Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
FALCON 2


__ADS_3

Kami segera berlari. Aku menjatuhkan para bandit menggunakan seluruh sistem yang ada di dalam markas. Kami harus menghemat amunisi yang tersisa. Ada kemungkinan jika Zenzen segera tiba di markas ini. Apalagi aku baru saja mendengar bahwa prajurit yang ditugaskan untuk  melawan Zenzen telah gugur. Jika dugaanku benar, mungkin Zenzen memiliki kekuatan yang menyerupai denganku. Itulah yang membuat dia bisa mengendalikan pesawatku sebelum kami ditangkap. Dan kemungkinan besar kekuatannya melebihi kekuatanku.


Aku terus memandu pasukan. Tempat Vero, Bundara, dan Marko disekap berada di ruang bawah tanah. Saat ini para bandit tengah mencoba membawa mereka ke tempat yang berbeda. Tapi aku lebih dulu meretas tempat dimana mereka disandera. Membuat pintu tersebut tidak bisa dibuka oleh para bandit. Bagaimana aku mengetahui hal tersebut? Aku menghubungkan kamera pengawas pada proyeksi di dalam helmku. Membuatku mengetahui setiap pergerakan para bandit.


Namun aku tahu kekuatan ini ada batasnya. Aku harus bergegas. Satu-satunya yang menggangguku adalah para bandit-bandit yang mencoba menghalangi kami. Sesekali aku harus menggunakan senapanku untuk menembaki mereka. Aku juga tidak bisa terus menerus mengandalkan kekuatanku. Hingga kami telah tiba di tempat tujuan.


Di sana telah menunggu puluhan bandit. Aku menggunakan kekuatan terakhirku untuk menyapu bersih mereka semua. Dengan cepat membuka ketiga pintu dimana teman-temanku disandera.


Aku bergegas masuk ke salah satu ruangan. Namun, sebuah tangan meninju tepat ke arah helmku. Aku terkejut dengan serangan mendadak tersebut. Aku bahkan tersungkur ke lantai ruangan. Sesosok tersebut hendak bersiap menyerangku kembali. Astaga! Aku kira siapa yang baru saja meninjuku, ternyata Bundara. Aku segera membuka penutup helmku dan menyuruhnya untuk berhenti.


“Bundara, ini aku!” Aku berseru ketus. Memasang wajah masam.


“Eh? Lian!” Bundara lebih tekejut lagi.


Marko dan Vero ikut bergabung. Mereka telah dibekali dengan senapan dan helm khusus. Bundara membantuku untuk bangun.


“Apa yang terjadi, Kapten?” Marko lebih dulu bertanya.


“Nanti saja penjelasannya. Kita harus keluar dari tempat ini.”


Mereka bertiga mengangguk serempak. Tanpa basa-basi, kami bergegas keluar dari markas.


Sekitar lima belas menit lamanya kami berhasil keluar. nafasku tersengal. Keringat membasahi tubuh. Aku hampir mencapai batasku. Di atas sana pesawat-pesawat masih saling bertempur. Aku meminta Jora untuk menjemput kami. Para bandit masih berdatangan. Mereka semua benar-benar keras kepala. Aku tidak bisa menghindari pertempuran sejenak saja. Setidaknya Marko, Vero, dan Bundara masih memiliki tenaga. Mereka dengan cekatan melawan para bandit yang tersisa.


Lima menit kemudian sebuah pesawat terbang rendah di dekat kami. Menurunkan tali dan bersiap membawa kami. Namun...


Sebuah rudal mengarah cepat pada pesawat yang baru saja hendak menjemput kami. Pesawat tersebut bergerak tak terkendali. Satu persatu bagiannya meledak. Kami berlari menjauh. Turbo dan baling-balingnya terpental ke sana-kemari. Aku nyaris saja tertimpa salah satu bongkahan. Ledakan besar tak terhindarkan begitu pesawat tersebut menyentuh markas. Tubuhku terhempas dan terpelanting. Aku terguling dan menabrak beberapa bongkahan yang berserakan. Helmku bahkan terlepas. Aku masih terguling dan berakhir di salah satu bongkahan. Wajahku kotor dan darah segar mengucur deras dari keningku. Telingaku berdenging sejenak lantaran mendengar ledakan yang sangat besar. Aku terbatuk, berusaha bangkit. Namun kakiku terasa sangat sakit. Walau tidak melihatnya, aku tahu jika kakiku terkilir. Perutku juga terasa sangat sakit lantaran terbentur bongkahan besi sepanjang aku terhempas.


Api menjalar dimana-mana, membuat kepulan asap membumbung tinggi dan menutupi pandangan. Aku harus bergegas mencari helm. Jika tidak aku bisa mati lantaran kekurangan oksigen. Aku berjalan dengan langkah gontai sembari memegangi perutku yang terasa sakit. Pandanganku mulai kabur. Aku tidak bisa pingsan dalam kondisi seperti ini.


Aku harap yang lain baik-baik saja. Aku masih mendengar dentuman dan tembakan dimana-mana. Aku mengambil salah satu senjata yang tergeletak sembarangan. Aku masih belum menemukam helm. Udara semakin terasa tipis. Dadaku mulai sesak. Sesekali aku nyaris terjatuh lantaran rasa sakit yang tak tertahankan.


Hingga pandanganku tertuju pada sesosok yang mendekatiku. Awalnya hanya seperti siluet hitam lantaran asap menutupi pandanganku. Begitu sosok tersebut berjarak sekitar dua meter dariku, aku segera tahu jika dia adalah Zenzen.


Aku segera menodongkan senjata ke arahnya. Zenzen tidak mengenakan masker di tengah kondisi seperti ini. Wajahnya terlihat sangat marah. Aku sama sekali tidak mendapati luka di tubuhnya. Bagaimana bisa dia lolos dari serangan para Prajurit Keios tanpa terluka sedikitpun? Apakah dia memang memiliki kekuatan yang sangat besar? Atau dia bukan manusia?


“KAU SUNGGUH BOCAH YANG SANGAT MEREPOTKAN!!!” Teriak Zenzen. Suaranya menggelegar. Bagai membelah asap di sekitar kami.


Aku mengatupkan rahang. Tanpa pikir panjang, aku menekan pelatuk senapan. Sejumlah peluru melesat cepat ke arahnya. Tapi Zenzen terlihat tidak berusaha menghindari peluru tersebut. Dan dengan tenangnya menengadahkan tangannya ke depan. Sebuah cahaya jingga berbentuk heksagon muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Seketika, peluru yang tadi aku tembakkan terhenti. Lantas satu persatu jatuh bagai kacang yang berserakan.


Aku kembali menembakkan senapanku. Percuma. Zenzen tetap bisa mengatasi setiap terjangan peluruku. Ketika amunisiku telah habis, aku memutuskan untuk melawannya secara langsung. Aku berlari sekencang mungkin. Hendak melesatkan tinjuanku padanya. Namun Zenzen dengan mudahnya menangkis seranganku. Dia bahkan tidak bergerak sesentipun. Tangannya dengan cepat menangkap pergelangan tanganku. Sontak aku mencoba untuk menendang wajahnya. Tapi Zenzen lebih kuat. Dia dengan mudahnya melemparku ke arah bongkahan besi.


Aku berteriak kesakitan. Tubuhku serasa dihantam puluhan pukulan. Aku memegangi perutku. Tenagaku sudah hilang sepenuhnya. Zenzen mendekatiku. Dia memegangi tangan kananku. Mengangkatku seperti mengangkat anak kucing. Tubuhku melayang beberapa senti dari tanah. Tanganku dicengkram sangat kuat. Membuatku mengernyit kesakitan.


Aku menatap Zenzen dengan penuh kebencian. Zenzen sendiri menatapku dengan penuh amarah. Matanya melotot. Memancarkan aura yang sangat mengerikan.


“Kau sungguh sangat merepotkan, Bocah!” Zenzen menggeram.

__ADS_1


Aku tersenyum tipis. “Kau sudah tidak bisa mengendalikanku, Zenzen. Teman-temanku mungkin sudah bebas dan kabur saat ini.”


Zenzen tertawa terbahak-bahak. “Jika begitu aku hanya perlu menjadikanmu boneka tanpa tangan dan kaki.”


Zenzen meremas tanganku. Aku berteriak kesakitan. Tangan kiriku mencoba melepaskan cengkramannya. Namun aku dikejutkan dengan tekstur tangannya. Itu bukan tangan biasa! melainkan tangan besi!


Zenzen meremas tanganku semakin kuat. Aku kembali berteriak kesakitan. Rasanya sakit sekali. Aku bahkan mencoba memukul-mukul tangannya. Hingga beberapa orang datang. mereka prajurit Kota Keios.


“BERHENTI!! KAU SUDAH TERKEPUNG!!” Teriak salah satu dari mereka.


Aku mengenal suara tersebut. Itu suara Vero.


“BODOH! PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA!!!” Aku berteriak. Menyuruh mereka semua untuk pergi.


Mereka semua tidak menghiraukan seruanku. Melesatkan tembakan ke arah Zenzen. Zenzen menggunakan tangan kirinya sebagai tameng. Cahaya jingga berbentuk heksagon dengan ukuran besar melindunginya. Cahaya tersebut berfungsi sebagai penghambat. Bukan sebagai tameng dengan tekstur keras. Peluru-peluru tesebut terhenti sejenak, lantas dipantulkan kembali ke arah mereka.


“JANGAN!!” Aku berteriak panik.


Untungnya mereka segera berlindung. Zenzen mendesah kesal. Serangannya tidak mengenai mereka. Hingga seseorang berlari sangat cepat dari arah belakangku. Gerakannya sangat cepat dan terlihat tenang. aku segera tahu jika dia adalah Marko.


Marko menggunakan jurus andalannya. Dia mencoba menyerang bagian perut. Zenzen Dengan cepat menyadari kehadirannya. Namun jurus Marko lebih cepat. Dalam sekejap pukulan tersebut melesat kencang disusul dengan kesiur angin.


Cengkraman Zenzen terlepas. Aku terjatuh. Tubuhku sudah tidak bisa digerakkan lagi. Zenzen terhempas beberapa meter, namun dia masih dalam posisi berdiri. Tersenyum simpul. Matanya menatap senang ke arah Marko.


“WOW! KAU ADALAH ORANG PERTAMA YANG BERHASIL MEMUKUL MUNDUR TUBUHKU!” Teriak Zenzen dengan wajah yang sangat menyeramkan. Dia tertawa sembari memegangi perutnya.


Aku memegangi kaki Marko. Menatapnya dengan tatapan dingin. “Marko, pergi dari sini sekarang  juga!”


Bundara mendekatiku dan memakaikan helm padaku. “Tenang saja, kami akan urus pria alis tebal tersebut. Kau hanya cukup melihat kami dari sini.” Ujarnya sembari tersenyum lebar. Menepuk pelan helmku. Lantas melangkah maju, berdiri tepat di samping Marko.


“Sudahku bilang jangan!” Aku berteriak parau. Suaraku serak dan tubuhku terasa sakit. Saat ini aku ingin sekali berdiri bersama mereka. Tapi aku benar-benar tidak berdaya.


Vero terus menerus melesatkan tembakan ke arah Zenzen. Walau demikian Zenzen tetap bisa mengatasi peluru yang terbang ke arahnya. Sementara itu Marko dan Bundara mencoba menyerangnya dari jarak dekat. Benar-benar kerja sama tim yang sangat hebat. Zenzen menepis setiap serangan yang ditujukan padanya. Setiap kali dia mencoba menyerang, para prajurit lain akan menembakinya. Berusaha semaksimal mungkin mengganggu pergerakannya.


“KALIAN SEMUA PENGECUT! BERANI-BERANINYA MANUSIA RENDAHAN SEPERTI KALIAN MENYERANGKU BERAMAI-RAMAI!!!” Zenzen berteriak marah. Dia terlihat sangat kesal dengan serangan bertubi-tubi yang ditujukan untuknya.


Zenzen terlihat tengah mengumpulkan kekuatan. Cahaya jingga terlihat menyelubungi tubuhnya. Membuat bajunya robek. Terlihat sudah sosok sebenarnya dari Zenzen. Tubuhnya bukanlah tubuh manusia, melainkan tubuh robot. Aku nyaris tidak berkedip. Zenzen pernah mengatakan jika dia memiliki cacat permanen. Apakah itu yang dimaksud olehnya?


Cahaya tersebut berasal dari mesin-mesin di tubuhnya. Mesin-mesin tersebut mengeluarkan asap tipis. Semua prajurit bersiaga. Marko dan Bundara mengambil langkah mundur. Semua tahu jika itu merupakan hal yang sangat berbahaya.


“LARI!” Aku berteriak sekuat mungkin.


Lagi-lagi teriakanku tidak dihiraukan. Mereka tetap memilih untuk melawan Zenzen. Marko dan Bundara melesat cepat. Disusul terjangan peluru lainnya. Zenzen terlihat tidak bergerak dari tempatnya. Seakan menunggu para mangsanya untuk datang. dalam hitungan detik, Zenzen dengan cepat melesatkan pukulan pada Marko dan Bundara. Mereka tidak bisa menghindar. Tubuh mereka terpental ke udara. Jatuh bedebam, lantas tersungkur di tanah.  Terkulai tidak bergerak.


Belum cukup sampai di situ, Zenzen menyerang seluruh pasukan yang tersisa. Tubuhnya seakan kebal oleh terjangan peluru tersebut. Seperti ada tameng tipis yang melindunginya. Satu persatu prajurit berguguran. Vero masih bersikeras untuk melawan. Namun dia dengan mudahnya dilumpuhkan oleh Zenzen. Dalam sekali pukul, tubuhnya tersungkur. Menyusul yang lainnya.


Saat itu aku seperti menyaksikan seekor monster yang terbebas dari kurungan. Tubuh Zenzen dilapisi asap tebal. Suara mesinnya mengaum menyeramkan. Zenzen menatap ke arahku sembari menyeringai. Matanya terlihat mengkilap. Aku tidak bisa bergerak. Zenzen melangkah mendekatiku. Derapan kakinya terdengar sangat berat. Bunga api mengelilingi tubuhnya. Mesin di tubuhnya bergerak-gerak, sesekali mengeluarkan percikan api.

__ADS_1


Aku berusaha untuk bangkit sebelum Zenzen mencoba untuk menangkapku. Namun dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Memandangku dengan tatapan menyalak.


“Kau sudah tidak bisa kemana-mana, Lian.” Ujarnya denga suara lirih.


Tidak! Aku masih punya harapan. Saat pertarungan tadi aku diam-diam memulihkan tubuhku. Menyembuhkan luka dan memar di sekujur tubuh menggunakan cahaya kebiruan yang terpancar dari alat di dalam tubuhku.


Tangan Zenzen bersiap membawaku, hingga...


“Menyerahlah, Zenzen.” Ujar seseorang yang berdiri di belakang Zenzen.


Gerakan Zenzen terhenti. Melirik ke sosok yang berdiri tepat di belakangnya. Zenzen menyeringai tipis.


“Oh, ya? Bukannya kau yang seharusnya menyerah, Nona?” Ujar Zenzen dengan nada meremehkan.


“PERGI DARI SINI, JORA! DIA BUKAN TANDINGANMU!” Aku berteriak lantang. Sial! Aku masih belum bisa berdiri.


Jora tetap mengarahkan senapannya tepat ke arah kepala Zenzen. Aku mengenali bentuk senapan tersebut. Senapan itu ialah senapan yang digunakan untuk melawan Robot Penjaga Perbatasan. Walau demikian Zenzen tidak semudah itu dapat dikalahkan dengan senapan tersebut. Dia memiliki kemampuan di luar akal sehat manusia.


“Aku akan memberimu kesempatan hidup jika kau berubah pikiran, Nona Kecil.” Zenzen mulai memberi penawaran.


“Seharusnya aku yang mengucapkan kalimat itu, Zenzen.” Jora berujar tenang. Dengan cepat menekan tombol pelatuk.


Aku terperangah. Zenzen menghentikan peluru tersebut dengan mudahnya. Peluru tersebut terjatuh begitu saja. Jora bahkan terdiam. Tangannya bergetar. Zenzen tidak pernah bermain-main dalam perkataannya. Dia mencekik Jora tanpa ampun. Jora berteriak kesakitan. Suaranya tertahan lantaran udara tidak bisa masuk ke paru-parunya. Dia meronta-ronta. Memukul sembarang tangan Zenzen yang mencengkram semakin erat.


“HENTIKAN!!!” Teriakku dengan air mata berlinang.


Zenzen  menghiraukanku. Mencekik Jora lebih kuat. Jora tidak lagi meronta. Tangannya perlahan jatuh.


Seketika, aku memaksa tubuhku untuk beregenerasi lebih cepat. Cahaya kebiruan menyelubungi tangan dan kakiku. Mataku melotot marah. Dengan cepat melesatkan pukulan tepat mengarah ke wajahnya.


Zenzen menyadari seranganku. Melempar sembarang tubuh Jora. Dia membuat tameng heksagon di sekitarnya. Aku tidak menghiraukan tameng tersebut. Tanganku tetap melaju. Dan...


BUK!


Pukulanku mengenai wajahnya. Zenzen terpental beberapa meter. Tubuhnya terguling dan menghantam berbagai bongkahan yang terbakar. Lantas tertimbun besi-besi tersebut. Aku tidak berhenti sampai di situ. Zenzen bergegas untuk berdiri. Dia mencoba membalas seranganku. Mesin di tubuhnya meraung keras. Asap mengepul mengelilingi tubuhnya.


Zenzen mengubah bentuk tangannya menjadi bentuk palu dengan cahaya jingga. Lantas melesat ke arahku seperti didorong mesin jet. Aku mengepalkan tanganku dengan erat. Tidak takut terkena hantaman palu tersebut. Tinjuan kami saling beradu. Api di sekitar kami tersapu. Seakan ada angin kencang yang meniupnya. Kami berdua sama-sama terpental ke belakang. untungnya aku menggunakan helm. Hanya saja sekujur tubuhku terasa sakit.


Aku tidak melihat keberadaan Zenzen dimanapun. Pandanganku mulai remang. Tapi aku berusaha untuk sadar. Beberapa menit kemudian aku merasakan angin menerpa tubuhku. Sangat kencang. Angin tersebut berasal dari atas. Samar-samar aku mendengar suara gemuruh. Suara tersebut terdengar semakin jelas. Aku tidak bisa melihat dengan jelas benda apa yang menyebabkan angin kencang ini lantaran pandanganku kabur. Tapi aku tahu jika itu adalah sebuah pesawat.  Aku mendengar derap langkah banyak orang. Apakah itu para bandit yang tersisa?


Seseorang mendekatiku. Aku sudah tidak sanggup melawan. Mataku perlahan meredup. Terkulai tak sadarkan diri.


“Aku menemukannya!” Seru sosok tersebut.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2