Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
KEBOHONGAN ZENZEN 2


__ADS_3

Keesokan harinya aku mulai menjalani hari-hari layaknya anak biasa. Walau aku sudah menjadi manusia setengah robot atau biasa disebut dengan cyborg, aku tetap membutuhkan makanan karena sejatinya organ dalamku masihlah organ tubuh asli. Selain makanan aku juga harus sering-sering mengisi tenaga pada alat bantu bionik milikku. Masing-masing bionik  memiliki ketahanan yang berbeda-beda. Dibandingkan yang lain milikkulah yang memiliki daya tahan paling lama. Ador mendesainnya sedemikian rupa sehingga memiliki baterai yang tahan lama dan mampu menyerap energi panas. Hal itulah yang memungkinkanku untuk tidak terlalu sering mengisi baterai pada tangan dan kaki bionik¬ milikku.


Namun ada satu hal yang membuatku merasa sangat tidak nyaman. Anak-anak itu, mereka semua tampak memandangku dengan tatapan sinis penuh kebencian. Aku tahu apa yang mereka pikirkan tentangku. Apalagi jika bukan karena aku mendapatkan perlakuan berbeda dari yang lainnya. Sejatinya alasan Ador melakukan hal itu bukanlah karena aku ini anak spesial atau semacamnya. Aku yakin Ador hanya menganggapku sebagai aset berharga dan karya terbaik miliknya. Jika aku tidak berguna, aku hanya akan dibuang olehnya seperti benda gagal. Berakhir di tempat penampungan untuk barang-barang rongsokan.


Ador mendidik kami layaknya seorang murid sekolah pada umumnya. Kami tetap bersekolah walau tinggal di dalam laboratorium miliknya. Ador sendiri yang menjadi guru kami dan pembimbing kami. Terkadang dia juga mengajari kami beberapa tehnik dan fungsi dari alat bantu yang kami kenakan. Selain sebagai alat bantu, tubuh bionik kami bisa digunakan sebagai alat pertahanan. Untuk sesi ini Ador bahkan menguji kami dalam sebuah ruangan dengan berbagai boneka robot yang bergerak-gerak. Masing-masing alat bantu memiliki tingkat intensitas kekuatan yang berbeda. Semua itu juga dipengaruhi oleh daya otak dan kemampuan berpikir masing-masing individu. Melalui uji coba ini aku yakin Ador berniat menjadikan kami senjata perang atau semacamnya.


Kecurigaanku pada Ador selalu bertambah setiap harinya. Aku sudah mengumpulkan beberapa petunjuk dan informasi. Dan kesimpulanku Ador mengumpulkan anak-anak untuk dijadikan alat tempur di masa depan. Kenapa anak-anak? Karena rasa kepatuhan seseorang dipengaruhi dari masa kecil mereka. Jika seseorang dididik untuk mematuhi perintah orang dewasa sejak kecil, kelak mereka akan menjadi seperti anjing penjaga yang patuh pada tuannya. Begitulah devinisiku mengenai Ador. Dia mencoba mencuci otak kami dan berniat menjadikan kami sebagai anjing penjaga miliknya. Tapi berbeda denganku, aku tidak akan pernah tertipu. Jika ada kesempatan, walau itu membutuhkan waktu bertahun-tahun sekalipun, walau harus menghabiskan sepanjang umurku, aku pasti akan memenggal kepalanya. Atau menjadi buah kematian yang dia tanam sendiri.


Kami berjejer berdasarkan urutan usia. Memasuki sebuah ruangan untuk melakukan sebuah tes.  Di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa alat peraga yang berbentuk manusia dan binatang. Bentuknya jelek sekali. Aku bahkan mengira robot-robot itu adalah benda rongsokan yang ditumpuk di sisi ruangan. Ador memberi tahu kami alasan untuk melakukan tes ini.


“Aku yakin di antara kalian masih tersisa rasa sakit dan mimpi buruk sepanjang malam. Karena itulah aku membuat simulasi ini sebagai penyembuh dan obat kalian untuk terbebas dari kekangan trauma dan penyakit mental yang kalian miliki. Sejatinya kita boleh lari dari sebuah rasa takut. Namun sebaliknya, kitalah yang harus mengejar rasa takut itu sampai kalian berhasil mendapatkannya dan mengalahkannya. Kalian mengerti?”


“Mengerti!” Ujar kami nyaris bersamaan.


Sesi pertama dimulai dari anak yang memiliki usia paling tua diantara kami. Namanya Bastian. Dia memiliki perawakan tinggi dan tegap. Usianya tujuh belas tahun. Dia kehilangan kaki kanannya karena sebuah kecelakaan. Belum lagi mata kanannya juga merupakan mata palsu. Aku bisa melihat bola mata palsunya yang sedikit terang dengan warna jingga. Semua anak-anak tunduk dengan perintahnya. Tentu saja aku tidak. Mana mau aku mengikuti seseorang yang bahkan tidak aku anggap sebagai teman. Bastian mulai memasuki ruangan. Kami bisa menyaksikan bagaimana boneka-boneka itu mulai bergerak. Bastian tersenyum tipis sembari menatap ke arah Ador.


“Tuan Ador, aku pasti akan melakukan yang terbaik.” Ujarnya sembari mengacungkan jempol.


Ador terkekeh. “Lihat saja, Nak. Ini akan berbeda dari latihanmu sebelum-sebelumnya. Jangan sombong dulu.”


Ador mulai menekan sebuah tombol. Robot-robot setinggi orang dewasa itu mulai berdesing. Mata mereka berwarna jingga terang dengan lingkaran yang berbentuk seperti lensa kamera. Awalnya gerakan mereka patah-patah, namun setelah beberapa saat gerakan mereka berubah menjadi sangat lancar dan lentur. Seperti layaknya manusia. Harus aku akui, karya Ador memang luar biasa.


Total ada lima robot yang menghadang Bastian. Robot-robot itu mulai bergerak maju. Mereka sangat lincah dan fleksibel. Mungkin robot-robot itu seperti kopian dari seorang atlet atau semacamnya. Bastian mengambil kuda-kuda. Berkat kaki palsunya dia juga bisa bergerak dengan lincah menghindari robot-robot yang berusaha menangkapnya. Aku hanya diam dan memperhatikan kemudian mencerna baik-baik tujuan dari simulasi ini. Walau usiaku baru dua belas tahun, aku sudah memiliki kemampuan berpikir layaknya orang dewasa. Entah dari mana datangnya kemampuan ini. Kemampuan berpikirku terus terasah selama aku menjadi pencuri dulu. Tanpa aku sadari, otakku sudah semakin tajam.


Bastian berguling ke sana kemari dan menghindari serangan demi serangan. Peluh di wajahnya mulai terlihat. Walau demikian dia masih sanggup bergerak lincah.


“Kalian tahu? bertarung adalah salah satu cara seseorang melupakan kenangan  pahit mereka dan mengubahnya dalam bentuk kekuatan. Dengan bertarung, otak kita menerima progres baru dan secara tidak sadar mulai membuang kenangan-kenangan yang tidak diinginkan dengan menyalurkannya menjadi kekuatan. Anggap saja seperti tokoh jahat yang kalian saksikan di televisi. Tokoh jahat sering sekali digambarkan keji dan tidak berperasaan. Semua itu mereka lakukan demi menghilangkan rasa sakit di dalam hati. Oh! Jangan sampai kalian semua berpikir untuk menjadi orang jahat. Ini hanya perumpamaan saja.” Jelas Ador di tengah-tengah simulasi. “Selain itu, ada satu hal lagi tujuanku melakukan simulasi ini. Tak lain adalah kemampuan spontanisasi kalian dalam mengendalikan alat bionik yang ada pada tubuh kalian. Semakin kalian lincah mengendalikan benda tersebut, itu artinya benda itu sudah seperti menjadi bagian dari diri kalian tanpa harus memusatkan pikiran kalian. Karena itu aku akan menguji kalian dalam simulasi seperti ini setiap bulan.”


Kami semua mengangguk serentak. Kembali memperhatikan Bastian. Sudah sepuluh menit dia bertahan. Tampaknya Bastian mulai kelelahan.


“Bastian, apa kau sudah lelah?” Ador bertanya untuk memastikan.

__ADS_1


“Belum!” ujar Bastian di tengah nafasnya yang tersengal. “Tolong naikkan levelnya.”


Ador terkekeh. “Kalau kau bergerak dengan mengingat kenangan pahitmu, kau hanya akan cepat merasa lelah, Nak.” Ador memberi saran sembari menaikkan level dari simulasi tersebut.


Robot-robot itu kini bergerak semakin cepat. Membuat Bastian harus mengerahkan tenaga lebih besar. Tubuhnya menjadi tidak seimbang dan dia sering sekali melakukan kesalahan. Pada akhirnya dia tidak sanggup bertahan lebih lama lagi.


“Sudahku bilang jika hari ini akan lebih sulit.” Ador tertawa terbahak-bahak.


Bastian hanya mengernyit dan terbaring di atas lantai sejenak. Lantas berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Begitupun dengan urutan selanjutnya. Rata-rata mereka hanya bertahan sampai sepuluh menit dalam arena tersebut. Lantas berakhir seperti Bastian. Sampai akhirnya tiba giliranku. Karena aku baru bergabung Ador memberiku level terendah dari permainan ini. aku tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Toh, ini hanya soal ujian ketahanan.


“Zenzen, kau tidak perlu memaksakan diri.”


Aku mengangguk. Tapi aku tetap akan melakukan simulasi ini dengan sungguh-sungguh. Aku punya maksud tersendiri untuk mengikuti simulasi ini. Dengan begitu aku bisa menguji coba sebaik apa tubuh bionik ini bisa kukendalikan.


Sepeti yang Ador bilang, emosi pengendalian sangat berpengaruh dalam gerakan setiap tubuh bionik. Ketika seseorang tengah mengalami sebuah emosi, maka pikiran mereka akan kacau dan tidak beraturan. Karena itulah boneka-boneka itu dibuat dengan tujuan agar pengendali tubuh bionik tidak terpaku pada emosi yang ada di pikirannya. Sejauh ini itulah kesimpulan sederhana yang aku pelajari dari simulasi ini.


“Kau hebat, Nak. Untuk pemula itu adalah kemajuan yang luar biasa.” Ador berseru di tengah simulasi.


“Aku masih sanggup. Bisa tolong naikkan levelnya.”


Ador mengangguk. Kali ini robot-robot itu bergerak lebih cepat. Aku berkonsentrasi sebaik mungkin dan memusatkan pikiranku ke pengendalian tubuh bionik milikku. Dengan lincah aku menghindari tangan-tangan robot yang mencoba menangkapku. Instingku berjalan dengan baik. Walau tidak melihat sekalipun aku bisa tahu darimana robot-robot itu mencoba menangkapku. Belakang, atas, samping, semua aku lalui dengan mudah.


“Baik, cukup untuk hari ini.”


Eh? Padahal aku masih belum merasa lelah sedikitpun. “Tidak bisakah aku melanjutkan ke level selanjutnya?” Ujarku penuh harap.


Anak-anak lain berseru tidak terima. Ador hanya terkekeh. Sejauh aku mengenal Ador, dia selalu saja terkekeh seperti itu macam kakek-kakek tua.


“Kau masih sanggup rupanya. Baiklah, aku terima ambisi besarmu itu, Nak. Tapi jangan menangis jika kau terluka. Oh, yang paling penting jangan sampai kau marah padaku dan menyalahkanku. Ini adalah pilihanmu.”

__ADS_1


Aku mengangguk mantap. Rasa sakit tak akan lagi membuatku menangis. Aku sudah memutuskan untuk tidak lagi menangis hanya karena masa lalu pahit yang kualami. Sekali lagi, kebencianku pada dunia lebih besar dari pada rasa sakitku kehilangan orang yang berharga bagiku.


Robot-robot itu kembali berdesing. Satu persatu bagiannya saling bergeser dan berderak. Tampaknya Ador tengah mengubah mode robot-robotnya agar lebih fleksibel dan ringan. Lensa mata robot tersebut melebar. Menampakkan cahaya jingga bulat yang sempurna. Tanpa basa-basi, robot-robot tersebut bergerak sangat cepat.


Aku menunggu sampai salah satu tangan robot-robot itu nyaris mengenaiku. Dengan cepat aku menghindar ke arah samping. Dua robot menangkap angin dan saling bertabrakan. Aku berguling ke sana kemari. Karena aku tidak memikirkan apapun selain ambisiku untuk terus bertahan, aku sangat mudah meladeni serangan demi serangan. Tekadku untuk menjadi kuat dan lebih kuat dari siapapun sangat besar. Perasaan seperti itulah yang membuatku memutuskan untuk terus menjalani hidup.


Aku menyadari satu hal saat tragedi kebakaran yang menewaskan Kakakku. Aku menyadari satu fakta yang sangat pahit sejak kejadian tersebut. Satu peraturan tak tertulis yang ada di dunia ini, aku tidak akan pernah bisa hidup jika tidak berada di atas yang lainnya. Aku tidak akan pernah bisa maju jika masih ada orang-orang yang letaknya lebih tinggi dariku. Satu-satunya cara agar aku bisa hidup hanya satu. Tidak membiarkan siapapun berada di atasku. Sebaliknya, akulah yang akan berada di atas mereka. Akulah yang akan membuat mereka takut kepadaku.


“Ador! Naikkan levelnya!” Aku berseru lantang di tengah simulasi.


Ador menyetujui permintaanku. Kali ini robot-robot itu mulai menyerang. Tidak lagi berusaha menangkapku. Aku dengan cepat menghindar ke kanan dan ke kiri. Robot-robot tersebut memukul udara. Satu robot mencoba melesatkan tendangan ke arah kepalaku. kutangkis tendangan itu menggunakan tangan bionikku dan membelokkannya ke arah robot lain. Satu robot tumbang. Tersisa empat robot lainnya. Dua robot mencoba menyerangku secara bersamaan. Aku fokus dengan keadaan dan tubuhku bereaksi dengan cepat. Dengan cepat aku menunduk dan berputar di atas lantai. Sekali lagi mereka hanya meninju udara.


“Zenzen, apa kau sudah lelah?” Tanya Ador di tengah pertarungan.


“Belum, aku masih bisa lanjut.” Aku menjawab pertanyaannya sembari tersenyum.


“Mari kita lihat. Aku yakin setelah ini kau akan menyerah.”


Kali ini Ador mengaktifkan dua robot berbentuk binatang buas dengan duri di leher mereka. Ukurannya sedikit lebih besar dari seekor harimau. Dua robot itu menyalak galak dan mengeluarkan suara seperti deru kereta api. Aku tersenyum senang. Perasaan ini adalah perasaan yang tidak pernah kualami sebelumnya. Jantungku berdegup dengan kencang dan anehnya aku tidak merasa takut. Dengan cepat aku meladeni dua robot tersebut. Mereka melompat dan mencoba menjatuhkanku dengan terjangan mereka. Aku dengan cepat menangkap salah satu kaki robot binatang tersebut. Lalu melemparkannya dengan cepat ke arah dua robot manusia di belakangku.


Tiga tumbang, yang itu artinya tersisa tiga robot lainnya. Satu robot binatang dan dua robot manusia. Mereka terdiam sejenak. Sepertinya tengah menganalisis keadaan dan berusaha mencari celah untuk menyerangku. Pertarungan kembali dimulai. Mereka tampak bekerja sama untuk menjatuhkanku. Sekali lagi aku tidak merasa takut ataupun ciut. Kusambut serangan demi serangan. Aku merasa sangat senang hari ini. Ini adalah bagian paling menyenangkan dalam hidupku. Entah aku namakan apa perasaan ini. Aku merasa sangat hebat dan kuat. Mungkin inilah yang disebut sebagai adrenalin. Mungkin inilah rasanya menjadi bisa lebih kuat dari siapapun.


Robot binatang itu mencoba mencakarku. Aku berputar dan menghindari serangan tersebut. Di belakangku telah berdiri dua robot manusia yang bersiap menyerangku. Aku menghindar tanpa melihat ke belakang. Dengan cepat menjegal kaki kedua robot tetsebut. Dua robot manusia itu tumbang. Tersisa satu robot lagi. Robot binatang yang tengah menyalak galak. Siap menerjangku kapanpun.


Robot itu berdiri di sisi ruangan dan menghentakkan kakinya seperti seekor banteng. Asap mengepul dari mulutnya. Matanya menatap buas ke arahku. Robot itu memusatkan tenaga tepat di kakinya. Aku bisa melihat cahaya berwarna jingga pada ujung kaki robot tersebut. Dengan cepat melesat dengan tenaga yang dipusatkan itu. Terdengar suara dentuman sejenak. Aku menyeringai. Inilah saat yang paling kutunggu. Usiaku mungkin masih belia. Tapi aku menunjukkan perilaku yang tidak wajar untuk seorang anak kecil.


Aku memusatkan energi listrik tepat di ujung kepalan tanganku. Tanganku mengeluarkan cahaya berwarna jingga. Dengan cepat aku mengarah ke robot tersebut. Mengepalkan tangaku sekuat tenaga. Ketika robot tersebut nyaris menyentuhku, aku melesatkan tinjuku tepat ke bagain perut. Waktu seakan berjalan dengan lambat. Aku bisa menyaksikan tubuh robot tersebut hancur dan tercerai berai. Berserakan di lantai bagai barang rongsokan. Hening sejenak. Ador tidak bisa berkata-kata.


 


 

__ADS_1


__ADS_2