
Aku menyeringai. Menatap apa yang telah aku perbuat. Aku menatap tangan kananku yang bersinar terang dengan warna jingga elok. Penonton terdiam sementara waktu masih berjalan. Bahkan pembawa acara ikut terdiam. Musik pengiring dimatikan. Lampu menyorot tepat ke arah sosok yang kini tengah tersungkur.
Wasit mulai mendatanginya dan memberi hitungan mundur. Tapi hitungannya terhenti begitu sosok itu bergerak dan mencoba bangkit kembali. Tangan kanannya terlihat rusak dengan sedikit asap mengepul. Bekas hantaman dari energi internal. Tampaknya dia tidak akan menyerah.
Begitu dia sempurna bangkit, aku kembali bersiap dengan memasang kuda-kuda. Waktu tersisa tiga menit. Ini hanya masalah siapa yang paling banyak melakukan serangan. Setidaknya aku harus menyerangnya lebih banyak. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan berlari ke arahnya. Berkat tenaga internal yang terpusat di ujung kakiku, aku bisa bergerak lebih leluasa. Sosok itu terlihat menungguku. Begitu tanganku mulai menyentuhnya, dia bergerak lebih cepat dan melakukan tendangan sapuan ke arah kakiku. Karena kakinya bukan kaki bionik, tentu saja dia bisa terbakar oleh kakiku yang tengah mengeluarkan panas. Tapi dia tidak mengincar ke arah ujung kaki, melainkan ke lututku. Keseimbanganku terganggu, membuatku terguling kesamping. Aku berusaha kembali bangkit secepat mungkin. Sosok itu melompat dan mencoba menyerang ke arahku.
Aku memusatkan seluruh energi internal pada tangan kananku yang mengeluarkan asap. Lantas melesatkannya ke arahnya. Tinju kami beradu. Namun hasilnya mudah ditebak. Tentu saja tangan besinya tidak mampu menahan panas dan kekuatan dari tangan bionikku. Tangan besinya hancur dan dia kembali terpental. Menabrak pagar kawat. Asap mengepul di sekitar arena. Membuat kamera tidak sempat menangkap momentum yang terjadi. Begitu waktu telah habis dan asap mulai menghilang, sosok itu tampak tidak bergerak.
Hening sejenak. Hanya terdengar desing drone yang mendekat ke arahku. Menyorot tepat ke arahku.
“Ini, ini di luar dugaan! Pemenangnya adalah si Penantang Pemula! Dia berhasil mengalahkan juara berturut-turut dalam pertandingan ini!” Pembawa acara berseru lantang.
Wasit mendekat ke arahku dan mengangkat tanganku. Penonton masih dibuat tidak percaya pada apa yang telah mereka saksikan. Beberapa detik kemudian mereka semua bertepuk tangan dan keramaian membuncah. Didekatku mulai bermuculan hologram berisi berbagai komentar dan uang yang masuk. Sejatinya aku tidak membutuhkan uang tersebut.
Namun kini kamera menyorot ke arah sosok tersebut. Dia mencoba bangkit dengan keadaan lecet di mana-mana. Tangan kanannya telah hancur. Tim medis segera berlari ke atas arena. Tapi begitu dia sempurna bangkit, topengnya mulai retak.
Begitu sebelah topeng tersebut retak, walau hanya sekilas aku bisa menyaksikan wajahnya. Dia seorang perempuan! Tidak, dia adalah orang yang kukenal. Sosok itu dengan cepat menutupi wajahnya dengan tangan kirinya. Tim medis membawa sebuah jubah untuk menutupinya.
Aku terkesiap. Aku jelas mengenali wajah tersebut.
“Sungguh di luar dugaan! Acara kali ini mendapatkan banyak uang dari pertandingan tadi! Terima kasih kepada para hadirin yang sudah berdonatur agar acara ini terus bertahan. Baiklah, karena ini adalah momen yang luar biasa dan penonton berhasil dibuat tegang dengan pertarungan mereka, aku akan sedikit melakukan wawancara pada penantang baru ini.”
Pembawa acara mendekatiku dan merangkul bahuku. “Bagaimana perasaan anda yang telah memenangkan pertandingan ini?”
Aku hanya terdiam. Masih tidak percaya pada wajah lawan yang aku lihat.
Pembawa acara tampak bingung. “Kau pasti sangat senang sampai tidak percaya pada apa yang telah terjadi, kan? Ngomong-ngomong apa yang membuatmu tertarik untuk mengikuti acara ini?”
Sekali lagi aku hanya diam. Sementara itu penonton tertawa.
Sementara itu wasit mulai mendekati pembawa acara dan berbisik. Pembawa acara mengangguk dan kembali menyapa penoton.
“Karena banyaknya vote dan uang yang masuk pada malam ini untuk si Penantang Pemula, beberapa orang yang mendonasikan uangnya malam ini ingin menyaksikan kembali pertarungan dari penantang baru ini.”
Seluruh penonton bersorak senang. Aku dengan cepat menuruni arena.
“Hei, si Penantang Pemula! Kau mau kemana?”
Lampu sorot masih mengarah kepadaku. Sementara itu aku buru-buru untuk keluar dari ruangan. Samar-samar aku bisa mendengar desah kecewa dari penoton. Masa bodoh dengan mereka! Aku sudah tidak tertarik untuk melakukan pertandingan tersebut. Aku mencari ruang perawatan, berharap bisa bertemu dengan lawanku tadi.
Setelah lima menit aku berhasil menemukan ruang perawatan. Buru-buru membuka pintunya.
“Hei! Apa yang kau lakukan?” Bentak salah satu perawat.
Dua orang berusaha mencegatku masuk. “Kau tidak boleh masuk sembarangan! Ini adalah privasi petarung. Cepat keluar dari sini!”
“Badas!”
“Hei! Sudah kubilang untuk keluar!” Mereka semakin mendorongku untuk keluar dari ruangan.
“Berhenti.” Ujar seseorang dari balik sebuah tirai dalam ruangan tersebut.
Gerakan perawat terhenti dan mereka menoleh ke arah tirai.
“Tinggalkan orang itu di sini. Sepertinya dia ingin berbicara denganku.”
Para perawat mengangguk. Lantas berlalu meninggalkan kami. Ruangan telah hening. Aku melepas topengku dan dengan cepat membuka tirai tersebut. Dugaanku benar. Mata tajam dengan potongan rambut pendek. Wajahnya sama sekali tidak berubah. Dia Badas. Satu-satunya gadis yang aku kenal dalam kelompok pencuri.
“Siapa kau? Bagaimana kau tahu nama asliku?” Tanyanya dengan tatapan sinis. Dia memang selalu waspada dan tidak mudah percaya pada orang lain.
“Aku Zenzen.” Aku berbisik pelan.
__ADS_1
Raut wajahnya berubah. “Zenzen?”
Aku mengangguk tegas.
“Astaga! Ini sudah lama sekali dan wajahmu tampak berubah drastis. Kau juga sudah setinggi ini. Apa saja yang terjadi padamu , Bocah.”
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Sebelum itu aku minta maaf soal tangan kananmu. Harga yang dibayar pasti mahal sekali.”
Badas tersenyum tipis. Aku belum pernah melihatnya tersenyum seperti itu. Entahlah, terkesan sedih.
“Tidak masalah. Ini bisa diperbaiki lagi. Bagaimana denganmu?”
Aku hanya tersenyum tipis. “Banyak hal yang terjadi padaku.” Aku menunjukkan tangan dan kaki bionikku. “Seperti yang kau lihat.”
“Ternyata kau juga sama, ya? Tidak kusangka kau masih hidup sejak kejadian itu. Kupikir hanya kami yang bertahan dalam kebakaran tersebut.”
“Kami?”
Badas menyandarkan tubuhnya di dinding. “Ada seorang lagi yang selamat dalam kebakaran tersebut. Kudeta.”
Aku membulatkan mataku. Sungguh di luar dugaan dia berhasil selamat dari kejadian tersebut. Alasanku sangat gembira mendengar hal tersebut lantaran kelompok pencuri merupakan sebuah keluarga bagiku. Walau kami tidak memiliki hubungan darah, ikatan dan hubungan kami layaknya keluarga. Karena itu aku sangat senang mendengar beberapa dari kami berhasil selamat. Terkecuali untuk satu orang. Aku tidak akan pernah menyukainya jika “dia” masih hidup.
“Apa yang terjadi padamu, Zenzen?”
Aku hanya mengangkat bahu. “Seseorang membawaku dan membuatku menjadi seperti ini.”
“Lalu Agia? Apakah dia selamat?”
Aku terdiam dan menelan ludah. “Aku tidak tahu. Dia meninggalkanku saat dalam kebakaran. Di bawah puing-puing bangunan yang telah terbakar. Kakakku juga tewas karenanya. Jika dia membiarkanku menyelamatkan kakakku walau hanya satu detik lebih cepat, mungkin sekarang aku tidak akan berakhir seperti ini.”
Badas mengangguk.
Badas terdiam sejenak. “Itu bohong, Zenzen.”
Aku mengerjab. Apa yang dimaksud dengan kata-kata itu?
“Kudeta sengaja menyebarkan rumor itu pada kalian agar kalian semua tidak lagi memikirkan tentang dirinya dan perkampungan kumuh tersebut. Dia ingin kalian semua lari dengan alasan Kudeta menyerahkan dirinya. Yang itu artinya identitas kalian akan terkuak dan kalian akan dipenjara jika tidak segera pergi dari tempat tersebut. Aku menyadari sesuatu yang aneh. Karena itu aku pergi ke tempatnya. Tapi begitu aku tiba di sana, Kudeta tampak menatapku dengan tatapan dingin dan kosong. Aku menyuruhnya untuk segera pergi. Tapi dia menolak. Kulihat dia memegang sebuah selebaran. Aku berusaha membujuknya tapi dia menolak keras dan membentak kepadaku. Belum pernah aku menyaksikan dia berteriak seperti itu. Seumur-umur aku bersamanya, dia selalu terlihat tenang dan bijaksana, tapi hari itu semua harga dirinya seakan menghilang.”
“Aku tetap bersikeras membawanya pergi dari tempat tersebut. Jadi aku membawa sejumlah uang yang tersimpan dalam brankas yang merupakan uang miliknya. Begitu ledakkan itu terdengar, plafon di atas kami runtuh dan meniban tubuhku dan tubuhnya. Setidaknya beruntung bagiku. Aku masih bisa bergerak dan keluar dari situasi tersebut. Dalam gelap aku menyaksikan Kudeta menggenggam selebaran itu dan tergeletak tak bergerak. Dia pingsan akibat benturan keras. Aku dengan cepat menggendongnya pergi dari lokasi. Berlarian di antara kerumunan warga.”
“Aku membenci fisik tubuhku yang kecil saat itu. Gerakanku menjadi sangat lambat. Aku sangat panik, darah dari keningnya tak henti-hentinya bercucuran. Aku hanya berlari dan berlari. Tak sekalipun aku melihat ke arah belakang walau aku tahu apa yang terjadi di sana. Bunga api berterbangan di sekitar kami. Suara nafasnya masih terdengar, setidaknya itu membuatku sedikit tenang. Kami berhasil lolos dari tempat itu dan berakhir di sebuah kolong jembatan.”
“Aku meletakkan Kudeta dan berusaha mencari bantuan. Hanya saja hari itu semua tempat klinik dan rumah sakit ditutup. Seakan sengaja betul mereka lakukan. Jadilah aku kembali ke tempat aku meletakkan Kudeta sekitar satu jam setelahnya. Tapi begitu aku tiba di sana, aku tidak mendapati uang kami dimanapun. Uang itu menghilang. Seseorang mencurinya saat aku tengah pergi. Bodohnya diriku. Ya, aku memang bodoh dan orang paling bodoh dalam kelompok pencuri. Aku hanya tahu cara bergulat, dan tak tahu cara berpikir. Hal itu membuatku sangat marah. Marah akan diriku sendiri. Jadilah aku menangis seharian di samping tubuh Kudeta yang pingsan.”
“Aku sangat menyesali hari itu. Jika saja aku bisa membawa uang itu bersamaku, mungkin aku dan Kudeta tidak akan pernah berakhir seperti ini. Mungkin kami akan bahagia dan pergi ke luar kota dan mencari rumah di sana. Tak apalah jika itu rumah yang tidak bersertifikat asal kami memiliki uang di tangan kami. Tak apalah jika itu tempat antah berantah asalkan uang ada di genggaman kami. Itulah yang hanya bisa aku pikirkan saat itu. Aku sangat putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Menatap Kudeta yang terkulai tidak berdaya. Aku merasa sedikit kesal dengannya. Kenapa dia tidak ingin pergi dari tempat itu? Jika saja kami pergi lebih cepat, mungkin dia tidak akan terluka seperti itu. Apa yang membuatnya tidak ingin pergi? Apa yang membuatnya ingin bertahan? Saat itulah aku melihatnya menggenggam erat sesuatu yang ada pada tangannya. Aku mengambil kertas itu. Karena darah sudah mengotorinya, tidak tampak jelas gambar apa yang ada pada kertas tersebut. Walau begitu aku masih bisa membacanya. Dan begitu membacanya, aku segera tahu apa isi pada kertas tersebut.”
Hening sejenak.
Badas kembali berujar. “Dalam kertas itu tertera sebuah tulisan, ‘aku ingin menemukan sebuah keluarga.’ Saat itu aku sadar kenapa dia bersikeras untuk tinggal di tempat tersebut. Karena dia tahu, tidak akan ada tempat baginya bernaung setelah kenangan yang telah dia lalui di markas tersebut. Aku memang masih belum memahamai Kudeta. Tapi hanya itu yang bisa aku simpulkan di tengah keadaan kami saat itu. Sampai sekarang dia akan selalu menjadi misterius bagiku. Karena aku tidak akan pernah bisa memahaminya. Baik dulu maupun sekarang. Aku tidak akan pernah bisa mengenalnya, karena sosoknya sudah tidak ada lagi.”
Aku menelan ludah. Apa maksud Badas dengan sosok yang sudah tiada? Bukankah dia bilang Kudeta masih hidup.
“Apa yang terjadi setelah itu?” Aku bertanya lirih.
Badas tersenyum tipis dan memegang tangan kanannya yang hancur. “Aku kembali menggendongnya. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Sampai aku merasa lelah dan kelaparan. Aku merasakan tubuh Kudeta yang semakin dingin. Sedangkan perutku dalam keadaan sangat lapar. Aku terus menerus mengutuk diriku dan menyalahkan diriku. Tapi itulah yang terjadi. Hingga aku lelah. Kuputuskan untuk berteduh di salah satu gang. Aku harus bertahan hidup. Apalagi yang pernah aku pelajari dalam hidupku selain mencuri dan menjarah. Jadilah aku pergi meninggalkan Kudeta untuk mencari target yang bisa aku jarah. Tapi hari itu aku benar-benar tidak beruntung. Aku menjarah dari salah satu anggota mafia yang tidak sengaja aku temui. Aku terpaksa bertarung. Untungnya aku berhasil menang. Aku memang mendapatkan uang dan bisa membeli beberapa makanan. Tapi masalah itu tidak berakhir sampai di situ. Mafia itu mencariku dan berhasil menemukanku yang tengah bersama Kudeta. Aku sangat ketakutan. Belum pernah aku merasa setakut itu seumur hidupku. Jumlah mereka lima orang dan tubuh mereka sangat besar. Mereka bahkan membawa drone. Aku tidak punya pilihan selain bertarung. Alhasil aku bertarung sampai kedua tanganku hancur. Namun mereka masih bertahan. Pandanganku telah kabur dan aku tidak bisa melihat apapun. Aku terkulai tak berdaya. Dan akhirnya pingsan di lokasi kejadian.”
Badas mengusap kepalanya. “Saat aku terbangun, aku telah berada di sebuah ruangan. Aku tidak bisa merasakan kedua tanganku. Saat aku sadari, tanganku sudah tidak ada. Digantikan oleh dua tangan besi berwarna hitam. Aku berseru panik. Tapi langsung bungkam begitu seseorang memasuki ruangan. Dia adalah bos mafia. Aku bergegas memasang posisi bertahan. Namun orang itu tertawa terbahak-bahak dan dengan santainya duduk di hadapanku. Dia mengatakan jika aku melawan, maka mereka tidak akan tinggal diam. Mereka membawa Kudeta. Aku sangat takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Jadilah aku mengalah. Membiarkan mereka memintaku melakukan apapun yang mereka mau.”
“Jangan bilang pertandingan tadi adalah hal yang harus kau lakukan karena mereka menahan Kudeta?” Aku memotong pembicaraannya.
Badas hanya terdiam. “Entah apa bisa dibilang begitu atau tidak. Mau bagaimanapun mereka tetap merawatku dan memberiku makan. Mereka juga menjamin kehidupan Kudeta.”
__ADS_1
“Dimana Kudeta sekarang? Apa dia masih ada di sini?”
Badas menggeleng. “Dia tidak ada di sini ataupun di daerah ini. Dia berada di pusat kota untuk menjalani sebuah perawatan. Sudah kubilang sebelumnya, kan? Bahwa sosok Kudeta telah tiada. Dia mengalami gangguan delusi. Karena itu dia diletakkan di rumah sakit jiwa untuk menjalani rehabilitas. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang karena aku tidak pernah bisa menemuinya. Ayahku tidak mengizinkanku untuk menemuinya.”
“Ayah? Maksudmu ‘Bos’ itu?”
Badas kembali mengangguk. “Aku sudah resmi menjadi anak angkatnya. Aku tidak punya pilihan, Zenzen. Mau bagaimanapun aku sudah melakukan kesalahan di masa lalu yang tidak mungkin bisa aku ubah. Karena itu biarlah semua ini terjadi.”
Aku terdiam. Tidak tahu harus berkata apa. Mendengar kabar itu membuatku sangat terpukul.
“Zenzen, biar aku beri nasihat walau aku memang tidak pantas memberi tahumu. Kau harus segera pergi dari kota sebelum terlambat. Tidak ada tempat bagi orang-orang seperti kita. Sekeras apapun kau berusaha, kau hanya akan berakhir sepertiku. Mereka yang lebih berkuasa akan selalu menginjakmu.”
“Kau sendiri?”
Badas mengatupkan rahang.
“Kau sendiri apakah hanya berdiam saja di tempat seperti ini?”
Badas menunduk dan tersenyum tipis. “Tentu saja aku tidak akan pernah bisa lari. Karena aku sudah tidak mengenali diriku sendiri, Zenzen. Aku tidak seberuntung dirimu. Saat pertama kali melihatmu, aku sudah tahu kau akan menjadi musuh yang berat malam ini. Aku bisa menilainya dari tubuh bionik milikmu yang tampak berbeda dengan lawan-lawan yang aku hadapi sebelumnya. Karena itu aku tidak segan-segan untuk mengerahkan seluruh kekuatanku di awal pertandingan. Dugaanku benar, kau memenangkan pertandingan ini. Aku yakin kehidupanmu sangat beruntung saat ini. Sepertinya Kudeta memang benar menilai tentangmu. Kau pasti akan menjadi anak yang luar biasa kelak.”
Aku meremas jemariku. Aku tidak ingin keberuntungan. Aku ingin diriku sendiri yang menentukan takdirku. Aku tidak ingin mengatakan ini sebuah anugerah tapi kenyataannya hal itulah yang terjadi.
“Badas, di mana tempat Kudeta dirawat? Setidaknya aku ingin menemuinya sekali saja.”
Badas menggeleng. “Aku juga tidak tahu. Ayah tidak pernah memberi tahuku. Aku juga tidak berani menanyakan kepadanya. Karena aku takut dia akan menyakiti Kudeta jika aku mencoba melawannya.”
Aku mengatupkan rahang. Kenapa harus orang-orang seperti kami, sih? Kenapa orang-orang seperti kami seakan tidak pantas untuk bernafas di dunia ini? Kenapa di antara sekian juta penduduk di kota ini harus kami yang mengalami kehidupan pahit ini? Dimana letak kesalahannya? Dimana letak kejanggalannya? Setiap hari bagai penyiksaan. Setiap hari bagai berjalan di jalan berduri. Tidak bisakah orang-orang seperti kami hidup dengan tenang? Tersenyum di bawah sinar mentari hangat dan berlari dengan bebas di atas padang rumput.
Samar-samar aku mendengar keramaian. Aku mengenal suara tersebut. Ador. Dia tengah mencariku dan berdebat dengan petugas di luar sana.
“Kau harus pergi, Zenzen.” Badas mendesakku.
Aku tahu aku harus pergi. Aku mengenal perawakan Badas. Dia cenderung tegas dan mudah kesal. Aku juga tidak ingin berdebat dengannya. Tapi disitulah letak kerinduanku. Aku sangat merindukan mereka. Sangat, melebihi aku merindukan keluargaku sendiri. Aku kembali mengenakan topengku dan berjalan pelan ke pintu.
“Yang aku maksudkan bukan pergi ke tempatmu saat ini, melainkan pergi dari kota ini.”
Langkahku terhenti sejenak. Lantas kembali berjalan dan membuka pintu.
“Astaga! Kenapa kau tiba-tiba berlari seperti itu, sih? Kau pikir mudah menemukanmu di antara ribuan orang.”
Aku berjalan melaluinya. Ador dengan cepat menyusulku.
“Hei, kau tidak mendengarkanku bicara, hah?”
Aku tetap terdiam dan terus melangkah.
“Hei! Beraninya kau mengabaikan pria tua ini.”
Aku terhenti. Berbalik menatapnya. “Tidak ada yang ingin aku bicarakan setelah ini dan yang akan datang. Karena itu berhentilah mencari tahu dan mencoba ingin tahu. Orang sepertimu tidak akan tahu apapun tentangku.” Aku berujar dengan nada dingin.
Ador terdiam. “Walau aku tidak melihat wajahmu, aku tahu kau sedang marah.”
Aku tertawa. “Ini hanya sekedar topeng. Dan topeng ini bukan berarti menunjukkan ekspresiku saat ini, Ador. Jadi berhentilah menebak-nebak. Aku sudah muak dengan basa-basimu.”
Lengang. Lampu di atas kami redup sejenak.
“Aku tidak tahu karena kau tidak pernah memberi tahu. Tidakkah kata-katamu keterlaluan. Aku sudah pernah bilang sebelumnya padamu, jika kau ingin melanjutkannya silahkan melanjutkan. Sebaliknya, jika kau ingin berhenti silahkan kau berhenti. Kau selalu salah menilai orang lain. Kau selalu berburuk sangka tentang orang lain.”
__ADS_1