Kehancuran Batana

Kehancuran Batana
MISI 2


__ADS_3

Aku lebih banyak berlatih selama seminggu ini. Walau aku tahu, sebagai pemula tentunya aku tidak akan langsung dimasukkan ke dalam misi tersebut. Tapi, apapun bisa terjadi. Bisa jadi aku diminta menggantikan prajurit yang gugur di medan pertempuran. Aku banyak melatih keakuratan tembakanku. Ini adalah kemampuan yang sangat penting untuk melawan RP-2.


Sehari sebelum misi.


Kami semua diminta untuk menulis surat wasiat yang nantinya akan diberikan ke pihak keluarga masing-masing. Aku hanya menatap kosong lembaran kertas yang diberikan kepadaku. Aku tidak punya siapapun untuk kuberi wasiat. Aku membiarkan kertas tersebut kosong. Tidak menuliskan apapun walau hanya sepenggal kata. Toh, ada beberapa orang yang juga tidak memiliki keluarga sepertiku.


Hari pertempuran telah tiba. Kami semua berbaris di sebuah lapangan dengan memakai seragam lengkap. Tentunya aku masih menggunakan senjata untuk pemula, tidak seperti prajurit lain yang menggunakan senjata berat. Kali ini di dalam helmku terdapat alat bantu pernafasan yang terhubung dengan tabung daur ulang oksigen beserta alat komunikasi. Membuatku bisa mendengar setiap kali ada panggilan yang akan ditujukan kepadaku. Bila kita hendak berkomunikasi, kita tinggal menekan tombol yang tersedia di alat tersebut. Barisan ini dipimpin langsung oleh Kapten Wan. Dia mulai berorasi. Membuat semangat kami membara.


“Jika hari ini kita mati, itu artinya kita mati dengan terhormat! Kita mati dengan menggenggam harapan seluruh penduduk Kota Keios! Apa kalian siap?”


“KAMI SIAP!”


“APA KALIAN SIAP?”


“KAMI SIAP!” Suara kami menggetarkan langit-langit. membuat seluruh prajurit lain menatap kami dengan penuh penghormatan. Hatiku semakin berdegup kencang. Menanti tidak sabaran pertempuran yang akan berlangsung.


Kami semua diangkut dengan mobil sesuai dengan kelompok masing-masing. Satu mobil mampu mengangkut 10 sampai 15 orang. Mobil-mobil tersebut melaju ke Bandara Kota Keios. Satu-satunya tempat yang boleh di buka di kota ini. Aku bisa menyaksikan pesawat raksasa dengan bentuk yang sungguh menakjubkan. Warna pesawat tersebut hitam dengan bahan logam yang melapisi seluruh bagian pesawat. Moncongnya terlihat tajam dengan empat turbo yang tergantung di setiap sisinya. Sayap pesawatnya sendiri berbentuk seperti sayap Burung Wallet dengan baling-baling dan turbo yang tertanam di dalamnya.Terdapat lampu berwarna hijau remang disetiap sisi pesawat. Menambah kesan tangguh sekaligus modern.


Kabin pesawat terbuka, mobil-mobil Pasukan Keios mulai memasuki pesawat tersebut. Aku menatap takjub seisi pesawat yang begitu luas. Mungkin besar pesawat ini setara dengan besar satu lantai Markas Pasukan Keios. Warna di dalamnya di dominasi dengan warna putih. Terdapat tiang-tiang penyangga yang menjulang ke langit-langit pesawat. Di beberapa bagian terdapat kaca transparan yang tebal. Kami bisa menyaksikan keadaan diluar dari kaca-kaca tersebut. Semua mobil telah terpakir rapi. Pesawat siap lepas landas.


Gerbang tempat pesawat akan keluar mulai terbuka. Aku bisa mendengar desingan dari gerbang tersebut. Menyaksikan bagaimana gerbang yang sangat besar terbuka perlahan. Pesawat mulai mengudara. Suara mesin turbo menggelegar memenuhi penjuru Bandara Keios. Dan akhirnya aku bisa menyaksikan cahaya itu. Cahaya yang sudah tidak aku saksikan selama dua tahun ini. Cahaya itu ialah matahari.


Aku menatap langit bersih dengan awan yang lembut bak kapas. Cahaya matahari menyiram hangat wajahku. Burung-burung terlihat berterbangan di udara. Menambah melodi alam yang sungguh mengharukan. Aku bisa melihat puing-puing bangunan yang telah dipenuhi rerumputan dan lumut di bawah sana. Terdapat bunga liar yang tumbuh di sekitar rerumputan tersebut. Sekumpulan ilalang bak permadani terhempas angin pesawat yang tengah mengudara. Seakan tengah menunduk hormat.


Pengumuman mulai menggema di seluruh pesawat.


“Untuk pasukan yang akan menjadi umpan, silahkan bersiap!.”


Seketika kabin pesawat mulai terbuka perlahan. Pesawat tengah terbang dengan keadaan rendah. Membuat mobil dapat dengan mudahnya turun memalui kabin pesawat yang terbuka. Dua mobil telah turun. Yang itu artinya mereka akan bersiap memancing robot tersebut menuju titik ledakan. Kabin pesawat kembali ditutup.


Sekitar lima belas menit lamanya kami mengudara. Pesawat mendarat tepat diatas lembah. Seluruh pasukan diminta untuk menuju tempatnya masing-masing. Aku bergabung ke dalam tim yang akan membunuh RP-2 yang tersisa. Tentunya hanya sebagai cadangan. Alasan mereka tidak langsung mengikut sertakan pemula lantaran khawatir mengacaukan rencana. Aku tidak mengeluh. itu semua demi kebaikan bersama.


Tim yang akan memasang peledak mulai bersiap. Mereka menuruni lembah dengan cekatan menggunakan tali khusus. Membuat mereka dengan mudahnya menuruni lereng-lereng terjal. Beberapa ada yang memasang alat peledak di sisi-sisi lereng, yang lainnya memasang peledak di atas tanah. Untuk tim penembak jitu mulai bebaris mengarah ke luar lembah. Bersiap-siap jika nantinya ada RP-2 yang datang di luar lembah.


Aku bersama timku mulai menuju sisi lain dari lembah ini. Mencari tempat yang aman agar tidak terkena dampak dari ledakan tersebut. Para prajurit mulai menyiapkan segala senjata. Mereka memasang berbagai senjata berat seperti rudal, meriam, dan beberapa senjata otomatis lainnya. Aku ikut membantu merakit senjata-senjata tersebut.


Kami menunggu sampai tim yang akan memancing RP-2 mencapai titik ledakan. Wajahku mulai tegang. Keringat dingin mengucur deras dari keningku. Aku memegang senapanku dengan erat. Entah mengapa di saat-saat seperti ini, aku malah teringat kejadian dua tahun silam. Aku berusaha mengusik pikiran tersebut. Menarik nafas dalam-dalam. Menenangkan diri.


“MEREKA DATANG, SELURUH PASUKAN BERSIAP!” Suara Kapten Wan terdengar di alat komunikasiku. Serentak semua prajurit menodongkan senjata. Bersiap.


Dari kejauhan aku bisa menyaksikan debu mengepul. Terdapat tiga mobil yang melaju kencang menuju lembah. di belakangnya terlihat sekumpulan RP-2 yang bergerak buas. Seakan tengah mengejar mangsa mereka. Tim yang akan mengarahkan robot-robot tersebut mulai bergerak. Sekitar enam mobil melaju ke arah sisi kanan dan kiri, memastikan jika tidak ada RP-2 yang berada di luar jalur.


Mereka berada 10 kilometer dari titik ledakan. Pasukan yang akan mengaktifkan bom mulai menyentuh tombol pemicu, bersiap menunggu aba-aba.


Jarak mereka tinggal 5 kilometer. Pasukan yang akan membunuh RP-2 yang tersisa mulai menyentuh pelatuk senjata. Bersiap menembak jika semisalnya ada beberapa RP-2 yang tersisa.


Jarak mereka tinggal 1 kilometer. Mobil yang memancing RP-2 mulai menambah kecepatan. Sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengan RP-2 agar tidak terkena dampak ledakan. Mobil yang mengarahkan RP-2 juga mulai mempercepat laju mereka.


Tepat ketika robot-robot tersebut mencapai titik ledakan, Kapten Wan berseru memberi perintah untuk meledakkan seluruh bom yang terpasang. Suaranya begitu nyaring, menggetarkan tanah tempat kami berpijak. Beberapa sisi lembah mulai runtuh, membuat bebatuan berjatuhan menimpa RP-2 yang tersisa. Asap hitam mengepul membubung tinggi ke angkasa. Api berkobar memenuhi dasar lembah.


Api?


Tiba-tiba aku teringat kampung halamanku. Kobaran api yang menjalar dan berjejer bagai dinding, abu-abu yang berterbangan di udara, serta asap hitam yang mengepul membuat mendung langit. Semua ini mengingatkanku di hari itu. Hari ketika bandit-bandit mulai menyerang. Hari ketika aku, Liana, dan Ibu harus melarikan diri dari kejaran mereka. Ingatan itu berputar seperti melihat film dokumentasi. Seluruh tubuhku bergetar. Nafasku tersengal.


Ada apa ini? Bukankah traumaku sudah hilang jauh-jauh hari? Bukankah aku sudah melupakan kenangan buruk itu?


Seketika aku terjatuh. Tubuhku terasa lemas.  Salah satu prajurit yang melihatku bergegas membantuku berdiri.


“Ada apa anak baru?”


Dadaku terasa sesak. Tidak, aku tidak boleh mengenang hari itu. Aku tidak boleh membiarkan trauma menguasaiku. Aku tidak boleh terlarut kembali ke dalam kesedihan. Aku kembali berdiri tegap. Bilang pada prajurit tersebut jika aku hanya syok mendengar suara ledakan.


Asap mulai menghilang. Kami bisa melihat reruntuhan lembah yang mengubur robot-robot tersebut. Kapten Wan memerintahkan beberapa prajurit untuk memeriksa keadaan di bawah sana. Kapten Wan juga bertanya ke tim penembak jitu soal keadaan di luar lembah. Namun untuk saat ini masih aman. Mereka tidak mendapati adanya RP-2 yang muncul di luar lembah.


Beberapa orang mulai memeriksa keadaan di bawah sana. Sembari menodongkan senjata mereka ke reruntuhan lembah. bersiap atas segala kemungkinan. Kami semua menanti dengan perasaan tegang. Sesekali mereka membongkar bebatuan. Memeriksa keadaan di bawah reruntuhan. Menemukan beberapa bangkai RP-2 yang sudah hancur tidak berbentuk


Sekitar sepuluh menit lamanya kami menanti kabar di bawah sana. Dan hasilnya...


“Kapten Wan, rencana kita berhasil. Mereka sudah hancur berkeping-keping.”


Seketika seluruh prajurit bersorak gembira, saling berpelukkan. Melepas ketegangan yang berlangsung.  Kapten Wan tersenyum lega.


Tidak ini tidak benar. RP-2 tidak semudah itu dikalahkan. Mereka robot. Kecerdasan mereka pasti melebihi kecerdasan manusia. Aku masih ingat bagaimana mereka hendak membunuhku. Aku masih mengingat ketika mereka mencoba menguburku hidup-hidup.


“INI BELUM SELESAI, KAPTEN! SURUH SEMUA PASUKAN MUNDUR!” Aku berteriak sembari menekan tombol yang ada dalam alat komunikasiku. Otomatis suaraku terdengar oleh seluruh pasukan.


“Siapa ini? Bisa kau beri tahu nomor kodemu.” Suara Kapten Wan terdengar.


“Di sini 1411, Lian. Anak baru yang sempat mengajukan pertanyaan kepadamu.”


“Baik, apa maksudmu ini belum selesai?”


“Sebelumnya aku ingin mengingatkan soal pasukan pengintai. Mereka hanya memantau robot-robot yang berada di wilayah Kota Keios, yang itu artinya mereka tidak memeriksa keadaan lembah. Bagaimana bisa kau seceroboh ini, Kapten?”


Seketika prajurit di sekitarku mendatangiku. Mereka bersorak marah, memberiku peringatan. Menyuruhku menghentikan kalimatku. Aku tidak peduli, tetap melanjutkan kalimatku.


“Kapten, tidakkah terbesit di pikiranmu? Jika robot adalah benda yang lebih pintar dari manusia.”


Aku tidak mendengar suara Kapten Wan. Tampaknya dia tengah berpikir. Sementara itu prajurit di sekitarku mulai memegangi lenganku. Aku berusaha tetap menekan tombol yang ada pada alat komunikasiku.


“TERSERAH KAU PERCAYA ATAU TIDAK, KAPTEN! AKU SUDAH MEMPERINGATIMU! PARA RP-2 SUDAH MENANTI KI...”


“SUDAH CUKUP ANAK BARU, KAU KETERLALUAN!” Seorang prajurit berseru ketus. Menghancurkan alat komunikasiku.

__ADS_1


Ketika para prajurit sibuk menanganiku. Dari bawah sana, terdengar suara teriakan. Disusul suara baku hantam tembakan.


“KAPTEN WAN, KAMI DISERANG!”


Mendengar teriakan tersebut, prajurit di sekitarku terhenti.


“MUNDUR!” Kapten Wan akhirnya memberi perintah.


Benar saja dugaanku. Dari lubang-lubang lembah, bermunculan ratusan RP-2. Mereka bak air bah yang keluar dari bendungan. Begitu banyak sampai membuat kami tidak bisa menaksirkan jumlahnya. Seketika  para pasukan berlarian ke arah pesawat.


Astaga! Ini buruk. Beberapa RP-2 mulai berlarian menuju pesawat. Seakan tahu apa yang hendak kami rencanakan. Para prajurit mulai melepaskan tembakan. Namun, itu tidak cukup membantu. Setiap kali ada robot yang hancur akan digantikan lagi dengan robot lain. Aku mulai menggunakan senjataku. Kini kami bertempur.  Sementara itu beberapa prajurit termasuk Kapten Wan sudah berhasil menuju pesawat. Aku masih sibuk menembaki robot-robot tersebut. Sayangnya senjataku tidak terlalu ampuh.


Aku bisa mendengar jeritan-jeritan prajurit lain. Beberapa orang sudah tewas tertusuk jari-jari RP-2 yang tajam bak bilah pisau. Aku tidak bisa mengkhawatirkan kondisi prajurit lain. Saat ini aku berusaha menghindari serangan mereka yang datang dari segala arah. Berkat latihanku di Akademi Langit, aku dengan leluasa menghindari serangan mereka.


Sayang seribu sayang. Sungguh tidak disangka-sangka. Pesawat yang membawa Kapten Wan dan beberapa prajurit mulai menutup pintu pesawat. Padahal masih banyak prajurit yang belum sempat masuk ke dalam pesawat. Mereka berteriak memanggil nama Kapten Wan. Aku bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Beberapa prajurit mencoba menaiki pondasi pesawat. Sayangnya mereka terhempas begitu saja ketika turbo pesawat dihidupkan. Terjatuh dan berakhir tewas.


Pesawat telah melaju meninggalkan kami yang masih sibuk bertahan di tengah serbuan RP-2. Aku tidak bisa memberi perintah atau mendengar ucapan dari prajurit lain lantaran alat komunikasiku rusak. Aku terpaksa membuka helmku. Toh, selama ini aku tidak pernah memakai masker kemanapun saat aku berada di luar Kota Keios.


Aku lebih leluasa menembak robot-robot tersebut. Hingga peluruku habis. Aku terpaksa mengambil senjata milik prajurit yang sudah tewas. Tak lupa aku juga mengambil alat komunikasi yang tergantung di helm prajurit tersebut. Mau bagaimanapun aku harus berkomunikasi dengan prajurit lain. Ini keadaan darurat. Robot-robot terus berdatangan dari berbagai arah seakan tidak ada habisnya. Jika begini terus kami semua akan mati tak tersisa. Aku harus berpikir cepat. Mencari jalan keluar dari kekacauan ini.


Setelah beberapa saat berpikir di tengah pertempuran yang berlangsung, aku memiliki sebuah ide. Aku memberi perintah untuk seluruh prajurit yang tersisa.


“DENGAR! JIKA KALIAN INGIN SELAMAT DARI KONDISI INI, DENGARKAN AKU!” Aku berteriak semampuku. Berharap prajurit lain mendengarkanku di tengah kebisingan ini.


“KITA HARUS MENURUNI LERENG INI! AKU AKAN MEMINTA PRAJURIT YANG MENGENDARAI MOBIL UNTUK MENYELAMATKAN KITA!” Aku memberi perintah. Tampaknya mereka mendengarkanku. Bergegas berlari menuruni lembah sembari masih melepaskan tembakan


“KEPADA PASUKAN UMPAN! KAMI BUTUH BANTUAN DI SINI! JAWAB JIKA KALIAN MENDENGARKANKU!”


“Kami bisa  mendengarmu. Kami akan segera ke sana!” Perintahku disetujui.


Aku sedikit lega. Aku tidak tahu cara apalagi yang bisa membuat kami selamat dari kondisi ini. Namun aku tidak bisa sepenuhnya tenang. saat ini tantanganku ialah menuruni lereng yang terjal sembari terus bertahan dari serangan RP-2.


“DENGAR! KITA SEMUA BISA SELAMAT JIKA KITA SALING MEMBANTU! TINGGALKAN KEPENTINGAN PRIBADI! KITA AKAN KELUAR BERSAMA-SAMA!” Aku tidak tahu apakah ucapanku disetujui oleh mereka atau tidak.


Tampaknya para prajurit menyetujui kalimatku. Mereka saling bekerja sama demi keluar dari kerumunan RP-2. Aku terus bertahan mati-matian. Menghindari terjangan RP-2. Beberapa kali aku terguling lantaran tanah tempat aku berpijak tidak datar. Membuatku sulit menjaga keseimbangan. Namun prajurit lain bergegas membantu. Membuatku kembali berdiri pada posisiku.


Kondisi kami semakin terdesak. RP-2 mulai menutup jalan kami. Mereka mencoba menghalangi kami untuk menuruni lereng. Baku hantam terus terjadi. Debu-debu mengepul menutupi pandangan. Membuat keadaan semakin sulit. Kami harus tetap bertahan sampai mobil bantuan datang.


Di detik-detik kritis, mobil bantuan akhirnya datang. Mereka dengan mudahnya menerobos robot-robot tersebut. Tampaknya mobil tersebut pastilah terbuat dari baja khusus. Di bagian atas mobil terdapat rudal. Melepaskan tembakan ke arah kerumunuan RP-2 yang mencoba mengejar kami.


Hanya ada sekitar 20 prajurit yang selamat. Kami semua bergegas masuk ke dalam mobil. Bergabung dengan pasukan yang ada di dalam mobil-mobil tersebut. Kami melaju, berusaha kabur dari kejaran RP-2 yang beringas sembari melepaskan tembakan ke arah mereka. Untungnya mobil ini lebih cepat dari pada laju RP-2.


“Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa pesawat lepas landas terlebih dahulu sebelum seluruh pasukan masuk? Bukankah itu rencana awal kita?” prajurit yang tengah mengendarai mobil bertanya. Memecah ketegangan.


“RP-2 bermunculan di antara tebing-tebing lembah secara tiba-tiba. Membuat rencana kami gagal. Seluruh pasukan dipaksa mundur. Untungnya Kapten Wan berhasil diamankan.” Ujar salah satu prajurit. Nafasnya tersengal. Tentunya kejadian tadi sungguh mengerikan.


“Tapi berkat anak baru ini, kami semua sempat menyelamatkan diri. Aku sungguh menghormatimu, Nak. Dialah orang yang pertama kali menyadari jika kami semua dalam bahaya. Dia juga yang membantu kami keluar dari pertempuran tadi.”


Seluruh prajurit di dalam mobil menatapku. Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Aku hanya mengangguk kaku.


Aku mengangguk kembali. Suasana hening sejenak. Menyisakan deru mobil yang melaju membelah jalanan.


“Sebenarnya aku sedikit curiga dengan Kapten Wan.” Aku mulai menyampaikan argumenku. Selama menjalani misi ini aku selalu dipenuhi prasangka tentangnya.


“Apa maksudmu?” Salah satu prajurit bertanya.


“Ini hanya dugaanku saja. Sepertinya Kapten Wan sengaja membuat kita seperti ini. Tidakkah kalian berpikir? Bagaimana bisa Kapten Wan seceroboh ini dalam mengatur rencana? Seharusnya jika dia seorang Kapten, dia bisa berpikir atas semua kemungkinan buruk yang terjadi. Aku yakin ada maksud lain dari misi ini. Boleh aku bertanya satu hal?”


“Silahkan, Nak.”


“Berapa banya korban yang tewas setiap kali kalian menjalankan misi?”


“Sekitar 20 sampai 30 orang. Kami hanya melakukan misi sebulan sekali.”


Aku berpikir kembali. Itu angka yang besar. Jika semisalnya setiap bulan terdapat 30 orang yang tewas, itu artinya dalam setahun terdapat 360 orang yang tewas. Itu sudah mengurangi seperkian persen jumlah dari Penduduk Kota Keios.


“Sepertinya kita semua telah dijebak.” Aku berujar dengan wajah datar.


“Hei! Mana mungkin Kapten Wan seperti itu. Dia selalu memimpin ki...”


DUAR!


Sebuah rudal menyerang salah satu mobil yang melaju di depan kami. Dan betapa terkejutnya kami semua. Mendapati serangan tersebut berasal dari Pesawat Pasukan Keios. Pesawat tersebut mulai mengarahkan senjatanya ke arah kami. Seketika, prajurit yang tengah menyetir membanting stir. Membelokkan mobil agar tidak terkena serangan dari rudal.


Rudal tersebut mengenai tanah. Membuat hempasan bak meteor. Mobil kami terguncang. Debu mulai menutupi pandangan. Membuat laju mobil tidak karuan.


“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” Salah satu prajurit bertanya panik.


“Mereka berniat membunuh kita agar tidak ada saksi!” Aku berseru lantang. Berusaha mengalahkan deru mobil yang melaju kencang.


“Apa? Itu tidak mungkin!”


Rudal kembali dilepaskan. Kali ini mobil kami berbelok tajam, berusaha menghindari serangan tersebut. Sayangnya ledakkan rudal hanya berjarak beberapa meter dari kami. Membuat mobil terpelanting dan terguling. Tubuhku terbanting kesana kemari. Wajahku yang tidak memakai helm terkena kaki dan tangan prajurit lain. Kepalaku terbentur atap-atap mobil. Darah segar mengucur di keningku.


Untungnya semua yang ada di dalam mobil selamat walau beberapa terluka. Wajahku sudah babak belur terkena hantaman kaki dan tangan prajurit lain. Aku meringis kesakitan. Tampaknya gigiku ada yang patah.


“Apa semuanya baik-baik saja?” Salah satu prajurit bertanya dengan suara lirih. Posisinya terbalik. Kepala dibawah dan kaki di atas.


“Sebaiknya kita jangan keluar dari mobil ini. Pesawat tersebut masih ada di atas sana. Kemungkinan besar mereka tidak akan membiarkan kita hidup.” Aku berujar sembari menahan sakit di sekujur tubuhku.


“Kenapa? Kenapa mereka menyerang kita?”


“Apakah sebelumnya Kapten Wan pernah memerintahkan kalian untuk membunuh pasukan lain?”

__ADS_1


“Aku tidak tahu. Biasanya Kapten Wan hanya menyuruh kami mundur di saat terdesak. Kami hanya mendengar jumlah korban yang tewas setelah berhasil kembali. Kami juga mendengar jika beberapa prajurit menghilang dalam penyerangan.”


Aku tidak bertanya lagi. Saat ini aku bisa mendengar deru pesawat di atas kami. Suaranya mulai menjauh. Tampaknya mereka kembali menuju Kota Keios. Setelah merasa aman, satu-persatu prajurit perlahan keluar dari mobil. Kami harus segera mencari tempat berlindung sebelum RP-2 mengetahui keberadaan kami.


“Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa kembali ke kota. Mereka pasti telah menutup gerbang jalur pesawat.”


Para prajurit tengah berdiskusi. Seketika aku teringat dengan saluran air.


“Ada satu cara.”


Semua tatapan prajurit mengarah kepadaku.


“Tapi aku tidak yakin jika mereka akan mengizinkan kita untuk masuk.”


“Beritahu kami!”


“Kita akan melobangi puing di bawah kita.”


“Hei! Itu ide bagus. Kini aku percaya dengan semua ucapanmu soal Kapten Wan. Sesampainya di kota aku pasti akan mengumbar atas kejadian sebenarnya.”


“Tapi bagaimana jika kita dicap sebagi pemberontak?” Tanya prajurit lainnya.


“Aku tidak peduli! Kita sudah menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri jika pesawat tersebut baru saja menyerang kita. Tentu saja ini tidak bisa dibiarkan. Aku masih memaklumi jika Kapten Wan meninggalkan kita demi keselamatannya. Tapi jika sampai membunuh, tentunya ini hal aneh.”


“Jadi, bagaimana cara kita melewati gerbang? Bukannya di sana ada prajurit yang berjaga? Mereka pasti akan menghubungi markas.”


Lengang sejenak. Para prajurit tengah mencari cara untuk masuk ke gerbang  tanpa ada kecurigaan.


“Aku ada ide! Salah satu di antara kita akan berakting dalam kondisi kritis. Dengan demikian penjaga gerbang pasti akan panik dan segera membawa kita ke rumah sakit.”


Para prajurit mengangguk setuju.


“Itu ide bagus! Yang kita perlukan ialah, siapa diantara kita yang paling memiliki wajah babak belur?”


Seketika semua tatapan tertuju ke arahku. Aku tahu apa yang ada dipikiran mereka. Wajahkulah yang paling babak belur lantaran aku tidak memakai helm sebagai pelindung kepala dan wajah. Tapi jika soal berakting? Aku sungguh tidak bisa.


Kami mulai menembaki puing-puing di bawah kami. Untungya kami berada tepat di atas saluran air. Akan sangat berbahaya jika tiba-tiba kami muncul di dalam kota. Kami memasuki lubang tersebut. Menelusuri lorong dan tiba di depan gerbang. Seketika cahaya kehijauan menyiram tubuh kami. Mulai memindai.


“Identitas dikenali.” Gerbang terbuka. Mengeluarkan suara mendesis.


Seketika beberapa prajurit yang tengah menjaga gerbang terkejut.


“Astaga! Ada apa ini? Bukankah kalian dari pasukan penyerang? Bagaimana bisa kalian memasuki gerbang tersebut?”


“Nanti saja penjelasannya. Untuk saat ini kami harus pergi ke rumah sakit. Beberapa orang butuh pertolongan.”


“Baik, aku akan segera menghubungi markas.”


“Jangan! Maksudku, kami harus bergegas. Saudara kami ada yang dalam keadaan kritis. Dia juga tidak sengaja menghirup udara kotor di luar sana. Kepalanya terbentur dan mengakibatkan pendarahan hebat!”


Aku berpura-pura tak sadarkan diri. Dua prajurit membopong tubuhku mendekati prajurit penjaga gerbang. Sejujurnya aku merasa sangat konyol dengan rencana ini.


“Ini keadaan darurat! Baiklah, aku akan segera mengambil kendaraan untuk membawanya.”


“Oh ya, bisakah kau meminta tolong temanmu yang lain untuk memperbaiki lubang yang telah kami buat? Aku khawatir jika RP-2 akan memasuki lubang tersebut. Dan kalau bisa kami saja yang menyetir. Aku tidak ingin mengganggu tugasmu.”


“Siap!”


Aku nyaris menepuk jidatku. Bagaimana mungkin mereka dengan mudahnya membiarkan kami lewat tanpa ada sedikitpun kecurigaan?


Kami menelusuri kota. Jumlah kami ada 15 orang.


“Bagaimana cara kita untuk memberi tahu seluruh penduduk Kota Keios?”


“Tentu saja aku akan membuat kekacauan di tengah kota sampai para reporter dan wartawan berdatangan.” Ujar salah satu prajurit dengan semangat.


Astaga! Itu sungguh ide terbodoh yang pernah kudengar. Aku sungguh tidak percaya jika mereka lulusan Akademi Langit.


Aku memutuskan untuk berbicara. “Ada cara lain, kita tidak harus membuat kekacauan. Tapi rencana ini akan berhasil jika kalian menuruti semua arahanku.” Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil tindakan tersebut, akan ada banyak penduduk yang dirugikan. Bisa-bisa Prajurit Keios akan dicap sebagai musuh.


“Katakan, Anak Baru!”


“Untuk saat ini kita harus pergi menuju penjara.”


“Hei! Kau mau membawa kita ke sarang harimau? Bisa-bisa kita tertangkap lebih dulu sebelum bisa mengungkap semua keburukan Kapten Wan.”


“Tidak, kita tetap pergi ke sana. Lebih tepatnya ke kediaman seseorang yang kukenal. Dokter Ruzdora. Aku akan memintanya untuk menghubungi Nona Kei. Memberi tahunya atas segala yang terjadi. Yah, itu terserah kalian setuju atau tidak. Tapi yang jelas aku tidak akan ikut dengan kalian jika kalian memutuskan untuk membuat kekacauan di tengah kota. Itu sungguh tindakan yang tidak sopan! Kalian akan merugikan banyak pihak. Termasuk penduduk. Lagi pula kalian tidak memiliki bukti apapun.”


“Kami setuju!” Mereka berseru kompak.


Beberapa jam kemudian kami tiba di tempat tujuan. Petugas penjara mulai memeriksa kartu identitas kami. Mereka sangat teliti. Memastikan tidak ada kartu yang palsu. Hingga salah satu petugas penjara melihatku.Wajahnya terkejut. Aku seakan tahu apa yang ada dalam pikirannya.


“Hei! Bukankah kau tahanan yang dulu? Sekarang kau sudah menjadi salah satu dari Prajurit Keios? Ini sungguh fakta yang mengejutkan.” Dia tertawa.


Aku menelan ludah. Bagaimana bisa dia masih mengenaliku setelah sekian lama? Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Aku hanya mengangguk. Tidak banyak bicara.


“Kau masih saja pendiam seperti dulu. Kalian semua mau mendengar fakta menarik? dia adalah teman dari Nona Kei.”


Kini semua pandangan mengarah padaku. Mereka menatapku tidak percaya. Aku ingin sekali keluar dari pembicaraan ini.


Petugas penjara akhirnya mengizinkan kami untuk masuk. Kami segera bergegas menuju kediaman Ruzdora.  Sebelumnya aku sempat menatap bangunan penjara. Mengenang sejenak jika dulunya aku pernah tinggal di tempat tersebut selama dua bulan. Menghabiskan hari-hari dengan dua orang temanku. Hei! Soal Vero dan Bundara, aku sudah lama tidak mendengar kabar mereka. Mungkin suatu hari aku akan menyempatkan diri untuk menemui mereka. Sekedar menyapa dan mengenang masa lalu.


Untuk saat ini aku hanya bisa bertemu dengan Ruzdora. Salah satu orang yang paling kupercaya. Setidaknya dia juga akan mengobati luka di sekujur tubuh kami. Namun masalah sebenarnya, apakah Jora akan percaya dengan semua ucapanku?

__ADS_1


 


 


__ADS_2