. Masih sibuk mengemasi barang-barangku. “Tenang saja, aku akan segera mewujudkan impianmu agar aku tidak lagi membebani pikiranmu. Aku sudah menyusun rencana sebaik mungkin. Jadi aku yakin seratus persen bisa mengalahkan murid kebanggaan Cario dan membuatnya hancur.”


Ador mengangguk. “Aku sudah tahu kau bisa melakukannya. Tapi setidaknya beri aku penjelasan lebih detailnya soal rencanamu itu.”


“Aku tahu kau hanya mengulur waktuku agar aku tidak pergi secepat ini, Ador. Jadi berhentilah memintaku melakukan berbagai hal agar aku bisa segera kembali ke akademi dan menuntaskan apa yang harus aku lakukan.”


“Tapi aku ini walimu. Seharusnya kau menghabiskan waktu sejenak dengan walimu ini yang sudah membiayai kehidupanmu di Akademi Talenta.” Ador bersikeras tidak ingin kalah.


Gerakan tanganku terhenti. Aku bergegas memasukkan semua barang ke dalam tas dan berdiri. Menatap Ador sembari tersenyum dan mengangguk. “Kau memang waliku, tapi kau bukanlah orang tuaku.” Ujarku singkat.


Ador berdehem pelan. “Aku tahu itu. Kau tidak perlu sejujur itu, Nak.”


“Jika sudah tau begitu, tak ada lagi alasan untuk menunda kepergianku ke Akademi Talenta, kan?” Aku tersenyum simpul. Lantas mulai meninggalkan ruangan.


Namun langkahku terhenti begitu aku mengingat satu hal. “Ador, sepertinya tidak adil jika cuma aku saja yang melakukan semua hal yang kau pinta. Tidakkah kau menjanjikan sesuatu padaku?”


Ador terkekeh. “Tentu saja aku menjanjikan sesuatu padamu. Kita lihat apakah kau benar-benar bisa melakukannya.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2