
Aku membuka mataku yang terasa berat. Aku baru saja tertidur. Akibat pertemuanku dengan Zenzen, aku jadi banyak menguras tenaga. Tanganku tidak lagi terborgol. Walau demikian, aku tidak akan bisa lari dari ruangan ini. Tempat ini jelas sekali berbeda dengan ruang sekap di Kota Keios. Di ruangan ini tersimpan berbagai alat. Seperti belalai yang setiap beberapa jam akan memeriksa keadaanku. Jika bisa keluar dari tempat ini pun, aku hanya akan tertangkap oleh ratusan prajurit di luar sana. Terutama Zenzen menahan teman-temanku. Mereka bisa saja tersakiti karena tindakan bodohku.
Aku menyandarkan kepalaku di dinding ruangan. Aku sudah tidak tahu berapa lama aku terkurung di dalam ruangan ini. Aku juga tidak tahu bagaimana kondisi teman-temanku. Apakah mereka baik-baik saja? Setiap kali menanyakan hal itu, aku selalu dirundung dengan perasaan bersalah. Jika saja aku tidak meminta mereka ikut denganku, cerita ini tidak akan berakhir seperti ini. Tidak, jika saja aku tidak pernah tertarik untuk menjalani misi ini, mungkin saja semua orang yang berada di sekitarku tidak akan tersakiti.
Pintu ruangan terbuka. Empat orang tentara berpakaian cokelat muda memasuki ruangan. Mereka semua memakai helm dan membawa senjata.
“Kami diperintahkan Zenzen untuk membawamu.”
Aku hanya menatap sinis ke arah mereka. Lantas beranjak dari tempat dudukku. Mengikuti kemana mereka akan membawaku.
Mereka membawaku ke dalam ruangan dengan sebuah arena sebesar lapangan voli di tengahnya. Keempat tentara yang tadi membawaku lantas pergi meninggalkanku sendirian di dalam ruangan ini. Sama seperti di ruang sekap, tempat ini juga memiliki kamera pengawas.
Aku menatap salah satu kamera. Aku tahu jika Zenzen sedang mengawasiku di sana. “Apa yang sedang kau rencanakan?” Aku bertanya dengan nada ketus.
Benar saja dugaanku, Zenzen menjawab pertanyaanku.
“Sepertinya kau sudah tahu posisimu, ya? Kau tidak melawan saat dibawa oleh para prajuritku.” Ujar Zenzen dengan nada yang dihaluskan.
“Cukup basa-basinya! Cepat katakan apa maksudmu!”
“Baiklah, kau benar-benar anak yang tidak sabaran. Aku berniat mengujimu di dalam ruangan ini. Aku tidak bisa menjamin kau akan mengikuti semua perintahku dengan benar. Jadi, aku akan melakukan beberapa tes kecil untukmu.”
“Bukannya dengan menyiksa temanku sudah cukup bagimu untuk mengendalikanku?”
“Hei! Aku sudah bilang itu bukanlah sebuah jaminan. Bisa saja alat di dalam tubuhmu tidak berfungsi dengan baik. Bagaimana jika alatnya rusak atau sudah tidak berfungsi lagi. Tentu saja aku harus melakukan tes untukmu.”
Aku menghela nafas sejenak. Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti semua kemauannya. Saat ini aku harus membuat rencana dan menemukan momentum yang tepat untuk menyelamatkan teman-temanku. Hei! Tunggu sebentar, bukannya dalam rekaman yang Zenzen tunjukkan padaku tidak ada Jora? Kemana dia pergi? Apakah dia benar-benar berkhianat? Atau Walikota Keios membuat perjanjian dengan Zenzen dengan menukarku dan Jora. Dengan syarat Zenzen tidak mengganggu Kota Keios. Argh! Semua ini membuatku bingung.
“Mari kita mulai tes pertamamu, Nak!” Seru Zenzen.
Di dalam ruangan muncul berbagai belalai dengan moncong layaknya silet.
“Hei, Zenzen! Jelaskan maksud dari tes ini!” Aku menatap ke arah kamera. Awalnya aku mengira jika tes yang dia berikan padaku hanya sekedar membuka gerbang.
Zenzen tertawa licik. “Tentu saja aku tidak menyuruhmu hanya sekedar untuk membuka gerbang, Nak. Kau juga harus bisa bertahan dalam serangan ataupun situasi berbahaya lainnya. Karena ada kemungkinan semua orang akan mencoba membunuhmu begitu mengetahui alat itu bisa membuka berbagai macam gerbang. Tenang saja, belalai-belalai itu hanya kutugaskan untuk melukaimu. Tapi rasa sakit dari sabetan belalai-belalai itu dua kali lipat dari pada sabetan pisau biasa. Jadi usahakan kau jangan sampai terkena. Tugasmu tidak hanya sekedar menghindari serangan-serangan itu. Kau harus bisa tiba di pintu selanjutnya.”
Aku hanya bisa menggerutu di dalam hati. Ini sungguh menyebalkan!
Zenzen tidak lagi bersuara. Belalai-belalai di hadapanku mulai berdesing. Mendesis layaknya binatang buas. Mereka bergerak cepat. Mencoba menghalangiku mendekati pintu yang terpampang beberapa meter di hadapanku. Aku mulai berlari. Salah satu belalai mengenaiku. Bahkan dalam belalai itu memiliki tambahan berupa pelontar angin. Tubuhku terhempas ke titik semula. Zenzen benar, rasa sakit dari sabetan belalai itu bukan main. Aku bahkan meringkuk sejenak. Memegangi bahuku yang serasa terbakar.
“Oi, Zenzen! Kau tidak bilang jika alat-alat ini mengeluarkan pelontar angin!” Aku menatap ke arah kamera. Hening.
Aku kembali berlari menerobos belalai-belalai yang bergerak acak itu. Sekali dua kali aku bisa menghindarinya. Namun langkah berikutnya aku kembali terkena sabetan. Terlontar beberapa meter. Kali ini kuda-kudaku lebih mantap. Tidak lagi tersungkur seperti sebelumnya. Satu hal yang menggangguku adalah rasa sakit yang ditimbulkan dari sabetan itu. Aku harus menunggu beberapa menit agar rasa sakitnya menghilang sembari menghindari serangan berikutnya.
Beberapa menit kemudian aku mulai terbiasa dengan kecepatan belalai-belalai itu. Aku mulai bisa menghindari delapan sampai sepuluh kali serangan mereka. Setelahnya tubuhku kembali terkena sabetan. Entah sudah ada berapa goresan di tubuhku. Dari pengalaman ini aku belajar satu hal, aku paling tidak suka jika kakiku yang terkena sabetan. Karena hal itu memperlambat gerakanku. Semakin banyak goresan, semakin sakit.
Keringat mulai bercucuran membasahi tubuhku. Sudah lima belas menit lamanya aku bertahan dari terjangan belalai-belalai itu. Setidaknya aku sudah sedikit mendekati pintu. Jika konsentrasiku buyar sedikit saja, aku akan terkena serangan. Aku harus tetap fokus. Hingga aku berhasil tiba di depan pintu. Begitu aku menyentuh pintu itu, tes ini akan berakhir.
Aku terbelak. Pintu itu tidak mau terbuka. Sebuah belalai melesat cepat mengenai tubuhku. Menghantam mundur tubuhku. Aku tidak sempat menyiapkan kuda-kudaku. Tubuhku tersungkur. Untuk kesekian kalinya aku menggeram kesakitan. Mau berapa kalipun terkena sabetannya, aku masih belum bisa terbiasa dengan rasa sakitnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pintunya tidak mau terbuka? Apakah Zenzen tengah menipuku?
“Oi! Apa-apaan ini? kau tidak bisa membuka pintunya?” Suara Zenzen kembali terdengar. “Kalau begini bisa-bisa temanmu dalam bahaya, Nak.”
“DIAM KAU, ZENZEN! KAU HANYA MENGGANGGU KONSENTRASIKU!”
“Kalau begitu, aku butuh pembuktian, Nak. Bukan sebuah omong kosong yang kau lontarkan.”
Sial! Aku benar-benar kesal dengan semua ucapannya. Aku harus mengingat kembali bagaimana caraku membuka pintu saat aku dikurung di dalam ruang sekap Kota Keios.
__ADS_1
Saat itu aku ingin keluar dari dalam ruangan lantaran ingin bertemu dengan Liana. Apakah tekad yang memicu alat di dalam tubuhku berfungsi? Kalau begitu apa tekadku saat ini? Ah, aku harus menyelamatkan teman-temanku.
Aku kembali berlari sembari menghindari belalai-belalai itu. Dan dengan cepat menyentuh pintu tersebut.
“Aku pasti akan menyelamatkan teman-temanku!” Aku berteriak di dalam hati.
Cahaya kebiruan berpendar memenuhi dinding. Dan pintu itu terbuka. Aku bergegas memasuki pintu. Namun aku dikejutkan oleh sebuah bius yang menancap tepat di bagian punggungku. Aku jatuh bedebam. Dalam hitungan detik, kesadaranku hilang.
Aku terbangun. Aku sudah berada di ruang sekap. Serangan kejutan tadi benar-benar membuatku kesal. Kepalaku terbentur sangat keras saat aku terjatuh tadi, menyisakan memar di keningku. Aku menatap ke arah kamera pengawas sembari memegangi kepalaku. Mengusap keningku yang memar.
“Hahahaha! Kau pasti terkejut, kan?” Suara Zenzen yang menyebalkan kembali terdengar memenuhi ruangan. “Bukannya aku sudah bilang kau harus siap menghadapi kondisi apapun? Bagaimana jika semisalnya kau mendapatkan kejutan yang sama seperti tadi?” Zenzen kembali tertawa.
Aku mengepalkan kedua tanganku. Sebenarnya sejak tadi aku sudah menahan emosiku.
“Yah, bisa aku bilang kau lulus dalam tes tadi. Tapi tidak sempurna. Sebaiknya kau bersiap untuk melaju ke tes berikutnya. Jadi untuk saat ini aku akan membiarkan kau beristirahat sembari memakan makanan yang sudah aku siapkan.”
Lantai ruangan terbuka. Sebuah roti dan air minum tersaji tepat di hadapanku. Aku mengeluh. Bagaimana bisa aku makan dalam kondisi menyebalkan seperti ini.
“Hei! Jangan memasang wajah masam seperti itu, Nak!” Zenzen berkomentar.
Aku menatap ke arah kamera pengawas. “Zenzen! Pastikan jika teman-temanku mendapatkan makanan yang sama sepertiku!”
“Lihatlah! Sekarang kau berani memerintahku? Kau benar-benar tumbuh menjadi anak yang tidak sopan. Tapi jangan khawatir. Aku tahu kau tidak akan menyentuh makananmu jika aku tidak menunjukkan kondisi teman-temanmu, kan?”
Dalam beberapa detik, tiga proyeksi hologram muncul di hadapanku. Di sana terpampang jelas kondisi mereka bertiga. Marko tampak meringkuk di pojok ruangan dengan sebuah roti dan air terhidang di sampingnya. Vero tengah menatap ke arah kamera pengawas, sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu. Dia dengan santainya memakan roti yang terhidang untuknya. Bundara tengah menatap ke arah pintu ruangan. Wajahnya terlihat serius, di sekitarnya tampak beling yang berserakan. Tampaknya dia baru saja memecahkan gelas tersebut.
Aku menghembuskan nafas. Walau mereka mendapatkan jaminan makanan, tentu saja aku lebih memilih untuk membebaskan mereka.
Layar di hadapanku menghilang. Satu hal yang membebani pikiranku. Dimana keberadaan Jora? Aku tidak berani menanyakan hal tersebut pada Zenzen. Alasan? Aku takut jika mendengar Jora mengkhianati kami. Dia sudah aku anggap bagian dari tim. Yah, walaupun terlambat untuk mengakuinya.
Pada akhirnya aku memakan roti yang terhidang di hadapanku. Aku tahu Zenzen tidak akan pernah membiarkanku mati. Bisa saja dia melakukan sesuatu pada yang lainnya jika aku tidak mengunyah roti tersebut. Aku memakannya dengan sangat perlahan. Teringat masa-masa saat aku dulu masih menjadi tahanan sementara.
Tes berikutnya kembali dimulai.
Aku berada di dalam ruangan yang sama seperti saat aku menghindari berbagai belalai silet. Entahlah, aku tidak tahu nama pastinya. Aku hanya asal memberikan nama. Kali ini aku tidak merasa emosi sedikitpun. Aku justru memperhatikan sekitarku. Memeriksa keadaan dan mencari celah sekecil apapun. Karena peluangku untuk kabur sangatlah tipis. Salah bertindak sedikit saja, nyawa teman-temanku menjadi taruhannya.
“Selamat datang di tes selanjutnya! Sebelum itu aku ingin mengucapkan selamat pagi. Walau kau tidak tahu jam berapa, tapi aku hanya ingin memberi tahumu kalau saat ini adalah pagi.” Seru Zenzen.
Aku hanya diam. Tidak menghiraukan suara Zenzen yang terdengar konyol.
“Sepertinya kita berdua memang tidak akan bisa akrab. Aku akan menjelaskan tes kali ini. ada baiknya kau mendengarkan dengan seksama. Agar kejadian kemarin tidak terulang.”
Sekali lagi aku hanya diam. Aku tengah fokus menatap pintu yang ada di seberang ruangan.
Lantai ruangan tiba-tiba bergetar. beberapa ubinnya bergerak secara dinamis. Aku yang awalnya fokus menatap pintu di seberang ruangan menatap takjub ubin-ubin yang bergerak-gerak tersebut. Sempat lupa dengan tujuan awalku.
Sebuah robot dengan tinggi seorang dewasa berdiri di hadapanku. Robot itu berwarna abu-abu metalik dengan warna mata seperti RP-2. Badannya besar seperti mengenakan sebuah zirah perang. Kedua tangannya mengepal. Aku segera tahu, bahwa robot itu sangatlah berbahaya.
“Inilah tes berikutnya sekaligus tes terakhirmu. Kau hanya perlu mengalahkan mainanku yang kini berhadapan denganmu. Aku menyebutnya dengan nama Big Boss. Kau tidak perlu membuka pintu, karena ini hanya akan menjadi tes kekuatan. Aku ingin mengukur seberapa besar kekuatanmu. Bisa dibilang aku akan menjadikanmu pengawal pribadiku.”
Dasar psikopat gila! Aku hanya bisa mengumpat di dalam hati.
“Sekali lagi, aku tidak memiliki niat untuk membunuhmu, Nak. Jadi, berusahalah dengan baik.” Ujar Zenzen untuk terakhir kalinya.
Robot di hadapanku mulai bergerak. Langkahnya lambat, tidak seperti gerakan RP-2. Aku terdiam sejenak. Bukan menunggu serangan dari robot tersebut, melainkan aku merasa seperti pernah melihat benda bergerak tersebut entah dimana.
__ADS_1
Big Boss mulai menghantamkan tinjunya. Aku dengan cepat menghindar, robot tersebut meninju udara. Aku dengan cepat memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang. Aku melepaskan tendangan lantaran tinju tidak akan mempan pada benda berlapis besi tersebut. Detik-detik saat tendanganku mulai mengenainya, robot tersebut secara tiba-tiba bereaksi dengan sangat cepat. Dia menggenggam kakiku. Melemparkanku ke arah dinding ruangan.
Aku memegangi dadaku. Rasanya sesak sekali setelah tubuhku menabrak dinding. Aku terbatuk-batuk, berusaha mengatur kembali nafasku. Big Boss tidak membiarkanku beristirahat. Benda itu kembali melesatkan pukulan. Aku dengan cepat berguling dan menghindari serangan tersebut.
Ini curang! Bagaimana bisa orang sepertiku menghancurkan benda ini dengan tangan kosong. Jika lawanku adalah manusia berotot seperti Bundara, aku masih memiliki kemungkinan mengalahkannya. Tapi lihatlah! Bagaimana caraku mengalahkan benda besi tersebut?
Aku kembali mencoba melesatkan tendangan tepat ke arah kakinya. Tendanganku sama sekali tidak berefek. Big Boss bergeming, justru semakin beringas menyerangku. Kali ini aku terkena pukulannya. Tubuhku terpelanting beberapa meter. Aku memegangi perutku. Meringkuk menahan sakit. Ini lebih mengerikan dari pada tes sebelumnya. Tubuhku seakan menolak untuk bergerak.
Apakah aku takut?
Aku kembali berdiri. Tubuhku bergetar hebat. Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diri. Begitu aku siap, aku dengan cepat berlari ke arah robot tersebut. Mungkin dengan berlari aku akan mendapatkan kekuatan yang lebih besar untuk menghancurkan robot tersebut.
Usahaku lagi-lagi berakhir dengan sia-sia. Big Boss seakan bisa membaca setiap pergerakanku. Robot tersebut menghindar. Tinjuku mengenai udara kosong. Aku berputar dan melesatkan tendangan ke arah kepalanya. Big Boss mencoba menangkap kakiku. Tapi aku lebih dulu mengubah gerakan. Tanganku mengincar bagian perut. Aku berteriak sekencang mungkin. Berharap pukulanku berdampak pada robot tersebut.
Robot tersebut dengan cepat menendangku. Tubuhku kembali menabrak dinding. Kepalaku terbentur dengan sangat keras. Aku tergeletak tak berdaya di atas lantai ruangan. Telingaku berdenging dan pandanganku berkunang-kunang. Robot tersebut tidak bergerak. Tampaknya dia diperintahkan untuk tidak menyerangku saat aku dalam keadaan lemah.
“Berdiri!” Perintah Zenzen.
Aku menggigit bibir. Ini sama saja seperti penyiksaan. Padahal tadi dengan jelas Zenzen bilang tidak akan membunuhku. Tapi jika begini terus...
“Aku bilang berdiri!” Teriak Zenzen lebih keras.
Tangan dan kakiku bergetar. Rasa takut menguasaiku. Aku seperti pernah bertemu dengan robot zirah tersebut entah dimana. Aku tidak tahu, tapi tubuhku seakan mengenalinya.
“Aku tidak punya pilihan, Nak!” Zenzen menayangkan tiga layar hologram di dalam ruangan.
Aku tahu jika layar itu menayangkan ketiga temanku. Mereka bertiga kembali terborgol. Di hadapan mereka terdapat belalai yang diselimuti dengan listrik. Mataku terasa pedas. Sementara seluruh tubuhku terasa sangat sakit.
Aku kembali bangkit. Aku benar-benar sangat ketakutan. Keringat mengucur deras membasahi keningku. Tangan dan kakiku terasa dingin. Zenzen terus berteriak mengancamku. Aku mengatupkan rahang. Semua penderitaan ini tidak akan berakhir jika aku tidak membunuh Zenzen.
Tubuhku terasa berat. Rasanya sangat menyakitkan saat aku dihadapi situasi dimana nyawa orang-orang terdekatku terancam. Jika saja aku mati, mungkin semua orang akan hidup bahagia.
“Lian, ini pesan terakhir Ibu. Hanya kau yang bisa menyelamatkan dunia. Camkan itu baik-baik! ”
“Kita semua tidak akan pernah bisa terbebas dari hal ini jika RP-2 tidak segera musnah.”
Di saat-saat seperti ini aku malah teringat kata-kata Ibu dan Jora. Tanpa aku sadari air mataku sudah berderai membasahi pipiku. Jika saja, jika saja aku benar-benar memiliki kekuatan untuk menyelamatkan dunia, mengapa aku selemah ini?
“Fungsi berikutnya sebagai kekuatan. Aku sudah mendengar soal ini, Lian. Dimana kau memukul salah satu prajurit dan membuatnya terpental beberapa meter. Aku bahkan dibuat tertawa dengan wajahnya yang lebam. Alat ini memanipulasi ototmu. Membuatnya puluhan kali lebih kuat dari manusia biasa. Hasilnya kau memiliki kekuatan yang di luar akal sehat manusia. Membuatmu layaknya super hero.”
Begitu aku mengingat kalimat Ruzdora, kekuatanku kembali. Kekuatan itu terasa sangat besar. Mengalir di setiap tubuhku. Aku mengusap air mataku. Jora dan Ibu benar! Hanya aku yang bisa menyelamatkan manusia dari kesengsaraan. Semua ini tidak akan berakhir jika semua robot-robot itu musnah dari muka bumi. Dan aku pasti akan membunuh Zenzen dengan tanganku sendiri.
Aku memasang kuda-kudaku. Berkonsentrasi penuh. Aku memejamkan mataku dan mengatur nafasku. Membulatkan tekadku dan mengendalikan kekuatan besar yang aku rasakan saat ini. Kesiur angin terdengar di sekitarku. Aku membuka mata. Dengan cepat mengarahkan tinju pada Big Boss.
Aku merasa gerakanku lebih cepat dari sebelumnya. Bahkan dengan kecepatan ini aku seakan menyaksikan robot tersebut seakan bergerak sangat lambat. Seperti melihat sebuah rekaman slow motion. Aku memusatkan seluruh kekuatan tepat di tangan kananku. Dan menghantamkan pukulanku pada Big Bos. Semua itu berlangsung sangat cepat, hanya dalam hitungan detik.
DUAR!
Robot tersebut hancur seketika. Tubuhnya tercerai-berai dan mengeluarkan ledakan kecil. tubuhku tersentak dan terhempas beberapa meter. Aku dengan cepat memantapkan pijakanku.
Aku masih menatap tidak percaya pada bongkahan besi yang tergeletak berserakan di sekitarku. Ini benar-benar tidak masuk akal! Bagaimana bisa tinjuanku menghancurkannya? Dan kekuatan apa yang aku rasakan tadi? Saat ini aku ingin sekali bertemu dengan Ruzdora dan menceritakan kejadian ini.
Zenzen bertepuk tangan. “Aku sudah tahu jika kau bisa melakukannya, Nak.”
Aku terduduk. Tubuhku terasa lemas setelah mengeluarkan kekuatan besar tadi. Aku tidak tertarik untuk membantah ataupun menghiraukan kalimat Zenzen. Aku ingin sekali beristirahat.
__ADS_1