
Keesokan harinya, aku tengah memandang keluar jendela kelas. Kelas? Seperti yang aku jelaskan, Ador juga mengajari kami layaknya seorang guru. Karena itu dia menciptakan sebuah ruangan yang dibuat layaknya sebuah kelas di sekolah. Aku berbisik pelan ke anak sebelahku.
“Hei, apa kalian tidak pernah terbesit untuk pergi keluar dari laboratorium ini?”
Anak itu melirik ke arah lain sejenak. Lantas menunjuk dirinya. Memberi isyarat apakah aku tengah bertanya padanya atau tidak. Aku nyaris saja menepuk jidatku. Lantas mengangguk. Tentu saja aku bertanya padanya.
“Kami tidak pernah memikirkan hal itu. Toh, lagi pula kami semua memang tidak menginginkan hal itu. Kami sudah berada di zona aman kami. Rata-rata dari kami juga memiliki pengalaman pahit di luar sana. Karena itu kami memutuskan untuk tidak pernah bertanya. Kurasa itu juga tidak sopan. Mengingat Tuan Ador sudah memberi kami segala fasilitas yang ada. Buat apa lagi mencari alasan untuk pergi ke luar sana?”
Masuk akal. Tapi bukan itu jawaban yang aku inginkan. “Tapi bukankah Ador pernah mengajak Bastian keluar? Apakah itu permintaannya atau Ador sendiri yang mengajaknya sebagai hadiah karena Bastian pernah melakukan sesuatu yang hebat?”
Anak itu memutar bola matanya. Tengah berpikir. “Pertama-tama kau tidak boleh memanggil nama beliau tanpa menggunakan ‘tuan’. Karena itu tidak sopan sekali. Mengingat kau memiliki usia yang paling muda diantara kami. Kalau kau mengulang pertanyaanmu tadi dengan menambahkan tuan, aku akan menjawabnya.”
Aku menghela nafas. Berusaha menahan kesal dari gaya bicara anak itu yang terdengar sangat menyebalkan. Aku mengulangi pertanyaanku, kali ini aku menambahkan kata tuan di depan namanya. “Bukankah Tuan Ador pernah mengajak Bastian keluar? Apakah itu permintaannya atau Tuan Ador sendiri yang mengajaknya sebagai hadiah karena Bastian pernah melakukan sesuatu yang hebat?”
“Seingatku waktu itu Tuan Ador sangat senang sekali berbincang-bincang dengan Bastian. Tapi kami tidak terlalu tahu detailnya. Yang jelas sepertinya Bastian memang pernah melakukan sesuatu waktu itu. Tapi kami tidak pernah bertanya-tanya.”
“Zenzen, Dio. Apa yang kalian perbincangkan di belakang sana?” Ador menegur kami berdua. Membuat Dio (Aku baru tahu nama anak di sebelahku berkat teguran Ador) menghentikan kalimatnya.
“Maafkan saya Tuan Ador. Anak ini dari tadi bertanya-tanya terus kepadaku.” Dio melirik kepadaku, memberi isyarat agar aku juga meminta maaf.
Aku hanya menundukkan kepala sejenak.
“Zenzen, kalau ada bagian yang tidak kau mengerti, tanyakan langsung saja kepadaku. Jangan kau usik temanmu yang sedang serius mengikuti pelajaranku.”
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sembari mengangguk sekali lagi. Lantas kembali pada posisiku.
__ADS_1
Setelah kelas usai, Ador memintaku untuk datang ke ruangannya. Aku tahu apa yang terjadi. Semacam pelajaran tambahan. Bedanya materi yang ini bukan soal pelajaran umum. Seperti yang dikatakan Ador kemarin, aku akan banyak mendapatkan penjelasan soal logika berpikir, pengendalian berpikir, dan beberapa tentang pikiran-pikiran lainnya.
“Haruskah kita memulai sekarang?” Ador membuka sebuah buku.
“Ador, sebelum kita memulai pelajaran ada yang ingin aku tanyakan.”
“Apa itu?”
“Kemarin anda menjelaskan panjang lebar soal pengendalian pikiran dan semacamnya, tapi ada sesuatu yang mengganjal pada pikiranku. Kenapa anda berusaha membuatku menggunakan pikiran padahal sepertinya ada cara lain yang lebih praktis dalam menggunakan fitur tameng yang ada di tubuh ini? Maksudku, sebelumnya anda pasti sudah melakukan uji coba, kan? Dan aku yakin uji coba itu tidak menggunakan peraga manusia.”
Ador mengerjapkan mata. Terdiam sejenak dan mulai menjawab. “Cerdas sekali kau sampai memikirkan hal itu. Tapi aku punya alasan, Nak. Aku sengaja membuatnya bergantung pada pikiranmu bukannya mengandalkan mesin otomatis yang muncul dari perintah suara atau sebuah tombol. Kenapa? Karena aku selalu mengajarkan kepada kalian semua untuk bisa berusaha baik dalam keadaan normal maupun cacat. Karena itu aku tidak pernah menciptakan penemuanku jika benda-benda itu tidak memberi pelajaran pada penggunanya. Hidup ini tidak ada yang praktis, Nak. Itulah pelajaran yang ingin aku tanamkan jauh di lubuk hati kalian.”
“Alasan lain?” Aku masih merasa kurang dengan jawaban tersebut.
“Alasan lainnya karena aku tidak mau kejadian yang sama terulang untuk kedua kalinya. Kau tahu maksudku, kan? Kejadian di mana Bastian menghajarmu sampai babak belur.
“Oke, oke, aku mengerti. Seperti yang kau ketahui dari kejadian tersebut. Aku memberi hadiah tangan besi tersebut sebagai bentuk apresiasiku kepadanya. Aku ingin memberinya hadiah yang tidak perlu repot-repot untuk menggunakan pikiran karena aku ingin membuatnya merasa rileks walau sejenak. Kau tahu sendiri kan bahwa dia tidak berbakat? Tapi aku ingin memberinya sedikit sugesti walau dia tidak berbakat setidaknya dia memiliki orang-orang hebat di sekitarnya yang senantiasa mendukungnya. Tapi tak kusangka aku malah menerima akibat dari perbuatanku sendiri. Begitulah sifat dasar manusia. Jika mereka mendapatkan sebuah kekuasaan dan kekuatan, mereka takkan segan-segan menindas siapapun yang menjadi hama bagi mereka.”
Aku mengangkat tanganku. “maaf, Ador. Apakah kau baru saja menganggapku sebagai hama?”
Ador tertawa. “Aku mengatakan apa yang mungkin ada dalam pikiran Bastian saat memandangmu. Hei! Sensitif sekali kau hari ini. Padahal sejatinya akulah yang paling merasa terluka dalam menjelaskan hal tersebut.”
Aku hanya tersenyum.
“Karena kejadian itu aku memutuskan untuk tidak pernah menciptakan sesuatu jika tidak ada usaha bagi si pemakai. Jadi cobalah untuk memaklumi berbagai penjelasan panjang lebarku kemarin. Aku hanya ingin kau mengambil sedikit hikmah dari tubuh bionik barumu tersebut.”
__ADS_1
Aku terdiam sejenak. “Intinya anda sama saja dengan kami, kan?”
“Eh?” Ador tidak mengerti maksud dari perkataanku.
“Penjelasan anda terdengar panjang lebar dan sangat teoristis. Tapi aku hanya menangkap satu kesimpulan dari semua penjelasan anda. Yakni anda tidak bisa keluar dari zona trauma anda. Yang pada akhirnya anda hanya merasa tidak bisa menaruh kepercayaan puada orang lain.”
Ador tersentak. Dia tidak menyangka bahwa aku akan mengatakan hal tersebut.
“Atau jangan-jangan anda tidak pernah menyadarinya selama ini?” Aku memicingkan mataku.
Ador terdiam. Wajahnya terlihat bingung. Sepertinya perkataanku benar. Ador tidak menyadari hal itu. Dia lebih sibuk berterori dan berlogika sehingga melupakan satu hal penting pada perasaannya. Bahwa dia merasa sangat terpukul pada kejadian tersebut sehingga membuatnya trauma dan sulit untuk melupakannya. Namun dia tidak ingin menerima fakta tersebut sehingga dia berusaha melupakannya dengan menyibukkan diri dalam teori-teori ilmiahnya. Berusaha mendefinisikan jika rasa tidak percaya itu bukan berasal dari kejadian tersebut melainkan kaarena hal lain.
Ador tertawa sembari melambaikan tangannya. “Ayolah, kita tidak perlu membahas omong kosong itu. Mari kita mulai saja pelajarannya. Setidaknya kau harus bisa memahami semua teoriku selama kurang dari seminggu. Aku benar-benar tidak sabar untuk melihatmu bisa mengendalikan tameng-tameng itu dengan baik dan benar.” Ador berusaha mengalihkan pembicaraan dan mulai menjelaskan berbagai hal.
Aku memiringkan kepala. Kelihatan sekali jika dia berusaha menghindari topik tersebut.
Seminggu berlalu. Otakku sudah kenyang oleh teori-teori yang memusingkan kepala. Aku kembali pada ruang simulasi. Berhadapan kembali dengan mesin-mesin baseball tersebut. Ador tidak lagi memberi ancang-ancang apalagi menjelaskan kembali maksud dari simulasi ini. Aku mulai menengadahkan tanganku ke depan. Setidaknya aku memahami beberapa teori Ador dan mencoba untuk menyederhanakannya semaksimal mungkin.
Sampai pada tahap ketiga. Aku mulai mendorong pikiranku untuk memperkuat seluruh tameng. Ador menggigit bibir. Ini adalah saat-saat penentuan. Jika aku lolos aku akan lulus dari tahap dasar ini dan menuju tahap berikutnya. Tapi jika aku gagal, aku hanya akan dibuat pusing lagi dengan teori-teori gilanya selama seminggu dan mengulang semuanya dari awal. Tidakkah hal yang kedua sangat menyebalkan? Kurasa otakku akan meledak sebelum aku bisa menyelesaikan tahap ini jika hal kedua benar-benar terjadi.
Aku berusaha berkonsentrasi. Kurasakan aliran WAVE di setiap seluk beluk tubuh bionikku. Ketika aku telah siap, bola-bola itu mulai dilontarkan. Kali ini caraku berhasil! Bola tersebut langsung terpantul begitu menyentuh hologram. Ador tidak bisa menahan rasa girangnya. Dia kembali berselebrasi layaknya minggu lalu. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Setidaknya itu lebih baik dari pada dia mengucapkan kata drone.
Serangan selanjutnya menjadi lebih mudah bagiku. Mau itu tiga bola, empat bola, lima bola, semua serangan itu bisa kulalui dengan mudah. Kami menyudahi sesi ini setelah lima belas menit lamanya.
“Oke, kalau begitu aku akan mentraktirmu, Nak. Sebagai refreshing karena kau sudah melalui ujian ini dengan sangat baik. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Aku yakin kau sangat menyukainya.”
__ADS_1
“Suatu tempat? Apa itu artinya anda akan mengajakku keluar dari laboratorium membosankan ini?”
Ador mengacungkan jempol. “Tapi aku tidak setuju dengan kalimat ‘membosankan’ tersebut.”